IN: KMP - Tokoh: Asep Sunandar Suna

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Jan 25 1997 - 15:34:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id TAA25282 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 25 Jan 1997 19:34:31 -0500 (EST)
Subject: IN: KMP - Tokoh: Asep Sunandar Sunarya

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Jan 25 17:13:49 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Sun, 26 Jan 1997 09:09:44 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199701252209.JAA10441@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: KMP - Tokoh: Asep Sunandar Sunarya
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

   Kompas Online
Minggu, 26 Januari 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
LEBIH JAUH DENGAN

Asep Sunandar Sunarya

   hers
   
                             PENGANTAR REDAKSI
                                      
   WAYANG golek kini "punya" kemampuan baru: merentangkan busur lalu
   melepas anak panahnya. Tanpa bantuan tangan dalang, anak panah
   tersebut akan menuju sasaran yang dituju, yakni wayang golek yang jadi
   lawannya. Lalu setelah terkena panah, wayang golek tersebut akan jatuh
   terkapar. Tentu saja yang terakhir ini dengan bantuan tangan dalang.
   Penonton bersorak, senang.
   
   Itulah salah satu kreasi terbaru Asep Sunandar Sunarya, dalang kondang
   dari Giriharja 3 di Kampung Jelekong, Bandung yang tak pernah henti
   menghasilkan kreasi baru untuk tetap mempertahankan keberadaannya.
   Sebelumnya, ia menciptakan wayang yang muntah darah atau otaknya
   berceceran ketika kena gada atau alat pemukul lainnya sehingga membuat
   penonton terkagum-kagum.
   
   Asep mengenal wayang sejak kecil karena lingkungannya berasal dari
   keluarga dalang. Kepiawaian ayahnya, dalang sepuh Abah Sunarya dari
   kelompok Giri Harja, sudah tak asing lagi. Anak ketujuh dari 13
   bersaudara itu lahir pada Sabtu, 5 Mei 1955. Ia menjadi dalang secara
   otodidak setelah sebelumnya sering menyaksikan pergelaran ayah atau
   kakaknya. Asep pertama kali pentas tahun 1972 dan semula hanya main
   siang saja. Pada masa itu pertunjukan wayang golek diadakan dua tahap,
   siang dan malam hari. Pertunjukan siang ibarat partai pendahuluan
   dalam pertandingan tinju.
   
   Tetapi dalam perjalanan karirnya kemudian, Asep berhasil mengembangkan
   kreativitasnya. Ia menciptakan trik-trik baru tiap pergelaran sehingga
   membuat dirinya tampil berbeda, walaupun kritik berdatangan. Berkat
   kegigihannya, wayang golek yang semula merupakan pertunjukkan kurang
   disukai, seolah memperoleh roh baru. Tiap pergelaran selalu dipadati
   penonton. Bahkan panggung wayang golek yang biasanya digelar di
   halaman rumah atau kebun, tahun 1980-an bisa masuk hotel berbintang di
   Bandung.
   
   Asep yang ingin menjadi petani bila tak lagi aktif sebagai dalang,
   kewalahan menghadapi pesanan. Tidak jarang dalam bulan-bulan tertentu
   ia harus 40 kali naik panggung dalam sebulan. Daerah jelajahnya bukan
   hanya Jawa Barat. Ia berkeliling ke Swedia dan Perancis, mengunjungi
   kota-kota Saint Chamond, Cholet, Lavallois dan Paris untuk
   memperlihatkan kepiawaiannya memainkan wayang golek di depan anak-anak
   sekolah di sana. Uang pun makin banyak masuk koceknya.
   
   Ayah sembilan anak dari lima kali perkawinannya itu, kini hidup
   bahagia dengan istrinya Ny Nenah Hayati yang lahir 3 Juni 1970 dan
   memberinya dua anak, Batara (11 tahun) dan Gista (8 tahun). Pasangan
   ini menikah 4 Maret 1985. Karena mobilnya mogok, akad nikah
   diselenggarakan pukul 23.00 malam.
   
   Dalam usia yang kini mencapai 41 tahun, Asep galau melihat
   perkembangan wayang golek di daerahnya. Masyarakat makin maju,
   pendidikan makin tinggi dan kemampuan ekonomi makin meningkat, tetapi
   pendidikan dalang-dalang wayang golek? Ia mencoba melakukan
   kaderisasi, dan salah satu kadernya adalah Dadan Sunandar, anaknya
   sendiri, yang didorongnya masuk perguruan tinggi.
   
