IN: MUTIARA - Mencari Akar Masalah

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Dec 28 1996 - 11:41:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id PAA16356; Sat, 28 Dec 1996 15:39:06 -0500 (EST)
Subject: IN: MUTIARA - Mencari Akar Masalah Situbondo

http://www.SuaraPembaruan.com/mutiara/News/1996/11/251196/Sorotan/04/04.html

MUTIARA ONLINE
----------------------------------------------------------------------------

Dari kiri ke kanan, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Imam Utomo, Gus Dur, KSAD
Jenderal TNI R. Hartono dan KHR Achmad Fawaid As'ad. Mereka bertemu di
serambi dalem jero almarhum KH As'ad Syamsul Arifin, di Sukorejo, Kab.
Situbondo, Rabu (13/11) lalu.

Gus Dur Bertemu Jenderal Hartono

Sama-sama Mencari Akar Masalah Insiden Situbondo

"Lho Cak Dur, sampeyan nang kene tah. Yok apa kabare. Wah jik pisan iki
awake dhewe ketemu ya". Itulah tegur sapa Kepala Staf TNI-AD (KSAD) Jenderal
TNI R. Hartono terhadap Ketua Umum Tanfidziyah PB NU KH Abdurrahman Wahid
yang biasa disebut Gus Dur, di serambi dalem jero (kediaman) almarhum KH
As'ad Syamsul Arifin di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo,
Kabupaten Situbondo, Rabu (13/11) siang pekan lalu. Tegur sapa akrab dengan
bahasa Jawa itu berarti; "Lho Mas Dur, Anda ada di sini toh. Bagaimana
kabarnya. Wah, baru sekali ini kita bertemu ya."

"Alhamdulillah, baik-baik," jawab Gus Dur sambil berjabat tangan dan saling
berpelukan dengan Jenderal Hartono yang kali itu datang bersama hampir
seluruh asistennya dengan mengenakan pakaian doreng-doreng hijau. Jenderal
Hartono mengatakan, ia tidak sempat berganti pakaian karena baru saja
membuka Latihan Bersama (Latma) antara TNI-AD dengan AD Singapura bersandi
Safkar Indopura 8/1996 di Secaba Rindam V Brawijaya di Jember.

Gus Dur kemudian mengungkapkan kepada Hartono, kehadirannya di Pondok
Pesantren Salafiyah Syafiiyah, tidak sengaja. Karena pada saat memenuhi
janjinya untuk silaturahmi (bertandang) kepada KH Achmad Sofyan, kiai
tersepuh dan paling kharismatik di Situbondo sepeninggal almarhum KH As'ad
Syamsul Arifin itu, kemudian sekaligus 'diajak' ke Sukorejo untuk memenuhi
undangan KHR Achmad Fawaid As'ad.

Pertemuan pertama kedua tokoh tersebut semakin "mencair" ketika Pangdam V
Brawijaya Mayjen TNI Imam Utomo dan shohibul bait (tuan rumah) KHR Achmad
Fawaid As'ad beserta adiknya KHR (Lora) Kholil As'ad mengajaknya ngobrol dan
nggojlok (menggoda dengan aneka guyonan) ulama asal Kraksaan, Kabupaten
Probolinggo, KH Badri Masduqi yang duduk di depannya.

Ketika Gus Dur sedang istirahat sejenak di serambi kediaman keluarga dengan
ditemani salah seorang wakil dari pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah
Syafiiyah, kontributor Mutiara bercakap-cakap mengenai beberapa hal
berkaitan dengan Insiden Situbondo.

Di bawah ini kutipan percakapan dengan Gus Dur itu.

Apa kira-kira makna dari kehadiran KSAD dan Gus Dur 'bersamaan' pada acara
silaturahmi dengan seluruh ulama dan ustad se-Kabupaten Situbondo di pondok
pesantren ini?

