FORUM - Ketika Kerusuhan Mengguncan

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Mar 02 1997 - 16:40:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA01034 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 2 Mar 1997 20:40:26 -0500 (EST)
Subject: FORUM - Ketika Kerusuhan Mengguncang Bumi Khatulistiwa

INDONESIA-L

X-URL: http://www.forum.co.id/forum/redaksi/970310/10forsus1.html

               Ketika Kerusuhan Mengguncang Bumi Khatulistiwa
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
   Gelombang kedua perang suku di Kalimantan Barat meledak awal Februari
   lalu. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah musnah. Mengapa kerusuhan
   berkepanjangan?
   
   Pagi itu, matahari bersinar cerah, membangkitkan kehidupan di Desa
   Sungaikunyit Hulu, Kecamatan Sungaikunyit, 90 kilometer dari
   Pontianak. Para petani desa dengan wajah berseri-seri bergegas menuju
   ke sawah. Beberapa penduduk pergi ke kebun untuk menoreh getah. Namun,
   indahnya pagi 18 Februari lalu itu tak bisa dirasakan terlalu lama.
   
   Tiba-tiba, dari balik gunung, datang ratusan massa bersenjata senapan
   lantak, tombak, mandau, dan panah. Mereka menyerang perkampungan orang
   Madura itu. Ratusan rumah penduduk dibakar. Bentrok fisik tak
   terhindari. Sebanyak 17 orang tewas.
   
   Untunglah, "pertempuran" orang Dayak-Madura itu segera bisa dipadamkan
   oleh pasukan dari Batalyon 643 Wanara Sakti dan Batalyon 612 Modang,
   siang hari. Sebanyak 86 pelaku ditangkap dan sejumlah senjata disita.
   Pangdam VI/Tanjungpura, Mayjen TNI Namuri Anoem, sangat menyesalkan
   kerusuhan itu. Sebab, pada hari yang sama, di Kota Pontianak justru
   digelar ikrar perdamaian.
   
   Memang, Selasa pagi itu, halaman kantor Wali Kota Madya Pontianak
   dipadati oleh ribuan orang. Mereka menyaksikan ikrar yang dilakukan
   para tokoh masyarakat. Dua puluh dua tokoh dari berbagai suku di kota
   itu, Dayak, Madura, Melayu, Jawa, Aceh, Tapanuli, Bali, Bugis, Cina,
   hadir saat itu dengan memakai pakaian adat masing-masing.
   
   Ikrar yang disaksikan oleh para petinggi daerah itu menyatakan
   keprihatinan terhadap "perang" suku Dayak dan Madura di Kalimantan
   Barat (Kalbar) belakangan ini. "Peristiwa itu menunjukkan lemahnya
   kesadaran berbangsa, bernegara, dan bunyi ikrar mereka.
   
   Dalam acara itu, Pangdam VI/Tanjungpura, Mayjen TNI Namuri Anoem,
   menyerukan agar masyarakat menjaga kerukunan, ketenangan, dan
   keamanan. "Keamanan adalah segala-galanya. Coba kalau situasi tidak
   aman, kita pun tidak enak tidur, tidak bisa pergi ke luar rumah.
   Semuanya tidak enak," kata Namuri.
   
   Kerusuhan itu bukan saja membuat masyarakat tidak bisa tidur nyenyak,
   tapi gejolak selama dua bulan itu_sejak akhir Desember lalu_juga
   mengakibatkan ratusan nyawa melayang. Aspam KSAD, Mayjen TNI Zacky
   Anwar Makarim, membenarkan jumlah korban yang tewas, yang saat ini
   sekitar 300 orang. "Almost the same, dari kedua belah pihak," kata
   Zacky.
   
   Padahal, keamanan di Kalbar pertengahan Februari lalu_di luar
   bentrokan Sungaikunyit_secara umum mulai pulih. Lalu lintas antarkota
   mulai ramai lagi, walaupun aparat keamanan masih bersiaga di
   sana-sini. Jalur Pontianak-Kuching, dari pemantaun FORUM, sudah mulai
   ramai. Walaupun di sepanjang jalan, sisa- sisa kerusuhan masih
   membekas.
   
