IN: JWP - Rebutan Harta Karun Busan

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Jan 25 1997 - 05:50:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id JAA27708 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 25 Jan 1997 09:50:41 -0500 (EST)
Subject: IN: JWP - Rebutan Harta Karun Busang, Siapa Menang?

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Jan 25 00:27:49 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Sat, 25 Jan 1997 16:25:00 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199701250525.QAA18887@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: JWP - Rebutan Harta Karun Busang, Siapa Menang?
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

Jawa Pos
25 Januari 1997

     _________________________________________________________________
                                      
   Rebutan Harta Karun Busang, Siapa Menang? (3)
   Barrick Pasang Bush dan Mbak Tutut
   
   Lima sekawan tim Bre-X Minerals Ltd, rupanya, semakin bisa mendalami
   bagaimana sesungguhnya business style of Java. Pada kenyataannya, gaya
   ini memang tidak meletakkan uang di atas segala-galanya. Apalagi, bila
   berdekatan dengan sesama rekan bisnis. Kelima anggota tim Bre-X
   tersebut adalah David G. Walsh selaku CEO, John B. Felderhof (vice
   president), Michael T. de Guzman (manajer eksplorasi), Cesar M. Puspos
   (manajer geologi proyek Busang), dan yang terakhir adalah Dr Jonathan
   M. Nassey (manajer proyek dan geologis senior untuk proyek Sangihe).
   Kelima eksekutif inilah yang bolak-balik Kanada--Jakarta hampir lima
   tahun. ''Begitu concern-nya mereka terhadap ladang Busang.
   Sampai-sampai, mereka betah berlama-lama di hutan belantara. Bahkan,
   wakil presidennya, John B. Felderhof, pernah kehabisan uang untuk
   makan sehari-hari. Teman-temannyalah yang kemudian membelikan ia
   makan,'' ujar sebuah sumber Jawa Pos. Begitulah pekerjaan para
   penambang. Tak kunjung menyerah sebelum melihat emas muncul di
   permukaan. Masih ada satu lagi dari tim mereka yang nyaris terlupakan.
   Yakni, warga kebangsaan Filipina yang sangat akrab dengan penduduk
   setempat. Namanya, Michael de Gousma. Pemuda inilah yang selalu
   mendampingi Haji Syakareni bila turun ke lapanagan. Haji Syakareni
   memang dikenal sebagai pengusaha pertambangan yang mengawali kariernya
   di Busang dengan jual-beli intan permata. Karena itu, tidaklah heran
   bila kemudian Bre-X Minerals Ltd rela berkorban apa saja agar bisa
   menambang di Busang. Mereka sangat mengerti. Keberhasilan tidak cukup
   diukur dengan mendapat persetujuan prinsip tertanggal 17 Maret 1995,
   yang ditandatangani Dirjen Pertambangan Umum Dr Kuntoro. Mereka juga
   telah mengantongi rekomendasi DPR RI tanggal 23 Juli 1996, berikut
   rekomendasi ketua BKPM pada 20 September 1996. Sehingga, perusahaan
   kelas menengah ini kemudian harus melakukan strategic alliancies
   dengan PT Duta Panutan. Mengapa Bre-X Minerals Ltd harus merangkul
   Sigit Harjojudanto? Itulah yang sering dipertanyakan sejumlah
   kalangan. Pasalnya, Kuntoro selaku Dirjen Pertambangan Umum, secara
   tiba-tiba mengeluarkan surat Nomor 2546/29/DJP/1996. Isinya, bernada
   bakal merontokkan niat Bre-X meraih KK (kontrak karya) di Busang II
   dan Busang III. Surat keputusan tersebut dibuat pada 7 Oktober 1996.
   Rupanya, Bre-X tahu bagaimana cara melakukan perlawanan. Maka, Sigit
   pun digaetnya. Pemerintah sendiri berusaha mematahkan Bre-X karena
   perusahaan ini menampakkan iktikad kurang baik. Salah satu
   indikasinya, Bre-X secara sepihak telah mengubah isi KK yang
   ditandatangani pemerintah RI pada saat perusahaan tersebut
   mendaftarkan sahamnya di New York Stock Exchange. Yang lebih fatal
   lagi, Bre-X juga tidak pernah melaporkan kepada pihak Deptamben
   tentang pengalihan saham dari Montague Pacific kepada Bre-X Minerals
   Ltd. Sebelumnya, saham tersebut milik Westralian Resources Project
   Ltd, pemegang saham mayoritas dalam KK PT Westralian Atan Minerals.
   ''Bre-X memanfaatkan Busang untuk mengeruk keuntungan,'' kata
   Mentamben I.B. Sujana dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI, 11 Desember
   1996. Tentu saja, David G. Walsh menangkis dituding bermain citting.
   Pasalnya, menurut sebuah sumber, dalam PP 20 Tahun 1994 mengenai
   investasi PMA di sektor pertambangan, tidak ada larangan menjual
