[INDONESIA-L] TIRAS - Bob Hasan: Se

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Mar 15 1997 - 12:03:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id QAA28643 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 15 Mar 1997 16:01:42 -0500 (EST)
Subject: [INDONESIA-L] TIRAS - Bob Hasan: Serbuan Itu Tidak Bisa Distop

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Mar 15 15:54:24 1997
Date: Sat, 15 Mar 1997 13:18:46 -0700 (MST)
Message-Id: <199703152018.NAA07014@indopubs.com>
To: INDONESIA-L@indopubs.com
From: APAKABAR@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] TIRAS - Bob Hasan: Serbuan Itu Tidak Bisa Distop
Catatan/Remark: INDONESIA-L (Diskusi/Discussion - Gratis/Free)
Catatan/Remark: Berlangganan/Subscribe INDONESIA-P (Berita/News)

Ongkos/Cost INDONESIA-P: US$120 Satu Tahun/One Year
Alamat/Address Admin INDONESIA-L: MERDEKA@clark.net (Sub/Unsub)
Alamat/Address Pesan Pribadi & Posting INDONESIA-L: apakabar@clark.net
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Precedence: bulk

INDONESIA-L

Date: Fri, 14 Mar 1997 21:17:44 -0500 (EST)
X-URL: http://www.indonesian-society.com/obrolan/bob.htm
       ______________________________________________________________
                                      
     Mohamad (Bob) Hasan:
     ''Serbuan Itu Tidak Bisa Distop"
       ______________________________________________________________
                                      
     Untuk bersaing, buah lokal mesti bermutu tinggi dan berskala besar.
     
     Buah impor membanjiri pasar. Konsumen senang, karena tersedia
     banyak pilihan. Namun, buat petani buah lokal, si buah impor bisa
     mengancam nafkahnya. Buah lokalnya ''enggan" menembus pasar, karena
     sering kali mutunya rendah dan ukurannya tak seragam. Beberapa
     pengusaha nasional mencoba menangkap peluang -- karena, meskipun
     buah lokal jelek, konsumennya tetap banyak -- dengan membangun
     perkebunan buah lokal yang terkelola dengan baik. Pada 1994,
     misalnya, Mohamad (Bob) Hasan mendirikan PT Intidaya Agrolestari
     (Inagro). Perusahaan buah ini menempati lahan 75 hektare di Parung,
     Bogor. Komoditas unggulannya adalah durian (lahan 35 hektare),
     manggis (20 hektare), dan rambutan (10 hektare). Ada juga salak
     pondoh yang menjadi tanaman pagar dan jeruk nipis yang menjadi
     tanaman sela. Selain kebun buah, Inagro juga membuka agro-wisata
     yang disebut ''Padang Buah" untuk para turis asing dan lokal. Para
     pengunjung bisa berkeliling sekaligus mencicipi buah. Sebagai
     oleh-oleh, tamu bisa membawa bibit buah atau buah segar.
     
     Inagro kini dipimpin Soepriyatno, E.Agr. Lulusan jurusan ilmu tanah
     IPB ini memimpin sekitar 200 pegawai -- yang terdiri atas 60%
     tenaga lapangan, 30% tenaga peneliti (berpendidikan doktor, master,
     sarjana, dan diploma), dan sisanya tenaga administrasi atau
     pemasaran. ''Riset pertanian kita belum berkelanjutan," ujar pria
     kelahiran Surabaya 30 tahun lalu itu. Bagaimana cara menyaingi buah
     impor dan apa saja yang dilakukan Inagro? Berikut petikan wawancara
     Aisyah Azhar dari TIRAS dengan Soepriyatno di sela kesibukannya,
     yang -- selain sebagai direktur Inagro -- juga sebagai manajer
     lanskap dan pertamanan Matoa National Golf and Country Club:
     
     Inagro memiliki berapa bagian?
     
