From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA14431 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 29 Apr 1997 20:24:14 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-N] KMP - Peluang Menuju ke Era Teknologi Informasi
Forwarded message:
From owner-indonesia-n@indopubs.com Tue Apr 29 20:06:07 1997
Date: Tue, 29 Apr 1997 18:03:22 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704300003.SAA18637@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-n@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-N] KMP - Peluang Menuju ke Era Teknologi Informasi
Sender: owner-indonesia-n@indopubs.com
INDONESIA-N
Kompas Online
Rabu, 30 April 1997
_________________________________________________________________
HP dan Bisnis Kecil
Peluang Menuju ke Era Teknologi Informasi
Kompas/rlp/bestari
____________________
BISNIS kecil dan menengah setiap hari menjadi semakin penting.
Kegiatan usaha yang biasa dikenal dengan sebutan small and medium
enterprise (SME) ini pun jumlahnya tidak pernah ada yang tahu. Yang
dimaksud dengan pengusaha kecil dan menengah pun sulit untuk
dikategorikan.
Sebuah perusahaan empat orang dengan pemasukan milyaran rupiah pun
bisa dikategorikan sebagai bisnis kecil dan menengah ini, karena
memang jumlah orang yang mengelolanya pun sangat kecil. Sebaliknya,
perusahaan 100 orang dengan pemasukan ratusan juta rupiah pun bisa
dikategorikan sebagai usaha kecil dan menengah.
Usaha kecil dan menengah ini pun menjadi penting, menjadi andalan
pemasukan devisa negara. Masalah SME ini pun dibahas di berbagai forum
internasional, mulai dari forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC)
sampai forum negara industri maju G-7.
Belum lama ini, pada tanggal 7-9 April lalu, forum G-7 untuk pertama
kalinya mengadakan sebuah seminar tahunan dengan tema A Global
Marketplace for Small and Mediumsized Enterprise di Bonn, Jerman
(http:// www.g7ce.de). Usaha kecil dan menengah ini memang menjadi
penting dalam sebuah dunia yang akan memasuki abad teknologi
informasi.
Keterkaitan antara usaha kecil dan menengah dengan teknologi informasi
pun menjadi tidak terhindarkan. Orang-orang mulai berbicara tentang
perdagangan elektronik (electronic commerce). Artinya melakukan bisnis
secara elektronis, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi
seperti jaringan Internet. Bisa juga berarti, melakukan bisnis dengan
konsumen, dengan perusahaan, atau dengan administrasi publik.
Seminar ini menjadi penting karena berkaitan dengan pembangunan proyek
untuk mempersiapkan sebuah jaringan informasi bisnis global serta
mempromosikan partisipasi SME ke dalam perdagangan elektronik global.
Dalam seminar tersebut, muncul berbagai pertanyaan seperti apakah
perdagangan elektronik penting bagi bisnis?
Atau, apakah ini merupakan sebuah peluang atau ancaman? Berapa
biayanya? Apa dampak terhadap pekerja di sebuah perusahaan? Apa sudah
ada yang memulai menggunakan perdagangan elektronik ini? Semua
pertanyaan bermunculan untuk mencari jawabannya.
Kemenakan
Di Indonesia pun, kegiatan SME ini menjadi penting. Kegiatan
masyarakat banyak mengarah pada usaha kecil dan menengah ini. Di Asia,
usaha kecil dan menengah menjadi penting. Di Taiwan, misalnya,
pemasukan negara sebagian besar berasal dari kegiatan usaha kecil dan
menengah ini.
Pada tahun 2020, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan menjadi
kekuatan ekonomi nomor lima terbesar di dunia, di belakang Cina, AS,
Jepang, dan India. Dan tahun 2020, bukan waktu yang lama. Hanya 23
tahun saja dari sekarang. Tapi menjadi kekuatan ekonomi kelima
terbesar di dunia, bukan begitu saja akan terjadi. Banyak langkah yang
harus dipersiapkan.
Terlebih dengan globalisasi informasi yang sekarang ini terus menerus
menggempur dunia dengan berbagai kemajuan teknologi di berbagai
bidang. Jaringan Internet adalah salah satu kenyataan yang tidak bisa
dihindari. Interkoneksi jaringan komputer menjadi semakin lazim
dilakukan.
