[INDONESIA-L] SM - Wanita miskin di

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Aug 26 1997 - 17:07:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA03312 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 26 Aug 1997 20:07:04 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] SM - Wanita miskin dilanggar haknya

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Aug 26 20:02:42 1997
Date: Tue, 26 Aug 1997 17:58:29 -0600 (MDT)
Message-Id: <199708262358.RAA24508@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SM - Wanita miskin dilanggar haknya
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

     SUARA MERDEKA
     
Semarang & Sekitarnya

                                                   Rabu, 27 Agustus 1997
                                                                         
Wanita Kalangan Bawah Sering Dilanggar Hak-haknya

     [INLINE]
     DENGARKAN CERAMAH: Peserta temu kerja mendengarkan ceramah Ketua
     BKOW Jateng. (Foto: Suara Merdeka/F4-56)
       ______________________________________________________________
                                      
     SEMARANG- Meskipun undang-undang dan peraturan tentang persamaan
     hak dan kewajiban antara pria dan wanita telah ada, namun pada
     kenyataannya masih kurang menjamin. Karena masih banyak kaum wanita
     yang diperlakukan tidak adil.
     
     "Terutama pada wanita kalangan bawah dan yang masih tinggal di
     pedesaan, secara diskriminatif sering dilanggar hak-haknya,'' kata
     Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jateng Ny
     Hartono dalam Temu Kerja di Gedung Wanita Semarang kemarin.
     
     Menurut dia, sumber ketidakadilan ini diduga karena pengaruh faktor
     budaya dan sistem nilai norma yang berlaku dalam masyarakat.
     
     "Tidak mustahil pula adanya kekeliruan dari cara pandang kaum pria
     dalam menempatkan peran dan status wanita,'' tambahnya.
     
     Selama ini wanita hanya dipandang sebagai konco wingking yang
     tugasnya mengurus rumah tangga, seperti memasak, mencuci, mengurus
     anak dan sebagainya.
     
     Pandangan tersebut mau tidak mau harus diakui membatasi peran serta
     wanita dalam sektor yang lebih luas.
     
     Namun demikian, lanjut dia, kaum wanita sebagai pribadi harus mampu
     mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dalam
     menetapkan keseimbangan peranannya.
     
     Konsep Diri
     
     Lebih lanjut dia katakan, wanita sebagai penggerak pembangunan
     harus membentuk sikap baru yang positif dan didukung kesadaran.
     
     Selain itu wanita perlu mengembangkan konsep diri yang utuh sebagai
     ibu yang bertanggung jawab mewujudkan keluarga sejahtera, serta
     sebagai kader penggerak pembangunan.
     
     Konsep diri yang utuh, menurut dia, dapat dicapai dengan cara
     meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan, berbudi
     luhur dan menjaga keseimbangannya dalam berperan ganda.
     
     Pada kesempatan itu Kepala Direktorat Sosial Politik (Kaditsospol)
     Jateng Misnadi, yang diwakili Kasubditsospol Drs Purwanto,
     memberikan ceramah dengan tema "Arah dan Kebijakan Pemerintah
     tentang Organisasi Kemasyarakatan di Semarang''.
     
     Dia berharap agar temu kerja pertama antara BKOW Jateng dan
     Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kodya Semarang itu akan mampu
     meningkatkan peran serta wanita dalam pembangunan.
     
     Selain itu, organisasi wanita sebagai aset pembangunan diharapkan
     tanggap terhadap informasi dan permasalahan, termasuk dalam
     penyebarluasannya kepada seluruh lapisan masyarakat.
     
     Sementara itu Ketua Panitia, Sri Rahayu, mengatakan, temu kerja
     yang diikuti sekitar 200 peserta dari organisasi wanita se-Jateng
     ini antara lain bertujuan untuk mencari kesepakatan dan kerja sama
     berbagai pihak yang terkait untuk mengembangkan organisasi yang
     mandiri.
     
     Selain itu, juga memberi informasi atau masukan untuk menambah
     wawasan wanita yang tangguh dan meningkatkan peran serta wanita
     dalam persatuan dan kesatuan bagi pembangunan bangsa.(F12-56h)