     Ada lima divisi. Yang pertama, divisi perkebunan/hortikultura. Kami
     memiliki 75 ha di Parung. Yang kami tanam adalah tanaman yang
     berkualitas dengan standar internasional, misalnya manggis, durian,
     rambutan, jeruk nipis tanpa biji, dan salak pondoh super. Jeruk
     nipis tanpa biji ini hasil dari laboratorium pembibitan kita yang
     saat ini ditanam di sela-sela tanaman perkebunan dan menghasilkan
     5-9 ton per bulan. Salak pondoh super juga merupakan hasil dari lab
     pembibitan kami yang sudah menghasilkan. Yang kedua, divisi
     pembibitan. Termasuk di dalamnya adalah lab biomolekuler, yang
     berguna untuk mengetahui kualitas dan sekaligus menjaga hak
     intelektual dari bibit yang sudah kita hasilkan. Juga, ada rekayasa
     genetika yang sangat penting. Ketidaktahuan kita dalam hal ini
     menyebabkan kita terus tergantung pada negara-negara lain yang
     mengekspor bibit itu. Padahal, kita mampu. Yang ketiga, divisi
     pemasaran. Saat ini, per bulan kita bisa meraih Rp 800 juta. Kami
     berhasil menjual hasil perkebunan ke Wal*Mart, Freeport (sebanyak
     15 peti kemas), Hero, dan Matahari. Bahkan, bulan depan kami akan
     mengekspor ke Taiwan. Sebagian besar hasil perkebunan itu kita
     kumpulkan dari petani, karena tanaman perkebunan (Inagro) itu baru
     bisa dipanen 3-4 tahun lagi. Yang keempat, divisi Micoriza atau
     industri pupuk hayati, yang cuma satu-satunya di Asia. Pupuk hayati
     ini berguna untuk merehabilitasi lahan kritis. Penemuan kami
     terakhir adalah pupuk hayati yang hanya sekali seumur hidup, dan
     ada juga yang berfungsi sebagai mantel pada tanah kering. Mesin
     pabrik awalnya kami beli dari Jerman, seharga Rp 270 juta, dengan
     kapasitas 5 liter. Namun, kemudian insinyur mesin kami
     mempelajarinya, dan akhirnya berhasil membuat mesin serupa dengan
     kapasitas 100 liter, dan cuma menghabiskan biaya Rp 14 juta. Divisi
     kelima, agrowisata dan penelitian. Agrowisata ilmiah ini ditujukan
     kepada anak-anak sekolah. Dengan melihat tanaman, mengetahui
     produksinya, dan mengetahui bagaimana mengolahnya, diharapkan
     cakrawala mereka akan berkembang luas. Kami juga membimbing dan
     melatih petani yang berada di bawah pengawasan kami.
     
     Dalam agrobisnis, terdapat beberapa tahap, yaitu: tahap pratanam,
     tanam, panen, dan akhirnya jual. Pada saat ini, Inagro pada tahap
     mana?
     
     Kami saat ini menjual hasil pertanian segar. Akan tetapi, dalam 3-4
     tahun lagi kami akan mengoperasikan pabrik pengolahan hasil
     perkebunan untuk mengantisipasi panen buah tadi.
     
     Dalam hal rekayasa genetika, kita disebut-sebut ketinggalan
     dibandingkan Thailand. Apa penyebabnya?
     
     Kalau di luar negeri, kerja samanya bagus. Ada kegiatan yang saling
     menguntungkan antara dunia usaha swasta, yang di dalamnya termasuk
     petani, dan dunia penelitian, semisal litbang dari universitas,
     LIPI-nya mereka, dan dukungan pemerintah. Kerja sama itu berhasil
     menelurkan produk-produk hasil riset yang berkelanjutan. Sedangkan,
     riset-riset kita belum berkelanjutan. Misalnya, untuk mendapatkan
     bibit durian yang unggul, baru sampai pada riset bibit dasar,
     lantas setelah itu pindah meneliti obyek lain, sehingga tidak
     sampai selesai menghasilkan produk jadi, yaitu bibit unggul.
     
     Padahal, bila kita melaksanakan suatu penelitian, produk hasil
     rekayasa harusnya dijual ke swasta. Pemerintah bertugas untuk
     membantu memasarkannya, mengupayakan para pengelola industri agar
     bisa belajar ke luar negeri. Peneliti bertugas untuk menghasilkan
     bibit buah yang sesuai dengan selera konsumen yang tiap hari bisa
     berubah. Kemudian, swasta akan menggunakan produk itu untuk
     ditanamnya, diolah, dan selanjutnya dijual. Saat ini, umumnya
     penelitian yang ada baru sampai tahap file atau skripsi-skripsi,
     artinya ia tidak berlanjut ke produk yang bisa digunakan oleh
     swasta.
     
     Artinya, belum ada koordinasi antara peneliti dan swasta?
     
     Bukan tak ada koordinasi. Tapi, yang penting, harus ada political
     will dari pemerintah. Swasta sudah ada yang berminat, juga kalangan
     peneliti. Jadi, pemerintah perlu menyusun program, target yang
     harus dicapai dalam berapa tahun, lantas membantu pendistribusian
     hasil produk pertanian. Misalnya, untuk mengembangkan jeruk,
     setelah ditanam, kemudian dibuat pabrik untuk mengolahnya yang
     menghasilkan buah jeruk kalengan, di samping yang segar. Yang
     penting, apakah agrobisnis ini mau dikembangkan atau tidak? Menurut
     saya, harus ada kerja sama yang baik antara tiga komponen tadi.
     