Di negara-negara Asia, termasuk di Indonesia, penggunaan komputer
belum lazim dilakukan oleh usaha kecil dan menengah. Padahal, kemajuan
teknologi informasi dan telekomunikasi lebih memberikan keuntungan
bagi usaha kecil dan menengah, bukan saja efisiensi, karena penggunaan
komputer tapi juga memperluas lingkup usaha ke mancanegara untuk
mencari peluang-peluang baru.
Persoalan yang dihadapi, menggunakan komputer apalagi dengan jaringan
yang menggunakan server bagi usaha kecil dan menengah, merupakan
sesuatu yang mahal. Server, beberapa komputer desktop, printer, kabel
jaringan untuk data, perangkat lunak, serta berbagai perangkat lain
yang berkaitan, adalah sesuatu yang mahal.
Belum lagi, kalau usaha kecil dan menengah ini tidak memiliki seorang
yang ahli mengenai jaringan data lokal seperti Local Area Network
(LAN) atau prinsip peer to peer seperti yang sudah tersedia dalam
sistem operasi Windows 95. "Biasanya mereka memanggil saudaranya,
kemenakannya yang kebetulan belajar komputer untuk membantu
mempersiapkan sistem operasi jaringan (NOS)," jelas Steve Haslett,
Regional Marketing Manager, Personal Information Products Group
Hewlett-Packard kepada Kompas.
Adaptasi
Persoalan lainnya, kalau memang ada saudara atau kemenakan yang bisa
mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan komputerisasi perusahaan
kecil dan menengah tersebut, masih belum ada jaminan kalau terjadi
kerusakan pada komputer dekstop atau server bisa diperbaiki oleh "si
kemenakan" tersebut.
Akibatnya, penggunaan dan pemasangan komputer atau server yang
ditujukan untuk mendukung usaha kecil dan menengah tersebut, menjadi
sesuatu yang mahal. Akibatnya, seluruh biaya kepemilikan (total cost
of ownership) menjadi sangat mahal.
Pemimpin Redaksi majalah PC Magazine, Michael J Miller, dalam edisi 22
April lalu menyebutkan bahwa dalam mengatur teknologi yang benar-benar
bisa membantu adalah penggunaan suatu metodologi yang bisa
memperkirakan biaya dan memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh
dalam mengadaptasi teknologi tersebut.
Kalau memang demikian, pertanyaannya adalah apa perlunya usaha kecil
dan menengah ini menggunakan teknologi komputer kalau memang masih
belum terbayangkan keuntungan yang diperolehnya? Adaptasi teknologi
bukan hanya berkaitan dengan pengeluaran biaya bagi pengadaannya, tapi
juga menyangkut masalah dukungan dan jasa perbaikan yang juga
berkaitan dengan masalah keuangan.
Beberapa perusahaan teknologi informasi terkemuka dunia, seperti
Hewlett Packard, Dell, dan Microsoft, mempunyai jawabanya. Steve
Haslett dalam acara What's Cooking at Hewlett Packard di Hongkong
pekan lalu, mengumumkan sebuah program yang disebut HP New Business
Dimension, yang ditujukan bagi para konsumen yang termasuk dalam
kategori usaha kecil dan menengah yang juga disebut sebagai small
business small office (SBSO).
Progam "Dimensi Bisnis Baru HP" ini sudah diluncurkan di Singapura,
dan juga akan diluncurkan di Indonesia, RRC, dan Korea Selatan.
Menurut Haslett, kegiatan yang dikategorikan SBSO ini adalah sebuah
kegiatan usaha yang terdiri dari satu orang sampai 100 orang, atau
perusahaan yang tidak memiliki departemen teknologi informasi.
Dari Asia
"Yang ingin kita tawarkan adalah keuntungan yang sesungguhnya, bukan
hanya untuk HP, tapi juga untuk konsumen HP. Kami menyediakan
pengadaan pendanaan, kemampuan dukungan dan jasa, serta produk yang
murah," jelas Steve Haslett kepada Kompas.
