[INDONESIA-A] KMP - Bahasa Al Quran

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Apr 25 1997 - 10:25:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id NAA18894 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 25 Apr 1997 13:15:46 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-A] KMP - Bahasa Al Quran dalam Tradisi Hermeneutik

Forwarded message:
From owner-indonesia-a@indopubs.com Fri Apr 25 13:06:01 1997
Date: Fri, 25 Apr 1997 11:00:24 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704251700.LAA15132@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-a@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-A] KMP - Bahasa Al Quran dalam Tradisi Hermeneutik
Sender: owner-indonesia-a@indopubs.com

INDONESIA-A

   Kompas Online
Jumat, 25 April 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
                   Bahasa Al Quran dalam Tradisi Hermeneutik
                                       
                             Oleh Dudun S Hudri
                                      
   DISKURSUS tentang hermeneutik tidak bisa dilepaskan dari bahasa.
   Karena problem hermeneutik adalah problem bahasa. Melalui bahasa kita
   memahami, menyatakan kehendak, memerintah atau "memaksa" untuk
   melakukan sesuatu. Namun, dengan bahasa pula kita bisa salah mengerti,
   salah memahami atau sengaja melakukan distorsi untuk kepentingan
   sesaat. Singkatnya, bahasa, meminjam istilah Martin Heidegger adalah
   rumah pengada; language is the house of being.
   
   Setidak-tidaknya sejak zaman Yunani kuno, minat orang telah
   dibangkitkan oleh banyaknya fungsi yang dimainkan bahasa. Para filosof
   Yunani memandang bahasa sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan
   kebenaran, untuk mengekspresikan hal-hal yang bersifat artistik, dan
   untuk persuasi.
   
   Ferdinand de Saussure - seorang ahli bahasa dari Swiss - mengemukakan,
   bahwa bahasa pada intinya terdiri atas sejumlah tanda. Tanda-tanda itu
   tidak langsung merujuk pada sekian banyak benda dalam kenyataan. Tanda
   adalah gabungan dari dua unsur, unsur material - bunyi atau coretan -
   dan unsur mental - anggitan atau konsep. Kedua unsur tersebut tidak
   bisa dilepaskan satu sama lain. Istilah teknis yang diciptakan
   Saussure untuk unsur material dan unsur mental dari tanda adalah
   signifiant dan "signifie". Atau dengan kata lain teks dan wacana.
   
   Tawaran Hermeneutik
   
   Al Quran, yang berbahasa Arab, terdiri dari tanda-tanda (ayat). Setiap
   kehadiran sebuah tanda (signifiant) selalu mengasumsikan adanya obyek
   yang ditandai (signifie). Karena itu dalam memahami bahasa Al Quran,
   di samping harus memahami kaidah-kaidah tata bahasa, juga mengandaikan
   suasana psikologis (wacana) dari ayat itu.
   
   Sekedar contoh, dari segi jenis nama Tuhan masuk kategori "laki-laki".
   Atribusi maskulinitas ini diperkuat lagi karena Rasul-Nya. Muhammad,
   adalah laki-laki di samping posisi wanita waktu itu dalam banyak hal
   memang terbelakang, sehingga wacana ketuhanan dan keislaman
   mengesankan sangat memihak pada sifat dan kepentingan kaum laki-laki.
   Kesadaran psikologis yang sangat maskulin ini tentu saja tidak tepat
   kalau dianalogkan untuk menggambarkan Tuhan dan kehidupan eskatologis
   (Komaruddin Hidayat, 1996).
   
   Benar bahwa Al Quran baik makna maupun lafal adalah firman Allah yang
   didiktekan Jibril kepada Muhammad (in verbatim). Tetapi ketika Al
   Quran terjelma sesungguhnya ia telah terhistoriskan. Terlebih lagi Al
   Quran memakai bahasa Arab sebagai media komunikasi, yang muncul
   seiring dengan peradaban manusia. Maka genaplah pandangan ini ketika
   Al Quran juga selalu dipahami dalam ruang dan waktu yang berbeda oleh
   setiap generasi.
   
   Jadi apa jaminannya bahwa sebuah pemahaman dari generasi yang hidup di
   zaman dan tempat berbeda terhindar dari salah paham. Dengan kata lain,
   benarkah pemahaman seorang muslim tentang isi Al Quran sudah persis
   sama sebagaimana yang dikehendaki oleh pengarang (Tuhan)?
   Persoalan-persoalan inilah yang dimaksud Komaruddin Hidayat sebagai
   persoalan hermeneutik. Dan tugas hermeneutik adalah menelaah isi dan
   maksud yang mengejawantah dari sebuah teks sampai kepada maknanya yang
   terdalam serta membawa keluar makna internal tersebut beserta
   situasinya menurut zamannya. Disinilah pentingnya hermeneutik.
   
