IN: PMB - Terumbu Karang Di Bunaken

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Feb 19 1997 - 07:50:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id LAA10880 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 19 Feb 1997 11:36:55 -0500 (EST)
Subject: IN: PMB - Terumbu Karang Di Bunaken Manado Makin Rusak

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Feb 19 08:47:13 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Thu, 20 Feb 1997 00:28:19 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <1.5.4.16.19970219203858.1bbf358c@ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: PMB - Terumbu Karang Di Bunaken Manado Makin Rusak
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.4 (16)
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

19 Februari 1997
   SUARA PEMBARUAN ONLINE
     _________________________________________________________________
                                      
   
Terumbu Karang Di Taman Laut Bunaken Manado Makin Rusak

   Manado, 19 Februari
   
   Tingkat kerusakan terumbu karang di Taman Laut Nasional Bunakan (TLNB)
   Kodya Manado, Sulawesi Utara (Sulut) akhir-akhir ini diduga semakin
   tinggi. Sedangkan sejumlah ikan hias dan Ikan Napoleon yang
   dilindungi, saat ini semakin berkurang karena ditangkap oknum
   masyarakat yang tidak bertangungjawab.
   
   Pemantauan Pembaruan, Minggu (16/2) di lokasi tersebut dengan
   mengunakan kapal motor Blue Banter atau kapal Sub See (Melihat) hingga
   kedalaman tiga meter dari permukaaan laut menunjukan, banyak terumbuh
   karang rusak akibat terkena bom saat nelayan menangkap ikan atau
   adanya sampah plastik yang terbawa arus dari teluk Manado.
   
   Terumbuh karang yang rusak ada yang berbentuk kecil sedang dan yang
   besar. Banyak sampah plastik dan batang kayu yang telah menutupi
   karang-karang objek wisata terkenal itu.
   
   Sedangkan, jumlah ikan hias banyak yang telah mati. Begitu juga Ikan
   Napoleon yang dilindungi, semakin sedikit karena ditangkap oknum
   masyarakat yang tidak bertangungjawab.
   
   Kepada Pembaruan saat melakukan peninjauan di TLNB, Ir Jecky S salah
   sorang pemandu wisata yang juga banyak meneliti tentang Taman Laut
   Bunaken mengakui, belakangan ini tingkat kerusakan objek wisata yang
   terkenal ini semakin tinggi.
   
   "Kami kaget, karena banyak terumbu karang rusak. Begitu juga ikan hias
   banyak yang mati. Dan Ikan Napoleon yang dilindungi, saat ini semakin
   berkurang jumlahnya," katanya.
   
   Sulit Lihat
   
   Ia mengatakan, untuk Ikan Napolen kalau pada 10 tahun lalu, bila kita
   menyelam masih terlihat lebih dari 20 ekor di daerah tersebut. Tetapi
   sekarang, untuk melihat seekor saja sulit. Itu pun mujur-mujuran.
   "Jadi sudah sangat memprihatinkan, apalagi jika masalah ini terus
   tidak dapat perhatian," kata Jecky lulusan Fakultas Perikanan
   Universitas Sam Ratulangie (Unsrat) Manado.
   
   Menurutnya, kalau kerusakan ini terjadi terus menerus maka
   dikhawatirkan dalam dua hingga lima tahun mendatang, objek wisata yang
   cukup terkenal di dunia itu rusak dan tidak akan menarik lagi
   wisatawan datang ke Sulut. "Ini mungkin yang harus menjadi perhatian
   kita bersama," katanya.
   
   Hal yang lain juga dikatakan sejumlah pengunjung kepada Pembaruan,
   hari Minggu (16/2) saat melihat objek wisata itu pada kedalaman tiga
   meter, mereka melihat kondisi taman laut tidak seperti dulu lagi.
   Sangat memprihatinkan karena rusak dan kotor . "Sebagai wisatawan,
   sangat mengharapkan perhatian pemerintah, karena sebelumnya di sini
   sangat indah taman lautnya, jadi perlu dijaga," kata salah seorang
   turis yang engan menyebutkan namanya. Pakar lingkungan kelautan dari
   Unsrat, Manado Prof Dr Ir Richard Rompas MSc ketika diminta tangapan
   Senin (17/2), juga mengatakan prihatin, dengan kondisi objek wisata
   tersebut.
   
   Ia mengusulkan, agar pengawasan terhadap nelayan dan oknum masyarakat
   yang tidak bertangungjawab ditingkatkan. Begitu juga penangkapan Ikan
   Napoleon. "Ini penting, kalau kita ingin menjaga objek wisata itu,"
   tambah Rompas.
   
   Menyangkut sampah plastik yang terbawa arus dari teluk Manado, hal itu
   karena adanya sejumlah sungai yang bermuara di teluk tersebut. Untuk
   itu harus dilakukan pembersihan terhadap sampah buangan ke kali.
   "Memang memerlukan biaya besar, namun kalau sampah itu tidak
   dibersihkan, maka akan rusak juga terumbuh karang dan ekosistim laut,"
   katanya.
   
   Tindak Tegas
   
   Para wakil rakyat di DPRD Sulut, kepada Pembaruan, Senin (17/2) juga
   mengharapkan, agar oknum yang menangkap ikan dan merusak terumbu
   karang harus ditindak tegas. Pemerintah jangan anggap remeh, dengan
   kerusakan taman laut itu. "Oknum masyarakat yang melakukan pelanggaran
   itu harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," Wakil Ketua DPRD
   Sulut Drs Wempie Fredrik dan Drs Boy Rondonuwu MBA dari Komisi-D
   (pembangunan) yang membidangi pariwisata mengemukakan.
   
   Menurut mereka, terkesan penindakan oknum yang merusak terumbuh karang
   tidak berjalan. "Hanya diumumkan saja, tetapi kemudian dilepas,"
   katanya.
   
   Beberapa kali Wali Kota Manado, Ir Lucky Korah MSi kepada Pembaruan
   mengatakan, pihaknya tetap melakukan penindakan tegas terhadap oknum
   yang merusak taman laut. Pemerintah tidak mentolerir. "Siapa pun tetap
   ditindak tegas," katanya. (136/119)
   
     _________________________________________________________________
                                      
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
                                      
   Last modified: 2/19/97