Persoalan yang dihadapi oleh pengusaha kecil dan menengah memang
ketatnya anggaran dan cash flow, sehingga HP menganggap bahwa
memperoleh sebuah nilai yang terbaik dengan meminimalkan cash flow
adalah hal yang paling penting. Program baru HP ini sudah diluncurkan
di, Singapura yang merupakan kerja sama dengan Microsoft dan National
Computer Board (NCB), badan pemerintah yang mengatur perkembangan
komputerisasi dan teknologi informasi di negara pulau tersebut.
Hewlett-Packard menawarkan pendanaan bagi usaha kecil dan menengah
Singapura melalui cicilan sebesar 249 dollar Singapura (sekitar Rp
373.500) setiap bulan selama 18 bulan untuk sebuah produk komputer HP
generasi terbaru seri HP Vectra 500. "Dengan sistem sewa-beli (hire
purchase) ini, kami ingin membuat sebuah gelombang di tengah-tengah
usaha kecil, serta menghilangkan perasaan ketakutan akan teknologi,"
kata Haslett.
Untuk Indonesia, Helwett-Packard dengan dua investor lokal
mempersiapkan PT Hewlett-Packard Finance Indonesia (HPFI) sebagai
kepanjangan tangan bagi pembiayaan program "HP New Business Dimension"
tersebut. Khoo Teng Liat, Country Manager HP untuk Indonesia yang juga
menjabat sebagai Presdir PT Hewlett-Packard Servisindo (HPSI)
mengatakan, lembaga pembiayaan HP ini akan menawarkan jasa kepada
mitra penjualan produk-produk HP dan juga kepada konsumen end-user.
"Kami ingin menjadi orang dalamnya Asia, bukan hanya menjadi sebuah
perusahaan teknologi informasi dari AS. Dengan demikian, kami akan
bisa mengembangkan produk-produk yang sesuai dengan konsumen lokal,"
jelas Khoo.
Pilihan produk
Produk baru komputer PC seri HP Vectra 500 mempunyai kinerja yang
lebih luas yang mampu membantu penggunanya untuk meningkatkan
produktivitas, memperkaya komunikasi dan memaksimalkan penggunaan. Ini
bisa mendorong usaha kecil tanpa manajemen sistem informasi (MIS) agar
bisa berkonsentrasi menangani bisnisnya daripada menangani
teknologinya.
Selain memberikan kemampuan penggunanya untuk melakukan eksplorasi di
jaringan Internet secara efeketif, komputer PC seri HP Vectra 500 ini
juga didukung oleh perangkat keras yang baru dirancang, menggunakan
berbagai prosesor mulai dari Pentium 120 MHz sampai Pentium 200 MHz
dengan memori RAM sebesar 16 MB. Komputer PC seri Vectra 500 ini juga
dilengkapi dengan modem 28,8 Kbps serta CD-ROM berkecepatan delapan
kali.
"Sejak lama, usaha kecil harus memilih antara konfigurasi perangkat
keras komputer PC yang dirancang untuk penggunaan di rumah atau di
perusahaan yang besar. Dengan pertumbuhan yang pesat di arena usaha
kecil dan menengah, komputer PC dan jaringan akan menjadi pasaran
tersendiri bagi segmen pasar jenis ini," jelas Robert Straus, analis
pada penelitian IDC/LINK di New York yang mengamati perkembagan bisnis
kecil dan home-office.
Bersamaan dengan munculnya komputer PC seri HP Vectra 500,
Hewlett-Packard juga menawarkan HP Network Kit, sebuah perangkat murah
dan mudah dipasang bagi jaringan komputer untuk usaha kecil. Perangkat
lunak HP Network Kit ini sudah terpasang pada komputer PC seri HP
Vectra 500, sehingga memungkinkan penggunanya untuk mempersiapkan
jaringan peer-to-peer untuk berbagi file, faks, dan printer.
