[INDONESIA-P] KMP - Kerusuhan di Pe

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Mar 26 1997 - 14:36:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA11300 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 26 Mar 1997 18:36:25 -0500 (EST)
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Kerusuhan di Pekalongan Dilaporkan ke Presiden

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Wed Mar 26 18:18:32 1997
Date: Wed, 26 Mar 1997 16:09:47 -0700 (MST)
Message-Id: <199703262309.QAA18943@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Kerusuhan di Pekalongan Dilaporkan ke Presiden
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com

INDONESIA-P

   Kompas Online
Kamis, 27 Maret 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
  Kerusuhan di Pekalongan
  
                            Dilaporkan ke Presiden
                                       
   Jakarta, Kompas
   
   Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI R Hartono dan Kapolri
   Letjen (Pol) Dibyo Widodo melaporkan kerusuhan yang terjadi hari Senin
   (24/3) di Pekalongan, Jawa Tengah, kepada Presiden Soeharto. "Kami
   hanya melaporkan secara selintas, karena itu bukan masalah inti.
   Masalah intinya adalah Posko Kewaspadaan," ujar KSAD menjawab
   pertanyaan wartawan seusai bertemu Presiden di kediaman Jalan Cendana,
   Jakarta, Rabu (26/3).
   
   Sebelumnya diberitakan, dalam kerusuhan itu, massa merusak panggung
   yang disiapkan untuk acara pengajian akbar yang akan menampilkan Rhoma
   Irama dan Zainuddin MZ di Desa Buaran, Kodya Pekalongan, hari ini.
   (Kompas, 26/3)
   
   Sementara itu, dari Pekalongan dilaporkan, acara "Nada dan Dakwah"
   berlangsung aman di Lapangan Paesan, Desa Kedungwuni, Kabupaten
   Pekalongan (Jateng), meski sepanjang siang kota di pantai utara Pulau
   Jawa tersebut dicekam ketegangan. Mbak Tutut yang semula dikabarkan
   tidak akan menghadiri acara itu, bahkan menyanyi dan mendapat aplaus
   ribuan pengunjung.
   
   Sambil berdiri di bawah payung, Mbak Tutut melantunkan lagu Pertemuan
   yang di tahun 60-an sering dibawakan penyanyi kondang Tety Kadi. Orkes
   Melayu Soneta di bawah pimpinan H Rhoma Irama mengiringi Mbak Tutut
   serta beberapa penyanyi lain, semisal Evi Tamala yang menyanyikan
   hit-nya, Selamat Malam.
   
   Sebelumnya dai sejuta umat, Zainuddin MZ memberi siraman rohani yang
   didengar secara khusuk oleh pengunjung. Gerimis yang tiba-tiba turun,
   tak menyurutkan semangat warga Pekalongan dan sekitarnya.
   
   Lokasi "Nada dan Dakwah "berjarak sekitar tujuh kilometer dari
   panggung di Desa Buaran yang Senin lalu dibakar massa.
   
   Emosional
   
   Menurut KSAD, peristiwa kerusuhan itu terjadi akibat kekeliruan
   keadaan. "Mungkin terlalu emosional sehingga nalar tidak bisa
   digunakan," ujarnya.
   
   Dikatakan, panitia acara tersebut melihat Rhoma Irama sebagai sosok
   yang lain dari pada yang lain, lalu muncul perasaan adanya persaingan.
   "Boleh jadi begitu, karena mungkin Rhoma Irama dulu bukan milik salah
   satu OPP tersebut, lalu timbul perasaan yang tidak-tidak," ujarnya,
   tanpa menyebut nama OPP yang dimaksud. Ditambahkan, "Sekarang saya
   berpakaian dinas, nanti kalau saya berpakaian preman saya sebut nama
   OPP itu."
   
   "Berdasarkan laporan, penyebabnya adalah panitia dalam kaitan itu
   mencabuti bendera-bendera salah satu OPP. Padahal tentang penertiban
   itu sudah ada, kenapa kok ditaruh bendera OPP tertentu, lalu dicoba
   ditertibkan," kata Jenderal Hartono.
   
   KSAD menyanggah kalau peristiwa ini terjadi akibat adanya sikap arogan
   aparat. Hartono menyatakan jstru sebaliknya, aparat ingin menertibkan
   situasi, ingin menegakkan hukum. "Karena sebelumnya sudah ada
   ketentuan untuk tidak boleh sembarangan menaruh bendera OPP tertentu.
   Sudah diingatkan tapi ada yang tetap memasang bendera-bendera itu,"
   demikian jelasnya.
   
   Menurut Hartono dalam kerusuhan ini tidak terjadi korban. Kapolri
   menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap
   beberapa orang.
   
   Diblokir
   
   Siang kemarin, panggung yang sempat dibakar massa telah didirikan
   lagi, dan dijaga ketat aparat keamanan. Meski demikian, jalan raya
   Buaran yang menuju ke ponpes tersebut sempat diblokir massa.
   