   Gelombang pertama pertikaian suku Dayak-Madura berlangsung 30 Desember
   1996 hingga beberapa hari. Ribuan orang Dayak menyerbu perkampungan
   orang Madura di Sanggauledo. Beberapa orang Madura tewas. Ratusan
   rumah dibakar. Saat itu, paling tidak sebanyak 6.886 orang Madura
   harus diungsikan.
   
   Pemicu dari semua itu adalah perkelaian antara pemuda Madura dan
   pemuda Dayak dalam pertunjukan dangdut di Pasar Sanggauledo, 29
   Desember lalu. Bermula dari cekcok soal cewek, ujung-ujungnya pemuda
   Madura, Bahari dan kawannya, menusuk pemuda Dayak, Akim dan Yukundus.
   Kalangan Dayak pun marah besar. Apalagi sempat tersebar kabar burung
   bahwa kedua pemuda Dayak itu tewas. Karena, sebelumnya sudah ada
   kesepakatan antara dua suku yang kerap bentrok itu tak akan saling
   mengganggu lagi. Tak boleh ada darah yang bercecer.
   
   Sebenarnya, kerusuhan yang melanda Sanggauledo dan sekitarnya sempat
   mereda. Dan, aparat keamanan pun tampak telah menguasai keadaan.
   Namun, tiba-tiba, sebulan kemudian, 29 Januari lalu, di Pontianak
   terjadi keributan. Waktu sahur, tak kurang dari 40 orang berpakaian
   hitam dan bertopi ala ninja menyerang kompleks SMP dan SMU Santo
   Fransiskus Asisi di kawasan Siantan. Sebuah truk dan dua sepeda motor
   milik yayasan itu dibakar. Kerugian ditaksir sampai Rp 5 juta.
   
   Mereka juga sempat menyerang rumah kos karyawati Pasar Swalayan Citra
   Siantan. Dua cewek, Efrosena dan Elia, dibacok. Enam kawannya berhasil
   melarikan diri. Untunglah, setelah dilarikan ke rumah sakit, nyawa dua
   gadis itu bisa ditolong.
   
   Kebetulan pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIB, Pangab Jenderal TNI
   Feisal Tanjung sedang berkunjung ke Pontianak. Ia segera untuk
   menangkap para pelaku. Sorenya, 10 orang diperiksa, beberapa di antara
   mereka dijadikan tersangka. Kabarnya, "pasukan ninja" itu memang
   sengaja membakar kembali perkelahian antarsuku itu.
   
   Sehari setelah aksi ninja itu, di jalan raya Pontianak- Sanggauledo
   terjadi pula insiden. Sebuah mobil Kijang merah berpelat nomor KB 8876
   AR yang dikendarai Lanun, yang akan menuju Sanggauledo dengan sejumlah
   penumpang, disetop orang Madura di kilometer 32. Para penumpang
   digeledah. Ketika diketahui penumpang Dayak, mereka dibacok
   ramai-ramai. Lanun, si sopir Kijang itu, tewas.
   
   Tak cuma itu. Hari berikutnya, Jumat 31 Januari, bus Setia Jaya dari
   Sanggauledo menuju Pontianak dicegat oleh orang Madura. Di dalamnya
   ada penumpang Dayak, Djalan, 60 tahun, asal Batangtarang. Dan, ia pun
   dihabisi. Malamnya, Martinus Nyungkat, yang sehari-hari Kepala Desa
   Maribos, ditemukan tewas di Peniraman. Selain kepala desa, Nyungkat
   adalah tumenggung alias kepala suku Dayak setempat. Nyungkat dicegat
   di jalan sehabis pulang dari menghadiri wisuda anaknya di Universitas
   Tanjungpura.
   
