IN: UMMAT - Quraish Shihab: Ceramah

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Mar 12 1997 - 16:03:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA03754 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 12 Mar 1997 20:02:48 -0500 (EST)
Subject: IN: UMMAT - Quraish Shihab: Ceramah Monolog Harus Dikurangi

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Mar 12 19:55:38 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Wed, 12 Mar 1997 19:26:06 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199703130026.TAA25816@explorer2.clark.net>
Subject: IN: UMMAT - Quraish Shihab: Ceramah Monolog Harus Dikurangi
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

Date: Tue, 4 Mar 1997 21:23:19 -0500 (EST)
X-URL: http://www.ummat.co.id/218lap4.htm
   
   Rubrik : Laporan Khusus
   
              Quraish Shihab : Ceramah Monolog Harus Dikurangi
                                      
   Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Quraish Shihab, menjawab
   pertanyaan Saikhu dari UMMAT, Sabtu (15/2), di rumahnya, kompleks
   perumahan insitut tersebut di Ciputat. Inilah petikannya.
   
   Dari hasil survei UMMAT, Anda populer di kalangan menengah ke atas.
   Komentar Anda?
   
   Saya bersyukur. Saya merasa masih ada kekurangan dari apa yang
   ditampilkan itu. Tapi, dengan adanya masukan, maka saya akan lebih
   bisa memperbaiki. Waktu penayangan juga masih kita tinjau lagi setelah
   Ramadhan, apakah harus pagi. Saya kira harus ada kerja sama RCTI
   dengan para mubalig. Masukan dari masyarakat juga kita harapkan.
   
   Zainuddin MZ dianggap sebagai dai terpopuler yang bisa diterima di
   semua lapisan masyarakat. Komentar Anda?
   
   Selalu saya katakan, Zainuddin MZ itu punya kemampuan yang luar biasa
   dalam mengungkap ajaran-ajaran agama secara populer. Dengan
   kalimat-kalimat yang indah. Sehingga, tak heran kalau dia memukau.
   Memang boleh jadi karena sasarannya adalah masyarakat secara umum
   sehingga bisa dicerna oleh mereka semua. Boleh jadi masyarakat
   menengah ke atas menilai bahwa apa yang dia sampaikan itu sudah mereka
   ketahui.
   
   Tapi, untuk masyarakat umum, jelas menggugah. Sedang untuk masyarakat
   menengah ke atas, paling tidak akan merasa kagum dari cara, retorika,
   dan penampilannya. Jadi, saya kira wajar setiap mubalig itu punya
   sasaran masing-masing, dan tak perlu dipertentangkan.
   
   Tampilnya kalangan selebritis dalam tayangan dakwah banyak disorot.
   Pemahaman agama mereka dianggap pas-pasan. Komentar Anda ?
   
   Agama, bahkan setiap disiplin ilmu, mengharuskan persiapan untuk
   tampil. Siapapun, bukan hanya orang yang tidak memiliki latar belakang
   disiplin ilmu agama, wajib mempersiapkan materi yang akan disampaikan.
   Nabi pun sebelum diterjunkan ke masyarakat disuruh untuk banyak
   membaca. Kalau mereka tidak mempersiapkan materi dengan baik, saya
   kira tidak akan didengarkan.
   
   Orang yang tidak tahu agama, dan melaksanakan agama atas dasar
   ketidaktahuannya, itu sesat. Dan orang yang tidak tahu agama, kemudian
   menyiarkan agama, maka dia sesat sekaligus menyesatkan. Kita tidak
   ingin ada orang yang sesat, apalagi menyesatkan.
   
   Ada pendapat, dakwah dan hiburan harus dipisahkan. Komentar Anda?
   
   Saya sependapat. Tidak semua orang boleh tampil, baik memberikan
   penjelasan maupun menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan agama. Dan
   karena itu juga saya tidak setuju jika mubalig mewawancarai artis
   dalam soal keagamaan. Itu terbalik. Mestinya artis, atau siapapun,
   mencari pengalaman keagamaan kepada mubalig.
   
   Bukankah kemaren itu artis hanya dijadikan pemandu acara?
   
   Itu juga problem. Dia harus punya pengetahuan untuk menggali dari
   seorang narasumber. Kalau dia menanyakan persoalan yang tidak bermutu,
   bagaimana akan muncul sesuatu yang baik? Salah satu cara mengukur
   kepandaian seseorang juga dari cara dia bertanya.
   
   Bukankah setiap orang wajib berdakwah, karena berdasarkan Hadis,
   "Sampaikanlah, walaupun satu ayat!"
   
   Boleh berdakwah. Tapi janganlah di tempat dia disaksikan oleh sekian
   banyak pemirsa. Kalau secara pribadi dia bertanya, silakan datang ke
   rumah atau angkat telepon ulama untuk dirinya. Tapi di tayangan TV
   itu, dia bertanya bukan untuk mengajak pemirsa terlibat, bukan untuk
   dirinya. Jadi, dia harus memunculkan pertanyaan yang bermutu dan
   memang dibutuhkan oleh banyak orang.
   
   Bagaimana, /sih/, di zaman Rasulullah, apakah ada pencampuran dakwah
   dengan hiburan?
   
   Sebenarnya, hiburan an sich ada. Dakwah an sich juga ada. Menyisipkan
   sedikit hiburan ke dalam dakwah boleh saja. Tapi jangan lantas
   penekanannya pada hiburan. Salah satu bentuk penekanan hiburan itu
   adalah dalam pemilihan tokoh-tokoh. Boleh saja seorang humoris
   berdakwah, tapi ketika berdakwah jangan sisi lawaknya yang menonjol.
   
   Menurut survei UMMAT, masyarakat lebih menyukai TV sebagai media
   dakwah dibanding forum pengajian. Komentar Anda ?
   
   Keduanya tidak bisa kita abaikan. Segala media harus kita gunakan. Dan
   mungkin salah satu cara menghidupkannya adalah TV menayangkan
   acara-acara majelis taklim yang hidup. Contohnya, tayangan pengajian
   Paramadina. Keadaan proses belajar-mengajar, peserta bertanya dengan
   segala situasinya, ditayangkan. Itu lebih hidup. Hemat saya, cara
   penyampaian pengajian yang monolog sudah tidak banyak peminat.
   
   Apakah pengajian majelis taklim sekarang kurang dialogis?
   
   Ya, dan itu harus dihindari. Sudah saatnya cara pengajian yang
   bersifat monolog itu dikurangi.