IN: GATRA - Gerakan Sayang Ibu

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jan 14 1997 - 19:24:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id XAA27036 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 14 Jan 1997 23:18:30 -0500 (EST)

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Jan 14 21:55:49 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Tue, 14 Jan 1997 21:05:27 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701150205.VAA09183@explorer2.clark.net>
Subject: IN: GATRA - Gerakan Sayang Ibu
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

                                [Logo GATRA]

Nomor 08/III, 11 Januari 1997

MASRI SINGARIMBUN *

Gerakan Sayang Ibu

SEJAK diadakan Konferensi Safe Motherhood di Nairobi, Februari 1987, masalah
kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan menjadi persoalan global. Sejak
itu makin banyak informasi tentang angka kematian ibu (AKI) beredar dan
tercantum beberapa kali dalam buku UNDP, Human Development Report. Dalam
edisi 1996 dicantumkan, AKI di seluruh dunia adalah 307 per 100.000
kelahiran, yakni 28 untuk negara-negara industri dan 384 untuk negara-negara
sedang berkembang. Variasinya besar sekali, dari 0 di Luksemburg dan Malta
sampai lebih dari 1.500-100.000 kelahiran di Bhutan, Afghanistan, dan Sierra
Leone.

Di buku itu AKI Indonesia diperkirakan 650 per 100.000. Perkiraan resmi di
Indonesia lebih rendah, 425 per 100.000 kelahiran pada awal PJP II (1994).
Kiranya AKI 425 lebih realistis. Memang sulit memperkirakan AKI karena
kejadiannya jarang dan cenderung dirahasiakan orang. AKI 425 itu termasuk
tinggi, paling tinggi di ASEAN. Vietnam mempunyai AKI 120, Malaysia 59, dan
Singapura 10.

Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pemanfaatan fasilitas modern untuk
melahirkan. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994,
59,5% kelahiran ditolong dukun dan 36,5% oleh petugas kesehatan. Di provinsi
tertentu, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, dan Maluku, lebih dari
70% kelahiran ditolong dukun. Di Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Barat
malah lebih dari 80%.

Penyebab medis terpenting kematian ibu bersalin adalah pendarahan, infeksi,
dan keracunan kehamilan. Namun, seperti tercantum dalam dokumen Gerakan
Sayang Ibu, yang dikeluarkan Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita
(1996), faktor lebih mendasar lagi dari kematian ibu adalah yang dinamakan
"tiga terlambat", yakni:

l Terlambat menentukan ibu bersalin dirujuk ke fasilitas kesehatan modern.

l Terlambat dalam transportasi dari rumah ibu atau poliklinik desa ke
puskesmas atau rumah sakit.

l Terlambat mendapatkan pertolongan di rumah sakit karena kurang memadainya
prasarana dan fasilitas puskemas, rumah sakit kabupaten atau provinsi.

Target kita adalah menurunkan AKI kira-kira 50%, sehingga menjadi 225 per
100.000 kelahiran pada akhir Pelita VI (1999). AKI diharapkan terus menurun
menjadi 80 pada akhir PJP II (2019).

Puncak acara peringatan Hari Ibu tahun ini diadakan di Desa Jaten,
Karanganyar, tempat kelahiran Ibu Tien Soeharto (almarhumah). Pada
kesempatan itu Presiden meluncurkan Gerakan Sayang Ibu, yang tujuannya
mempercepat penurunan AKI. Sebelumnya, pada 19-21 Juni lalu, diadakan
Lokakarya Penurunan Angka Kematian Ibu di Jakarta. Di situ Presiden
menekankan perlunya percepatan penurunan AKI. "Tanpa percepatan penurunan
angka kematian ibu hamil dan bersalin, maka kemajuan wanita yang telah kita
capai tidaklah lengkap," kata beliau.