   Kematian Lanun, Djalan, dan Nyungkat segera membangkitkan amarah orang
   Dayak. Genderang perang ditabuh lagi. Mangkuk merah sebagai pertanda
   perang terus diedarkan di kalangan orang Dayak. Roh nenek moyang pun
   dipanggil lagi. Maka, para lelaki yang dalam keadaan trance atau
   kerasukan roh nenek moyang, keesokan harinya, 1 Februari, bergerak
   secara spontan. Gelombang kedua kerusuhan di Kalbar pun dimulai.
   
   Amukan massa Dayak di Pontianak, Sambas, dan Sanggau tidak bisa
   dikendalikan lagi. Puluhan orang Madura di desa-desa di Kabupaten
   Pontianak dibabat habis. Rumah-rumah penduduk di Kabupaten Sanggau
   dibakar dan beberapa penduduk dibunuh. Warung-warung orang Madura di
   Terinal Sosok rata dengan tanah.
   
   Siang harinya, Danrem 121/ABW, Kol. Art. Zainuri Hashym, dengan
   pesawat helikopter mendarat di Sosok. Ia membujuk agar kalangan Dayak
   mau berdamai. Namun, ajakan itu ditolak mentah- mentah. Alasannya,
   berkali-kali perjanjian telah dilanggar oleh orang Madura.
   
   Untuk menghentikan kerusuhan itu, bantuan pasukan dari Batalyon Linud
   623 Madang dan Brimob dari Kalimantan Timur didatangkan. Sekitar tiga
   ratus pasukan dari Kostrad Jakarta pun diturunkan. Namun, orang Dayak
   seakan sudah tidak takut lagi terhadap tentara. Mereka nekat hendak
   menyerang orang Madura yang diungsikan di markas Batalyon Zipur di
   Anjungan.
   
   Bentrok dengan petugas tak terelakkan lagi. Belasan orang tewas dalam
   bentrokan itu. Kabarnya, para korban, baik orang Dayak maupun Madura,
   langsung dikubur massal.
   
   Sanggaukapuas, terjadi insiden serupa. Delapan truk massa Dayak
   memprotes mengapa orang Madura diungsikan ke situ. Mereka menuntut
   agar semua orang Madura hengkang dari wilayah Sanggaukapuas. Ketika
   mereka nekat merangsek ke Kodim, tembakan beruntun, kabarnya,
   dilepaskan ke tanah. Akibatnya, lima orang tewas seketika.
   
   Tragedi di Anjungan tak hanya terjadi sekali. Sore hari, 5 Februari
   lalu, dua truk berisi massa Dayak tidak mau disetop ketika melewati
   pos Batalyon Zipur. Bentrokan dengan petugas pun berlangsung. Menurut
   sumber FORUM, beberapa orang tewas ditembak ketika itu.
   
   Mayjen TNI Namuri Anoem menegaskan, penembakan itu terpaksa dilakukan
   karena mereka mulai menyerang petugas. Bahkan yang terjadi di Kodim
   Sanggaukapuas, para perusuh menembak lebih dulu dengan senapan lantak.
   "Jadi, semua itu merupakan upaya anggota kami untuk membela diri,"
   ujarnya.
   
   Menjelang Hari Raya Idul Fitri, 9 Februari, penduduk Kalimantan Barat
   masih diliputi ketakutan dengan berbagai insiden yang memakan korban
   di berbagai tempat. Sehari sebelum Lebaran, kerusuhan terjadi di
   pedalaman Kecamatan Tebas. Orang- orang Dayak marah karena tokoh
   mereka, Martinus Nyungkat, mati terbunuh di Paniraman.
   
   Suasana lebaran di Kalbar pun terasa hambar. Apalagi, para penduduk di
   berbagai daerah kesulitan mendapat barang kebutuhan pokok seperti
   beras dan minyak goreng. Transportasi antarkota terputus karena mobil
   angkutan tak berani beroperasi. Mereka takut dicegat di jalan dan
   dihabisi. Sampai-sampai, Gubernur Kalbar, Aspar Aswin, perlu
   memerintahkan agar Dolog menyuplai beras ke berbagai daerah. Tentu,
   pengangkutannya mesti dikawal oleh tentara.
   
