IN: KMP - Preman "Menguasai" Tanaha

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Feb 01 1997 - 14:37:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.4/8.7.1) id SAA04561 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 1 Feb 1997 18:36:59 -0500 (EST)
Subject: IN: KMP - Preman "Menguasai" Tanahabang

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Feb 1 17:10:42 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Sun, 2 Feb 1997 08:36:41 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199702012136.IAA07194@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: KMP - Preman "Menguasai" Tanahabang
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

   Kompas Online
Minggu, 2 Februari 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
                         Preman "Menguasai" Tanahabang
                                       
   TAWURAN massal dua kelompok preman di Tanahabang, Jakpus, membuktikan
   bahwa tekad penguasa keamanan Ibu Kota untuk "menghabisi" kelompok
   marjinal itu belum terwujud dengan baik. Preman ternyata bahkan sudah
   "menggenggam" beberapa wilayah di pelosok Jakarta ini.
   
   Dari pungutan liar terhadap ratusan pengemudi angkutan umum di
   Bendungan Jago, Kemayoran hingga upeti yang harus dibayar para pemilik
   hotel, restoran dan tempat hiburan di kawasan Mangga Besar. Dari
   tukang palak di terminal Pulogadung hingga debt collector perbankan,
   semuanya bertumpuk di Jakarta.
   
   Tanahabang misalnya. Betapa premanisme di situ tumbuh subur. Dan sudah
   menjadi rahasia umum, para preman itu bisa merajalela karena ada
   oknum-oknum yang berdiri di belakangnya.
   
   Sejak belasan tahun lalu aparat Kecamatan Tanahabang (sama seperti
   kecamatan-kecamatan lainnya), "memperkerjakan" sipil untuk "mengelola"
   lahan di kawasan itu. Para "pengelola" itu wajib membayar setoran ke
   para oknum aparat tersebut. Baik oknum di kecamatan, kelurahan,
   koramil hingga polsek.
   
   Tanahabang memang sudah menjadi "tambang emas" para preman sejak lama.
   Lama kelamaan, kuku "pengelola" ini semakin tajam mencengkram daerah
   itu.
   
   Dari WTS liar, mucikari, pedagang kaki lima, sopir angkutan umum,
   perparkiran, toko-toko, hingga pelaku "judi catur" di trotoar harus
   membayar uang keamanan kepada preman yang menguasai daerah itu.
   Demikian pula dengan judi "bola setan" (cap ji kie), yakni bola yang
   dilemparkan ke lubang-lubang bernomor, yang hampir setiap malam
   digelar di kawasan WTS di tepi rel KA Tanahabang.
   
   Kerusuhan, yakni pembakaran mobil Tramtib dan kantor kecamatan
   Tanahabang beberapa waktu kemudian ujar sumber Kompas di kawasan itu,
   karena tak adanya "koordinasi" antara oknum aparat kecamatan dengan
   walikota. Hari itu aparat kecamatan, melalui para "pengelola" jalanan
   sudah memungut uang "restribusi" harian, yang bahkan ditingkatkan
   jumlahnya karena "mendekati" Lebaran.
   
   Ternyata para pedagang itu, masih dibersihkan oleh Tramtib dari kantor
   Walikota Jakpus. Akibatnya, pedagang (dan "pengelola") marah. Mereka
   bersama-sama membakar dan merusak kantor kecamatan itu.
   
                                    ***
                                      
   NAMA Hercules sudah menjadi Godfather di daerah itu sejak tahun
   1985-an. Warga RW 09 Kelurahan Kebon Kacang ini tak memiliki tubuh
   besar seperti putra Dewa Zeus dalam kisah klasik Yunani, justru
   sebaliknya bertubuh kurus kerempeng.
   
   Selain, mata kiri palsu, tangan kanannya (hingga sebatas siku) juga
   palsu. Dia selalu sesumbar, cacad itu karena ikut berperang membantu
   TNI saat pergolakan di Timor Timur, kampung halamannya, Ainaro.
   
   Dalam tempo singkat, nama Hercules semakin tenar di kawasan itu. Dan
   hebatnya, anak buahnya tak sebatas pemuda asal Timtim, namun juga dari
   daerah-daerah lain, seperti arek-arek Madura, Bugis, Padang,
   Palembang, Ambon hingga Batak. Hercules serta adik kandungnya, Fretes
   didaulat sebagai pimpinan "dunia hitam" di daerah itu.
   
