[INDONESIA-L] SiaR--ABRI 'Hijau' Al

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 19 1997 - 18:01:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA29679 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 19 May 1997 21:00:47 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] SiaR--ABRI 'Hijau' Alihkan Mega-Bintang Jadi Isu SARA

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon May 19 20:44:29 1997
Date: Mon, 19 May 1997 18:41:58 -0600 (MDT)
Message-Id: <199705200041.SAA21368@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SiaR--ABRI 'Hijau' Alihkan Mega-Bintang Jadi Isu SARA
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDOENSIA-L

     Jakarta, SiaR (19/5/97) - ABRI "Hijau" -- yaitu julukan
untuk para elite militer yang sektarian - kini berupaya untuk
mengalihkan fenomena koalisi "Mega-Bintang" yang pro-demokrasi
menjadi isu Suku-Agama-Ras-Antargolongan. Indikasi ini terlihat,
menyusul kerusuhan yang terjadi di Jakarta, sepanjang hari Minggu
(18/5) kemarin. ABRI "Hijau" yang merupakan bagian konspirasi
KSAD Jenderal TNI Hartono, Kassospol Letjen TNI Syarwan Hamid,
Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo (yang juga punya kepentingan
dengan kekuasaan mertuanya, yaitu Presiden Soeharto) kini sedang
membuat "frame" untuk mengalihkan kebangkitan rakyat menuntut
demokratisasi menjadi kerusuhan SARA demi mempertahankan kekua-
saan rezim Orde Baru.

     Menyusul perobekan spanduk besar "Mega-Bintang" di Jalan
Tambak, Jakarta Pusat yang dilakukan oleh massa pendukung Golkar,
maka penduduk sekitar yang pro-Mega Bintang melampiaskan kemara-
hannya dengan membalas setiap acungan tanda dua jari yang dilaku-
kan massa Golkar dengan acungan tanda satu jari disertai yel-yel
"Mega-Bintang".

     Massa dari salah satu onderbouw pemuda Golkar merespon hal
tersebut dengan beramai-ramai turun dari kendaraan yang mereka
tumpangi. Lantas mereka menyerbu dan melempari penduduk sekitar
Jl Tambak.

     Aparat, yang terdiri atas pasukan Brimob dan Pasukan Anti
Huru-Hara Kodam Jaya, serta Polisi Militer, yang berjaga-jaga
mendiamkan saja ulah pendukung Golkar. Terjadilah "perang" batu.
Anehnya aparat mendiamkan saja para penyerbu. Mereka justru
menembaki penduduk setempat yang melakukan perlawanan dengan
tembakan gas air mata.

     Situasi makin memanas, dan menjelang magrib, ratusan pemuda
berkulit hitam yang kemudian dikenal sebagai anggota ormas Pemuda
Pancasila datang ke lokasi kerusuhan mengendarai berbagai kenda-
raan roda empat.

     Mereka kemudian melakukan penyerbuan ke arah rumah-rumah
penduduk di sekitar Jl Tambak. Aparat yang berjaga-jaga, mengusir
para wartawan dari sekitar lokasi di Jl Tambak-Proklamasi untuk
mundur hingga perempatan Jl Matraman, Jl Salemba dan Jl Pramuka.
Dari kejauhan tampak penduduk membakari ban-ban bekas untuk
mencegah penyerbuan hingga hari gelap. Pada saat itu lah terden-
gar sayup-sayup teriakan dari para penyerbu, diselingi letusan
tembakan. Para wartawan memperoleh informasi dari seseorang yang
mengaku warga Jl Tambak, bahwa para pemuda Golkar itu telah
membakar sebuah mushola di kawasan Jl Tambak.

     Para wartawan foto yang memiliki naluri adanya momen bagus
dengan terjadinya pembakaran mushola tersebut berusaha kembali ke
arah Jl Proklamasi. Tapi mereka dicegah aparat di depan sebuah
kampus akademi perbankan di Jl Proklamasi. "Sebaiknya jangan
masuk, kami tidak menjamin keselamatan saudara-saudara," kata
seorang perwira polisi kepada para wartawan.

     Adanya kabar pembakaran mushola itu segera menyebar ke
seluruh penjuru Jakarta. Beberapa media massa Ibukota malam itu
berkali-kali ditelpon anggota masyarakat yang menanyakan kebena-
ran kabar tersebut. SiaR yang coba menyelinap, sempat pula dite-
gur aparat. "Hei mas, mau kemana, sampeyan mau mati ya," ucap
seorang anggota pasukan zeni.

     Seorang nara sumber SiaR di kalangan ABRI "Merah-Putih" yang
Sapta Margais -- untuk membedakan dengan ABRI "Hijau" yang sek-
tarian dan pro-Cendana - menyebutkan, setelah mencermati perjala-
nan kampanye dengan maraknya fenomena "Mega-Bintang" yang menyua-
rakan koalisi massa rakyat pro-demokrasi, maka pihak ABRI "Hijau"
kini sedang menyusun frame untuk mengalihkan kerusuhan-kerusuhan
yang terjadi ke soal SARA.