                    ___________________________________
                                      
   BAGAIMANA menurut Anda nasib wayang golek pada masa sekarang?
   
   Ah, maju tidak, mundur tidak juga. Kayaknya sih seperti jalan di
   tempat.
   
   Mengapa?
   
   Wayang golek sebenarnya sangat membutuhkan kreativitas. Apalagi pada
   era industrialisasi seperti sekarang, mana mungkin mereka menghabiskan
   waktu semalam suntuk untuk menonton wayang golek. Mereka tidak
   mempunyai waktu lagi karena kesibukannya. Karena itu, dalang harus
   kreatif dan mengemas pergelarannya secara padat.
   
   Apa cukup dengan memadatkan waktu pergelaran?
   
   Banyak segi yang harus ditingkatkan lagi, sebab masalahnya yang
   menurun kreativitas dalang. Kreativitas itulah yang berperan sangat
   penting.
   
   Peran dalang sangat menentukan?
   
   Ya. Bagaimanapun juga dalang harus jeli. Dia harus bisa membaca
   keadaan masyarakatnya dan kemudian menyampaikannya melalui bahasa yang
   sesuai dengan tingkat pendidikan publik penontonnya.
   
   Apakah dalang harus memiliki pendidikan baik, formal ataupun
   nonformal?
   
   Dok keluarga
   ____________________
   Menurut saya, di masa datang, pendidikan formal dalang akan ikut
   menentukan. Dalang harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,
   menguasai politik, agama dan berbagai bidang lainnya. Karena itu, saya
   menyekolahkan anak saya sampai perguruan tinggi. Sekarang sudah
   tingkat tiga Jurusan Sastra Sunda Fakultas Sastra Universitas
   Padjadjaran (Unpad).
   
   Selama ini, dari mana Anda menambah pengetahuan?
   
   Informasi itu saya peroleh melalui TV atau membaca surat kabar,
   majalah. Namun semua pengetahuan yang diperoleh itu baru ada artinya
   bila diimbangi kreativitas.
   
   Bagaimana proses kreativitas itu timbul?
   
   Wayang golek memang hasil kreativitas, dan yang membedakan dari wayang
   kulit, wayang golek tiga dimensi. Masalahnya sekarang bagaimana upaya
   dalang memenuhi keinginan publik tanpa merusak seni wayang golek itu
   sendiri.
   
   Tapi Anda pernah dikritik habis-habisan karena trik-trik yang
   diciptakan dikhawatirkan akan merusak pakem.
   
   Masalahnya, trik hasil kreativitas itu diciptakan hanya pada
   wayang-wayang tertentu. (Asep menciptakan wayang yang bisa muntah
   darah atau otak berhamburan setelah kepala wayang tersebut dihantam
   gada atau alat pemukul lainnya dalam pertarungan. Caranya, ia
   menyimpan kantung karet di bagian tubuh paling bawah wayang golek yang
   biasanya berbentuk gagang. Kantung karet berisi cairan merah itu
   dihubungkan selang plastik ke mulut wayang. Jika kantung karet
   dipencet, cairan merah menyerupai darah akan keluar dari mulut wayang
   tersebut).
   
   Kreasi Anda terakhir apa?
   
   Panah dan busurnya. Dulu hanya anak panah saja, sekarang anak panah
   dan busurnya sudah divisualisasikan, sehingga begitu ditarik dari
   busurnya anak panah akan kelihatan meluncur lalu mengenai sasarannya.
   
   Kadang-kadang jauh hari sudah ada ide seperti itu, tapi pada saat itu
   hanya dalam tahap pemikiran saja. Sebelum ide itumenjadi kenyataan,
   pikiran itu biasanya terus mengganggu.
   
   Jadi sebenarnya apa fungsi dalang?
   
   Selain sebagai pendidik, penghibur juga juru penerang. Pendidik
   maksudnya dalang itu sebagai guru. Penerang berarti memberikan
   penerangan. Sedangkan penghibur selalu memberikan hiburan, harus kocak
   seperti pelawak. Karena itu dalang merangkap sebagai sutradara,
   pemain, pelawak, sebagai penyanyi dan sebagainya.
   