   Daerah "jajahannya" semakin lama semakin luas. Mereka tak lagi sekadar
   memungut uang restribusi dari pedagang, tapi juga ikut memberi izin
   ribuan pedagang kaki lima yang biasa disebut "lapak" di daerah itu.
   Untuk mendapat izin, satu "lapak" harus membayar Rp 400.000-Rp
   500.000. Merasa sudah terlalu kuat, kelompok Hercules semakin berani
   menentang petugas yang kurang "sejalan" dengan mereka.
   
   Beberapa pedagang mengungkapkan, pada bulan Desember lalu puluhan
   preman anak buah Hercules pernah menyerbu pos polisi di pertigaan
   Pasar Kebon Jati.
   
   Keadaan berubah. Salah satu "orang kepercayaannya" yang bernama Yosep,
   biasa dipanggil "Ius" mulai enggan jadi bawahan Hercules. Sebuah
   sumber menyebutkan, sebenarnya bukan Hercules tapi Ius inilah "anak
   asuh" dari seorang perwira tinggi TNI yang membawanya dari Timtim. Dia
   lalu memperkenalkan Hercules dengan "bapak asuhnya" tersebut.
   
   Ius, yang kelahiran Flores, NTT itu kemudian mengumpulkan teman-teman
   "dekat"nya. Dia mulai berani mengumpulkan restribusi sendiri, tanpa
   disetorkan ke Hercules. Salah seorang kawan setia Ius, Nando, adalah
   pentolan preman asal Bima yang juga mulai tak senang berada di bawah
   pimpinan Hercules. Melihat hal itu, Hercules menyebarkan ancaman ke
   kubu Ius.
   
   Merasa "lebih baik mendahului dari pada didahului", Ius lantas
   mengumpulkan rekan-rekannya. Dua pekan sebelum tawuran massal itu,
   sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, Ius serta puluhan rekan-rekannya
   (terbanyak dari kelompok Madura) menyatroni rumah Hercules, yang
   sedang tidur nyenyak. Lima bacokan langsung bersarang di tubuh
   Hercules dan dua di antaranya merambah wajahnya.
   
   Mengira Hercules sudah "lewat", Ius Cs lantas meninggalkan rumah itu.
   Ternyata, Hercules selamat dan dilarikan ke RS Gatot Subroto. Beberapa
   hari kemudian dia melarikan diri ke Indramayu, kampung istrinya.
   
   Fretes adik Hercules, kemudian menyiapkan Vendetta (balas dendam).
   Kelompok Ius sudah mengantisipasinya. Maka terjadilah tawuran massal,
   hari Kamis (9/1) tersebut.
   
   Seperti dalam sebuah film cerita tentang gangster ala mafia, tawuran
   massal itu sebenarnya disepakati kedua kelompok digelar di tempat
   terbuka. Bahkan beberapa di antaranya mengingatkan petugas, jika
   sampai terdengar letusan senjata api, maka mereka akan membakar semua
   yang ada di sekitar daerah itu.
   
   Petugas tampaknya sudah mengantisipasi hal itu, sehingga berhasil
   meredam kejadian itu nyaris tanpa letusan senjata.
   
                                    ***
                                      
   KASUS preman Tanahabang itu membuktikan premanisme masih marak di Ibu
   Kota ini. Sudah menjadi "rahasia umum", masih banyak "Hercules" lain
   yang menjadi "Don Corleone" kawasan-kawasan tertentu.
   
   Di Jakarta Timur misalnya, kawasan Kebon Singkong, Klender, diketahui
   menjadi "basis" preman. Dari "pemain" 365 (perampokan) hingga pencuri
   kendaraan bermotor berkumpul di situ. Di kawasan perparkiran Arion
   Rawamangun ada nama "Azis", sedangkan di Jl. Matraman-Pramuka ada nama
   "Edison".
   
   Di Jakarta Pusat, nama "Hasan Suwing" masih disegani di kawasan
   Lokasari, Manggabesar dan sekitarnya. Kemudian mantan pembunuh bayaran
   yang sudah tobat, Arek Foto, juga masih punya nama di Tanah Tinggi.
   Atau "Yanto", yang memegang perparkiran di depan Gelanggang "Planet"
   Senen.
   
   Pencopet-pencopet Senen diisukan dipimpin "Ical alias Eddy". Dan salah
   satu penyebab, mengapa mereka berani langsung mencopet penumpang KA di
   Stasiun Senen, konon karena ada beking oknum di kawasan itu. Lalu di
   Jl Biak-Roxy, masih ada nama "Amsir Budeg" dan "Tatang Cs" di Jl
   Juanda.
   
