[INDONESIA-L] MUTIARA - Kelalaian d

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Jul 27 1997 - 14:54:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id RAA00079 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 27 Jul 1997 17:53:38 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] MUTIARA - Kelalaian di Danau Toba

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Jul 27 17:53:06 1997
Date: Sun, 27 Jul 1997 15:48:08 -0600 (MDT)
Message-Id: <199707272148.PAA19575@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] MUTIARA - Kelalaian di Danau Toba
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

X-URL: http://www.suarapembaruan.com/mutiara/News/1997/07/220797/Peristiw/peris10/peris10.html

   MUTIARA ONLINE
     _________________________________________________________________
   
Kelalaian di Danau Toba

   Musibah terbesar di Danau Toba, Sumatra Utara, terjadi Senin (14/7)
   dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Kapal Motor Penyeberangan (KMP)
   Peldatari I yang diduga mengangkut sekitar 200 penumpang tenggelam
   dalam pelayaran dari Tigaraja, Parapat, ke Tomok, Pulau Samosir.
   Sampai Kamis (17/7) lalu, 83 korban ditemukan tewas dan 85 lainnya
   berhasil selamat. Puluhan lainnya belum ditemukan.
   
   Saksi mata mengungkapkan kepada Mutiara, KMP Peldatari I tenggelam
   sekitar 150 meter menjelang pantai Sosor Pasir, Tomok, Kecamatan
   Simanindo, Kabupaten Tapanuli Utara. Saat itu, ketika kapal hendak
   mencapai dermaga, seluruh penumpang merasa tidak sabar untuk segera
   turun ke darat.
   
   Puluhan, bahkan sebagian besar penumpang di bagian anjungan dan di
   bagian bawah, berlomba-lomba ke depan. Puluhan penumpang bertumpuk di
   bagian kiri depan. Kapal pun oleng ke kiri. Melihat kapal oleng,
   penumpang beramai-ramai berpindah ke kanan. Kapal pun oleng ke kanan.
   
   Kejadian itu, kata dua saksi mata, Novendra Sinaga, 16 tahun, dan
   Ivana boru Sidabutar, 23 tahun, berlangsung lima kali. Setelah itu,
   kapal terbalik dan tenggelam ke dasar danau.
   
   "Saya tidak tau apa-apa lagi. Menjelang kapal terbalik, saya melompat
   dan menyelamatkan diri, berenang ke pantai," ujar Novendra, pelajar
   kelas III SMP Negeri VI Pematangsiantar. Novendra malam itu menumpang
   kapal tersebut untuk menjenguk inanguda-nya (bibinya) di Tomok.
   
   "Saya mencoba berenang sekuat tenaga. Akhirnya saya sampai ke tepi
   pantai dan langsung tidak sadarkan diri. Baru sadar setelah beberapa
   jam di Puskesmas Pembantu Tomok," ujar Ivana boru Sidabutar yang masih
   merasa traumatis atas kejadian itu.
   
   Keduanya membenarkan, mereka malam itu baru saja menyaksikan acara
   hiburan artis-artis Ibukota pada penutupan Pesta Danau Toba (PDT) XVII
   yang berlangsung di pentas terbuka kota wisata Parapat.
   
   Pesta rakyat itu berakhir sekitar pukul 24.00 WIB. Begitu usai,
   masyarakat yang umumnya penduduk Tomok, ramai-ramai menumpang KMP
   Peldatari I yang berlayar lewat tengah malam meninggalkan dermaga
   Tigaraja, di dekat Parapat, menuju Tomok.
   
   Musibah Terbesar
   
   Musibah KMP Peldatari I merupakan kecelakaan kapal penyeberangan
   terbesar yang pernah terjadi di Danau Toba. Pada 1955, terjadi
   kecelakaan di danau itu. Dua kapal saling bertabrakan, mengakibatkan
   56 penumpang tewas. Kemu
   
   dian pada 1986, kapal yang mengangkut puluhan pelajar tenggelam. Empat
   penumpangnya tewas. Tahun berikutnya, kembali kapal penyeberangan
   tenggelam, 23 penumpangnya tewas.
   
   Kali ini, tahun 1997, KMP Peldatari I dengan kapasitas 70 penumpang
   itu tenggelam. Kelebihan daya angkut, lalainya pemilik kapal dan
   nakhoda serta masih belum berdisiplinnya masyarakat pengguna jasa
   angkutan tersebut merupakan penyebab musibah di danau terbesar di Asia
   Tenggara itu.
   
