IN: PMB - Pelaku Kejahatan Narkotik

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Mar 03 1997 - 06:24:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id KAA11179 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 3 Mar 1997 10:24:04 -0500 (EST)
Subject: IN: PMB - Pelaku Kejahatan Narkotika Di Bali Meningkat

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Mon Mar 3 07:54:57 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Mon, 3 Mar 1997 23:49:46 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199703031249.XAA05269@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: PMB - Pelaku Kejahatan Narkotika Di Bali Meningkat
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.2
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

2 Maret 1997
   SUARA PEMBARUAN ONLINE
     _________________________________________________________________
                                      
   
Pelaku Kejahatan Narkotika Di Bali Meningkat

   Denpasar - Perkembangan Pulau Bali sebagai pusat kepariwisataan
   internasional, cenderung menyebabkan daerah ini berkembang menjadi
   salah satu pusat penyebaran berbagai kejahatan internasional. Hal ini
   disebabkan, karena semakin banyaknya pesawat yang langsung terbang
   dari luar negeri ke Bali, dan sebaliknya.
   
   Sementara itu, pemeriksaan tidak mungkin dilaksanakan super-ketat,
   karena akan mempengaruhi kenyamanan wisatawan. Akibatnya berbagai
   tindak kejahatan internasional khususnya peredaran bahan narkotika,
   sudah bukan hal baru bagi daerah ini. Untuk itu petugas Polda Bali
   bekerja keras agar para pelaku kejahatan yang bersifat internasional
   tidak menjadikan kawasan Bali sebagai tempat persembunyiaan yang
   empuk.
   
   Berbagai upaya para pelaku kejahatan bersifat internasional yang ingin
   bersembunyi di daerah ini berhasil digagalkan oleh petugas Polda Bali
   yang nota bene pimpinannya adalah perwira-perwira Polri andalan di
   bidang reserse seperti Kapolda Bali Mayjen Pol Drs Benyamin Mamuaja,
   Wakapolda Brigjen Pol Drs S Bimantoro, Kadit Reserse Letkol Pol Drs
   Surya Dharma.
   
   Bahkan lebih dari itu berbagai upaya yang akan dilakukan oleh jaringan
   pengedar narkotika internasional di daerah ini berhasil digagalkan
   oleh petugas kepolisian tanpa banyak mengeksposnya ke media massa.
   
   Kadit Serse Surya Dharma, dalam makalahnya pada acara pembekalan
   wartawan Bali dalam rangka pekan informasi pembangunan Pemda Bali
   akhir Februari mengakui sudah banyak jenis-jenis narkotika yang masuk
   ke Denpasar dari luar negeri dengan maksud ingin menjadikan daerah ini
   sebagai kawasan peredaran dan transit. Sebagai misal disebutkan,
   adanya usaha penyelundupan heroin yang datang dari Bangkok-Denpasar,
   atau Bangkok-Jakarta-Denpasar, dan
   Afghanistan-India-Srilanka-Jakarta-Denpasar. Sementara itu, dari
   Denpasar, ada yang disebarkan ke Australia, Hong Kong, Tokyo, AS,
   serta ke Malang.
   
   Kokain, dari Brasil-Denpasar, dan Kolombia-Denpasar. Sedangkan dari
   Denpasar, ada yang disebarkan ke Australia.
   
   Ganja, dari Bangkok-Denpasar, Aceh-Medan-Denpasar, dan
   Malang-Denpasar. Tidak tercatat adanya penyebaran dari Denpasar ke
   daerah lain. Hashish, jalurnya Bangkok-Denpasar,
   India-Singapore-Denpasar, dan Nepal-Bangkok-Denpasar. Sedangkan dari
   Denpasar, ada yang disebarkan ke Australia.
   
   Obat psikotropika, dari Eropa-Jakarta-Denpasar. Sedangkan zat aditif
   lainnya sudah ada di dalam negeri dan disalahgunakan. Untuk jenis
   alkohol, umumnya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri, dan
   kemudian dijual di Bali, khususnya di tempat hiburan dan lokasi lain
   yang tidak berizin.
   
