[INDONESIA-L] PEMBEBASAN NO.VI/JUL (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Aug 05 1997 - 16:45:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.5/8.7.1) id TAA04645 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 5 Aug 1997 19:45:23 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] PEMBEBASAN NO.VI/JUL '97 : Mimbar Bebas

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Aug 5 19:25:15 1997
Date: Tue, 5 Aug 1997 17:21:39 -0600 (MDT)
Message-Id: <199708052321.RAA25379@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] PEMBEBASAN NO.VI/JUL '97 : Mimbar Bebas
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

*******************************************************************
*******************************************************************
PEMBEBASAN NO.VI/JULI 1997
"Memperjuangkan Demokrasi Multipartai Kerakyatan"
MIMBAR BEBAS
*******************************************************************
*******************************************************************

= PEMBERONTAKAN DALAM PENJARA =
Oleh : Ivan Relawan

Semenjak dipindahkannya 3 aktivis PRD dari tahanan Polwiltabes
Surabaya ke Rutan Medaeng, Sidoarjo, tempat itu semakin sering menyita
perhatian. Karena, pertama, hal ini berkaitan dengan penahanan dan
pengadilan rekayasa terhadap ketiga aktivis PRD. Kedua, untuk pertama
kalinya setelah masuknya 3 aktivis tersebut mulai terasa adanya "atmosfer
politik" yang dihirup oleh para tahanan dan narapidana yang lain. Ketiga,
pemberontakan yang baru-baru ini meledak di tempat tersebut.
Faktor ketiga tadi menjadi salah satu peristiwa yang menggegerkan dalam
bulan Juni 1997 ini. Menyusul kerusuhan sebelumnya di tempat yang sama
pada 25 Mei 1997. Secara kualitas pun meningkat dari sekadar kerusuhan
biasa, kemudian berkembang dengan pemberontakan berupa pembakaran rutan
dan penjebolan dinding. Tudingan terhadap PRD sebagai dalang kerusuhan
kembali dilakukan oleh rejim Soeharto.

Jika kita baca di media massa, fakta sesungguhnya penyulut pemberontakan
itu adalah adanya ketidakpuasan terhadap perlakuan petugas ditambah faktor
kesenjangan sosial dan ekonomi antar tahanan dan napi. Praktek, dan
perbedaan "service" petugas rutan yang berbeda terhadap tahanan yang kaya
dan yang melarat. Ditambah tindakan aparat sipir dan pegawai rutan yang
sewenang-wenang terhadap para tahanan dan napi. Dalam hal bertindak
sewenang-wenang ini rejim Soeharto memang tidak pernah "pilih kasih.".
Bagi rejim despotik ini, tindakan seperti pungli terhadap keluarga tahanan
dan napi yang dibezuk, mempersulit pengunjung dengan dalih-dalih yang
berputar-putar, penganiayaan terhadap napi, menyetop surat-surat, menyita
buku-buku bacaan, dan makanan yang "tidak layak", dianggap lazim.
Sehingga, aparat koersif negara dalam hal ini sipir penjara yang notabene
gajinya juga cupet, menjadi bulan-bulanan napi dan tahanan yang berontak.

Dita Sari, Coen Husein Pontoh, dan Moch. Sholeh yang berada di sana pun
sudah merasakan gebukan dan fitnahan yang bertubi-tubi. Itu juga soal
biasa. Tulang hidung Coen Husein Pontoh yang patah dan tindakan
pelarangan terhadap orang yang ingin berkunjung juga banyak dialami para
tapol. Bagi rejim yang terbiasa melecehkan harkat martabat manusia Itu
mungkin dilihat sebagai soal sepele. Para tahanan dan narapidana (meski
nama tempatnya Rutan) yang dioper-oper dari LP satu ke LP yang lain,
itupun bukan hal yang luar biasa lagi. Di negara yang dicengkeram
kekuasaan militer, semua kekejaman adalah biasa. Lantas, apa yang
istimewa dari kejadian yang memusingkan aparat pusat hingga daerah dan
beberapa departemen kementerian tersebut ?

Pemberontakan itulah keistimewaannya. Pemberon-takan tahanan dan
narapidana Medaeng itu telah memporakporandakan bangunan pemikiran
masyarakat tentang penjara, tempat yang selama ini menjadi simbol
sebuah kekuasaan yang dibayangkan penuh dengan kekangan dan kepatuhan,
dalam sekejap luluh-lantak. Perlawanan yang dilakukan (sebagian) rakyat
terhadap sistem yang menindas merupakan harta karun tak ternilai
harganya, yang selama ini hilang. Semangat perlawanan warisan para
pahlawan kita untuk melawan setiap penindasan bersemai di Medaeng.
Bangsa kita terkenal paling gagah berani melawan para penjajah yang
menindas. Walaupun semenjak bercokolnya kekuasaan Orde Baru, semangat itu
ditumpulkan. Namun peristiwa pemberontakan Medaeng telah membuka mata kita.
Dan menunjukkan pelajaran berharga kepada massa, penindasan yang kelewat
batas, di dalam atau di luar penjara, tidak bisa tidak, pasti akan
melahirkan perlawanan.

Penjara, di manapun juga, adalah tempat "persinggahan" orang-orang yang
dicap dapat memabahayakan kekuasaan. Ada pepatah kaum kriminal di negeri
yang korup : "Everybody steals, and the person who are caught that's a
thief." (Setiap orang mencuri, dan yang tertangkap dia lah malingnya).
Bedanya cuma ada maling yang "resmi" dan yang tak resmi. Banyak maling
yang mempunyai jabatan terhormat, sehingga tidak tersentuh aparatus
hukum. Perbuatan malingnyapun bisa dilindungi undang-undang maupun
jabatannya. Seperti di sini, banyak yang korupsi, tapi ketika ada yang
tertangkap, baru dialah koruptornya.

