[INDONESIA-L] SI - Perpecahan Abri

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 26 1997 - 14:57:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id RAA18447 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 26 May 1997 17:56:19 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] SI - Perpecahan Abri di mata Amir Santoso

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon May 26 17:50:11 1997
Date: Mon, 26 May 1997 15:41:03 -0600 (MDT)
Message-Id: <199705262141.PAA24693@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SI - Perpecahan Abri di mata Amir Santoso
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Subject: Suara INDEPENDEN, No. 5/III/MARET/1997
         NASIONAL: PERPECAHAN ABRI DI MATA AMIR SANTOSO

     Dokumen rahasia bocor ke publik. Khabarnya, ABRI pecah dalam
dua kubu. Apa kepentingan Amir Santoso dkk menyusun rekomendasi
itu?

     Di sudut kiri, makalah setebal 19 halaman itu, tertulis
Sangat Rahasia. Tetapi entah kenapa, dokumen yang konon disiapkan
Amir Santoso, Dien Sjamsuddin, Mayjen Muchlis Anwar, Lukman Harun
dan Brigjen Robik Mukav itu, beredar di masyarakat luas. Waktu
peredarannya pun hampir serentak, awal Maret 1997, meskipun
naskah itu dibuat tak lama setelah Peristiwa 27 Juli. Di bawah
judul Analisis Perkembangan Sosial-Politik Menjelang Pemilu 1997
dan SU-MPR 1998, bocoran itu agaknya menarik untuk diperhatikan.

     Dasar asumsi makalah itu entah disusun Amir dkk atau bukan
_agaknya memang mirip dengan kolom Amir Santoso di majalah Forum
Keadilan segera setelah Peristiwa 27 Juli. Menurut Amir, Peristi-
wa 27 Juli adalah bukti meningkatnya ketidakpuasan terhadap
Presiden Soeharto. Ia mengelompokkan mereka yang anti Soeharto
dalam satu kategori kelompok oposisi yang juga disebut koalisi
pelangi. Koalisi itu merupakan kumpulan individu dan kelompok
dari berbagai paham, aliran politik dan agama yang merasa belum
atau tak lagi terakomodasi oleh sistem politik dewasa ini. Mereka
adalah pejabat tinggi sipil dan militer, mantan pejabat tinggi,
beberapa tokoh agama Kristen/Katolik dan sejumlah kecil tokoh
Islam, nasionalis, beberapa pangeran yang terusir dari istananya
dan sejumlah aktivis mahasiswa, tulis laporan itu.

     Tetapi, yang paling menarik dari dokumen rahasia itu adalah
analisa tentang pengelompokan di tubuh ABRI. Konon, di ABRI saat
ini ada dua kubu, yang tengah mengantisipasi situasi pasca Soe-
harto. Kelompok pertama dipimpin Letjen Wiranto, Pangkostrad,
yang disebut oleh dokumen itu, memiliki strategi yang berbeda
dengan Presiden Soeharto. Secara tak langsung, kubu lainnya
dipersepsikan sebagai menganut strategi Soeharto. Kubu ini dimo-
tori oleh jaringan Prabowo-Hartono-Mbak Tutut. Kalau analisa Amir
ini agak memojokkan Wiranto dkk, mestinya dapat dimengerti,
mengingat ia memimpin lembaga CPDS yang di-back up oleh Hartono-
Prabowo.

     Wiranto mempersepsikan dirinya sebagai prajurit profesional
yang jijik dengan politicking yang dilihatnya berkecamuk di tubuh
ABRI. Teman-teman dekatnya bercerita Wiranto mengeluh tentang
mutasi-mutasi dalam ABRI yang dilihatnya bermotifkan kalkulasi
politik, tulis laporan itu. Masih menurut dokumen itu, konon,
Wiranto bertekad akan membersihkan Angkatan Darat dari jaringan
perwira-perwira yang dibangun koalisi Hartono-Prabowo-Mbak Tutut.
Analisa itu, juga mengakui bahwa Wiranto akan menjadi perwira AD
paling senior ketika sidang umum 1998. Dia dijanjikan oleh Feisal
Tanjung menjadi KSAD pada 1997 dan Pangab pada 1998, tulis lapo-
ran itu.

     Menurut dokumen itu, Wiranto dkk dikategorikan sebagai
perwira yang pada dasarnya bersifat sekuler dan curiga terhadap
apa yang mereka lihat sebagai ancaman politik Islam. Bambang
Yudhoyono, yang menjadi salah satu motor kelompok ini, digambar-
kan telah berhasil meyakinkan Feisal Tanjung untuk mengkader
Wiranto. Akhir-akhir ini, kabarnya Bambang menantu Sarwo Edhi
itu _juga mencari kontak dengan Prabowo untuk memisahkannya dari
koalisi dengan Hartono. Dengan usaha itu, jelas bahwa Bambang
semakin yakin akan kekuatan hari depan kelompoknya, tulis dokumen
rahasia yang bocor itu.

     Analisa itu, juga menyimpulkan, bila kelak Wiranto-Bambang
Yudhoyono benar-benar memimpin Angkatan Darat, diperkirakan
hubungan erat ABRI dan umat Islam akan mencair kembali. Pada
dasarnya, politik ABRI kelompok Merah Putih itu, dianggap mener-
uskan politik Benny dan Edi Sudrajat. Mereka dianggap lawan dari
Kelompok ABRI Hijau dibawah Hartono dan Prabowo.

     Berdasarkan analisa itu, Amir dkk kalau betul mereka yang
menulis dokumen itu menyarankan agar Pak Harto tak salah memilih
pembantu-pembantunya. Untuk mengembalikan ketentraman dan stabi-
litas, serta untuk menjamin keselamatan Pak Harto dan keluarga
beliau, perlu segera dilakukan penempatan baru bagi perwira
tersebut (maksudnya Wiranto cs) ke jabatan-jabatan yang kurang
strategis, tulis dokumen itu.

     Betulkah Amir dkk yang menulis dokumen itu? Sulit mendapat
jawabannya. Bila dilihat dari alur pikirnya, mungkin sekali
dokumen itu ditulis Amir dkk. Tetapi, ketika dikonfirmasi, mereka
umumnya membantah telah menulis dokumen itu. Lukman Harun, misal-
nya, malah bertanya balik, "Dokumen mana, saya belum pernah lihat
tuh? Tolong kasih lihat saya dong."

     Rekomendasi untuk membersihkan ABRI Merah Putih dan memper-
kuat jaringan ABRI Hijaunya-Hartono, memang bisa ditarik sebagai
politik Amir Santoso dkk. Mereka, tampaknya ingin meyakinkan
bahwa pada 1998 nanti, pucuk pimpinan ABRI tidak jatuh ke tangan
ABRI Merah Putih. Semuanya, memang terpulang pada Presiden Soe-
harto, untuk menentukan siapa yang akan dipercayanya memimpin
ABRI. Tapi, dokumen itu setidaknya menggambarkan tentang persain-
gan di tubuh ABRI yang selalu diberitakan bersatu padu itu.-