     "Terlepas dari apakah benar terjadinya pembakaran mushola
itu, tapi perhatikan saja para pemuda Golkar yang di-back up
mereka untuk menyerbu pemukiman-pemukiman penduduk yang pro Mega-
Bintang, rata-rata berkulit hitam dan berasal dari kawasan Indo-
nesia Timur," ujar nara sumber tersebut yang pernah tugas belajar
di Fort Leavenworth AS saat dihubungi SiaR per telepon malam itu.

     Para aktivis Forum Komunikasi Generasi Muda Indonesia Timur
(FKGMIT) yang dihubungi SiaR, menyesalkan para pemuda asal Indo-
nesia Timur yang tergabung di dalam salah satu ormas onderbouw
Golkar itu. "Mereka terjebak ke dalam skenario elite militer yang
anti-demokrasi," ucap salah seorang aktivis FKGMIT yang pernah
mendatangi Komnas HAM awal Januari 1997, sehubungan "hilangnya"
empat anggotanya yang menjadi Satgas DPP-PDI saat Peristiwa 27
Juli tahun lalu.

     Tentang adanya penyusupan ke tubuh massa Mega-Bintang,
tampak jelas saat koalisi massa "Mega-Bintang" akan melakukan
rally dari Jl Dewi Sartika, Sabtu (17/5) lalu. Di perempatan Jl
Dewi Sartika menuju Jl Otista, puluhan pemuda asal Timor Timur
(Timtim), yang selama ini wajahnya cukup familiar dikenali para
wartawan, karena selalu mendemo para pemuda Timtim anti-integrasi
yang meloncati pagar Kedutaan Asing, dengan menggunakan berbagai
atribut PPP tampak berjoget-joget sengaja memacetkan arus lalu
lintas. Seorang wartawan foto sempat bersitegang dengan mereka,
karena saat akan mengambil foto secara kasar didorong salah
seorang dari antara pemuda Timtim tersebut.

     "Saya kenal siapa anda, jangan sampai saya beritahu massa
PPP," ancam rekan wartawan tersebut kepada pemuda Timtim binaan
Danjen Kopassus Prabowo yang tampaknya sengaja disusupkan di
tengah massa PPP.
 
     Bersamaan dengan penyusupan tersebut, di berbagai gereja
juga beredar selebaran yang menyebutkan agar PPP tidak menerima
titipan suara dari pendukung Megawati yang sebagian beragama
Kristen. "Jangan tampung suara kaum kafir," tulis selebaran
tersebut.

     Demikian juga selebaran Koalisi Mega-Bintang-Rakyat dengan
tujuh programnya yang beredar di Jakarta sepekan sebelumnya,
sebagian anggota masyarakat mempercayai itu sebagai kerja dari
faksi "ABRI Hijau" yang anti-demokrasi dan pro-status quo. Sejum-
lah analis politik menilai selebaran gelap tersebut merupakan
bagian untuk meng-crack down Buya Ismail Metareum.

     Faksi ABRI "Hijau" tampaknya takut dengan fenomena "Mega-
Bintang" yang merupakan aliansi kekuatan rakyat pro-demokrasi
yang tidak memandang aliran (nasionalis atau pun agama, maupun
asal suku dan ras-nya). Apalagi bila fenomena Mega-Bintang ini
kemudian ditambah kekuatan Amien Rais dan Gus Dur yang bergabung
setelah melepaskan perbedaan-perbedaan yang terjadi selama ini di
antara mereka, bersatu-padu, maka penguasa yang dholim akan
sangat takut terhadap potensi pro-demokrasi rakyat sipil tersebut

     Kekuatan pro-demokrasi dan pro-konstitusi ini akan lebih
menakutkan lagi seandainya mereka berkoalisi dengan para elit
ABRI "Merah-Putih" - yang Sapta Margais dan mau berkompromi untuk
mengedepankan kaum sipil -- yang terdiri atas Pangkostrad Mayjen
Wiranto, Pangdam Wirabhuana Mayjen Agum Gumelar, Letjen Harsudio-
no Hartas, mantan Pangdam Udayana Mayjen Theo Syafei yang didu-
kung pula oleh Wapres Try Sutrisno, Menhankam Edi Sudradjat,
Mensesneg Moerdiono, Mayjen (Purn) Bambang Triantoro, serta
didukung para senior TNI-AD dan para perwira muda di TNI-AL dan
TNI-AU. Apakah rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih tiga
puluh tahun ini (sama persis dengan kekuasaan diktator Mobuto
Seseseko yang baru ditumbangkan rakyat Zaire -red.) menjelang
keruntuhannya? ***