   Supaya wayang golek diterima seluruh masyarakat Indonesia dan dunia
   luar, bagaimana caranya?
   
   Jangan segan-segan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
   Harus.
   
   Syarat utamanya?
   
   Gamelan dan juga langgam dalang jangan berbicara dalam bahasa
   Indonesia tetapi langgamnya langgam bahasa Sunda. (Asep mencoba
   mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan langgam Sunda).
   Kan nggak enak.
   
                                    ***
                                      
   BUAT Asep, tidak apa-apa seorang dalang bergabung dengan organisasi
   peserta pemilu tertentu bila memang sesuai dengan aspirasi si dalang.
   Hal yang menurut Asep lebih penting justru bagaimana membuat wayang
   golek tampil menarik terutama untuk generasi muda.
   
   Dalam menghadapi pemilu, bagaimana bila dalang mendapat "pesanan"
   kampanye dari salah satu orsospol atau Golkar?
   
   Kalau kita dibayar dan mau menerima, kenapa tidak?
   
   Apa sudah pernah ada yang minta?
   
   Dari PPP belum, dari PDI belum. Karena dari Abah dulu Golkar, ya saya
   juga Golkar. Hahaha ... hahaaaa ... Mungkin karena saya sudah di
   Golkar.
   
   Apakah pada pertunjukan yang berkampanye, sering menyelipkan kritik?
   
   Harus. Kita jangan munafik karena benci. Misalnya karena wakil rakyat
   yang terpilih tidak benar, kita harus berani mengritik karena suara
   kita ikut menentukan. Jangan karena benci pada wakil rakyat tersebut,
   kita beralih memilih tanda gambar lain. Munafik itu namanya.
   
   Apakah pernah mendapat ancaman atau teguran dari orang-orang yang
   merasa dikritik?
   
   Saya tidak mengkritik, tapi bicara sebenarnya. Bila ada yang merasa
   dikritik, orang itu hanya rumasa (merasa). Lagi pula kritik
   disampaikan secara tidak langsung. Misalnya melalui si Cepot. (Cepot
   adalah salah seorang putra Semar yang jadi panakawan Pandawa Lima).
   
   Anda tidak merasa takut?
   
   Takut dengan siapa?
   
   Bagaimana tanggapan Anda mengenai masyarakat sekarang?
   
   Masyarakat kita sudah memasuki zaman modern. Pikirannya makin kritis
   sehingga kemajuan ekonomi yang menimbulkan kesenjangan mengakibatkan
   kecemburuan sosial. Salah satu akibatnya, kriminalitas meningkat.
   
   Di mana lamun aparatur nagara geus ngalimed, alim ulama geus geyebed,
   nu beunghar geus kararumed jeung nu miskin geus kekeremed, karusakan
   geus di ambang panto. (Kalau aparatur sudah mementingkan diri pribadi
   dibanding kepentingan umum, alim ulama sudah pamrih, orang kaya mulai
   kikir dan yang miskin sudah panjang tangan, maka kerusakan di ambang
   pintu).
   
   Sepertinya generasi muda sekarang tidak lagi menyenangi wayang golek,
   apa tidak risi?
   
   Risi sih risi. Karena itu saya bilang tadi, ini semua tantangan bagi
   dalang untuk meningkatkan kreativitasnya agar generasi muda tertarik
   pada wayang golek.
   
   Upaya lainnya untuk memajukan seni wayang golek?
   
   Banyak cara. Satu di antaranya misalnya dalam pakaian wayang, cat
   wayang, selain itu gamelannya harus ditingkatkan. Pokoknya semua saja
   harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Namun usaha saya seperti itu
   mengakibatkan ada dalang lain yang iri. Mereka heran, mengapa ya Asep
   Sunandar Sunarya maju? Menurut saya, pantas mereka tidak maju karena
   gamelannya jelek, wayangnya juga jelek dan pakaian wiyoganya (awak
   gamelan) nggak serasi.
   
   Apakah hal itu merupakan kebutuhan?
   
   Ya, penonton perlu ditipu dulu oleh (barang) lahiriah sehingga ketika
   mereka datang melihat, muncul rasa kagum. Wah gamelannya bagus,
   keserasiannya bagus, seragam wiyoga-nya bagus dan tabuhannya enak.
   Lantas wayangnya juga bagus. Tapi sebaliknya, bila dalang dan
   wiyoga-nya kuluhu (kumal atau kucal) ,.....wah celaka.
   
