[INDONESIA-L] Bodoh-bodoh

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Jul 30 1997 - 16:16:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA24843 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 30 Jul 1997 18:27:12 -0400 (EDT)

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jul 30 18:23:00 1997
Date: Wed, 30 Jul 1997 16:19:06 -0600 (MDT)
Message-Id: <199707302219.QAA00747@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Bodoh-bodoh
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

From: "gigih nusantara" <ogahah@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Subject: BODOH-BODOH
Date: Tue, 29 Jul 1997 22:49:58 PDT

TERPOSTING (SECARA LUCU SEKALI):
 
> Menurut sejarah, bahwa dulu bangsa kita bodoh, cukup bodoh
> untuk dapat dipecah belah (devide et ampera) bangsa lain,
> sehingga dapat dijajah lebih dari tiga abad lamanya.
> Cukup bodoh untuk menyadari bahwa kita terjajah,
> cukup bodoh untuk dapat menerima semua kelakuan para
> penjajah.

GIGIH :
Bahkan cukup bodoh, meskipun bisa membuat posting di 'apakabar',
sehingga 'impera' pun 'diplesetkan' menjadi 'ampera'.
OK, saya tak mempermasalahkan 'pemelesetan' yang artinya menjadi sangat
lain itu. Cuma, siapakah yang bodoh ?
Keberhasilan penjajah sehingga bisa menjajah negeri ini adalah
dikarenakan pemimpin-pemimpin yang bodoh. Rakyat, sih, kan terserah
bagaimana pemimpinnya saja (habis takut digebuk, disundut rokok, atau
disuruh minum kencing serta ngepel lantai dengan lidah).
Banyak raja-raja dulu, yang kemaruk kekuasaan, sehingga rela
membagi-bagi kawasannya, dihadiahkan kepada VOC, sebagai upah ikut
membantu raja yang bersangkutan untuk mengalahkan saingannya (yang
notabene, kadang-kadang, adalah saudaranya sendiri).
Moralnya, bahwa pemimpin bodohlah, dan bukan rakyat bodohlah, yang mampu
membuat sebuah negeri bangkrut. Seolah-olah pemimpin, seperti $oeharto
itu, adalah ayah yang harus dihormati, dan diikuti apa kata-katanya.
Padahal, tahu nggak, kalau kita mau ambil kredit di bank selalu harus
sepengetahuan isteri. Bukan asal ngutang, main potong komisi
(sampai-sampai almarhumah punya julukan Mrs. Ten Percent, bukan Mrs.
Tien $).
Saat ini pun, negeri kita dipimpin oleh banyak pemimpin yang bodoh,
sementara yang pinter-pinter, selain ada yang ikut-ikutan bodoh, ambil
kesempatan sambil berpura-pura bodoh, atau tak dilibatkan dalam urusan
yang penting-penting. Cukup mereka diberikan peranan tertentu, yang sama
sekali tak ada efeknya apa-apa bagi kemajuan negeri ini.
Cukup banyak artikel di koran, atau di seminar-seminar, yang secara
sinis mempersoalkan penjajahan ekonomi yang saat ini berlangsung, oleh
sejumlah negara lain, terhadap negeri ini. Sayang, justru ditengah
penjajahan inilah kita dipimpin oleh sosok yang justru memanfaatkan
situasinya, dengan memungut rente. Perkara utang makin banyak, rakyat
terengah-engah, emangnya gue pikirin, begitu logikanya.
Jadi, jika bangsa ini bodoh, maka adalah kewajiban pemimpinnya untuk
jangan pula bodoh, atau memanfaatkan situasi kebodohan tersebut, untuk
keuntungannya sendiri (sehingga punya kekayaan 40-trilyun rupiah). Konon
pula mentertawakannya (lalu membuat posting yang sangat menghina namun
lucu nan keterlaluan).

> Sekarang setelah lebih dari setengah abad merdeka, kita masih
> bodoh. Kita tetap bodoh, atau bahkan lebih bodoh karena masih
> mau dipecah belah oleh orang lain. (kedelai pun tidak mau
> terantuk batu yang sama). Kita cukup bodoh untuk mempercayai
> berita yang dibuat oleh orang lain, bangsa lain, negara lain.
> Kita cukup bodoh untuk mempercayai apa yang kita lihat dan
> tidak kita lihat. Kita cukup bodoh untuk mengetahui mana
> yang benar dan mana yang salah, mana yang harus didukung dan
> mana yang harus ditentang.