   Cenderung Meningkat
   
   Untuk data perkara dan pelaku kejahatan narkotika, ada kecenderungan
   peningkatan setiap tahun. Untuk tahun l990 perkaranya hanya 10 buah,
   dan tahun l996 meningkatkan menjadi 76 buah. Jumlah pelaku pada tahun
   l990 adalah 14 orang, dan tahun l996 telah meningkat menjadi 83 orang.
   Sekitar 35 persen di antara pelakunya adalah orang asing.
   
   Tercatat bahwa pelaku narkotika orang asing yang terbanyak adalah WN
   Belanda dan kemudian menyusul orang Iran, serta Australia. Di samping
   itu ada juga 20 warga negara lainnya yang tercatat pada Polda Bali.
   Hingga saat ini barang bukti narkotika yang telah disita di Bali,
   tercatat antara lain heroin 3.103,73 gram, kodein 218 tablet, kokain
   4.473,40 gram, ganja 3.868,41 gram dan hashish 3.819,20 gram. Serta
   tercatat pula barang bukti yang disita, a.l. ekstasi sebanyak 72.690
   tablet dan beberapa obat-obat terlarang lainnya.
   
   Mungkin karena harga narkotika dan obat-obatan itu sangat mahal, maka
   pemakai yang tidak kuat ekonominya, ada yang mencampur
   
   dengan bahan-bahan lain yang berbahaya. Tercatat ada pemakai yang
   mencampur dengan kanji, terigu, dan bahkan ada yang mencampur dengan
   deterjen dan endrin, serta zat-zat lain yang berfungsi sebagai racun.
   Adapun harga heroin mencapai Rp.500.000 per gram, hashish Rp.300.000
   per gram, kokain Rp.600.000 per gram, ganja Rp.200.000 per gram, pil
   BK/koplo Rp.20.000 per tablet, ekstasi Rp.150.000 per tablet, dan alat
   suntik obat terlarang mencapai Rp.15.000 per buah.
   
   Hambatan
   
   Menurut Surya Dharma, perwira menengah Polri yang pernah menangani
   berbagai tindak kejahatan peredaran ganja di Aceh, hambatan yang
   didapat dalam memerangi narkotika ini a.l. adalah sifat perdagangannya
   sangat rahasia, mobilitas pelaku sangat tinggi, pelaku menggunakan
   sistem sel, perbuatannya ala mafia, dan modus operandinya berkembang
   pesat dan cukup rapi, sesuai dengan daya khayal dan imajinasi pelaku.
   
   Ia juga mencatat bahwa kualitas dan kuantitas petugas yang menangani
   masalah ini masih terbatas, serta alat diteksinya masih terbatas.
   
   Dikatakan bahwa masalah narkotika adalah adalah masalah nasional. Oleh
   karenanya, semua anggota masyarakat harus terlibat dalam
   penanganannya, sesuai bidang masing-masing. Serta perlu ada
   keterkaitan yang terpadu dan terkordinasi di setiap bandara, agar
   masalah keamanan negara dan kenyamanan wisatawan dapat dipertemukan
   dengan sebaik-baiknya.
   
   Sementara itu sumber yang banyak mengetahui masalah peredaran
   narkotika di Tanah Air menyebutkan, kawasan Bali kemungkinan besar
   bisa dijadikan sebagai kawasan peredaran narkotika oleh jaringan
   internasional karena selain ramai dikunjungi turis manca negara, juga
   karena menjamurnya tempat-tempat diskotik maupun karaoke. Tempat yang
   disinyalir sebagai kawasan paling ramai perdagangan bahan narkotika
   adalah di Kuta dan Legian. Di kawasan ini setiap malamnya puluhan
   diskotik maupun karaoke menyelenggarakan acara-acara khusus di mana
   turis manca negara saling bertemu sampai larut pagi.
   
   Pengawasan terhadap diskotik tersebut lemah sekali sehingga dengan
   mudah mereka
   
     _________________________________________________________________
                                      
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
                                      
   Last modified: 3/2/97