[INDONESIA-L] Sukses Pemilu: Mayori

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Jun 02 1997 - 17:46:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA14398 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 2 Jun 1997 20:46:01 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] Sukses Pemilu: Mayoritas Tunggal

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jun 2 20:39:23 1997
Date: Mon, 2 Jun 1997 18:38:11 -0600 (MDT)
Message-Id: <199706030038.SAA11130@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Sukses Pemilu: Mayoritas Tunggal
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

Date: Mon, 2 Jun 1997 15:01:42 +0700
To: apakabar@clark.net
From: Kanadianto <kana@centrin.net.id>
Subject: Sukses Pemilu: Mayoritas Tunggal

Dari mas sebelum kampenye pemilu 1997 ini, kita telah sering mendengarkan
Harmoko dan orang-orang Golkar lainnya, bahwa dalam pemuli ini akan
menargetkan menjadi mayoritas tunggal dalam perolehan suara.

Setelah penghitungan perolehan suara, yang telah hampir mencapai 90% saat
ini, tampak memang benar usaha Golkar BERHASIL menjadikan dirinya sebagai
mayoritas tunggal. Hanya saja masih terganjal dengan perolehan suara oleh
PPP di beberapa tempat.

Usaha tersebut dapat dilihat dengan jelas dariu usaha awal pengembosan PDI,
yang dalam pemilu ini hanya memperoleh jumlah suara tidak lebih dari 3.5
juta suara, dengan perkiraan jumlah kursi yang diperoleh tak akan lebih dari
6 kursi di DPR.

Hal ini sesuai dengan tekad Golkar, sehingga dalam segala acara
sidang-sidang DPR Golkar akan memperoleh suara mutlak untuk segala usulan
dan ide-idenya.
Hanya akan terganjal oleh suara dari wakil PPP, PDI cukup sebagai anak
bawang atau pelengkap penderita saja.

Ganjalan ini, pasti akan dihancurkan pula, nanti pada saatnya, saat
menjelang pemilu 2002.
Usaha pengembosan model yang terapkan kepada PDI saat ini (1996) kemungkinan
pasti akan diterapkan dengan terbukti cara tersebut sangat efektif dan
berhasil baik. Kalaupun berbeda, yang berbeda caranya saja, tetapi pada
intinya tetap sama saja, dengan tujuan perolehan suara sebagai mayoritas
tunggal pada pemilu 2002, dalam arti yang sebenarnya (100%).

Kalau hal ini memang dilakukan, saya tidak dapat lagi membayangkan bagaimana
bentuk negara Republik Indonesia ini.
Dengan 1 Golongan Karya dan 2 partai dalam pemerintahan, dimana kedua partai
yang ada hanya sebagai pelengkap penderita saja dan sekedar memenuhi
persyaratan saja.

Akankah negeri ini menjadi negara yang DIKTATOR ANARKI?
Golkar sebagai mayoritas tunggal, diperintah dengan suara bulat dari satu
golongan dengan Presidennya yang (hampir) seumur hidup (belum mati, sehingga
belum bisa dibilang seumur hidup).

Saya rasa bentuk negara ini tidak akan jauh meleset dari bentuk DIKTATOR /
ANARKI.
Kalaupun tidak mau disebut begitu, pasti akan dibuatkan istilah lain dengan
menggunakan kata DEMOKRASI, PANCASILA atau DEMOKRASI PANCASILA yang terPIMPIN.
Nah guru saya sebagai pemimpin kelas sudah jelas tidak bisa (mau) dibantah,
apalagi pejabat pemerintahnya.

Terhadap kritik saja alergi apalagi dibantah, pasti pembantahnya akan
disebut melakukan tindak subversi, makar dan sebagainya.

Nanti bila usaha sebagai mayoritas tunggal telah berhasil dilakukan dalam
pemilu 2002, maka di kantor-kantor pemerintah, departemen-departemen dan
BUMN selain diwajibkan memasang foto Presiden dan Wkil Presiden, serta
Garuda akan ditambah lagi denga satu slogan lama (dalam bahasa inggris) yang
telah dimodifikasi sedemikian rupa dan dalam kalimat bahasa indonesia.
Slogan itu bunyi aslinya adalah:

"Rule #1: THE BOSS NEVER WRONG"
"Rule #2: IF THE BOSS WRONG, BACK TO RULE #1"
"Rule #3: IF RULE #2 WRONG, BACK TO RULE #1"

Aturan seperti dalam slogan diatas, saat ini sebenarnya sudah dapat dirasakan.
Mari kita coba telusuri beberapa kejadian belakangan ini saja (tak perlu
terlalu kebelakang - nanti terlalu banyak borok yang harus dikorek-korek lagi).

>>>>> Presiden kita (dengan keluarganya tentu) TIDAK BOLEH DICERCA, DIBUAT
LELUCON, dsb. dsb., padahal di negara manapun hal seperti itu lumrah saja,
toh presiden adalah rakyat biasa juga, seperti kita juga (hanya saja punya
jabatan khusus), sepertinya presiden itu adalah raja (atau memang raja
dengan sebutan presiden). HANYA RAJA YANG BIASANYA DIDEWAKAN.<<<<<

>>>>>Listrik Padam : Bukan dirutnya yang mundur, malah dicarikan kambing
hitam dengan mengancam bawahannya untuk dipecat<<<<<
        
Itu hanya sekelumit contoh saja, lainnya silahkan cari sendiri.

Apkah cara seperti itu yang mau diikuti terus?
Bagiamana jadinya nasib si kecil nantinya?
Yang jelas bila tidak dilakukan perubahan mendasar.
Begitulah bayangan masa depan negara ini bila sampai tahun 2002 tidak ada
perubahan yang mendasar terhadap cara-cara pemerintahaan di negeri ini.
Seperti yang tercermin dalam slogan itu.

SELAMAT ATAS KEMENANGAN GOLKAR MERAIH PEROLEHAN SUARA TERBANYAK DAN HAMPIR
MENCAPAI MAYORITAS TUNGGAL 100%. PEMILU 2002 LEBIH BAIK YA PAK HARMOKO.
PERBANYAK NGE-GOMBALNYA, KITA SEMUA INI KHAN HANYA RAKYAT KECIL YANG GOMBAL
SAJA, SEHINGGA MUDAH DIGOMBALI.
"RIGHT OR WRONG, YOU AND YOUR GANG ALWAYS RIGHT"
THAT RIGHT Mr. Bullshit Days (Hari-hari Omong Kosong).

MERDEKA!!!
MERDEKA!!!