   saham. Apalagi, itu dilakukan di lantai stock exchange internasional.
   Juga, menurut Herman Afif Kusumo, tidak ada satu pasal pun yang
   menyatakan bahwa mereka harus lapor bila melakukan akuisisi. ''Mereka
   kan butuh dana. Setelah menghabiskan dana lebih dari USD 20 juta,
   selama meneliti Busang, masa cari dana dilarang?'' papar sumber yang
   enggan dicantumkan namanya. Alasan lain mengapa Sigit dipilih sebagai
   partner, ungkap salah sebuah sumber lainnya, adalah karena di sanalah
   mereka akan lebih safe secara bisnis. Duta Panutan dikenal banyak
   bekerja sama dengan raja kayu Bob Hasan. Yang disebut terakhir adalah
   eksekutif puncak PT Nusamba yang sebagian besar sahamnya dimiliki
   Yayasan Dharmais. Dalam situasi yang mengimpit perusahaan menengah
   asal Calgary, Kanada ini, tiba-tiba Dirjen Pertambangan Umum Dr
   Kuntoro menyodorkan nama Barrick Gold Corp agar berdampingan dengan
   Bre-X Minerals untuk menambang di Busang II dan Busang III. Kuntoro
   menyebutkan, hal ini dilakukan atas dasar petunjuk Mentamben I.B.
   Sujana. Sejak itu, nama Barrick Gold Corp mencuat di pemberitaan
   sejumlah media di Jakarta. Bahkan, juga pada sejumlah media asing
   seperti Wall Street Journal yang terbit di Singapura dan beredar di
   kawasan Asia Pasifik. Siapa sesungguhnya Barick Gold Corp itu? Tidak
   banyak yang tahu sekalipun perusahaan yang bermarkas di Toronto,
   Ontario, Kanada ini tergolong nomor tiga terbesar di dunia. Namun,
   namanya belum begitu akrab dengan telinga para perusahaan penambang
   Indonesia. Pasalnya, perusahaan yang memiliki cash flow lebih dari USD
   500 juta per tahun ini ternyata memang dikenal gemar membeli ladang,
   namun tidak langsung melakukan eksplorasi. Perusahaan ini lebih suka
   mengeruk keuntungan dengan menjual ladangnya secara bagi hasil. Di
   Indonesia sendiri, Barrick Gold Corp melakukan kegiatannya di ladang
   Yamana, Kalimantan. Barrick juga menambang emas di Masupa Ria dan
   Woyla Block, di belahan Sumatera Utara. Namun, naasnya, sampai kini
   Barrick masih belum bisa menghasilkan produksi yang spektakular.
   Keberhasilan Barrick Gold adalah ketika mereka mengeksplorasi tambang
   emas di Goldstrike, Nevada, Amerika Serikat. Tambang tersebut hanya
   menghasilkan 2 juta ons emas murni per tahun. Jadi, amat jauh bila
   dibandingkan dengan Busang yang ''megadeposit'' 47 juta ons emas murni
   per tahun. ''Kalau Barrick Gold menambang di Busang, maka hasilnya per
   tahun sama dengan jumlah cash flow mereka dalam waktu yang sama. Atau,
   senilai dengan 10 tambang emas yang dieksplorasi perusahaan ini di
   Amerika Serikat,'' papar seorang pengamat pertambangan. Wajar bila
   kemudian Barrick Gold sangat bernafsu bisa ikut menguasai ladang emas
   Busang. Dalam jajaran komisaris perusahaan, Barrick Gold yang
   menempati urutan ketiga penambang tingkat dunia, meletakkan nama-nama
   tersohor. Antara lain, mantan Presiden Amerika Serikat George Bush dan
   mantan PM Kanada Brian Mulroney. Salah seorang sumber mengatakan bahwa
   Barrick Gold Corp termasuk salah satu perusahaan yang berada di bawah
   payung ''jaringan pengusaha Yahudi'' Amerika Serikat. Bahkan, salah
   seorang CEO-nya, Peter Munk, adalah keturunan Israel. Begitu namanya
   diumumkan Mentamben I.B. Sujana untuk mendampingi Bre-X Minerals Ltd
   di ladang Busang, kontan Peter Munk mengambil langkah yang sulit
   dimengerti. Bahkan, dinilai hendak mengadu domba. Yakni, dengan
   menggaet PT Citra Lamtoro Gung sebagai mitra lokalnya. Seperti
   diketahui, Citra Lamtoro Gung adalah sebuah perusahaan yang banyak
   bergerak di bidang infrastruktur, di bawah pimpinan Ny Siti Hardiyanti
   Rukmana, kakak kandung Sigit Harjojudanto. Atau lebih dikenal dengan
   panggilan akrab Mbak Tutut. Mbak Tutut sendiri ketika ditanya Jawa Pos
   mengenai masuknya Citra Group di Busang, tidak langsung mengiyakan.
   Bahkan, kesannya malahan sangat berhati-hati. Sekalipun tidak secara
   tegas-tegas, Mbak Tutut menolak berita itu. Pasalnya, Barrick Gold-lah
   yang pertama mengumumkan kepada khalayak luas tentang dilibatkannya
   Mbak Tutut sebagai mitra lokal. ''Wis too. Meneng-meneng sek ae.
   Mengko nek wis rampung, tak kandani,'' begitu ujar Mbak Tutut seusai
   membuka acara di PLN, bulan lalu. (zarman syah)
   ().