   Di Jakarta Barat, nama "Margono" sudah cukup kuat di kawasan
   Cengkareng. Pemerasan pengemudi angkot setiap hari diduga dikoordinir
   olehnya, dan bulan lalu sempat tawuran massal dengan kelompok
   Palembang di kawasan itu.
   
   Di Jakarta Selatan, masih ada nama preman yang "sudah sadar", yakni
   "Seger" yang memegang perparkiran di kawasan Blok M. Dia terkenal
   dalam kasus pemberontakan LP Cipinang tahun 1981, di mana dia diduga
   menghabisi anak buah Jhoni Sembiring (almarhum). Rekan seangkatan
   "Seger" adalah "Freddy Galur" serta "Plolong" (almarhum).
   
   Di Jakarta Utara, nama "Kadim" masih disegani di kawasan pelabuhan. Di
   sekitar kawasan WTS Kramat Tunggak, tepatnya di Jl Kramat Jaya VI ada
   "dedengkot" bernama Zazuli. Mantan terhukum seumur hidup ini, dianggap
   penguasa kawasan Gudang Baru, Bulog dan lain-lain.
   
   Lalu di Pademangan Barat, ada nama "Rudy Ambon" yang biasa mangkal di
   bioskop King. Di kawasan WTS Kalijodo, nama "Daeng Usman, Daeng Patah
   dan Daeng Hamid" masih disegani di daerah itu. Kemudian, nama "Royal"
   di Gedung Panjang, Kota.
   
   Di Pasar Ikan sudah lama ada nama "Janaan dan Suganda" (satu lagi:
   Janaka sudah almarhum). Selain menguasai kuli-kuli di pelabuhan itu,
   juga diduga sebagai bos "bajing luncat" di kawasan pelabuhan hingga
   Jawa Barat. "Markas" mereka konon di belakang pabrik Bimoli, Pluit.
   
                                    ***
                                      
   JELAS sudah, sikap tegas dari aparat keamanan kembali dibutuhkan untuk
   "membersihkan" Ibu Kota dari premanisme saat ini. Mantan preman, yang
   saat ini menjadi mubaliq, H.M. Ramdhan Effendi alias Anton Medan
   mengingatkan, perlu diperhatikan masalah "perut" yang membuat
   munculnya premanisme itu.
   
   Diungkapkannya, saat ini Yayasan Atta-Ibin yang dikelolanya berupaya
   menggalang sekitar 7.000 mantan napi untuk disosialisasikan ke
   masyarakat. Ternyata sebagian besar dari mereka sulit memperoleh
   pekerjaan karena tak didukung pemerintah. Dia mengimbau, agar
   disediakan lapangan pekerjaan padat karya, seperti buruh pabrik untuk
   para mantan napi yang sudah sadar itu.
   
   Sekarang pemerintah bukan mendukungnya, malah untuk ceramah agama di
   Lembaga Pemasyarakatan (LP) pun dia kena cekal Dirjen Pemasyarakatan.
   Penyebabnya, menurut Anton, karena dia sering membeberkan
   cerita-cerita "gelap" di seputar LP pada media massa.
   
   Menurut Anton, saat ini sebenarnya yang juga harus menjadi "perhatian"
   aparat keamanan adalah kelompok preman elit, yang menguasai
   tempat-tempat hiburan hingga perusahaan-perusahaan di Jakarta. Juga
   sebagai pengelola beberapa tempat judi liar. Mereka semakin lama
   terlihat semakin kuat.
   
   Sementara Ketua Harian Pemuda Pancasila (PP), Yoris Th. Raweyai
   menegaskan, organisasi itu menjamin sikap anggota yang takkan
   menyimpang dari hukum yang berlaku. Diingatkan, sekitar 40.000 anggota
   PP Jakarta memiliki identitas jelas.
   
   Soal pembinaan, lanjutnya, PP senantiasa melakukan upaya agar para
   anggotanya berjalan di atas rel. Di antaranya, menanamkan rasa
   sosialisasi yang tinggi terhadap keadaan di lingkungan masing-masing.
   
   Wakil Ketua Presidium PP, Ruhut Sitompul menambahkan, tawuran massal
   preman yang berdasarkan kelompok kedaerahan itu, pasti tak melibatkan
   anak-anak PP. Alasannya, sudah lama di organisasi itu mengkikis habis
   rasa kedaerahan, apa lagi kesukuan yang berlebihan.
   
   Apa pun itu, tampaknya pekerjaan besar masih menanti para penegak
   keamanan di Ibu Kota ini. Jangan membiarkan Ibu Kota ini berada dalam
   "genggaman" para penjahat itu. (barry sihotang)