Pak Hartono (KSAD) memang salah seorang pejabat teras ABRI yang paling rajin
melakukan silaturahmi ke pondok pesantren. Sedangkan saya ke mari hanya
kebetulan, sesuai jadwal acara siang ini (Rabu, 13/11), saya bertemu dengan
KH Achmad Sofyan, ulama tersepuh di Situbondo ini. Tetapi karena kiai ada di
sini, saya lalu ke mari. Kedatangan saya ini sudah yang kedua kalinya, yakni
pertama sehari menjelang pembukaan Mukernas ke-5 RMI di Ponpes Zainul Hasan
Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Rupanya, kedatangan KSAD dan
saya ke sini sepertinya tujuannya sama, yaitu mencoba menggali apa yang
menjadi akar atau inti dari permasalahan sebenarnya sehingga terjadi Insiden
10 Oktober 1996 baru lalu.

Sejauh mana hasil investigasi Gus Dur?

Belum. Lha, bagaimana bisa bicara yang enak di sini. Ya mungkin baru nanti.

Kesan sementara Gus Dur secara umum?

Kalau secara keseluruhan, umat Islam di sini masih rawan. Karena, masih
terbuka pada toleransi dan belum melangkah maju ke tingkat kebersamaan.
Kalau toleransi 'kan masih sendiri-sendiri. Sedangkan kalau kebersamaan
adalah mema-hami bahwa di samping hidup sendiri-sendiri juga ada sisi lain
yang bisa dirasakan bersama.

Untuk mewujudkannya?

Kita lihat saja nanti. Yang jelas tidak bisa hanya dengan cara ceramah atau
khotbah serta dakwah-dakwah saja. Ini harus dirembuk oleh semua bangsa
secara keseluruhan. Oleh karenanya, umat beragama itu supaya mengembangkan
kesadaran hidup dalam kebersamaan. Untuk ini tidak selesai sehari dua hari,
tetapi butuh waktu jangka panjang. Dan sementara ini kita perlu meningkatkan
kewaspadaan terhadap segala kemungkinan adanya gejolak-gejolak lagi di sini
dan di tempat-tempat lain. Yang terpenting, kita jangan hilang kewaspadaan
dan hilang harapan.

Hal yang mendesak sekarang, Gus?

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) di Kabupaten Situbondo hingga
sekarang 'kan masih traumatik dengan peristiwa lalu. Padahal para pengurus
di sini terus-terusan didesak para keluarga dari tersangka, yakni bagaimana
mereka yang semula hanya ikut-ikutan namun ikut terciduk dan ditahan, bisa
keluar. Saya selaku Ketua Umum PB NU memerlukan datang untuk mendengarkan
langsung apa yang mereka maui dari tangan para sesepuh (kiai). Lebih dari
itu, sama de-ngan KSAD, mencoba tukar-menukar informasi dengan para kiai
untuk menemukan akar inti permasalahan guna menentukan kebijaksanaan sebagai
jawabannya.

Bagaimana dengan sinyalemen Gus Dur tentang masih sedemikian besar
kecurigaan-kecurigaan yang ada dewasa ini?

Lihat saja apa yang dilontarkan umat, atas jumlah gereja yang dibangun
dengan jumlah warga (populasi) umat kristiani yang tidak sampai dua persen
di sini. Menurut umat kristiani, keberadaan satu gereja untuk 200 jemaat
adalah hal yang biasa. Namun menurut umat Islam, lain. Sebab, dengan satu
mesjid sudah bisa menampung ribuan jemaah. Dari sisi pandangan ini saja,
terlepas dari perbedaan persepsi, sudah melahirkan kecurigaan. Dengan
anggapan, jumlah gereja di Situbondo yang menyandang sebutan 'Kota Santri'
dianggap terlalu banyak.

***

Percakapan terputus, karena Gus Dur diminta untuk yang kedua kalinya ikut
menghadiri acara silaturahmi KSAD dengan para ulama dan ustad di Aula Pondok
Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo.

***

Jenderal TNI R. Hartono di depan para ulama se-Kabupaten Situbondo
mengungkapkan, sebagai sesama warga dan umat Islam serta 'orang Madura' ia
mengaku sangat kecewa atas terjadinya insiden 10 Oktober 1996. Ia heran dan
menyesal, mengapa aksi pengrusakan massal itu justru dilakukan oleh
orang-orang Madura, Situbondo, yang selama berabad-abad lamanya dikenal
sebagai paling aman.