Di dokumen itu dengan jelas dan komprehensif dipaparkan berbagai aspek dari
Gerakan Sayang Ibu. Dalam Bab IV diuraikan struktur organisasi dari tingkat
pusat sampai ke tingkat desa dengan tugas pokok masing-masing. Di tingkat
pusat dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) dan Tim Asistensi Gerakan Sayang Ibu.
Di tingkat kabupaten dibentuk Pokja Gerakan Sayang Ibu, diketuai bupati. Di
tingkat kecamatan dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Sayang Ibu, diketuai camat.

Di tingkat desa/kelurahan dibentuk Satgas Sayang Ibu, diketuai kepala
desa/ketua umum LKMD. Diangkat dua ketua pelaksana, sekretaris, dan
anggota-anggota. Tugas pokok mereka adalah menghimpun data tentang ibu hamil
dan bersalin, memberikan penyuluhan, dan mengumpulkan dana untuk "ambulans
desa" serta tabungan ibu bersalin.

Penyebab kematian ibu cukup kompleks, tapi perlu dipahami agar tindakan
pencegahan efektif dapat dilakukan. Faktor medis dan pelayanan kesehatan
telah disinggung di atas, yang juga berkaitan dengan masalah kemiskinan.
Juga terdapat faktor demografi, yakni umur ibu terlalu rendah atau tinggi
saat melahirkan, umpamanya 15 tahun ke bawah atau 35 tahun ke atas; paritas
atau jumlah anak yang tinggi; juga faktor kehamilan yang tak diinginkan.

Dalam pembahasan Gerakan Sayang Ibu di Indonesia, persoalan aborsi tampaknya
tak dibicarakan. Aborsi adalah manifestasi dari kehamilan yang tak
diinginkan. Memang aborsi ilegal dan sangat peka di Indonesia, tapi kalau
kita konsekuen dalam upaya menekan angka kematian ibu, aborsi tak dapat
diabaikan begitu saja. Seperti diketahui, aborsi yang dilakukan
sembunyi-sembunyi oleh tenaga tidak profesional mempunyai risiko sangat
tinggi, karena itu banyak negara kemudian melonggarkan Undang-Undang Aborsi.

Berkat kesuksesan program KB, norma keluarga kecil sudah melembaga, angka
kelahiran menurun, tapi kegagalan kontrasepsi dapat saja terjadi. IUD,
umpamanya, mempunyai tingkat kegagalan 4% sampai 5% setahun. Ada yang
memperkirakan terjadi kegagalan kontrasepsi 822.383 orang sampai 1.634.149
orang setahun di Indonesia pada 1993-1994 (Ninuk Widyantoro, 1994). Itu
mengakibatkan kehamilan tak diinginkan.

Menurut WHO, secara umum diperkirakan 7% sampai 50% dari kematian ibu karena
abortus provokatus. Penelitian di Matlab, Bangladesh, menunjukkan bahwa 18%
dari kematian ibu karena komplikasi aborsi, dan akibat pendarahan 20%
(Fauveau dkk., 1988). Hal kurang lebih sama terjadi di Zimbabwe: di
pedesaan, 15% kematian ibu karena aborsi, dan di perkotaan sebesar 23% (Safe
Motherhood Newsletter, Februari, 1995).

Berapa banyak wanita melakukan aborsi di Indonesia? Terry Hull dkk. (1993)
memperkirakan 750.000 sampai 1 juta aborsi dalam setahun, yakni 16,7-22,2
aborsi per 100 kelahiran hidup. Perkiraan Tjitarsa (Oktober 1994) kurang
lebih sama: 1 juta wanita melakukan aborsi dalam setahun, 50% dilakukan
wanita menikah. Sayangnya, tak diketahui berapa di antara mereka yang
meninggal. Hasil SDKI 1994 menunjukkan, dalam 10 tahun ini angka kematian
ibu tak menurun secara berarti di Indonesia, sementara keadaan sosial
ekonomi membaik dan program KB sangat sukses. Apakah ini tak berkaitan
dengan praktek aborsi?

Upaya menurunkan AKI melalui Gerakan Sayang Ibu sangat mulia. Dalam upaya
itu seyogianya persoalan aborsi tak diabaikan.

* Ahli masalah kependudukan