IN: Permasalahan di Kalbar (6/8)

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Feb 16 1997 - 14:25:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA27345 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 16 Feb 1997 18:25:27 -0500 (EST)

INDONESIA-L

From: "Noordin Salim" <noordin@rad.net.id>
Subject: Permasalahan di Kalbar [6]
Date: Sun, 16 Feb 1997 11:44:35 +0700
To: paroki@parokinet.org (Paroki On-Line)

Permasalahan di Kalbar

Mengapa clash 1997 membesar?
----------------------------------------------

Ada pertanyaan, kenapa clash tahun ini bisa membesar, sampai
tingkat yang melibatkan ribuan orang seperti saat ini, dengan
daerah kerusuhan yang mencapai Pontianak-Sambas-Sanggau?
Perlu diketahui, daerah kerusuhan itu luas, hampir seluas pulau
Jawa.

Kejadian ini memperlihatkan pada kita, ketergantungan yang besar
sekali pada militer. Karena militer dan aparat pemerintah daerah
pada saat-saat awal tidak berhasil menyelesaikan permasalahan,
ternyata kerusuhan ini meledak menjadi kerusuhan yang besar,
dan berjangka waktu panjang. Ini berarti, masyarkat sipil di sana
sama sekali tidak ada mekanisme untuk menyelesaikan konflik
dalam dirinya. Tidak ada media komunikasi sama sekali di antara
mereka.

Kerusuhan itu, bukan hanya menyangkut etnis Daya dan Madura
saja. Tetapi juga masyarakat yang lain, yang bagaimanapun
terkena dampak dari kerusuhan itu. Tentunya, orang bisa bertanya,
kenapa etnis melayu dan etnis keturunan cina diam saja dan
menonton? Sebaliknya, kedua etnis itu akan bingung dan
menjawab, jika kami ingin membantu melerai, dengan sarana apa?
Dengan sarana apa kedua etnis itu bisa ikut serta dalam pemecahan
masalah di sana? Tidak ada. Tidak ada media dan sarana
komunikasi sama sekali antar etnis. Institusi sipil masih belum
berkembang sama sekali.

Jadi, ketika di Jawa ada banyak kerusuhan, dan setiap kerusuhan
membuat ketegangan tersendiri. Aparat militer dan pemerintahan
di daerah juga tidak siap, dan takut salah bertindak. Dengan
sendirinya mereka menunggu perintah dari atasan. Dengan rantai
pengambilan keputusan yang panjang ini, membuat kekesalan
mekar menjadi cikal bakal kerusuhan. Permasalahan kecil di
daerah, semuanya harus menunggu keputusan pusat, tanpa ada
mekanisme penyelesaian permasalahan di daerah sama sekali.

Institusi sipil yang berasal dari masyarakat setempat, sudah bukan
kemewahan lagi, tetapi sudah merupakan kebutuhan dasar suatu
masyarakat modern. Hanya institusi sipil yang berasal dari
masyarakat setempat yang bisa mengambil keputusan dengan
cepat dan tepat, untuk permasalahan-permasalahan di daerahnya.
Mereka yang mempunyai akses langsung kemasyarakat, tidak
memerlukan buku manual untuk setiap tindakannya, karena
mereka sudah menghayati permasalahan yang ada.

Kekhawatiran dan keprihatinan
---------------------------------------

Yang menjadi kekhawatiran saat ini, adalah berkembangnya
konflik, sehingga menjadi konflik yang lebih luas jangkauannya.
Hal ini memang tidak akan terjadi, jika semua pihak tidak ada
yang ikut memperkeruh situasi. Dengan adanya laporan bahwa ada
ABRI yang menjadi korban, ada kekhawatiran bahwa konflik akan
mengarah ke konflik dengan ABRI. Hal itulah yang harus menjadi
prioritas untuk dihindarkan. Jika konflik antar suku bisa ditengahi
oleh ABRI, siapakah yang bisa menengahi konflik dengan ABRI?

