IN: PR - Polda Usut Ledakan Granat

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Dec 31 1996 - 15:49:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id TAA05100; Tue, 31 Dec 1996 19:47:30 -0500 (EST)

http://pikiran-rakyat.com/01311201.htm

Pangdam: Tak Berkait dengan Kerusuhan
Polda Usut Kasus Ledakan Granat

 [Image]PANGDAM III Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi didampingi Kapolda
        Jabar Mayjen Pol. Drs. Nana Permana, bersilaturakhmi dengan ulama
se-Jabar di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Senin
kemarin.* (AGUS ARDJITO/"PR")
----------------------------------------------------------------------------
TASIKMALAYA, (PR).-
Untuk mengungkap kasus ledakan yang mencederai delapan anak di mushola milik
Polsek Cibalong, Kab. Tasikmalaya, Polda Jabar telah mengirimkan sisa
pecahan granat itu ke Puslabforkrim (Pusat Laboratorium Forensik dan
Kriminal) Mabes Polri di Jakarta.

Sejauh ini belum bisa disimpulkan adanya hubungan antara ledakan yang
mencederai delapan anak pengajian itu dengan kerusuhan yang melanda kota
Tasikmalaya pada 26 Desember lalu.

"Ada sisa ledakan yang dibawa pihak Polda Jabar ke Puslabforkrim Mabes Polri
untuk diteliti. Yang turun semalam ke lokasi antara lain Wakapolda dan
Kasdam III/Siliwangi," ujar Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi,
ketika diminta tanggapan di sela-sela acara pertemuan dengan para ulama
se-Jabar di Pendopo Kab. Tasikmalaya, Senin (30/12).

Acara yang dihadiri tidak kurang dari 700 ulama itu, juga dihadiri Kapolda
Jabar Mayjen Pol. Drs. Nana Permana, Wagub Jabar HMA. Sampurna, Ketua DPRD
Jabar H. Agus Muhyidin, Bupati Tasikmalaya Suljana WH, dan Dandim 0612
Tasikmalaya Uyun M. Yunus.

Menurut Pangdam, hingga kini belum diketahui tentang jenis bahan peledak
tersebut, apakah standar ABRI atau bukan. "Ada ledakan yang pecahannya tajam
yang bisa mematikan dan ada ledakan yang hanya suaranya saja yang besar."

Ledakan yang pertama bisa melukai atau membunuh. Sementara yang lainnya,
merupakan granat yang tidak berakibat membunuh. Dulu Pindad memproduksi
granat jenis 36 dan 69. Jenis 69 ledakannya besar tapi tidak mematikan.
"Sementara yang ditemukan anak-anak itu belum diketahui. Sedang kita cari
jenisnya. Jadi belum ada kesimpulan," kata Pangdam.

Menurutnya, ledakan yang terjadi di Cibalong bukan dari jenis pecahan tajam
yang mematikan. "Jadi ini hanya ledakannya saja yang besar tapi tidak
mematikan. Kalau pecahannya tajam mungkin akan mematikan dan korbannya
parah," tuturnya.

Pangdam yakin, tidak ada hubungan antara kerusuhan 26 Desember lalu dengan
ledakan Minggu malam itu. Tapi memang pihaknya semula menduga ada hubungan.
Karena itu, ketika mendapat laporan dari Tasikmalaya, dia langsung meluncur
dari Bandung ke Tasik untuk mengetahui secara persis kejadian di lapangan.

Pangdam juga menolak kemungkinan adanya kelompok yang menyimpan granat itu
secara sengaja di tempat wudlu mushola Mapolsek Cibalong, dengan tujuan
untuk menyerang petugas kepolisian. Dalam penilaiannya, mungkin ada petugas
yang berwudlu di sana dan granatnya tertinggal.

"Itu logika saya. Faktanya kan begitu. Petugas kan manusia juga. Tapi saya
belum tahu dari mana asalnya. Kalau tahu asalnya mungkin dari kemarin sudah
saya ambil orangnya. Peristiwanya kebetulan saja terjadi, pada saat kota
Tasik mengalami musibah," jelasnya.

Pada malam kejadian, Pangdam dari Bandung langsung menuju RSU Tasikmalaya.
Ia memberi santunan kepada para korban dan menanggung seluruh biaya
pengobatan. Namun Pangdam menolak jumlah santunan yang diberikannya.

Sudah dibawa

Sementara itu di tempat yang sama, Kapolda Jabar Mayjen Pol. Drs. Nana
Permana, menyatakan, barang buktinya memang sudah dikirim langsung ke
Puslabforkrim Mabes Polri di Jakarta. Dari penelitian laboratorium itu
diharapkan dapat diketahui, apakah benda itu sudah lama atau belum di tempat
tersebut. "Atau tidak sengaja terbawa ke situ," ujarnya.

Menurut Kapolda, ledakan yang terjadi merupakan ledakan ofensif dan bukan
ledakan tajam. Benda tersebut biasanya digunakan untuk kegiatan di lembaga
pendidikan dan latihan. Itupun yang digunakan hanya suaranya saja.

Pihaknya menangkis kemungkinan granat tersebut milik petugas kepolisian yang
tengah berjaga-jaga di sekitar Mapolsek Cibalong.

"Saya enggak tahu itu milik siapa. Kita tidak menggunakan peledak jenis itu.
Untuk apa kita bawa itu. Petugas kepolisian yang berjaga-jaga di sana juga
tidak dilengkapi dengan perlengkapan itu," tegasnya.

Kapolda mengharapkan, tidak ada hubungan antara kerusuhan dengan ledakan
tersebut. Ledakan yang terjadi hanya sebuah kebetulan saja.

Sementara itu di lokasi kejadian, Kampung Tarunajaya, Desa Singajaya, Kec.
Cibalong, sekitar 27 km selatan kota Tasikmalaya, mushola milik Polsek itu
kaca jendela dan pintunya hancur berantakan. Sementara karpet hijaunya
sebagian hangus.

Meskipun tidak pernah dijadikan tempat sholat Jumat, mushola yang terletak
di sebelah kantor Polsek itu sering dijadikan tempat mengaji anak-anak
penduduk setempat. Pita kuning garis polisi tampak melingkari mushola
berukuran sekitar 7 x 7 meter itu.

Sedangkan para korban ledakan tersebut hingga kini masih terbaring di RSU
Tasikmalaya. Kondisinya sudah lebik baik dari kemarin. Mereka sudah sudah
pulih kesadarannya. Kecuali Budi yang merupalkan korban paling parah.

Delapan orang

Seperti diberitakan, sebanyak delapan orang anak pengajian di mushola milik
Polsek Cibalong menderita luka-luka, menyusul terjadinya ledakan granat di
mushola tersebut. Sehari sebelumnya, granat itu ditemukan anak-anak di
tempat wudlu. Ledakan terjadi setelah mereka menjadikan benda itu sebagai
mainan dan mencabut kuncinya.

Mereka yang luka-luka adalah Yuyun Supriyatna (13), Jajang (12), Yogi (13),
Dedi (7), Asep (9), Irma (15), Iwan (11), dan Budi (11). Sementara seorang
wanita bernama Ny. Iis Aisah (41) pingsan seketika setelah mendengar ledakan
tersebut. Semuanya penduduk Kampung Tarunajaya, Sesa Singajaya, Kec.
Cibalong, Kab. Tasikmalaya.

Seluruh korban ledakan, tubuhnya dipenuhi serpihan kaca dan logam pembungkus
granat. Dua anak yang menderita cukup parah ialah Budi dan Irma. Budi
mengalami patah tulang betis sebelah kiri.***