     Inagro sendiri sudah bekerja sama dengan instansi mana saja?
     
     Inagro sudah bekerja sama dengan 14 instansi, di antaranya Dephut,
     Bank Bukopin, BMI, Bank Duta, Bank Tugu, Depdagri, Menpora, dan REI
     (Persatuan Pengusaha Realestat Indonesia).
     
     Kerja sama dengan REI dalam hal apa?
     
     Pak Harto telah mengimbau agar kita mencintai buah-buahan asli
     kita. Caranya, dengan menanamnya di pekarangan. Nah, biasanya
     perumahan realestat itu luasnya berhektare-hektare. Kalau setiap
     rumah diharuskan menanam satu jenis buah saja, dari satu kompleks
     perumahan itu bisa dijadikan satu sentra perkebunan yang hasilnya
     bisa dijual.
     
     Bagaimana caranya agar buah kita tidak kalah bersaing dengan buah
     impor di negeri sendiri?
     
     Serbuan itu tidak bisa distop. Kita hanya bisa menguranginya.
     
     Mengapa?
     
     Karena, saat ini produksi buah kita belum memenuhi syarat 3 K,
     yaitu: kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Masyarakat ingin bisa
     makan durian setiap saat, tidak hanya pada musim durian. Ini belum
     bisa kita penuhi. Di samping itu, kita harus menanam produk
     unggulan yang kompetitif. Untuk ke sana, program jangka pendeknya
     adalah menghasilkan bibit-bibit bagus untuk menggantikan bibit lama
     yang buruk. Saat ini, kita kesulitan mencari produk pertanian yang
     bagus.
     
     Bagaimana merekayasa agar produk pertanian itu memiliki 3 K,
     sedangkan mereka sangat tergantung pada iklim yang tidak bisa
     direkayasa?
     
     Bisa saja. Pertama, dengan rekayasa lokasi dan waktu panen,
     sehingga buah jeruk di Jatim bisa dipanen hari ini tapi jeruk di
     Kalbar bisa dipanen hari berikutnya. Kedua, dengan perbaikan
     teknologi, yaitu mengatur agar kita bisa mencicil waktu panen.Tidak
     sekaligus pada panen raya. Caranya, dengan pemangkasan, pemupukan.
     Dengan demikian, tidak terjadi kelebihan pasok, yang akan membuat
     harga jatuh. Dan, masyarakat pun bisa menikmati buah itu pada
     setiap musim. Kemudian, penanganan pascapanen dengan menggunakan
     alat yang bisa menyimpan buah selama satu tahun. Sehingga,
     aktivitas produksi terjamin, dan supply juga teratur. Orientasi
     kita harus selalu ke pasar.
     
     Apa yang diminta konsumen dari produk pertanian kita?
     
     Kualitas, keselamatan mengkonsumsi ... back to nature, dan unsur
     gizi yang tinggi, serta keamanan dalam aspek lingkungan.
     
     Apa prinsip Inagro?
     
     Win-win business (sama-sama diuntungkan -- Red.).
     
     Bagaimana berhubungan dengan petani?
     
     Mereka membutuhkan kepastian harga dan waktu pembayaran. Kalau
     kebutuhan itu sudah dipenuhi, mereka berbondong-bondong mendatangi
     pihak swasta yang mau menampung hasil pertaniannya. Di samping itu,
     Inagro juga melakukan pengklasifikasian terhadap produk petani.
     Grade a/1 untuk hotel, b/2 untuk pasar swalayan, dan c/3 untuk
     pasar induk.
     
     Bukankah trend saat ini adalah back to nature? Apakah nanti dengan
     didirikannya pabrik pengolahan dikhawatirkan akan tidak laku,
     lantaran masyarakat lebih berpreferensi ke buah segar ketimbang
     buah kaleng?
     
     Kita lihat struktur pasar. Tidak semuanya menyukai buah segar, ada
     juga yang butuh kalengan karena bisa dimakan dengan roti, misalnya.
     Di samping itu, tidak semua hasil pertanian ber-grade a/1, misalnya
     cuma 40%. Sedangkan, sisanya ber-grade c/3. Nah, daripada produk
     yang ber-grade rendah itu tidak laku, lebih baik ia diolah dan
     dikalengkan. Karena, untuk produk kalengan, tidak mesti ber-grade
     a/1.
     
