IN: JWP - Cak Nun: Ide Itu Kerindua

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Feb 18 1997 - 17:58:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA07529 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 18 Feb 1997 21:58:33 -0500 (EST)
Subject: IN: JWP - Cak Nun: Ide Itu Kerinduan Makmum

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Feb 18 21:51:17 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Wed, 19 Feb 1997 12:06:58 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <1.5.4.16.19970219081735.2fcfe39c@ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: JWP - Cak Nun: Ide Itu Kerinduan Makmum
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.4 (16)
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

Jawa Pos
19 Februari 1996
     _________________________________________________________________
                                      
   Cak Nun: Ide Itu Kerinduan Makmum
   "Silaturahmi Tak Harus Bersatunya Pendapat"
   
   Yogyakarta, JP
   Emha Ainun Nadjib menegaskan bahwa dirinya tidak memaksakan adanya
   silaturahmi nasional antara pemimpin umat dan pemimpin agama. Ia juga
   tidak menyebut bahwa yang harus melakukan silaturahmi itu si A, si B,
   atau si C. ''Yang memaksakan itu siapa? Kalau tidak ada silaturahmi
   nasional pun, saya sebagai pribadi tidak berkeberatan sama sekali.
   Saya bukan pemimpin umat, bukan pemuka masyarakat yang punya tanggung
   jawab utama terhadap kerukunan, kedamaian, kebenaran, dan
   ketidaksenjangan sosial,'' katanya. Cak Nun &#139;panggilan akrab
   Emha&#139; menambahkan, tanggung jawabnya hanya sebatas pribadi
   sebagai umat dan rakyat biasa. ''Ide silaturahmi itu hanyalah
   kerinduan saya sebagai makmum biasa yang terletak di shaf sangat
   belakang dan saya tidak mengatasnamakan umat,'' tuturnya. Usul
   silaturahmi nasional itu juga tidak terlepas dari bangunan masyarakat
   modern yang hampir tidak memungkinkan posisi personal-steril, apalagi
   seorang pemimpin. Setiap langkah dan ucapannya bermakna sosial dan
   struktural. ''Pemimpin itu imam, setiap geraknya interdependen dengan
   situasi umatnya. Jadi, susah itu disebut soal pribadi,'' tambahnya.
   Agar duduk persoalan ide itu bisa lebih jernih, Cak Nun juga
   menguraikan munculnya ide itu. ''Gagasan silaturahmi nasional itu
   sekadar jawaban atas pertanyaan wartawan. Itu pun tidak ada impian
   saya agar para pemimpin itu bersatu pendapat dan homogen,'' katanya
   kepada Jawa Pos kemarin. Diceritakannya, usulan itu juga hanyalah
   respons terhadap ceramah KH Drs Hasyim Muzadi, ketua umum PW NU Jatim,
   yang mengatakan tidak ada keretakan di kalangan umat. Yang retak
   adalah kalangan para pemimpin sing tolek panggonan (yang mencari
   posisi, Red). ''Dalam konteks itu, spontan saya jawab pertanyaan
   wartawan soal silaturahmi nasional itu,'' tambahnya. Cak Nun pun
   lantas menanggapi berbagai respons terhadap usulan silaturahmi
   nasional yang belakangan muncul. Seperti diberitakan kemarin, sejumlah
   tokoh menanggapi usulan silaturahmi nasional itu. Selain Gus Dur,
   Habibie mempertanyakan ada masalah apa kok harus ada silaturahmi
   nasional. Tanggapan juga muncul dari Dr Moh Hikam AS. Hikam yang
   dikenal sebagai orang yang paham pikiran Gus Dur ini menilai tidak
   pada tempatnya mempertemukan Gus Dur dengan orang yang tidak selevel.
   Terhadap semua respons itu, secara dingin, Cak Nun memberikan
   tanggapannya. Soal Habibie yang mempertanyakan ''memangnya ada
   persoalan apa'', Cak Nun pun balik bertanya. ''Pak Habibie, ribuan
   orang menderita karena kerusuhan-kerusuhan. Di Kalbar, masih terus dan
   tidak ada yang menjamin bahwa kerusuhan akan tak ada lagi. Bagaimana
   Pak Habibie bisa bilang ada persoalan apa?'' Memang, lanjut pria
   kelahiran Jombang ini, Pak Habibie tak punya problem. ''Kami, umat dan
   rakyat banyak ini yang problemnya sangat bertumpuk. Dan, Pak Habibie
   kan pemimpin kaum ulul albab. Beliau memimpin manusia, bukan hanya
   direktur barang dan teknologi,'' katanya. Untuk Gus Dur, Cak Nun
   menegaskan posisinya. Menurut dia, jangan-jangan kesan bahwa dirinya
   mencampuri urusan Gus Dur karena cara wartawan bertanya kepadanya.
   Sebab, tegasnya, saat mengemukakan ide silaturahmi nasional itu, ia
   tidak menyebut Gus Dur sama sekali. ''Saya tidak mengasosiasikan A, B,
   atau C. Saya berpikir nasional. Negara dan rakyat kita ditimpa
   problem, kesenjangan, ketidakadilan, disinformasi, ketidakmampuan
