BI - UU Tenaga Nuklir Perlu Amandem

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Mar 03 1997 - 17:10:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA01465 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 3 Mar 1997 21:10:23 -0500 (EST)
Subject: BI - UU Tenaga Nuklir Perlu Amandemen

INDONESIA-L

Bisnis Indonesia

                                  [INLINE]
                    Ekonomi Umum / Edition :04-MAR-1997
                                  [INLINE]
                                      
                      UU Tenaga Nuklir perlu amandemen
                                      
    JAKARTA (Bisnis): Pemerintah perlu menerbitkan undang-undang tentang
    amandemen untuk mengatasi kekurangan UU Ketenaganukliran yang tidak
     mengatur bahwa PLTN merupakan alternatif terakhir dan hanya dapat
                    dibangun dengan persetujuan rakyat.
                                      
          UU tentang Amandemen tersebut untuk mengatur pasal 13 UU
     ketenaganukliran yang mengatur dan memberi dasar hukum pembangunan
                         reaktor nuklir komersial.
                                      
    "RUU Ketenaganukliran, yang bara saja disetujui DPR, tidak mengatur
     sedikit pun tentang klausul bahwa PLTN sebagai pilihan terakhir,"
     ungkap siaran pers Lembaga Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia
    (Indonesian Center for Environmental Law-ICEL) yang diterima Bisnis
                                  kemarin.
                                      
   Amandemen pembangunan reaktor nuklir dalam bentuk PLTN, lanjut siaran
        pers tersebut, perlu memuat persetujuan DPR, bukan berbentuk
           konsultasi, dan persetujuan rakyat melalui referendum.
                                      
   "Apabila kedua hal itu dicantumkan dalam UU maka persyaratan demokrasi
     telah dipenuhi dan apa pun keputusannya, rakyat harus menerima dan
                           menanggung risikonya."
                                      
   Selain itu, menurut siaran pers yang ditandatangani Direktur Eksekutif
    ICEL Mas Achmad Santosa, untuk mengawasi pemanfaatan tenaga nuklir,
   perlu dikembangkan mekanisme keterbukaan, peran serta masyarakat, dan
        upaya banding dari masyarakat yang tidak menerima keputusan.
                                      
      "Aspek pengawasan yang hanya mengandalkan piranti administratif
     birokratis seperti perizinan dan inspeksi terbukti tidak berjalan
                                 efektif ."
                                      
    Mas Achmad menyatakan aspek pertanggungjawaban kerugian nuklir perlu
        diubah dalam UU tentang amandemen UU ketenaganukliran dengan
   menerapkan prinsip absolute liability, menggantikan strict liability.
                                      
       Menurut ICEL, pernyataan Menristek B.J. Habibie sebagai wakil
    pemerintah yang mengatakan bahwa PLTN merupakan alternatif terakhir,
   dari sudut etika dan hukum ketatanegaraan, tidak dapat mengalahkan UU.
                                      
    RUU tersebut, lanjut siaran pers itu, hanya mengatur bahwa penetapan
     PLTN dilakukan setelah berkonsultasi dengan DPR. "Pembangunan PLTN
      dapat dilakukan sewaktu-waktu asalkan telah dilakukan konsultasi
                                dengan DPR."
                                      
        Menurut ICEL, mekanisme konsultasi antara pemerintah dan DPR
    mengandung kelemahan. Pertama, konsultasi berbeda dengan persetujuan
       (approval) karena sifatnya tidak mengikat (non binding). (msw)
                                  [INLINE]
                    Ekonomi Umum / Edition :04-MAR-1997
                                  [INLINE]