   Massa yang melakukan unjuk rasa terutama terkonsentrasi di sepanjang
   jalan raya Desa Buaran. Mereka sengaja menutup jalan sejauh satu km
   yang menuju ke lokasi Ponpes Alquran dengan membakar ban-ban bekas.
   Asapnya membubung hingga terlihat dari pusat kota.
   
   Lokasi Desa Buaran berjarak sekitar tujuh km arah selatan dari pusat
   kota Pekalongan. Sedangkan lokasi panggung hiburan Nada dan Dakwah
   yang menampilkan Rhoma Irama dan OM Soneta, di Lapangan Paesan, Desa
   Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, lima km arah selatan Buaran.
   
   Massa juga sempat melakukan perusakan terhadap sejumlah toko, dan
   membakari dua mobil boks yang berisi kain batik di sekitar Pasar
   Buaran dan jalan raya Buaran. Untuk membubarkan massa itu, aparat
   keamanan dilaporkan melepaskan gas air mata, serta semburan water
   cannon dari mobil pemadam kebakaran, namun tidak melepaskan tembakan
   dengan peluru tajam. Sejauh ini dilaporkan tak ada korban tewas,
   kecuali hanya luka akibat terkena gas air mata yang memang panas.
   
   Kapuspen Brigjen TNI Slamet Supriadi ketika dihubungi Kompas, semalam
   membenarkan adanya aksi massa tersebut.
   
   Situasi kota Pekalongan sampai semalam masih mencekam. Sejumlah kantor
   dan pertokoan di kota Pekalongan tutup, sedangkan pasar pun mendadak
   sepi. Bus-bus antarkota yang berangkat dari Terminal Bus Pekalongan
   sampai kemarin petang diminta untuk tidak beroperasi. Sementara
   masyarakat yang bepergian dengan kendaraan umum diperiksa oleh
   petugas.
   
   Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Soebagyo HS yang dicegat wartawan,
   usai mendampingi Ny Siti Hardiyanti Rukmana meresmikan Toko Mahkota di
   Pekalongan kemarin, menyesalkan terjadinya kerusuhan. Ia mengatakan,
   tidak ada korban yang tewas.
   
   Dari pantauan Kompas semalam, pihak aparat keamanan yang terdiri dari
   berbagai kesatuan -Batalyon 401 dan 406 Banteng Raiders, Brimob dan
   kepolisian- dengan kekuatan empat SSK (satuan setingkat kompi)
   melokalisasi wilayah kerusuhan agar tidak meluas.
   
   Tidak terkait
   
   Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI Brigjen TNI Slamet Supriyadi
   mengatakan, kerusuhan yang terjadi di Desa Buaran Pekalongan Jawa
   Tengah sama sekali tidak terkait dengan salah satu kepentingan
   Organisasi Peserta Pemilu (OPP). Kerusuhan itu dilakukan oleh
   sekelompok pemuda yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan yang
   tidak jelas.
   
   "Sebanyak 16 tersangka pelaku yang merusak panggung untuk pengajian
   akbar di Pekalongan dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib. Tapi
   tidak ada satu pun yang ditahan. Semua diperbolehkan pulang setelah
   selesai dimintai keterangan," kata Supriadi kepada wartawan hari Rabu
   (26/3) dalam acara jumpa pers di Mabes ABRI Jakarta.
   
   Buya menyesalkan
   
   Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Metareum menyesalkan terjadinya
   "tindakan kekerasan" terhadap sejumlah massa, di Desa Buaran, Kodya
   Pekalong-an, Rabu (26/3) dini hari pukul 01.30 WIB.
   
   Ketua DPW PPP Jateng H Karmani SH dan wakil ketua Djuhad Mahja SH CN
   yang mendampingi Ketua DPP PPP Buya Hassan Metareum kemarin kepada
   wartawan di Semarang memaparkan, pihaknya memperoleh laporan dari DPC
   PPP Kodya Pekalongan tentang insiden kekerasan terhadap massa
   pengunjuk rasa, Rabu dini hari, yang mengakibatkan jatuh korban.
   
   "Tetapi kami belum bisa memastikan apakah massa pengunjuk rasa dan
   yang menjadi korban itu adalah warga PPP," ujar Karmani seraya
   menambahkan, bersama Buya Metareum Rabu petang kemarin akan langsung
   meluncur ke Pekalongan, sekaligus mencek kebenaran laporan tersebut.
   
   Buya Metareum menegaskan, kerusuhan yang terjadi di Pekalongan itu
   tidak ada kaitan dengan rencana penyelenggaraan pertemuan antara PPP
   dengan sejumlah ulama di Buaran, Pekalongan. Sedianya peringatan akan
   diadakan hari Rabu kemarin. Tetapi karena bersamaan dengan acara DPD
   Golkar yang mendatangkan Mbak Tutut, Rhoma Irama dan Zaenuddin MZ pada
   hari yang sama di Buaran, peringatan harlah PPP diundur hari Kamis
   (27/3) ini. (rie/osd/ama/pom/who/asa)