   Bupati Tapanuli Utara Drs. TMH Sinaga Kamis (17/7) siang lalu di
   pantai Sosor Pasir, Tomok mengatakan, sangat prihatin atas musibah
   tersebut. Menghadapi masa mendatang ia meminta pemilik dan nakhoda
   kapal, harus lebih hati-hati.
   
   "Jangan bawa penumpang melebihi kapasitas," ujarnya. Kepada masyarakat
   ia meminta agar jangan mau menaiki kapal yang sudah melebihi kapasitas
   angkut.
   
   Ia membenarkan, jumlah penumpang KMP Peldatari malam itu melebihi
   kapasitas. Mengutip penumpang yang selamat, jumlah penumpang malam itu
   mencapai hampir 200 orang.
   
   Seperti diungkapkan Dirjen Perhubungan Darat, Santo Budiono ketika
   berada di Tomok Rabu (16/7) lalu, yang paling bertanggungjawab dalam
   musibah itu adalah nakhoda dan pemilik kapal.
   
   Sesuai dengan instruksi Menteri Perhubungan, demikian Dirjen, kasus
   tenggelamnya KMP Peldatari I harus diusut tuntas. Apabila perlu,
   dibawa ke Mahkamah Pelayaran.
   
   Bagaimana nasib nakhoda KMP Peldatari I, Rispan Sihotang, 22 tahun,
   hingga Jumat (18/7) pekan lalu belum diketahui. Apakah ikut tenggelam
   ke dasar danau atau menyelamatkan diri, masih diusut. Sedang pemilik
   kapal M. Sihotang sudah menyerahkan diri, setelah polisi melakukan
   pendekatan secara kekeluargaan. Rumahnya di kawasan Sosor Pasir,
   Tomok, sejak kejadian itu terus terkunci.
   
   "Kita akan usut dan cari ke mana nakhoda kapal itu," ujar Kapolres
   Tapanuli Utara Letkol Pol. Drs. Try Utomo di Tomok. Ia menambahkan,
   hingga Kamis (17/7) sudah 22 orang dimintai keterangan dalam kasus
   tenggelamnya kapal itu.
   
   Suasana Duka
   
   Selama beberapa hari pekan lalu, setelah musibah terjadi, suasana di
   Tomok benar-benar suasana duka. Kegiatan kemasyarakatan tertuju pada
   upaya pencarian yang dilakukan Tim SAR. Masyarakat menyaksikan
   kegiatan itu di tepi pantai Sosor Pasir, menanti apakah mayat yang
   ditemukan, sanak keluarga mereka.
   
   Begitu tim SAR muncul ke permukaan danau dan mengusung mayat, langsung
   terdengar teriakan hiteris warga yang memenuhi pantai tersebut.
   Keluarga yang menanti sudah siap dengan peralatan yang diperlukan.
   Bahkan ada di antaranya yang sudah mempersiapkan peti jenazah.
   
   Setelah tim SAR melakukan evakuasi, dan benar bahwa mayat yang
   ditemukan adalah keluarga mereka, jenazah itu pun langsung dibawa ke
   desa asalnya untuk dikebumikan. Seperti jenazah Saridin Simbolon, 37
   tahun, yang ditemukan Rabu siang pukul 13.15 WIB, langsung dibawa
   keluarganya ke desa asalnya di Sosor Tolong, Tomok, untuk dikebumikan
   hari itu juga. Itu dilakukan, karena kondisi mayat sudah sangat
   memprihatinkan. Perut menggembung, kulit mudah terkelupas dan mata
   melotot.
   
   Korban terbanyak musibah KMP Peldatari I ini adalah penduduk Tomok
   (lihat daftar penumpang yang tewas), khususnya dari Dusun Sosor
   Tolong, yang hanya dihuni 13 kepala keluarga. Korban yang meninggal
   dari dusun itu, 28 orang. Seluruhnya adalah anak-anak remaja yang
   masih sekolah dan perajin di desa itu.
   
   S. Ambarita, 30 tahun, penduduk Sosor Tolong - empat kilometer dari
   Sosor Pasir - mengatakan kepada Mutiara, "Mereka pada malam itu pergi
   ke Parapat. Di sana ada hiburan rakyat, penutupan PDT," katanya.
   
   Ambarita mengakui, dari 28 yang ditemukan tewas itu, sebagian besar
   adalah anak-anak muda perajin kayu untuk souvenir yang dijual ke Tomok
   atau Parapat.
   