Dalam situasi tegang seperti ini, sudah pasti issue-issue yang tidak
benar akan beredar. Dengan emosi yang sudah menjadi panglima
semua pihak, akal sehat sudah tidak banyak digunakan. Dengan
mudah, arah konflik dibelokkan. ABRI yang memang tugasnya
melindungi semua warga negara, termasuk warga madura maupun
daya, bisa dianggap tidak adil dan berpihak. Karena itu, penting
untuk ABRI untuk selalu mengeluarkan statement tentang
ketidakberpihakan ABRI, dan mengadakan tindakan-tindakan
yang menunjang pernyataan tersebut.

Kekhawatiran kedua, adalah memperluas konflik suku menjadi
konflik agama. Tetapi hal itu agak sulit dilakuan, karena
kedewasaan etnis melayu yang beragama islam dalam hal ini.
Etnis melayu sudah tahu bahwa ini bukanlah konflik agama, dan
memang tidak banyak permasalahan konflik agama di Kalbar.

Penyelesaian Konflik Jangka Pendek
------------------------------------------------

Konflik di Kalbar, sudah pada tahap sedemikian intens, sehingga
tidak mungkin lagi dilakukan penyelesaian oleh orang sipil. Satu-
satunya instansi yang mampu menyelesaikannya saat ini cuma
tentara. Dan pada saat ini pendekatan yang dijalankan tentara
sudah tepat, artinya menangani permasalahan sebagai konflik antar
suku dan tidak berpihak. Disamping itu, secara terus menerus
melakukan pertemuan dengan pemuka masyarakat setempat.
Semua pihak haruslah mendukung tindakan ABRI dalam
penyelesaian masalah ini, karena saat ini hanyalah ABRI yang
mampu menengahi pertikaian.

Hal yang paling penting untuk diperhatikan, adalah bahwa dalam
penyelesaian konflik, wawasan nusantara harus selalu menjadi
perhatian. Wawasan nusantara dalam artinya setiap penduduk
indonesia bebas untuk bepergian, dan berada di tempat manapun
di Indonesia, kecuali tempat-tempat darurat.

Karena itu, masyarakat Daya, hendaknya meninjau kembali
tuntutannya agar masyarakat Madura dikembalikan ke pulau
madura, atau diusir dari tempat tinggalnya di Kalbar. Masyarakat
Madura sudah menjadi bagian dari masyarakat Kalbar, dan
merupakan pelanggaran dari hak mereka, jika mereka harus
meninggalkan rumah mereka karena kerusuhan ini.

Demikian juga tuntutan agar masyarakat madura dipindahkan ke
pesisir atau ke tempat lain. Setiap tindakan pengusiran akan
mengakibatkan luka-luka dalam perasaan kebangsaan, bahwa
Indonesia adalah wawasan yang satu. Dan pengusiran itu juga
akan menyebabkan masyarakat Daya diasingkan di luar
kalimantan. Masyarakat Madura bisa saja melakukan pembalasan
di luar kalimantan, yang menyebabkan ketidaktenangan etnis daya
seluruh indonesia. Hal ini harus dipertimbangkan dengan bijak,
oleh pemuka masyarakat Daya yang sedang bertikai di daerah.
Jangan meredam bunyi petasan dengan menyalakan sumbu granat,
dan jangan meredam granat dengan menyalakan sumbu missil.

Penduduk madura yang memang pendatang sementara dan
memiliki rumah di madura, bisa dipulangkan untuk meredakan
situasi. Tetapi etnis madura yang sudah beranak-pinak di Kalbar,
adalah bagian dari masyarakat Kalbar, bagian dari masyarakat
multi-etnis yang telah ikut membentuk wajah Kalbar. Etnis
Madura Kalbar haruslah dilindungi haknya sebagai warga Kalbar.

Noordin Salim