   Kemakmuran yang didapat Asep dari profesi dalang bisa dilihat antara
   lain dari kebun rambutannya yang lima hektar selain sawah. Seperti
   juga banyak dalang, Asep juga pernah beberapa kali kawin. Perkawinan
   pertamanya (1974), dimeriahkan tujuh hari tujuh malam dan membuahkan
   tiga anak. Namun perkawinan itu hanya bertahan empat tahun. Ia menikah
   lagi dan membuahkan tiga anak. Perkawinan ini pun tidak lama karena
   Asep kemudian memilih wanita lain dan membuahkan seorang anak.
   Perkawinan ini pun tidak bertahan lama dan Asep kemudian kawin lagi.
   Istri terakhirnya Nenah Hayati, berasal dari Kadupandak, Cianjur
   Selatan.
   
   Bagaimana Anda melihat harta atau dunia kekayaan?
   
   Itu mah akibat. Jadi akibatnya banyak masuk uang, tetapi bukan tujuan
   saya ingin kaya.
   
   Bila sudah tidak kuat jadi dalang mau jadi apa?
   
   Saya akan menjadi tukang tani wae.
   
   Mengapa?
   
   Sekarang senang juga kan saya beli tanah lalu dijadikan kebun ditanami
   rambutan. Kalau sudah berbuah, rasanya ada kenikmatan yang luar biasa.
   
   Bagaimana tentang wanita?
   
   Biasa-biasa saja, banyak dalang yang istrinya dua, yang tiga.
   
   Ketenaran membuat Anda dikitari wanita?
   
   Ah... tukang tipu.
   
   Maksudnya?
   
   Seandainya saya tukang beling, omongnya pasti seperti itu. Sebabnya,
   bila saya hanya tukang cari beling, pasti wanita tidak akan mau dekat
   pada saya.
   
   Anda mendalang sejak SD?
   
   Ya sejak SD. Pertama karena bakat dan kedua karena keturunan dari
   kakek dan bapak. Sejak kecil saya dekat dengan wayang. Empat kakak dan
   saya, semua jadi dalang. Seorang di antaranya, Agus Sunarya, sekarang
   menjadi ustadz.
   
   Apakah dulu mengenal wayang karena dipaksa ayah menjadi dalang?
   
   Tidak, malah saya memegang wayang bila Abah (Ayah) tidur. Pulang main,
   saya pegang-pegang. Kalau Abah bangun, wah marah. Takut wayangnya
   rusak. (Sejak kecil, sepulang sekolah Asep membawa teman-temannya
   memainkan wayang-wayangan yang terbuat dari tangkai dan daun singkong.
   Kalimat yang diandalkan untuk memukau teman-temannya adalah, sok sia
   gelut jeung aing - ayo kamu berkelahi dengan saya).
   
   Apakah ayah Anda pernah menginginkan Anda menjadi dalang?
   
   Karena saya malu pada Abah, dulu saya jarang bicara. Saya menghindar
   terus. Bila Abah melihat saya menonton wayang, dia bukannya memuji
   malah mengumpat. Jelek... ah, katanya.
   
   Anda tidak takut persaingan antardalang.
   
   Enggak ya...
   
   Bila mau mendalang apakah membuat rencana dulu, seperti skenario?
   
   Saya mah spontanitas saja. Tidak pakai skrenario-skenarioan segala.
   Pokoknya kalau sudah dipanggung, ide cerita selalu ada saja.
   
   Bagaimana bila ada yang memesan lakon yang diinginkan?
   
   Ya nggak ada latihan dulu, pokoknya jadi saja, di panggung muncul ide
   secara spontan.
   
   Bila sebulan naik panggung empat puluh kali, apakah tidak kehabisan
   cerita?
   
   Ha ... ha... ha... Karena tidak main di satu tempat saja,
   kadang-kadang satu cerita dipakai tiap malam. Misalnya malam ini main
   di Kuningan, besok main di Bogor. Penontonnya kan lain-lain.
   
   Anda katakan dapat ide dari cerita dan situasi masyarakat, bagaimana
   merangkainya?
   