GIGIH :
Sekedar intermezo, mana ada 'kedelai' kok terantuk batu ?
Menyadari kebodohan adalah sebuah kepintaran. Mengingatkan kedzaliman
pemimpin adalah bagian dari upaya untuk tidak memperpanjang kebodohan
bangsa ini yang mau saja dikencingi oleh pemimpin yang (pura-pura)
bodoh.
Sangat bodoh, kalau saudara mengira kami membenci $oeharto hanya karena
berita Forbes. Dengan kelakuan anak-anak serta cucu-cucu kutubusuknya
saja, kita sudah langsung memutuskan untuk berseberangan. Coba kamu
pergi ke daerah-daerah cengkeh, benarkah BPPC itu seharum yang
diberitakan di koran, dan digembar-gemborkan menteri 'penjilat pantat' ?
Apakah kamu mengira sudah tak bodoh, dengan mempercayai apa yang
tercetak di media-media di negeri ini ?
Saudara, tahu nggak, bagaimana para jurnalis kita itu harus berhati-hati
untuk memilih kata, agar hasilnya tidak diartikan sebagai anti kekuasaan
? Bagaimana kamu menilai pembredelan sejumlah media terakhir ini ? Lalu
nasib almarhum Udin yang wartawan Bernas ?
Sebenarnya, gampang sekali membaca peta politik negeri ini. Coba artikan
secara terbalik berita-berita di koran, maka hampir sebagian besar,
itulah maksud penulisnya.
Tak harus berpayah-payah membaca Forbes yang berbahasa Inggris itu hanya
untuk tidak menyukai $oeharto. Berita di Forbes hanya merupakan satu
lagi bukti bagaimanakah watak sejati dari iblis yang satu ini.
Bukan kebodohan, kalau hanya mempercayai berita yang dibuat oleh orang
lain di negara lain. Itu semata-mata karena tak ada lagi berita yang
benar, yang patut dibaca dari media-media dalam negeri. Kalangan pers
sangat gembira kalau ada event-event seperti Liga Kansas serta ramainya
Bonek. Sebab, dengan begitu mereka bisa menulis cukup banyak di halaman
korannya, agar mereka tak menulis soal-soal Forbes tadi.
Satu tanda kalau kabar Forbes itu benar bisa disimak dari bungkamnya
pihak-pihak resmi mengenai hal tersebut. Saya yakin betul, manajemen
harian Kompas juga mengikuti berita-berita di 'apakabar' ini. Apakah
mereka berani membuat tanggapan terhadap komplain pembacanya, yang
menuduh 'Kompas telah berbohong' ? Juga mana itu, si Syarwan Hamid, yang
biasanya langsung pentang bacot, bikin komentar yang super amburadul
(karena terlalu cepatnya gerakan mulutnya dibanding otaknya), menaggapi
hal yang sudah diramaikan orang ini ?
Seperti yang sudah saya usulkan dalam posting saya, cobalah yang punya
kebiasaan menjilat-pantat-tanpa-reserve (nggak peduli udah cebok
belumnya itu), untuk bikin gugatan melalui media resmi terhadap Forbes.
Sebab, kalau yang mendukung Forbes pasti tidak akan dimuat. Sementara
yang mendukung-dukung ini bahkan masuk tivi. Ayo.. ambil kesempatan
sebagai 'orang Indonesia pertama yang memprotes Forbes'. Siapa tahu
dapet hadiah. Lumayan, pan ?

> Bahkan kita cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa kita bodoh.

GIGIH :
Siapa yang kamu maksudkan ? Kayaknya, kok, kamu sendiri, sih ? Jangan
membuka aib sendiri, ah...

> Selamat datang kebodohan, selamat bergabung di sini.

GIGIH :
Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya (maafkan, kalau saya
salah). Jadi, ya, selamat datang (kebodohan), selamat bergabung di sini.

PEMERHATI
(Kamu nggak bodoh, kok. Buktinya bisa nge-posting. Tukang becak di depan
kantor saya nggak bisa, tuh, membuat posting kayak kamu)