Untuk kawasan Asia-Pasifik, komputer PC seri HP Vectra 500 terdiri
dari komputer PC minitower untuk high-end seri HP Vectra 525 MCx 5/200
dengan prosesor Pentium 200 MHz, memori RAM 16 MB, harddisk 2,5 GB,
modem suara/data/faks 28,8 Kbps, serta komputer PC desktop yang lebih
murah HP Vectra 520 5/120 dengan prosesor Pentium 120 MHz, memori RAM
12 MB, dan harddisk 1,2 GB. Harga pasar yang ditawarkan mulai dari
1.122 dollar AS (sekitar Rp 2.805.000) sampai 2.326 dollar AS (sekitar
Rp 5.815.000).
Hal yang sama juga ditawarkan oleh perusahaan komputer AS lainnya,
Dell Corporation http://www.us.dell.com/client/dd/msjump.htm dengan
komputer PC seri Dell Dimesion XPS M200 atau server Dell PowerEdge
2100. Bedanya, sampai sekarang belum ada Dell Indonesia yang mewakili
perusahaan komputer tersebut, serta lembaga pendanaan yang membantu
pembelian dan kepemilikan komputer buatannya.
Peranan Microsoft
Sisi lain adalah keterlibatan Micorosft dalam program HP New Business
Dimension ini. Keterlibatan Microsoft menjadi penting, karena memang
semua komputer desktop di dunia ini, sebagian besar menggunakan sistem
operasi buatan Microsoft seperti Windows 3x, Windows 95, Windows NT
for Workgroup, maupun Windows NT untuk sistem operasi server.
Microsoft pun terlibat dalam upaya pengembangan usaha kecil dan
menengah ini, khususnya berkaitan dengan jaringan sistem komputer
untuk berbagi informasi dan sumber daya. Microsoft yang menamakannya
collaboratibe infrastructure
http://www.microsoft.com/smallbiz/default.htm, memilih infrastruktur
yang tepat bagi kepentingan bisnis untuk keperluan saat ini dan
mendatang.
Prinsip collaborative infrastructure di mulai dengan pertanyaan
kolborasi apa yang bisa dilakukan di dalam kantor? Atau, bagaimana
jalur kerja kantor? Siapa yang memerlukan berbagi informasi dan berapa
sering? Bagaimana komunikasi internalnya? Serta, bagaimana interaksi
dengan orang-orang di luar kantor?
Pilihannya adalah komputer PC yang berdiri sendiri (stand-alone) yang
fungsi kolaborasinya sangat sedikit, atau jaringan peer-to-peer yang
menghubungkan beberapa komputer PC menjadi satu tanpa titik pusat yang
mengatur jaringan seperti sebuah komputer server, atau jaringan
dedicated server (client/server) di mana semua aplikasi, file, pesan
e-mail bisa diakses oleh semua orang.
Dan apa keuntungannya bagi Microsoft ikut serta dalam program yang
dikembangkan Hewlett-Packard? "Setidaknya, Microsoft mengakui bahwa HP
adalah pemain utama dalam komputer PC. Lainnya, Microsoft ingin sekali
menjual sistem operasi Windows NT secara lebih luas. Dan penggunaan
Windows NT untuk usaha kecil dan menengah adalah sesuatu yang luar
biasa, terlebih dengan penggabungan Microsoft Office 97," jelas Steve
Haslett.
Sasaran yang ingin dicapai jelas. Usaha kecil dan menegah. Tapi apakah
ini akan menjadi pilihan, merupakan persoalan lain. Bagi Indonesia,
kehadiran program HP New Business Dimension ini setidaknya memberikan
peluang untuk memiliki perangkat teknologi canggih ini secara murah,
serta memberikan peluang untuk bisa ikut serta dalam percaturan
informasi global. Belum lagi, nantinya, ini bisa menghilangkan
persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang tidak menghormati hak
cipta.
Dengan program seperti yang ditawarkan Hewlett-Packard ini, para
penggunanya akan tergantung pada perangkat-perangkat lunak asli yang
didukung langsung oleh perusahaan pembuatnya, seperti Microsoft
Indonesia misalnya. Yang lebih penting sebenarnya, adalah jalan menuju
ke era teknologi informasi seperti yang sudah dipersiapkan oleh
Singapura dengan SingaporeOne atau negara lainnya. Kesadaran akan
pentingnya teknologi informasi adalah kenyataan masa depan. (Rene L.
Pattiradjawane dari Hongkong)