IN: MI - Marak, Kasus Unjuk Rasa da

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Dec 27 1996 - 12:11:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id QAA28916; Fri, 27 Dec 1996 16:06:39 -0500 (EST)
Subject: IN: MI - Marak, Kasus Unjuk Rasa dan Pelanggaran UU Pemilu

http://www.mediaindo.co.id/publik/9612/26/MI20-03.26.html

[Image] [Image]
        Kamis, 26 Desember 1996

Marak, Kasus Unjuk Rasa dan Pelanggaran UU Pemilu

----------------------------------------------------------------------------
JAKARTA (Media): Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamami Nata mengatakan,
diperkirakan pada 1997 akan diwarnai berbagai kasus unjuk rasa dan
pelanggaran terhadap Undang-Undang (UU) Pemilu.

"Unjuk rasa yang berbau politik terjadi cukup banyak pada tahun 1996, dan
ini akan meningkat pada tahun 1997, mengingat pemilu sudah semakin
mendekat," kata Kapolda dalam jumpa pers akhir tahun di Polda Metro Jaya,
Jakarta, Selasa (24/12).

Menurut Kapolda, pada 1996 terjadi 289 kasus unjuk rasa yang dilakukan
berbagai kelompok masyarakat. Antara lain, 62 kasus dilakukan masyarakat
biasa, 55 kasus dilakukan mahasiswa, 142 kasus oleh buruh, 11 kasus oleh
parpol, dan dilakukan Ormas 17 kasus.

Dari berbagai kasus unjuk rasa ini, kata Kapolda, didasari motif politik 30
kasus, motif kesejahteraan 118 kasus, soal tanah 45 kasus dan lain-lain 96
kasus.

Selain itu, kata Hamami Nata, kasus pencurian dengan kekerasan (Curas),
termasuk terhadap nasabah bank dan sopir taksi, masih akan mewarnai tahun
1997.

"Kasus perampokan nasabah bank akan banyak terjadi apabila masyarakat yang
akan mengambil atau menyetor uang ke bank tidak memanfaatkan jasa pengamanan
petugas, serta kurangnya peningkatan sistem pengamanan yang ada melalui
Siskamling dan Siskamswakarsa," katanya.

Kejahatan lain yang akan mewarnai tahun 1997, kata Kapolda, adalah maraknya
perkelahian pelajar, walaupun sudah diupayakan segala macam
penanggulangannya.

"Kasus ekstasi masih merupakan kriminalitas yang bakal terjadi di tahun
1997, dan akan ada kecenderungan mengarah pada kelompok yang lebih besar,"
katanya.

Diperkirakan, kejahatan pelanggaran terhadap Hak Intelektual (HAKI) akan
banyak mewarnai tahun 1997. Hal ini akibat berkembangnya ilmu dan
pengetahuan di tengah masyarakat.

Dalam laporan akhir tahun, Kapolda memaparkan, pada tahun 1996 terjadi
penurunan jumlah kasus kejahatan bila dibandingkan tahun sebelumnya. Pada
1995 terjadi "crime total" sebanyak 19.827 kasus kejahatan, yang menempatkan
Jakarta sebagai peringkat kedua kerawanan terhadap tindak kejahatan di
seluruh Indonesia.

Pada 1996, angka kejahatan turun 15,49 persen menjadi 16.756 yang
menempatkan Polda Metro Jaya pada peringkat ketiga dalam soal tingkat
kerawanan. Lamanya selang waktu terjadinya tindak kejahatan pada tahun 1996
juga mengalami perlambatan, yaitu satu kejahatan terjadi setiap 40 menit 43
detik pada 1995, dan pada 1996 adalah satu kejadian setiap 48 menit 38
detik.

Menurut Kapolda, kasus-kasus yang menonjol di Jakarta pada 1996, antara
lain, terjadinya Curas atau perampokan terhadap nasabah bank yaitu 87 kasus
dari Januari hingga November 1996, sedangkan Curas terhadap sopir taksi
sebanyak 20 kasus.

Selain itu, kata Kapolda, pihaknya telah mengamankan 72,2 kg ganja, dan
mengungkap 37 kasus ekstasi dengan barang bukti sebanyak 105.603 pil
ekstasi, dan heroin sebanyak 9 "cekak" (dosis sekali pakai). (SS/D-2)