[INDONESIA-L] KONTAN - Balongan Pin

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Mar 21 1997 - 14:20:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA23697 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 21 Mar 1997 18:09:48 -0500 (EST)
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Balongan Pingsan Tujuh Pekan

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Mar 21 18:07:51 1997
Date: Fri, 21 Mar 1997 15:33:32 -0700 (MST)
Message-Id: <199703212233.PAA07130@indopubs.com>
To: INDONESIA-L@indopubs.com
From: APAKABAR@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Balongan Pingsan Tujuh Pekan
Catatan/Remark: INDONESIA-L (Diskusi/Discussion - Gratis/Free)
Catatan/Remark: Berlangganan/Subscribe INDONESIA-P (Berita/News)

Ongkos/Cost INDONESIA-P: US$120 Satu Tahun/One Year
Alamat/Address Admin INDONESIA-L: MERDEKA@clark.net (Sub/Unsub)
Alamat/Address Pesan Pribadi & Posting INDONESIA-L: apakabar@clark.net
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Precedence: bulk

INDONESIA-L

Date: Fri, 21 Mar 1997 11:08:03 +0700
From: yoyok <yoyok@ub.net.id>
Organization: Tabloid Kontan
To: apakabar@clark.net
Subject: KONTAN - Balongan Pingsan Tujuh Pekan

BALONGAN PINGSAN TUJUH PEKAN
Tenaga lokal belum menguasai teknologi RCC

Setelah pingsan tujuh pekan, kilang Balongan kembali beroperasi. Isu
sakitnya kilang yang satu ini sempat membuat bergairah para pedagang
minyak di pasar spot. Tapi, untung, Pertamina punya cadangan lumayan
banyak. Utang Balongan kini tinggal US$ 1 miliar.

---------------------------
Budi Kusumah, Marga Raharja
---------------------------

