IN/BUKU: KMP - Hubungan ISO 9000 da

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Jan 25 1997 - 15:34:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id TAA25138 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 25 Jan 1997 19:34:08 -0500 (EST)
Subject: IN/BUKU: KMP - Hubungan ISO 9000 dan ISO 14000

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Jan 25 17:13:43 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Sun, 26 Jan 1997 09:10:05 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199701252210.JAA10518@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN/BUKU: KMP - Hubungan ISO 9000 dan ISO 14000
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

   Kompas Online
Minggu, 26 Januari 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
Hubungan ISO 9000 dan ISO 14000

   Brian Rothery, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000, (kerja sama PT
   Pustaka Binaman Pressindo & Lembaga PPM, November: 1996) xxi + 312
   halaman.
   
                    ___________________________________
                                      
   ADANYA ketentuan perundang-undangan yang mewajibkan suatu perusahaan
   memiliki sertifikat Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000 merupakan
   pukulan yang sangat berat bagi para pengusaha. Betapa tidak,
   permasalahan yang dialami para pengusaha yang berkaitan dengan ISO
   9000 pun masih belum terselesaikan, kini muncul permasalahan baru
   yaitu ISO 14000.
   
   Permasalahan yang dihadapi pengusaha yang menyangkut sertifikasi ISO
   14000 jauh lebih besar dibandingkan dengan ISO 9000. Hal ini
   disebabkan alasan yang mendasari diberlakukannya kedua sistem ini
   berbeda. ISO 9000 muncul akibat desakan konsumen dan pasar sehingga
   bersifat "sukarela", sedangkan ISO 14000 muncul atas desakan
   perundang-undangan.
   
   Oleh perundang-undangan, ISO 9000 tidak diharuskan, jadi sifatnya
   fakultatif (bila dilanggar tidak mendapat sanksi). Walaupun dasar dari
   ISO 9000 adalah pasar, namun ISO 9000 juga memiliki aspek hukum yaitu
   tanggung jawab hukum atas produk dan informasi konsumen. Perusahaan
   Amerika biasanya menerapkan ISO 9000 bukan karena alasan pasar, namun
   lebih karena hukum.
   
   Alasan utama bagi sistem manajemen lingkungan yang diwakili oleh ISO
   14000 adalah tuntutan perundang-undangan negara. Dengan fasilitas yang
   ada dalam standar ISO 14000 tersebut, suatu perusahaan dijamin dapat
   memenuhi tuntutan lingkungan. Jaminan ini diberikan karena ISO 14000
   memberikan jaminan bahwa produk yang dikeluarkan akan sesuai dengan
   hukum.
   
   Hubungan ISO 9000 & 14000
   
   Dengan penerapan ISO 9000, suatu perusahaan tidak secara otomatis
   memenuhi persyaratan ISO 14000. Sebab dapat dimungkinkan bahwa suatu
   perusahaan, misalnya pabrik kimia, sudah mendapatkan sertifikat ISO
   9000 tetapi masih belum menerapkan sistem manajemen lingkungan.
   
   Walaupun ISO 9000 membahas tentang isu manajemen mutu, namun sebagian
   isinya juga memberi petunjuk bagaimana suatu industri (misalnya
   industri kimia) dapat menggunakannya untuk mengelola masalah-masalah
   lingkungan, kesehatan, dan keselamatan kerja. Sedangkan ISO 14000
   membahas lingkungan secara umum: kesehatan dan keselamatan kerja,
   keamanan proses produksi dan masyarakat, dan keamanan produk.
   
   ISO 9000 dapat pula dipakai untuk memberikan perlindungan gugatan
   terhadap produk yang dihasilkan dan untuk memastikan terpenuhinya
   persyaratan yang diajukan masyarakat serta kriteria peraturan
   periklanan.
   
   ISO 9000 dan ISO 14000 dapat digunakan secara terpisah dan dapat pula
   secara digabungkan. Badan akreditasi seperti National Acreditation
   Council for Certification Bodies (NACCB), yaitu yang memberi
   akreditasi badan akreditasi di Inggris, mengharapkan sistem manajemen
   lingkungan yang baru akan diterapkan secara terpisah, bukan sebuah
   tambahan untuk ISO 9000.
   
   Menurut pengamatan Brian Rothery, penulis buku ini, terdapat tiga
   kemungkinan penerapan kedua standar tersebut.
   
   Pertama, suatu perusahaan biasanya perusahaan baru menerapkan ISO 9000
   kalau dituntut pelanggannya. Namun demikian perusahaan ini harus pula
   menerapkan ISO 14000 bilamana perundang-undangan mewajibkannya.
   
   Kedua, suatu perusahaan harus menerapkan ISO 14000 walaupun belum
   menerapkan ISO 9000, hal ini disebabkan pelanggan belum menuntutnya.
   
   Ketiga, satu perusahaan dapat menerapkan gabungan antara ISO 9000
   dengan ISO 14000. Dalam hal penggabungan ini harus terdapat batas yang
   jelas untuk membuktikan bahwa ISO 14000 telah diterapkan secara utuh.
   
   Implementasi ISO 14000
   
   Langkah-langkah praktis untuk mengimplementasikan ISO 14000 secara
   berurutan adalah: upaya memperoleh komitmen dari manajemen puncak,
   membuat kaji awal lingkungan dan buku kumpulan peraturan, membentuk
   Program Manajemen Lingkungan (PML), dan melaksanakan Sistem Manajemen
   Lingkungan (SML).
   
   PML meliputi organisasi, manajer lingkungan, dan tim kaji ulang
   lingkungan, struktur dan agenda untuk pertemuan bulanan, pengawasan
   program baru dan proyek awal, termasuk menetapkan beberapa
   ketidaksesuaian satu kali (one-off) yang ditemukan selama kaji awal
   lingkungan, target dan sasaran jangka panjang, penerbitan
   kebijaksanaan dan kinerja. Sedangkan SML adalah sistem harian yang
   sebagian besar adalah daftar dampak lingkungan, subdokumen yang
   disebut prosedur evaluasi dampak, manual pengawasan-pemantauan dan
   manual manajemen lingkungan, serta segala yang berhubungan dengan
   prosedur operasi dan pengawasan.
   
   Pada saat membaca buku ini, para pembaca ditunjukkan oleh penulis
   tentang hal-hal yang baru dari ISO 14000 bila dibandingkan dengan ISO
   9000. Hal-hal yang baru tersebut antara lain meliputi: perlunya suatu
   rencana manajemen lingkungan yang strategis, dalam Program Manajemen
   Lingkungan (PML) dapat dimasukkan prioritas, pilihan, identifikasi
   biaya/manfaat, hubungan kaji ulang dan analisis. ***
   
   (Theresia Murwijati, dokter hewan, tinggal di Bandung)