Seorang tahanan atau napi mungkin tak peduli dengan Paket 5 UU Politik
1985 atau Dwi Fungsi ABRI. Ia hanya akan terus berpikir bagaimana bisa
bertahan di penjara, sambil memikirkan beberapa remeh-temeh : keluarganya,
bisnisnya atau "hasil karyanya" di samping pikiran untuk melarikan diri
juga sering muncul. Jika selama ia di dalam tahanan mengalami
ketidakadilan dan penindasan, sudah sepantasnya lah jika menuntut
perubahan. Pada titik ini, seorang napi atau tahanan yang merasa hak
asasinya diinjak-injak, akan berubah menjadi gelegak magma yang siap
memuntahkan lahar berapi. Terlepas ada atau tidaknya tapol PRD di situ.
Keberadaan tapol di antara para napi kriminal hanya menambah aroma
politiknya saja.

Orang-orang yang "dibina" di dalam penjara, sebenar-nya tidak akan
bertindak nyleneh atau neko-neko jika kondisinya memang layak untuk
dihidupi. Baik dari pemenuhan kebutuhan hidup sampai hubungan dengan
petugas. Rasa solidaritas antar sesama napi atau tahanan tinggi. Perang
antar kelompok napi atau tahanan pun sering, tapi jarang melebar. Tapi jika
perselisihan itu menyangkut petugas, memang berpotensi untuk menjadi
kerusuhan massal. Dengan kenyataan penjara di sini yang demikian,
tidak mustahil pemberontakan terjadi. Seperti yang terjadi di Rutan
Salemba akhir Mei 1995 lalu, ketika 32 orang napi berhasil melarikan
diri. Awalnya juga dari perselisihan dengan petugas yang berujung pada
pemberontakan. Mungkin pemberontakan di Medaeng kali ini "hanya" sampai
tembok tebal yang jebol.

Hebatnya, para napi dan tahanan tidak ada yang melarikan diri. Mereka
tidak lari dari penguasa penjara yang selama ini menindasnya. Bangkitnya
perlawanan ini sebatas luapan ketidakpuasan terhadap kondisi yang ada.
Seakan-akan mereka berkata "Ayo, tindas terus kami ini, kamipun akan
terus melawan!" Pernyataan mereka ini selain mendasar, juga sangat
imajinatif. Imajinasi kita dibawa untuk meletakkan persoalan ini pada
sebuah dialektika kesedaran perlawanan yang muncul dimana ada sebuah sistem
yang menindas. Penindasan memang bukan disikapi dengan pelarian. Perlawanan
yang kontinyu lebih menjadi pilihan bagi mereka yang tertindas.
Di sinilah akar ketakutan dari sebuah rejim penindas di mana ketika rakyat
yang sedar akan melawan. Persoalan represi dan opresi di sini berkait erat
dengan kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya dalam struktur masyarakat.

Dalam hal ini, pemberontakan harus dilihat sebagai suatu manifestasi
akumulasi kemarahan massa rakyat yang mengalami penindasan. Lepas
dari persoalan apakah hal itu terorganisir atau tidak. Yang pasti, jika
rakyat tidak diberi pilihan dalam suatu proses perubahan, maka tidak ada
jalan lain yang dipersiapkan oleh rakyat kecuali pemberontakan.
Persoalannya, apakah pemberontakan itu bermakna ? Sejauh ini,
persoalan-persoalan yang menumpuk di dalam lingkungan rutan atau LP
menjadi sorotan. Untuk menuju ke arah perubahan yang lebih mendasar
tampaknya masih harus diperjuangkan lebih gigih, karena selama sistem yang
lebih besar yang melingkupinya juga masih dipertahankan, maka akan tetap
langgeng sistem di bawahnya. Dan hal ini ibarat menyimpan api dalam sekam,
 yang siap menghanguskan apa yang ada. Jika sudah begitu, tidak ada lagi
yang akan disisakan oleh lautan api yang bakal mengamuk.

Tuntutan perbaikan dan perubahan atas sebuah sistem politik, termasuk
sistem "pembinaan" dalam rutan atau penjara, sudah menjadi agenda
besar rakyat Indonesia. Setiap waktu mengintai untuk manifes.
Pertanyaannya, masih mampukah rejim ini menahan arus magma yang akan
membludak dan menjebol dinding-dinding tirani? Sebuah pilihan
ditawarkan sejarah kepada rejim ini : Apakah perubahan yang akan
berlangsung akan berdarah-darah ataukah dengan jalan damai ? Bukanlah
rakyat yang menentukan, melainkan pemegang kekuasaan yang ada sebagai
pengambil keputusan. Yang jelas, bangunan kokoh sebagai simbol
kekuasaan itu berhasil dijebol. Lubang besar menganga di dinding penjara
itu adalah satu bukti bahwa sekokoh apapun kekuasaan yang korup, pasti
akan hancur oleh rakyat yang bersatu dan melawan !

Ivan Relawan adalah anggota biasa PRD,
pernah dipenjara sebagai tahanan politik
=eof=

=======================================
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE'S DEMOCRATIC PARTY OF INDONESIA
Europe Office
E-mail : prdeuro@xs4all.nl
=======================================