Kendati Situbondo menyandang atribut 'Kota Santri' bukan berarti warga
negara lainnya yang memeluk agama lain tidak boleh di sini. Ada apa ini?
Mengingat, ketika saya menjabat Pangdam V Brawijaya justru melihat hubungan
antara warga muslim dan pemeluk agama lain utamanya umat kristiani
sedemikian bagus. Sehingga selama ini, hubungan antarumat beragama di
Situbondo ini dikenal sebagai amat 'sejuk'. Mengapa tiba-tiba bergejolak dan
pakai bakar-bakar lagi, tandas Jenderal Hartono.

Terlepas dari insiden baru lalu, Hartono meminta agar peristiwa yang
mencemarkan di Situbondo itu hingga ke tingkat internasional, tidak terulang
lagi. Kasus 10 Oktober jangan dianggap sepele. Bagaimana bisa, kalau cuma
gara-gara tuntutan jaksa yang sudah maksimal sesuai aturan hukum berbeda
dengan harapan umat Islam terhadap terdakwa pelaku pelecehan agama serta
ditambah karena kasus perusakan mesjid di Timtim sebagai akar permasalahan,
Hartono bertanya.

Jika begitu, mengapa umat Islam di kota-kota lain, utamanya saudara-saudara
kita di Madura khususnya dan di Indonesia umumnya tidak memberikan reaksi
yang sama. Ini pasti ada hal mendasar yang perlu kita cari bersama-sama
sebagai akar permasalahannya. Ini penting, sebab apabila upaya pencarian
akar permasalahan terhenti, bisa jadi bak api dalam sekam yang sewaktu-waktu
bisa meledak hebat. Ini jangan sampai, ujarnya pada pertemuan yang dihadiri
para asisten KSAD (Aspam, Assop, Aster, Aslog dan Asrena), Pangdam V
Brawijaya Mayjen TNI Imam Utomo dan Kadispenad Brigjen TNI Robi Mukav serta
Bupati Situbondo Sudarjanto itu.

"Jika saya, sebagai sesama umat Islam, yang kebetulan juga berasal dari
Madura serta mantan Pangdam V Brawijaya, kemudian terkesan marah atas
peristiwa itu, hal tersebut bukanlah karena saya benci. Akan tetapi,
semata-mata karena merasa ikut memiliki tanggung jawab yang besar terhadap
saudara-saudara seiman," kata Hartono. Ia mengungkapkan, jikalau ada seorang
pemuda, terdakwa kasus penodaan agama di Situbondo yang untuk sementara ini
disebutkan sebagai pemicu Insiden Situbondo, berbuat salah menodai agama
Islam, bisa jadi hal itu bukan kesalahan terdakwa (Sholeh) semata, tetapi
juga salahnya para ulama.

Para kiai, saya mohon informasi yang jujur, jika bukan karena masalah agama,
amat sangat tidak mungkin massa secara brutal melakukan aksi perusakan dan
pembakaran gedung utama Pengadilan Negeri, mobil dan (sepeda) motor petugas
aparat keamanan serta puluhan gereja, panti asuhan dan rumah susteran,
katanya.

Aksi brutal itu sama halnya dengan merusak aset milik negara. Apa ini
masalah kecil dan harus disudahi begitu saja, tanya KSAD sambil meminta
kepada para ulama untuk membantu aparat keamanan menegakkan hukum
sebagaimana mestinya.

"Mengapa kasus sebesar ini tidak bisa dicegah jauh-jauh sebelumnya oleh para
ulama? Kalau para ulama di sini sudah berani menyatakan kotanya sebagai
'Kota Santri', mengapa perbuatan pengrusakan yang jelas-jelas nyata dilarang
agama Islam justru terjadi di sini," tanya KSAD yang mengaku masih mempunyai
tali persaudaraan dengan keluarga KHR As'ad Syamsul Arifin almarhum.

Hartono kelahiran Pamekasan, Madura, itu pun meminta agar umat Islam
termasuk ulama mau mengoreksi diri dan berani secara jujur menyalahkan diri
sendiri terlebih dahulu, sebelum menyalahkan orang lain. Sebab, hanya ada
dua hal pokok yang bisa membuat 'orang Madura' yang mayoritas beragama
Islam, marah besar. Yakni, sesuatu yang sensitif dan berlangsung lama yang
terkait erat de-ngan wanita dan atau agama.