   Ketika dikunjungi Rabu (16/7) lalu, Dusun Sosor Tolong begitu sepi,
   mencekam dan sangat mengharukan. Hampir di setiap rumah terdengar
   suara isak tangis. Keluarga Ompu J. Sinaga paling terbanyak menjadi
   korban. Delapan anggota keluarga itu ditemukan tewas. Di rumah yang
   terbuat dari batu (dan yang terbaik di Dusun Sosor Tolong), isak
   tangis masih terdengar. Partangiangan (kebaktian) saat itu sedang
   berlangsung di rumah Ompu J. Sinaga.
   
   Kedelapan jenazah satu keluarga itu dikebumikan Selasa (15/7) lalu,
   dalam satu lubang di pekuburan umum di dusun tersebut.
   
   Selain itu, dari Dusun Parondang, delapan tewas, dan dari Dusun
   Pandenabolon, lima tewas. Ketiga dusun itu saling berdekatan di
   pinggir jalan lingkar Pulau Samosir.
   
   Sangat Sulit
   
   Kasatgas SAR Pemda Sumut, dr. Ezra Munthe kepada Mutiara mengatakan,
   upaya pencarian korban lainnya sangat sulit dilakukan, karena dasar
   danau yang gelap dan beralur-alur seperti aliran sungai.
   
   Upaya pencarian dilakukan dengan mengerahkan puluhan penyelam dari SAR
   Brimob, empat orang, Pemda Sumut, lima orang, Lantamal, sebelas orang,
   SAR Marinir, tujuh orang, Basarnas, tiga orang, Sat Pol Air, seorang.
   
   Mereka mengatakan, ada korban yang terhimpit kursi, balok-balok,
   sehingga sulit untuk diangkat. Pada kedalaman 60 meter, penyelam hanya
   mempunyai waktu yang singkat untuk bisa bertahan di dalam air. Diduga,
   di antara korban yang tidak berhasil diselamatkan, terperangkap di
   bawah tenda KMP Peldatari yang menutupi mereka di dasar danau.
   
   Dokter Ezra Munthe membenarkan, tenda itu sulit diangkat walau sudah
   dicoba beberapa kali sejak Rabu (16/7) siang. Namun pengikatnya
   terputus dan tenda kembali turun ke dasar danau.
   
   Ia mengakui, pada kedalaman serupa itu, semua bisa terjadi.
   Bagian-bagian yang berlubang sangat sensitif terhadap gangguan. Jadi
   para penyelam harus ekstra hati-hati. "Gigi saya yang sudah disemen
   juga mengalami gangguan ketika berada di dalam air. Jadi kami tidak
   bisa bertahan terlalu lama," ujar dr. Ezra yang langsung memimpin
   pencarian sampai ke dasar danau.
   
   Bersyukur, tim SAR mendapat bantuan sukarela dua penyelam Perancis
   yang kebetulan sedang berwisata di Tomok. Kedua turis itu, Nicolas
   Luzinski, 31 tahun, dan Armel Maziere, 29 tahun, sudah dua minggu di
   Tomok, dan sudah merencanakan meninggalkan Tomok pada hari Selasa
   (15/7).
   
   Namun setelah mengetahui musibah tersebut, keduanya yang datang
   bersama istri masing-masing menunda keberangkatan mereka dan ikut
   menyelam ke dasar danau. Nicolas yang memiliki sertifikat penyelam
   dari Open Water Divers itu sa-ngat membantu, sedikitnya 13 jenazah
   berhasil diangkatnya dari dasar danau sejak hari pertama (Senin, 14/7)
   hingga Rabu (16/7).
   
   "Kita sangat berterima kasih kepada kedua penyelam asal Perancis
   tersebut. Kemanusiaan mereka cukup tinggi. Mereka datang sendiri dan
   bergabung dengan Tim SAR," ujar dr. Ezra Munthe.
   
   Setelah 83 jenazah ditemukan, upaya pencarian sejak Jumat (18/7)
   dihentikan sementara. "Kita hentikan sementara pencarian. Pemda Taput
   mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
   bantuannya," ujar Bupati Taput, Drs. TMH Sinaga.
   
   Pesta rakyat berlangsung di Parapat. Musibah dan duka yang tidak akan
   terlupakan terjadi di perairan Sosor Pasir, Tomok, hanya karena
   kelalaian.
   
   Naskah dan foto: - Syafaruddin Lubis
   
   Korban yang ditemukan Rabu (16/7), sedang diidentifikasi di pantai
   Sosor Pasir, Tomok.
   
   Korban yang ditemukan, Rabu (16/7, dievakuasi di pantai Sosor Pasir,
   Tomok.
   
   - M/Syafaruddin Lubis
     _________________________________________________________________