   dialog, dan seterusnya, sehingga muncul ledakan kerusuhan. Apa betul
   para pemimpin bangsa ini, dari sektor mana pun, tidak merasa perlu
   untuk berembuk? Jadi, saya memang tidak omong soal Tasikmalaya,
   Humanika, dst, sebab itu semua hanya akibat. Saya omong soal problem
   mendasar bangsa kita yang mayoritas muslim ini,'' tegasnya. Oleh
   karena tidak menyebut orang per orang, atau menyebut Gus Dur atau
   siapa, Cak Nun juga balik bertanya kepada Hikam. ''Pak Hikam curiga
   saya bermaksud merendahkan, Gus Dur kok akan dipertemukan dengan
   orang-orang yang tak selevel. Padahal, siapa yang ngomong soal Gus
   Dur? Gus Dur saja tidak merasa begitu kok yang lain malah GR (gede
   rumangsa, Red),'' ujarnya. Lagian, tambah Cak Nun, juga pakai
   level-levelan. ''Itu ajaran feodalisme dari mana? Inna akramakum
   'indallahi atqakum. Setiap Idul Fitri mestinya para pemimpin yang
   lebih minta maaf kepada umat dan rakyatnya. Karena, mereka yang
   potensialitas bersalahnya lebih tinggi,'' katanya. Soal level-levelan
   itu, Cak Nun juga bertanya apakah lantas Habibie, misalnya, hanya
   boleh kita pertemukan dengan Batara Guru, Iskandar Dzulqarnain, atau
   Sayyidina Abu Bakar? Sedangkan tukang jual rokok di seberang pesantren
   Tebuireng atau tukang sapu di masjid Tulungagung yang sangat dihormati
   oleh Gus Dur tidak bisa bertemu dengannya? ''Gus Dur sendiri adalah
   tokoh besar yang masih bisa dan mau tidur nyenyak di trotoar tepi
   jalan,'' kilah Cak Nun. Cak Nun juga sangat heran dengan pendapat yang
   mengatakan bahwa usulan silaturahmi nasional bukan tipikal mekanisme
   demokratis sehingga mereka menegaskan ''biarkan para pemimpin berbeda
   pendapat''. ''Saya jadi bingung. Katanya inti demokrasi itu dialog.
   Dan di tengah ancaman kekerasan dan kerusuhan yang sangat mengerikan
   itu saya menyarankan dialog kok ternyata tidak cocok dengan
   demokrasi,'' ujarnya dengan penuh keheranan. Mengenai tanggapan bahwa
   salaman itu sekadar simbolik dan formalitas belaka, Cak Nun mengaku
   tidak mengerti kalimat itu. ''Yang saya tahu, benar-benar bersalaman
   atau pura-pura bersalaman untuk udang di balik batu. Kalau salaman dan
   silaturahmi bermakna simbolik-formalistik, maknanya bagi saya adalah
   refleksi ketidakjujuran dan kemunafikan atau pelecehan terhadap
   hakikat salam dan silaturahmi yang artinya saling menyelamatkan dan
   mempersambungkan kasih sayang sosial nasional,'' tandasnya. TAK
   MASALAH Sementara itu, KSAD Jenderal TNI R Hartono menyatakan tak
   menjadi masalah jika ada usulan mengadakan silaturahmi nasional.
   Menurut dia, silaturahmi bisa dilakukan kapan saja tanpa harus ada
   masalah di masyarakat. Meski demikian, KSAD sebelumnya sempat kaget
   juga ketika dikonfirmasi soal usul itu. ''Siapa yang mengatakan
   silaturahmi nasional. Usul siapa?'' tanyanya bernada tinggi. Ketika
   wartawan menjelaskan bahwa silaturahmi nasional diusulkan budayawan
   Emha Ainun Najib dan kemudian didukung pula oleh Ketua Umum DPP Golkar
   Harmoko, Hartono menyatakan silaturahmi tetap penting. ''Silaturahmi
   apa, apa artinya silaturahmi? Apakah mesti ada peristiwa
   silaturahmi,'' ungkapnya usai mengikuti acara panen perdana padi
   varietas Maros program Penitiwangi Kodam III/Siliwangi di Kecamatan
   Buahdua, Kabupaten Sumedang. Menurut KSAD, silaturahmi adalah ciri
   bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Tiap silaturahmi positif.
   Malah, ia menyebut, silaturahmi mendekatkan kita ke jalan menuju
   surga. ''Tapi, silaturahmi tidak mesti ada masalah,'' katanya.
   Berarti, tidak setuju adanya peristiwa silaturahmi nasional? ''Kalau
   bicara tentang persatuan dan kesatuan, memang diperlukan (silaturahmi)
   terus-menerus sampai kiamat sekalipun. Silaturahmi tetap harus ada,
   nasional tetap harus ada. Sampai kiamat tetap harus ada,'' jawabnya.
   Dalam pandangan jenderal berbintang empat kelahiran Madura ini,
   silaturahmi dalam agama sangat dianjurkan. Bahkan, ia menyebut semut
   saja kalau bertemu salam-salaman. ''Masa kita nggak,'' kilahnya.
   Silaturahmi, lanjutnya, bertujuan mengingatkan supaya perbedaan
   pendapat tentang sesuatu hal bisa diselesaikan lewat seringnya
   berjumpa. Ketika ditanya apa ada muatan politis di balik itu, Hartono
   menegaskan, tiap kepentingan silaturahmi positif. ''Tapi dengan
   catatan, kalau mau silaturahmi, harus sama-sama ingin bersilaturahmi.
   Kalau nggak, ya paling yang dapat pahala cuma yang satu, yang lain
   tidak dapat pahala,'' jelasnya. (wan/adb)
   ().