   Yang menjadi pertanyaan, mengapa kerusuhan gelombang kedua sampai
   meledak lebih dahsyat? Padahal, selama sebulan setelah kerusuhan di
   Sanggauledo dan sekitarnya, keadaan telah relatif aman. Bahkan, Pangab
   pun telah berkunjung ke sana.
   
   Salah satu yang dianggap sebagai pemicu oleh aparat keamanan di Kalbar
   adalah kronologi peristiwa Sanggauledo yang dibuat Zainuddin Isman,
   koresponden harian Kompas di sana. Kronologi empat lembar itu, entah
   kenapa, tiba-tiba beredar luas di kalan gan masyarakat. Disebutkan di
   situ, antara lain, bahwa yang menusuk dua pemuda Dayak dalam kejadian
   di Sanggauledo sebenarnya bukan pemuda Madura, tapi seorang pemuda
   Dayak yang ibunya telah kawin dengan orang Madura.
   
   Kronologi Zainuddin itu, caleg PPP nomor 2 untuk DPR wewakili Kalbar,
   kabarnya dianggap memanasi orang Madura. Tapi, pemicu sesungguhnya
   bentrokan gelombang kedua itu adalah aksi "pasukan ninja" yang
   menyerang kompleks Santo Fransiskus Asisi, yang berlanjut dengan
   sejumlah penyerangan terhadap orang Dayak. membuat selebaran yang
   menghasut," kata Kapolda Kolonel Erwin Achmad.
   
   Empat ulama Jawa Timur yang berkunjung ke Pontianak, 9-15 Januari
   lalu, juga kena getahnya. Mereka dituding sebagai "pengompor" sehingga
   orang Madura di sana panas. Ulama yang tergabung dalam tim Basra
   (Badan Musyawarah dan Komunikasi Ulama Madura) itu terdiri dari K.H.
   Abdullah Schal, K.H. Imam Buchori, K.H. Nuruddin Rachman, dan Syafik
   Syafii. "Sebenarnya, rakyat di sana sudah rukun. Lalu, ada oknum yang
   masuk," kata KSAD Jenderal TNI R. Hartono, tanpa menyebut nama.
   Celakanya, mereka konon mengedarkan poster PPP Bangkalan di sana.
   
   Namun, tudingan itu dibantah para ulama. Menurut Kiai Abdullah, mereka
   datang ke sana justru untuk menyejukkan orang- orang Madura. Mereka
   mengadakan ceramah dan pengajian. Dan, mereka pun bertemu dengan
   muspida setempat. "Tidak benar kalau kami ke sana untuk memanasi,"
   ujarnya.
   
   Bagaimanapun, kerusuhan yang melanda Bumi Khatulistiwa kali ini
   merupakan yang terbesar dibandingkan dengan sebelumnya (tahun 1968,
   1979, dan 1983), baik dalam soal jumlah korban, massa yang terlibat,
   mapun rentang waktu. Tiga kerusuhan terdahulu bisa diselesaikan tidak
   sampai satu bulan. Jumlah korban pun tak sampai ratusan.
   
   Ada yang mengatakan, dahsyatnya bentrok antarsuku kali ini karena
   aparat keamanan kewalahan untuk meng-cover lokasi kejadian. Ini
   berkaitan dengan restrukturisasi Kodam di Kalimantan pada awal
   1980-an. Sebelum ada penyederhanaan, di Kalimantan ada tiga Kodam.
   Kalbar mempunyai Kodam sendiri, yaitu Kodam XII Tanjungpura yang
   kedudukan di Pontianak. Sejak ada penyederhanaan, di Kalimantan cuma
   ada satu Kodam, yaitu Kodam VI Tanjungpura, yang bermarkas di
   Balikpapan.
   
   Namun, menurut Mayjen TNI Namuri Anoem, penyederhanaan Kodam tidak
   mempengaruhi dalam pengamanan daerah. Karena, jumlah pasukan yang ada
   pun tak berkurang. Yang menjadi soal, lokasi kerusuhan sekarang ini
   terpencar-pencar dan berada jauh di pedalaman, dengan medan yang
   sulit. "Wilayah Kalbar lebih luas daripada Pulau Jawa. Suasana medan
   berat, umumnya hutan dan rawa-rawa. Jangan dikira tiga ribu personil
   sudah bisa meng- cover wilayah seluas ini," ujarnya.
   
