[INDONESIA-P] SBYP - Strategi Alter

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Apr 09 1997 - 10:13:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id NAA16191 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 9 Apr 1997 13:12:53 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-P] SBYP - Strategi Alternatif Menyelamatkan Ibu

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Wed Apr 9 12:44:09 1997
Date: Wed, 9 Apr 1997 10:42:52 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704091642.KAA10762@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] SBYP - Strategi Alternatif Menyelamatkan Ibu
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com

INDONESIA-P

X-URL: http://www.surabayapost.co.id/97/04/08/06TENGAH.HTML

   OPINI
   Selasa, 8 April 1997
   Surabaya Post
   
                Strategi Alternatif Menyelamatkan Nyawa Ibu
                           oleh Solichin Abdul Wahab

           Salah satu persoalan mendasar dalam kebijakan kesehatan di
       Indonesia ialah implementasi program penurunan angka kematian ibu
           (AKI) yang di antaranya disebabkan berbagai penyakit yang
                  mengiringi proses kehamilan dan persalinan.
        Komitmen politik pemerintah untuk memerangi persoalan itu hingga
          ke akar-akarnya telah dicetuskan berulang kali oleh Presiden
                  Soeharto dalam berbagai kesempatan. Mengapa?
         Dari Pelita ke Pelita tingkat penurunan angka kematian ibu di
         Indonesia memang telah menunjukkan hasil cukup menggembirakan,
       yakni sebesar 450 per 100.000 kelahiran hidup atau sebesar 20.000
                      kematian per tahun pada tahun 1986.
         Kemudian, pada tahun 1992 mengalami penurunan menjadi 421 per
        100.000 kelahiran hidup. Kendatipun demikian, profil menyeluruh
                    tentang kesehatan ibu masih saja buram.
                                   Tertinggi
         Dari berbagai propinsi angka kematian ternyata cukup beragam,
       berkisar antara 130-750 per 100.000 kelahiran hidup. Ini berarti,
       masih terdapat kesenjangan kemampuan implementasi (implementation
        gap) di antara propinsi yang ada dalam upayanya menekan kematian
           ibu. Itu agaknya yang menyebabkan Indonesia memiliki angka
        morbiditas dan mortalitas ibu tertinggi di antara negara-negara
                                     ASEAN.
        Padahal, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah menyelamatkan
       nyawa kaum ibu. Misalnya, sejak tahun 1989/1990 telah ditempatkan
         tenaga paramedis (bidan) di desa-desa, dengan menyebarkan tak
            kurang dari 54.120 tenaga bidan yang cukup profesional.
          Tapi, dampaknya ternyata tak cukup spektakuler, hanya mampu
        menekan AKI sebesar 40%. Dalam publikasi Safe Motherhood (1995)
        disebutkan, kebanyakan kematian ibu di negara sedang berkembang
        tidaklah terjadi di rumah sakit, melainkan terjadi baik di rumah
         atau dalam perjalanan dari rumah ke rumah sakit atau fasilitas
                               kesehatan lainnya.
       Ada tiga keterlambatan (delay) yang memberikan kontribusi
terhadap
       kematian ibu: terlambat mencari pertolongan yang tepat; terlambat
        memperoleh pertolongan karena kesulitan transportasi dan sistem
         rujukan; terlambat menerima pertolongan sesudah tiba di rumah
        sakit. Persoalan ini kiranya tak jauh berbeda dengan yang ada di
                                   Indonesia.
       Situasi itu diperburuk oleh kenyataan belum terintegrasinya
sistem
        pelayanan dan perawatan kesehatan "modern" dan "tradisional" di
                                   desa-desa.
       Adat pantang makanan tertentu di saat kehamilan dan beberapa saat
       setelah persalinan (yang mungkin justru diperlukan untuk menambah
            nutrisi) masih dijalankan oleh sebagian besar kaum ibu.
         Belum melembaganya konsep risiko dan kesehatan preventif pada
            sebagian besar masyarakat desa. Tak sedikit pula anggota
        masyarakat yang masih lebih mempercayakan proses persalinannya,
       sekalipun mungkin berisiko tinggi, kepada dukun bayi tradisional.
                                Belum Meyakinkan
       Kombinasi dari faktor-faktor itulah agaknya yang menyebabkan
dalam
           kurun waktu 10 tahun terakhir ini dampak program penurunan
       morbiditas dan mortalitas masih belum cukup meyakinkan. Tak
heran,
        kalau ada dugaan masih terdapat sekitar 60% dari jumlah kematian
                      ibu yang masih belum terselamatkan.
        Gambaran itu menunjukkan, upaya menurunkan angka morbiditas dan
       mortalitas kaum ibu di Indonesia merupakan sesuatu yang mendesak.
         Tapi, upaya itu tidak akan efektif jika hanya ditempuh dengan
        pendekatan biomedik berbasiskan pelayanan rumah sakit (hospital
          based health care) yang lazimnya lebih menekankan pada aspek
                           perawatan klinis-kuratif.
        Program menurunkan morbiditas dan mortalitas di daerah pedesaan
        memerlukan strategi alternatif yang mencakup perubahan perilaku,