     Apalagi, negara-negara berpenduduk padat dan berlahan pertanian
     sempit, semisal Hong Kong, Jepang, Taiwan, mungkin dalam waktu lima
     tahun akan menjadi pasar hasil pertanian kita. Begitu pula halnya
     dengan negara-negara Eropa yang mempunyai empat musim. Pada saat
     mereka berada dalam musim dingin, mereka hanya makan, tidur, tidak
     bekerja. Nah, mereka juga bisa dijadikan pasar kita yang potensial.
     Harapan kita, dalam 5-10 tahun lagi Indonesia akan menjadi negara
     agrobisnis terbesar.
     
     Apa potensi kita bisa menjadi negara agrobisnis terbesar?
     
     Kita memiliki tenaga kerja yang murah, lahan pertanian yang luas,
     matahari yang bersinar sepanjang hari, iklim yang bagus untuk
     pertanian.
     
     Bagaimana dari petani sendiri yang terbiasa bertani gurem harus
     berubah menjadi bertani modern, sudah siapkah mereka?
     
     Mereka bisa diarahkan dan dibina. Tinggal kemauan bangsa ini untuk
     membangun agrobisnis. Sebab, 70% penduduk kita adalah petani.
     
     Bagaimana untuk mengubah dari bertani gurem menjadi modern?
     
     Dengan mengembangkan sentra-sentra pertanian. Misalnya, NTB, yang
     lahannya berair, cocok untuk tanaman tembakau. Sedangkan, yang
     tidak berair, cocok untuk tanaman jambu mede. Di samping itu,
     memberdayakan petani, sehingga mereka sejahtera, antara lain dengan
     memudahkan mereka mendapat kredit.
     
     Bagaimana dengan proyek sejuta hektare di Kalteng, apa istimewanya?
     
     Padi atau beras merupakan bahan makanan pokok rakyat, produk
     pertanian strategis protektif. Artinya, kita tidak boleh sampai
     tergantung pada negara lain. Jika tidak, kita bisa didikte negara
     lain. Saat ini, Inagro sedang mengembangkan tanaman yang bernilai
     strategis kompetitif, yang bisa bersaing dan mempunyai tingkat
     harga yang tinggi, semisal sayuran, buah durian, manggis, dan
     salak. Buah-buahan itu juga bersifat luxurious commodity, yaitu
     yang biasa dimakan oleh mereka yang berduit banyak.
     
     Bagaimana cara mengurangi serbuan buah impor?
     
     Banyak. Misalnya, menetapkan batas penggunaan pestisida. Ini perlu,
     mengingat konsekuensi dari penggunaan pestisida di luar batas akan
     menyebabkan kualitas SDM kita yang mengkonsumsinya menurun.
     Kemudian, menetapkan ukuran buah dan jenis buah. Jangan semua jenis
     buah dari luar negeri boleh masuk. Cukuplah yang dibutuhkan oleh
     masyarakat saja. Yang terakhir, pembatasan jumlah.
     
     Sudah seberapa kuat serbuan mereka?
     
     Saat ini, sudah harus diperketat. Kalau bisa, diiringi dengan
     pengembangan buah-buah asli, lalu mendistribusikannya secara luas.
     Sehingga, lama-lama buah-buah impor itu dilupakan oleh masyarakat,
     dan hilang dengan sendirinya. Pemerintah sudah mengetahui hal ini,
     tapi masih perlu pengoptimalan. Caranya, dengan memperbaiki
     kualitas bibit dan membuat sentra produksi pertanian. Lampung itu
     bisa dijadikan sentra produksi nenas, pisang. Kalau Palembang,
     khusus untuk buah duku.
     
     Apakah masyarakat petani mau disuruh untuk menanam jenis pertanian
     itu?
     
     Mau saja, asal menguntungkan mereka, dan pemasarannya terjamin.
     
     Apa kendala yang kita hadapi untuk mewujudkan Indonesia negara
     agrobisnis terbesar?
     
     Kurang kemauan, dan perencanaan yang tidak optimal. Sebab, kita
     memiliki semua potensi. Tinggal mengoptimalkannya, kok.
     
     Berapa modal yang dikeluarkan pada saat mendirikan perusahaan ini?
     
     Rp 40 miliar. Komposisi sahamnya: 90% Pak Bob Hasan, sisanya Pak
     Cipto Widyoprayitno. Menurut rencana, dalam lima tahun mencapai
     titik impas. Tapi, tampaknya sasaran itu bisa diraih dalam tiga
     tahun.
     
     Apa target jangka pendek Inagro?
     
     Hingga tahun 2003, kita akan membangun sentra-sentra perkebunan,
     yang di dalamnya lengkap beroperasi kelima tahap agrobisnis. Dengan
     produk andalan buah mangga, durian, salak, dan manggis.