   Selain soal penanganan keamanan yang rumit, kemelut antarsuku yang
   terjadi sekarang tak kalah peliknya. Seperti yang dituturkan oleh
   anggota Komnas HAM, Bambang Soeharto, yang telah meninjau ke sana.
   Keterimpitan orang Dayak dalam ekonomi dan politik ikut mendorong
   agresivitas mereka. "Faktor yang menyebabkan kerusuhan cukup kompleks.
   Ya, faktor ekonomi dan juga budaya," ujarnya.
   
   Bambang tak mau merinci. Namun, dari pengamatan FORUM, orang Dayak
   kini semakin terdesak oleh para pendatang dalam itu justru menggunakan
   pekerja dari luar. Hutan-hutan yang sebelumnya mereka kuasai kini
   dipegang oleh penguasa HPH. Sementara itu, dalam bidang politik,
   posisi mereka pun terancam. Sedikit sekali orang Dayak yang
   mendapatkan posisi penting di pemerintahan.
   
   Yang membuat konflik berkepanjangan pada kerusuhan kali ini,
   masyarakat Dayak seakan sudah tak percaya lagi terhadap ikrar atau
   perdamaian dengan orang Madura. Sebab, berkali-kali mereka bersumpah
   adat, berkali-kali pula orang Madura dianggap melanggarnya.
   
   Itu semua tak lepas dari perbedaan budaya di antar kedua suku. Membawa
   pisau atau celurit ke mana-mana bagi orang Madura adalah hal biasa.
   Tapi, bagi orang Dayak, menenteng senjata semacam itu, kecuali bila
   pergi ke ladang, dianggap sebagai sikap menantang. Perbedaan budaya
   semacam itulah yang menurut Stephanus Djuweng, Direktur IDRD
   (Institute of Dayakology Research and Development), sering memicu
   pertikaian. "Perbedaan ini tak pernah didialogkan, sehingga
   menimbulkan konflik," ujarnya.
   
   Lalu, filsafah suku Dayak yang disebut "semangat rumah panjang". Satu
   orang Dayak dilukai, berarti melukai dan mengancam seluruh masyarakat
   Dayak. Inilah, menurut H. Sulaeman, seorang tokoh Madura di sana, yang
   membuat masalah kecil menjadi besar. "Seharusnya, persoalan pribadi
   biarlah diselesaikan secara pribadi," katanya.
   
   Menurut Bupati Kapuas Hulu, Jakobus Frans Layang, upacara perdamaian
   secara adat antara kedua belah pihak untuk sekarang sudah tidak
   efektif lagi. Karena, satu pihak tidak merasa terikat dalam adat itu.
   "Sekarang, perlu kita ubah. Masing- masing berjanji dengan cara
   masing-masing kepada negara untuk menciptakan suasana aman," kata
   bupati yang juga menjadi tokoh Dayak itu.
   
   Khusus untuk orang Dayak, Jakobus melukiskan, proses kembali ke
   suasana normal tak bisa segera. Mereka harus mengambil roh asli mereka
   melalui upacara Nyaru Semangat. Karena, yang berada di badan mereka
   saat ini adalah kamang (roh perang). Selanjutnya, mereka harus
   melakukan Pemabang, untuk mengembalikan roh nenek moyang mereka.
   Upacara ini tak mungkin dilakukan dalam sehari. Minimal, satu minggu.
   "Itulah yang harus dilakukan agar orang Dayak normal lagi," ujar
   Jakobus. Artinya, memang perlu waktu untuk "sebuah perdamaian".
   
   Sudarsono, Habinal W.Y.W., Pracoyo (Jakarta), Moch. Toha (Surabaya),
   Ign. Haryanto dan Lamhot Sihotang (Pontianak)