"Mustahil jika kasus yang mengakibatkan kerusakan gedung Pengadilan Negeri,
gereja, panti asuhan dan jatuhnya lima korban jiwa manusia itu karena faktor
keadaan yang tiba-tiba. Sebagai orang Madura, saya tahu persis apa yang bisa
membuat umat Islam di sini marah besar," ujarnya sambil meminta agar para
kiai tidak menganggap insiden 10 Oktober di Situbondo sebagai kasus yang
bersifat spontan dan perkaranya dinyatakan selesai.

Jenderal berbintang empat itu pun mengajak para ulama bersama-sama aparat
keamanan mencari dan menemukan akar inti permasalahan yang sebenarnya
sebagai biang penyakitnya. Dan kemudian mencari obat yang pas sebagai jalan
ke-luar pemecahannya.

Hartono pun mengajak para ulama mau menunjukkan kepada umatnya, ajaran Islam
bukan seperti itu. Ini peristiwa besar dan jangan dientengkan, tandas
Hartono setelah mendengar pernyataan lima ulama di depan forum silaturahmi.
Para ulama tersebut antara lain; KH Hariri dari Sukorejo, KH Abdul Muis dari
Besuki, KH Syaifullah Saleh, ketua MUI Situbondo, KH Abdul Hafidz dari
Situbondo serta KH Badri Masduqi dari Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Sementara itu, KH Badri Masduqi, kendati sebagai 'tamu' mewakili sesama
ulama menyatakan bisa memaklumi 'teguran' KSAD R. Hartono sebagai sesama
umat Islam dan orang Madura. Bahkan menyatakan 'siap' mengaku ikut bersalah,
atas terjadinya kasus Situbondo, walau pun binaannya berada di wilayah
Probolinggo. Ia dan KH Achmad Sofyan, mertua dari KHR Kholil As'ad serta KHR
Fawaid As'ad menyatakan sependapat, kendati pun setuju para tersangka
diproses sesuai hukum yang berlaku, asal selama proses tersebut hingga ke
pengadilan mereka tidak sampai dianiaya.

Para ulama yang hadir akhirnya memahami maksud dan tujuan KSAD Jenderal TNI
R. Hartono dan menyatakan siap membantu aparat keamanan untuk menemukan akar
inti permasalahan.

Logis

Gus Dur berpendapat, pernyataan KSAD di depan forum silaturahmi tersebut
sangat logis dan masuk akal. Sebab dengan pertemuan seperti itu, para ulama
mendapatkan perfektif baru di samping Pemerintah juga memperoleh informasi
yang tadinya belum dimiliki.

"Ini masalah kompleks, namun penyelesaiannya harus dibuat sesederhana
mungkin dan tetap berpegang pada patokan hukum yang berlaku. Untuk
penanganan tersebut, perlu tindak lanjut yang tidak harus dilakukan di sini
di Situbondo. Sebab, ini melibatkan semua pihak, bangsa Indonesia," katanya
sambil menyatakan sependapat dengan KSAD, bahwa yang penting sekarang
dilakukan adalah meyakinkan semua ulama dan umat, bahwa tindakan 10 Oktober
1996 di Situbondo adalah salah besar dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Gus Dur juga sependapat dengan Jenderal Hartono, kalau dalam dialog itu
beberapa ulama menyebutkan Insiden Situbondo terkait dengan peristiwa
perusakan mesjid di Timtim, adalah kurang relevan. Buktinya hal seburuk itu
tidak terjadi di kota lain. Pokoknya, kata Gus Dur, kita jangan ngentengkan
(menyepelekan) tetapi juga jangan membesar-besarkan masalah.

Gus Dur terus-terang mengatakan tidak berani menyebutkan faktor-faktor
mendasar yang melatarbelakangi kasus 10 Oktober, karena sesuai pernyataan
Pangdam V Brawijaya diduga ada yang merencanakannya. Sayangnya, dalam
pertemuan itu tidak seorang pun yang menanyakan, siapa yang merencanakan
tersebut.

-Aries Sudiono