IN: RPK - BAP Penyidikan Dwi Sumaji

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jan 14 1997 - 17:40:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id VAA22108 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 14 Jan 1997 21:40:32 -0500 (EST)
Subject: IN: RPK - BAP Penyidikan Dwi Sumaji Dikembalikan Kejaksaan

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Jan 14 21:29:04 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Tue, 14 Jan 1997 20:19:13 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701150119.UAA22668@explorer2.clark.net>
Subject: IN: RPK - BAP Penyidikan Dwi Sumaji Dikembalikan Kejaksaan
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

                          Republika Online [LINK]
                                  [ISMAP]
                          Selasa, 14 Januari 1997
                                      
   Untuk Ketiga Kalinya, BAP Penyidikan Dwi Sumaji Dikembalikan Kejaksaan
                                      
                                      
    YOGYAKARTA -- Berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan) hasil penyidikan
   terhadap Dwi Sumaji alias Iwi (34) sebagai tersangka pembunuh wartawan
   Udin, dikembalikan lagi. Dengan demikian, pengembalian BAP dari pihak
   Kejaksaan Tinggi kepada penyidik Polda DIY, sudah dilakukan untuk yang
                              ketiga kalinya.
                                      
    Penjelasan tentang pengembalian BAP itu disampaikan Wakajati DIY Dr
   Soeparman SH, kepada wartawan di Yogyakarta Senin (13/1). Menurutnya,
       pemberitahuan tentang pengembalian BAP tersebut (P-18), telah
   disampaikan penyidik pada penyidik Polda DIY, kemarin pagi. Sedangkan
    petunjuk mengenai penyempurnaannya (P-19), akan disampaikan seminggu
   kemudian. "Saat ini, kami sedang menyusun P-19-nya," jelas Soeparman.
                                      
   Tak jelas betul, apa yang menjadi pertimbangan kejaksaan sehingga BAP
    yang sudah diperbaiki dan diserahkan penyidik kepada pihak kejaksaan
      hingga tiga kali, masih dianggap belum sempurna. Secara singkat
    Soeparman hanya menegaskan, pihaknya masih melihat adanya kekurangan
                      dalam kelengkapan BAP tersebut.
                                      
     "Secara material dan formal, masih ada yang harus disempurnakan,"
        jelas Suparman. Untuk itu, pihak kejaksaan masih belum dapat
         memutuskan untuk melanjutkan kasus Iwi ini ke pengadilan.
                                      
     Menyangkut soal pengembalian BAP yang sampai tiga kali, Soeparman
    mengaku, pihak kejaksaan sendiri sebenarnya tak menginginkan hal ini
     terjadi. Tapi persoalannya, KUHAP sendiri tidak mengatur ketentuan
                  tentang batas maksimum pengembalian BAP.
                                      
      Meski begitu Soeparman berharap, agar dalam penyerahan BAP yang
    keempat ini, sudah tak terjadi lagi pengembalian BAP. "Kalau memang
    penyidik menganggap BAP tersebut sudah sempurna seperti yang diminta
   kejaksaan, maka silahkan BAP diserahkan pada kami untuk diteruskan ke
                           pengadilan," jelasnya.
                                      
    Namun kalau penyidik menganggap sudah tak mampu lagi menyempurnakan
    BAP seperti yang diminta kejaksaan, maka penyidik hendaknya bersedia
    mengeluarkan SP-3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) atau pihak
        Kejaksaan yang menerbitkan SKPP (Surat Ketetapan Penghentian
                                Penuntutan).
                                      
     Dengan demikian, kata Soeparman, status sebagai tersangka pembunuh
   Udin yang saat ini masih ditanggung Iwi, menjadi jelas. "Meskipun saat
   ini Iwi sudah diberi penangguhan penahanan, tapi statusnya 'kan tetap
   sebagai tersangka. Bagaimana pun status tersebut membuat Iwi tak bisa
                   bebas bergaul di masyarakat," katanya.
                                      
     Dalam pengembalian BAP yang dilakukan sebelumnya, pihak kejaksaan
    diantaranya meminta agar pihak penyidik melakukan rekonstruksi ulang
    terhadap kasus Udin ini. Kepala Kejaksaan Tinggi DIY Asrief Adam SH
    menyebutkan, rekonstruksi yang sebelumnya pernah dilakukan penyidik
             terhadap kasus ini, masih dianggap belum sempurna.
                                      
      Alasan yang dikemukakan Asrief, rekonstruksi tersebut dilakukan
      langsung oleh Iwi sebagai tersangka pembunuhnya. Demikian juga,
      beberapa peran saksi kunci seperti Ny Marsiyem dan Sujarah, yang
      digantikan oleh para petugas. "Karena kasus ini menyangkut kasus
    hilangnya nyawa seseorang, maka rekonstruksi ini mestinya dilakukan
                       secara sempurna," kata Asrief.
                                      
   Dan tampaknya, sejak P-19 yang kedua dikembalikan pertengahan Desember
      1996, pihak penyidik Polda DIY tak pernah mencoba lagi melakukan
     rekonstruksi. Kapolda DIY Kol Pol Drs Mulyana Sulaiman juga sudah
       mengakui, hasil rekonstruksi yang telah dilampirkan dalam BAP
     tersebut, adalah hasil rekonstruksi yang sudah maksimal. &#127 wid