        partisipasi, dan tanggung jawab masyarakat, kendati tetap perlu
       didukung oleh organisasi sistem pelayanan kesehatan yang tangguh,
                            terpadu, dan responsif.
          Di sinilah letak arti penting Community based Maternity Care
       Programme. Namun, keberhasilan program semacam ini akan
ditentukan
                         oleh sejumlah faktor berikut:
         Pertama, reorientasi berbagai kategori tenaga medik/paramedik.
               Sebab, salah satu masalah yang paling kritis dalam
       mengimplementasikan strategi pelayanan kesehatan yang
berorientasi
           pada komunitas (Community oriented health strategy) ialah
           melaksanakan reorientasi terhadap berbagai kategori tenaga
                                   kesehatan.
            Berfungsinya community health care yang diharapkan dapat
        menjangkau masyarakat luas (broad coverage) akan tergantung pada
           kemampuan dari tenaga medik/dokter, paramedik, dan tenaga
                       kesehatan lainnya di tingkat desa.
       Ditinjau dari sudut analisis sumber daya manusia, hal ini berarti
           bukan saja memerlukan sejumlah besar tenaga kesehatan yang
        memiliki skill yang tinggi, tetapi juga komitmen yang kuat untuk
         berperan selaku pemimpin tim kesehatan di pedesaan, dan untuk
         memberikan pelatihan, monitoring dan pengawasan yang kontinyu.
        Rentang tanggung jawab yang cukup luas seperti ini jelas berbeda
       dengan peran dan tanggung jawab konvensional yang lebih
menekankan
           pada aspek pelayanan kesehatan kuratif seperti yang biasa
             dilakukan di rumah sakit (hospital based health care).
        Kedua, partisipasi masyarakat karakteristik penting lainnya bagi
       berhasilnya community based maternity care programme ialah adanya
          partisipasi aktif dan keterlibatan dari masyarakat setempat.
                                  Partisipasi
           Ini di antaranya, memerlukan kesadaran dini dari kaum ibu,
       kerabatnya dan dukun bayi atau bidan setempat terhadap
tanda-tanda
       adanya persalinan yang berisiko tinggi, dan komplikasi-komplikasi
                 tertentu akibat persalinan yang bakal timbul.
       Penelitian Maru (1981) memang membuktikan, partisipasi aktif dari
       masyarakat setempat merupakan kunci keberhasilan community health
         care programme, sekalipun kondisi sosio-ekonomi masyarakatnya
                               tidak favourable.
          Namun, program perawatan kesehatan ibu yang berorientasi dan
       berbasis pada masyarakat jelas bukan sekadar delivering services.
            Kampanye atau penyuluhan besar-besaran mengenai perlunya
       pengenalan dini terhadap bahaya kehamilan dan persalinan berisiko
            tinggi memang dapat diselenggarakan dengan memperlakukan
         masyarakat sekadar sebagai penerima pasif manfaat dari program
                                   tersebut.
            Tapi, jika tujuan program ingin berhasil maka diperlukan
        perubahan-perubahan perilaku tertentu yang, di antaranya berupa
         penanaman pengertian pentingnya "kemitraan" di antara berbagai
         kategori tenaga kesehatan dan antara berbagai kategori tenaga
                     kesehatan tersebut dengan masyarakat.
             Untuk itu dari pihak health providers diperlukan upaya
             memperkenalkan dan menggeser prioritas-prioritas dalam
        aktivitas-aktivitas pelayanan kesehatan di desa dari yang semula
        cenderung memprioritaskan pada perawatan kuratif menuju ke arah
       perawatan kesehatan yang lebih menekankan pada pelayanan
prefentif
                                  dan edukasi.
       Ketiga, manajemen program. Keberhasilan community based maternity
          care programme juga dipengaruhi oleh kualitas manajemen dari
              program pelayanan kesehatan reproduksi di pedesaan.
        Untuk mendukung keberhasilan program tersebut diperlukan "gaya"
        manajemen yang lebih diorientasikan pada "hasil" ketimbang pada
        "prosedur". Termasuk dalam hal ini, pemberian tekanan lebih pada
                hasil akhir ketimbang pada input atau kegiatan.
             Selain itu diperlukan pola pelatihan tenaga medik/para
       medik/bidan/dukun yang lebih menekankan pada problem solving, dan
         cara-cara pengorganisasian pelayanan kesehatan yang menekankan
                        pada pendekatan kerja sama tim.
        Di atas itu semua, keberhasilan program penurunan angka kematian
          kaum ibu hanya akan dicapai dengan memuaskan kalau dilakukan
           serentak sebagai bagian integral dari program peningkatan
                    kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka.
          Sebab, salah satu kendala yang menyebabkan mereka tak jarang
        mengabaikan risiko --sungguh pun sedang dalam keadaan hamil atau
         baru melahirkan-- ialah tuntutan ekonomi rumah tangga di mana
         mereka harus tetap berperan aktif sebagai "income generator."
       Penulis adalah doktor sosiologi, dosen pada Program Pasca-Sarjana
                                Unibraw, Malang.