   Ah itu sih gampang saja. Misalnya Gatotkaca atau Cepot sedang jalan.
   Katakan misalnya, kemudian lewat tukang bakso, lalu inspirasi itu
   muncul terus.
   
   Bagaimana Anda memandang popularitas dan menjaganya supaya tidak lupa
   diri?
   
   Harus kembali ke asal, manusia harus introspeksi manusia akan mati,
   profesi juga akan hilang dan harta tidak akan dibawa mati. Yang dibawa
   hanyalah amal dan ibadah orang tersebut.
   
   Lapisan manakah mayoritas penikmat wayang golek kini?
   
   Dulu hanya kalangan menengah ke bawah. Tapi sekarang bukan hanya
   menengah ke bawah, tapi juga menengah atas.
   
   Mereka ingin hiburan atau...
   
   Ya hiburan. Penggemar wayang golek, sekarang baru sampai hiburan,
   belum sampai pada filosofinya. Berbeda dari penonton wayang kulit.
   Saya paling senang menonton wayang kulit. Penontonnya menunjang sekali
   mendengarkan purwa dalang.
   
   Bagaimana dengan wayang golek?
   
   Sebaliknya pada wayang golek, mereka ingin cepat perang, cepat keluar
   si Cepot.
   
   Apakah itu mewakili karakter orang Sunda, misalnya ingin cepat perang
   itu...?
   
   Ah, karena mereka ingin hiburan saja. Jadi kadang-kadang dalam seribu
   penonton, paling hanya tiga-empat yang benar-benar menonton.
   
   Apakah wayang golek kadar keseriusannya sedikit, sementara pada wayang
   kulit orang harus banyak berpikir?
   
   Entah ya, sejak dulu memang seperti itu. Bila pergelaran sedang
   serius, satu-satu mereka meninggalkan kalangan lalu jajan atau mencari
   makanan kecil di pedagang yang berjualan sekitar tempat pergelaran.
   Tetapi bila sudah muncul adegan humor atau peperangan, mereka
   berdatangan lagi.
   
   Bagaimana mengatur waktu yang begitu padat?
   
   Sekarang sudah diatur karena kondisi tidak memungkinkan kuat naik
   pentas satu bulan terus-terusan. Paling-paling sekarang lima belas
   panggung sebulan. (Empat tahun lalu, Asep bisa pentas 40 kali
   sebulan).
   
   Punya manajer?
   
   Ndak... Diatur sendiri saja. Apalagi sekarang hanya 15 panggung,
   berarti dua hari sekali.
   
   Apa yang diharapkan dari anak, apakah jadi dalang?
   
   Bisa saja terus jadi dalang tapi ya beda dari ayahnya sekarang.
   Pendidikan dan IQ-nya harus mengikuti perkembangan masyarakat
   sekarang. Kalau tidak ditunjang dengan pendidikan yang tinggi wah...
   bisa ditinggalkan masyarakatnya.
   
   Kenapa?
   
   Intektualitas sangat penting. Masak dalang dari Jateng atau Jatim sana
   ada yang doktorandus, insinyur, tetapi dari Jawa Barat, coba mana?
   Satu saja ada yang doktorandus, sudah bagus. Hahaha...
   
   Apakah kalau begitu orang Sunda kurang memperhatikan pendidikan?
   
   Bukan begitu. Karena begini ya, wayang di Jateng asalnya dari keraton,
   sedangkan di Sunda datangnya dari tukang cangkul, dari kampung.
   Padahal dulu Sunda punya Pajajaran, tapi keratonnya musnah. Jadi, mana
   tradisi keratonnya? Padahal martabat suatu bangsa bisa diukur dari
   budayanya. Bila budayanya rusak, bangsanya juga awut-awutan.
   
   Apakah orang Sunda akan bernasib seperti itu?
   
   Bila budayanya dilepaskan, diganti ecstasy atau mogadon, apa tidak
   khawatir akan bernasib begitu?
   
   Bangsa yang seharusnya sedang giat-giatnya membangun dengan modal
   dasar sumber daya manusia yang berkualitas, sebagian anak-anak mudanya
   malah terjebak ke hal-hal negatif.
   
   Padahal seni bisa ikut meningkatkan sumber daya manusia. ***
   
   Pewawancara: Pingkan Elita Dundu, A Maryoto, Her Suganda