Panen yang dialami para pedagang bahan bakar minyak (BBM) di pasar spot
Singapura usai sudah. Kini mereka kembali ke suasana pasar di kala
kilang Balongan milik Pertamina masih segar bugar. Soalnya, seperti
dikemukakan seorang petinggi Pertamina, kilang yang menjadi andalan
untuk memenuhi kebutuhan BBM di Jakarta itu, setelah sakit hampir selama
tujuh pekan, sejak Selasa kemarin telah sehat kembali.
Ini berarti, ya itu tadi, permainan harga yang diatur para pedagang
minyak di pasar Singapura telah selesai. Padahal, ketika kilang Balongan
demam awal Februari lalu, para pedagang itu langsung memasang strategi
yang menohok Indonesia. Harga BBM langsung dinaikkan. Perhitungan
mereka, selama kilang Balongan rusak, Indonesia akan membeli BBM untuk
kebutuhan pasar Jakarta dan sekitarnya. Akibat kerusakan Balongan,
memang, telah membuat kami membeli BBM dari pasar spot, kata sumber
tadi.
Tapi, syukurlah, semuanya kini telah selesai. Seluruh peralatan yang ada
di kilang itu sudah bekerja penuh seperti semula. Dan Balongan, melalui
pipa penyalur sepanjang 211 km, dari Balongan hingga Jakarta, kembali
memasok 80% kebutuhan BBM dan gas bagi konsumen di ibu kota.
Hanya, banyak orang tetap bertanya-tanya, kenapa kilang kebanggaan yang
berkapasitas terbesar di dunia itu sering sakit-sakitan? Padahal, untuk
memiliki kilang berukuran mega tersebut Pertamina telah meneken utang
sebesar US$ 2 miliar pada Java Petroleum. Menurut perhitungan awal,
dalam waktu12 tahun, utang itu akan terbayar lunas. Kini, dengan kondisi
sakit-sakitan seperti itu, bisakah BUMN ini memenuhi jadwal pembayaran
utangnya?
Tenaga ahli untuk kerusakan yang tak berarti
Jawaban yang diberikan pejabat Pertamina, terhadap semua pertanyaan itu,
cukup menggembirakan. Katanya, kendati mogok sampai sebulan lebih,
kerusakan yang dialami kilang itu tidak separah yang diberitakan
media-media asing, yang ujung-ujungnya telah mempengaruhi pasar BBM di
Singapura. Kilang berhenti berproduksi lantaran ada kotoran yang
menyumbat di unit RCC, katanya. RCC yang dimaksud adalah Residue
Catalytic Cracker, unit yang mengolah residu menjadi BBM dan gas.
Sebuah gangguan yang tidak berarti memang. Tapi, karena di Indonesia RCC
merupakan barang baru, tak seorang pun operator kilang yang ada di
negeri ini mampu memperbaiki. Sehingga Pertamina terpaksa mengundang
lima tenaga ahli dari Universal Oil Product dan Chevron, dua perusahaan
minyak Amerika yang memegang lisensi peralatan di kilang Balongan.
Jadi, tidak benar kalau ada berita yang menyebutkan bahwa Pertamina
mengundang 60 tenaga ahli. Alasannya, selain mahal (seorang pekerja
asing ini dibayar US$ 1.000 per hari), perbaikan di lapangan dilakukan
langsung oleh tenaga-tenaga Indonesia. Orang asing itu cuma mendiagnosa
saja, kata sumber KONTAN di Pertamina.
Memang, Pertamina sengaja tidak memelihara tenaga ahli asing yang piawai
menangani unit-unit produksi di Balongan. Itu lantaran BUMN ini tidak
ingin tergantung pada tenaga asing. Di samping itu, unit produksi kilang
yang belum dikuasai orang Indonesia, ya, cuma RCC itu. Sedangkan
teknologi dua alat besar lainnya sudah dikuasai sepenuhnya. Sebut saja
Crude Destillation Unit (CDU) yang berfungsi mengolah minyak mentah
menjadi residu dan ARHDM (Atmospheric Residue Hydrodemetallization Unit)
yang dipakai untuk menghilangkan kandungan logam dan karbon dari residu.
Apa pun kerusakan yang terjadi pada unit-unit ini sudah bisa diperbaiki
langsung oleh tenaga Pertamina. Soalnya, dua alat itu sudah ada di
kilang-kilang lain di luar Balongan.
Utang Balongan tinggal US$ 1 miliar
Lantas bagaimana kabarnya dengan cicilan utang untuk pembangunan kilang
itu kepada Java Petroleum? Ini pun, ternyata, tidak ada masalah.Utang
sebesar US$ 2 miliar itu oleh Pertamina dicicil sebesar US$ 55 juta per
tiga bulan. Hanya, karena memiliki kelebihan dana, tahun lalu Pertamina
melakukan pembayaran sekaligus untuk masa pembayaran lima tahun (hingga
2002). Ini kami lakukan untuk menghindari kemungkinan naiknya beban
bunga, kata seorang pejabat Pertamina.
Betul, pihak Java Petroleum yang merupakan konsorsium 20 bank asing
semula menolak pembayaran di muka. Tapi akhirnya mereka mau menerima.
Jadi, walau kilang Balongan cuti selama tujuh pekan, Pertamina tak
sampai terkena penalti lantaran telat membayar cicilan. Kini, kata si
empunya cerita, utang itu tinggal US$ 1 miliar saja.
Dengan terjawabnya soal cicilan ini, maka tak dapat disangsikan lagi,
utang kilang Balongan tampaknya akan terlunasi sesuai dengan jadwal
alias akan lunas pada tahun 2006. Dan sejak itulah Pertamina akan
menimba pendapatan besar karena tak lagi dipotong utang. Bagaimana
tidak? Kilang yang mengolah minyak mentah sebanyak 125.000 barel per
hari ini merupakan salah satu tulang punggung yang tak bisa disepelekan
perannya.
Ia, misalnya, bisa mengolah minyak mentah jenis Duri yang berkadar
berat-kental menjadi premium, solar, minyak tanah, dan minyak diesel.
Padahal, sebelumnya, minyak jenis Duri cuma dijadikan minyak bakar yang
bernilai jual rendah. Nah, dengan mengolah sendiri minyak berat sejenis
Duri ini Pertamina berhasil mengirit biaya pengolahan sebesar US$ 3 per
barel, atau sekitar US$ 375.000 sehari.
Sebuah hasil langkah efisiensi yang lumayan besar, tentunya. Selain itu,
dari dalam negeri, BUMN ini juga bisa mengantungi pendapatan yang tidak
sedikit. Soalnya, jika ditotal, Balongan mampu memenuhi sekitar 40%
kebutuhan BBM di Pulau Jawa atau 20% kebutuhan nasional.
Itu karena dari 125.000 barel minyak mentah yang diolah setiap harinya
diperoleh:
- 59.000 barel premium
- 12.000 barel minyak tanah
- 27.000 barel solar
- 59.000 minyak diesel
- 9.300 barel minyak bakar
- 565 ton LPG dan
- 680 ton propylene dan sulfur.
Jadi tidak perlu aneh jika kilang yang satu ini batuk, kabarnya bisa
sampai ke negeri jiran. Pasalnya, semua orang tahu tanpa Balongan
kebutuhan BBM dan LPG dalam negeri akan terguncang. Tapi syukur,
penyakit yang kemarin itu tak sempat membuat pompa-pompa bensin di
Jakarta kering. Sebab, selain ditambal dengan sedikit impor, Pertamina
masih punya cadangan yang konon cukup untuk kebutuhan sebulan.
Jadi, jangan khawatir. Tak akan ada penjatahan BBM dan gas untuk
konsumen Jakarta.