IN: Pemerkosaan (1/3)

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Feb 11 1997 - 12:19:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id QAA11805 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 11 Feb 1997 16:19:02 -0500 (EST)

Kabar dari PIJAR

From:Kopi Tubruk
Sent:Saturday, February 08, 1997 8:04 PM
Subject:(1/3) Kasus Perkosaan Atas Diri Alianca Henrique dos Santos

KASUS PERKOSAAN ATAS DIRI ALIANCA HENRIQUE DOS SANTOS

Disampaikan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Disusun oleh:
Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK)
Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FKGMNU)
Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI)
Institut Sosial Jakarta (ISJ)
Komite Bersama untuk Masyarakat Timor-Timur
Komite Pendidikan Anak-Anak Kreatif (Kompak)
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) - Jakarta
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI)
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Saluran Informasi Sosial - Bimbingan Hukum (SIS - Bikum)
Sekretariat Keadilan dan Perdamaian - KWI
Serikat Perempuan Anti Kekerasan (SPEAK)
Sikap
Solidaritas Perempuan
Yayasan Kalyanamitra

Ringkasan
---------

Alianca Henrique dos Santos (23 tahun) pada tanggal 5 November 1996 bersama
keluarganya ditangkap oleh belasan tentara di Atabae, Kabupaten Bobonaro.
Segera setelah ditangkap mereka sudah mendapat perlakuan tidak manusiawi
oleh para penangkapnya. Penagkapan ini tanpa surat penangkapan yang sah.
Mereka kemudian ditahan tetapi tidak ada proses hukum.

Mereka pertama kali ditahan di Markas Koramil Ermera Kota selama dua minggu.
Selama dalam tahanan ia diperkosa dengan tangan diborgol oleh anggota ABRI
yang bekerja di markas itu. Sebelum memperkosa, anggota ABRI mengancam akan
membunuhnya jika melaporkan tindakannya kepada komandan atau pihak-pihak
lain. Nama, ciri-ciri dan pangkat anggota tidak dapat diidentifikasi korban.

Dari Markas Koramil Ermera Kota, Alianca Henrique dos Santos bersama tahanan
lainnya dibawa ke Pos Komando Rajawali II di Lulirema. Di tempat ini korban
dengan tangan diborgol, juga diperkosa dua kali oleh anggota pos yang dapat
diidentifikasi pangkatnya (sersan kepala). Selama ditahan, korban dipaksa
menuruti semua perintah dan melayani kepentingan anggota pos, seperti
memasak air dan pekerjaan lainnya.

Menjelang akhir bulan November 1996, setelah kedatangan seorang katekis,
korban dilepas dan dikembalikan kepada orang tuanya, untuk selanjutnya
mendapat perlindungan dan perawatan dari pastor Paroki Imaculada Conceicao,
Ermera, Timor Timur.

Sampai saat ini tidak ada tindakan apapun terhadap para pelaku perkosaan.

I. Identitas dan Data Korban
----------------------------

Nama Alianca Henrique dos Santos
Nama Panggilan Marcelina
Tempat dan Tanggal Lahir Licapat, 12 Agustus 1973
Umur 23 tahun
Jenis Kelamin Perempuan
Agama Katolik Roma
Pendidikan Buta Huruf
Status Belum Kawin
Pekerjaan Petani
Paroki Imaculada Conceicao, Ermera
Alamat Desa Licapat, RK Tatae Ulu
                             Kecamatan Hatolia
                             Kabupaten Ermera
                             Timor Timur

II. Latar Belakang
------------------

Tindakan perkosaan terhadap perempuan adalah salah satu bentuk pelanggaran
hak asasi manusia yang keras (gross human rights violation). Perkosaan
umumnya dianggap hasil dari kekhilafan pelaku karena secara spontan ingin
menyalurkan nafsu birahi yang tidak tertahankan.
Bagaimanapun, hasil penelitian Yayasan Kalyanamitra, sebuah lembaga
informasi dan komunikasi masalah perempuan yang bertempat di Jakarta,
memperlihatkan bahwa 73% dari 185 kasus perkosaan yang diperiksa tahun 1994
ternyata direncanakan oleh pelakunya. Penelitian itu juga membuktikan bahwa
hanya 1 dari 185 kasus itu dilakukan oleh orang yang terganggu jiwanya atau
kurang waras. Berarti bahwa perkosaan dilakukan secara sadar oleh pelaku,
dengan begitu senantiasa dapat diajukan ke pengadilan.

Salah satu pelaku perkosaan adalah pejabat publik, baik sipil maupun
militer. Akhir tahun 1989 di Jakarta, seorang ibu yang ditangkap polisi
karena tuduhan mengambil barang tanpa membayar di sebuah toko di kawasan
Pasar Minggu, diperkosa oleh tiga orang petugas polisi di Polsek Pasar
Minggu tempat ia ditahan. Tahun 1993 di Padang seorang gadis berusia 11
tahun diperkosa oleh seorang anggota polisi berpangkat sersan dua yang
mengancamnya akan memasukkan penjara dan membunuhnya kalau menjerit dan
menolak. Di Semarang tahun 1994, dua orang tahanan perempuan diperkosa oleh
14 taruna Akademi Kepolisian di aula tempat mereka ditahan. Para taruna ini
kemudian diproses hukum. Di Kabupaten Purworejo pada tahun 1995, seorang
kepala desa memperkosa dua warganya. Kasus ini sudah dilaporkan kepada
Bupati Purworejo tetapi kepala desa ini tidak mendapat tindakan apa-apa,
kecuali peringatan dari camat agar tidak mengulangi perbuatannya. Di Irian
Jaya akhir 1994 dalam rangkaian penangkapan sehubungan dengan kasus
kerusuhan Timika, pasukan tentara mengangkap sembilan orang perempuan warga
kampung Hoea. Dalam tahanan, lima orang dari mereka diperkosa secara
bergiliran oleh para petugas yang menangkap. Kejadian ini sudah disampaikan
kepada POMDAM Cendrawasih, tetapi belum diketahui apakah para pelakunya
dikenai tindakan hukum.

Di Timor Timur, perkosaan terhadap perempuan oleh para aparat militer maupun
penduduk sipil, beberapa kali diangkat olah lembaga-lembaga internasional.
Dalam hearing Komite Dekolonisasi PBB, para peserta sidang berulangkali
mendengarkan kesaksian dari korban perkosaan atau sanak saudaranya. Sampai
saat ini belum dilakukan investigasi yang lengkap mengenai korban-korban
perkosaan di Timor Timur menjadi wilayah konflik bersenjata sehingga jumlah
dan identitas korban sukar untuk dipastikan. Salah satu penyebabnya adalah
kesulitan mendapat izin dari pemerintah pusat untuk melakukan investigasi
semacam itu di Timor Timur.

Laporan-laporan yang ada memperlihatkan bahwa tindak perkosaan lebih dari
sekadar insiden-insiden terpisah, tapi sudah membentuk semacam pola yang
terus berulang dan makin menyengsarakan kehidupan perempuan. Kasus perkosaan
dan tindakan tidak manusiawi lainnya atas diri Alianca Henrique dos Santos
adalah bagian dari pola tersebut.

(bersambung ke bagian 2: Kronologi Kasus Perkosaan atas diri Alianca
Henrique dos Santos)