   Secara etimologis, kata "hermeneutik" berasal dari bahasa Yunani
   hermeneuin yang berarti "menafsirkan". Maka kata benda hermeneia
   secara harfiah dapat diartikan penafsiran atau interpretasi. Istilah
   Yunani ini mengingatkan kita pada tokoh mitologis yang bernama Hermes,
   yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter
   kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai
   kaki bersayap, dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Mercurius dalam
   bahasa Latin.
   
   Hermeneutik kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam
   bidang filsafat bahasa. Terutama dikembangkan oleh para filosof Barat,
   semisal Hans Georg Gadamer, Derida atau Paul Ricoeur. Dari mereka
   dapat diambil benang merah, bahwa sebuah teks bisa didekati dengan
   hermeneutik. Terlebih teks kitab suci, karena ada jarak antara
   "pengarang" dan yang disapa kitab suci tersebut. Sehingga menimbulkan
   lingkaran hermeneutik.
   
   Jadi, kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes, adalah sebuah
   ilmu dan seni menginterpretasikan teks. Maka tepat kiranya kalau
   hermeneutik dijadikan alat analisis dalam bahasa Al Quran, agar
   kekhawatiran-kekhawatiran terjadinya distorsi, terhindari. Pada
   akhirnya Al Quran sebagai kitab petunjuk yang hakiki semakin mengalami
   penguatan. Mungkin persoalannya adalah bagaimana hermeneutik bisa
   diterapkan secara metodologis.
   
   Dalam tradisi Islam seni menginterpretasikan kitab suci telah dimulai
   sejak pertama kali turunnya ayat Al Quran. Nabi adalah sosok yang
   sangat kompeten dalam hal ini, karena Nabi - sebagaimana ditegaskan Al
   Quran - bertugas menerangkannya kepada manusia. Dari sana
   berkembanglah ilmu tafsir.
   
   Walaupun tidak ada perbedaan secara etimilogis antara hermeneutika dan
   tafsir, tetapi dalam perjalanan sejarah keduanya dibedakan dalam
   tataran teologis. Tafsir biasanya disejajarkan dengan praktik
   penafsiran, sedang hermeneutik merujuk pada tujuan, prinsip dan
   kriteria dari praktik penafsiran tersebut, tegas Yusuf Rahman dalam
   Ulumul Quran.
   
   Dalam praktik penafsiran tersebut hermeneutika memiliki
   langkah-langkah operasional yang lebih metodologis dan filosofis
   ketimbang tradisi ilmu tafsir. Paul Ricoeur misalnya, menyebutkan ada
   tiga langkah untuk memahami sebuah teks. Pertama, langkah simbolik,
   yaitu pemahaman yang berlangsung dari penghayatan atas simbol-simbol
   ke gagasan tentang "berpikir dari" simbol-simbol, atau disebut juga
   pemahaman dari simbol ke simbol. Kedua, pemberian makna oleh simbol
   serta penggalian yang cermat atas makna. Ketiga, langkah yang
   benar-benar filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan simbol
   sebagai titik tolaknya (E. Sumaryono, 1995).
   
   Langkah ini sangat tepat diterapkan dalam ayat Quran tentang Syurga
   (jannah), misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 25.
   
   Dijelaskan bahwa Syurga (jannah) adalah kebun yang mempunyai sungai
   dan terdapat wanita cantik. Negeri Arab memang dikenal sebagai negeri
   gurun pasir. Karena itu ia gersang. Dan ketika mereka menemukan oase,
   sebuah kebun yang indah di tengah padang pasir, maka itu adalah
   kenikmatan dan keindahan yang tiada taranya. Mereka juga menganggap
   wanita "hanya" dari sudut seksualitas. Penggambaran Al Quran tentang
   Syurga semacam ini, dilihat secara sosio-psikologis dan sosio-historis
   bangsa Arab, bisa dipahami. Standardisasi inilah angan-angan
   kebahagiaan mereka.
   
   Tapi, pemahaman Syurga (jannah) yang sebenarnya tidak demikian.
   Seandainya Al Quran turun pada orang Eskimo, maka penggambaran Syurga
   mungkin tidak seperti di atas. Melainkan "suatu tempat yang hangat dan
   panas", karena mereka selalu hidup dalam kedinginan.
   
   Karena itu, dalam pandangan hermeneutik, Syurga (jannah) hanyalah
   simbol kebahagiaan dari balasan Tuhan terhadap hamba-Nya yang
   senantiasa mengikuti aturan-Nya. Pemahaman seperti ini akan
   mendudukkan Al Quran pada posisinya yang tepat, sebagai kitab petunjuk
   yang hakiki. Semoga.
   
   (* Dudun S Hudri, mahasiswa pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir
   Hadits IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta).