[INDONESIA-L] Dan Re - Indonesia Mi (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Sep 04 1997 - 17:59:00 EDT


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Sep 4 20:09:37 1997
Date: Thu, 4 Sep 1997 18:05:55 -0600 (MDT)
Message-Id: <199709050005.SAA10314@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Dan Re - Indonesia Milik Siapa?
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

Date: Thu, 04 Sep 1997 19:30:58 +0700
From: joni <zwx-1357@indo.net.id>
To: apakabar@clark.net
CC: a_rif@hotmail.com
Subject: Indonesia milik siapa

> INDONESIA-L
>
> From: "ahmad rifa'i"
> To: apakabar@clark.net
> Subject: Indonesia Milik Siapa
> Date: Wed, 03 Sep 1997 17:49:01 PDT
>
> assalaamualaikum wr. wb.

  ...

Saya tak bisa mangerti bagaimana cara berpikir saudara Ahmad, sebagai
orang keturunan Cina saya menegenal lebih dari 1.000 (seribu) orang
Cina, tak satupun diantara mereka (pemilik toko-toko eceran maupun
grosir) yang melakukan kolusi, tetapi yang benar mereka menjadi obyek
pemerasan para pejabat serta antek-anteknya (para pensiunan pejabat).
Saya rasa istilah kolusi lebih tepat jika kedua belah pihak yang ada
'main' sama-sama memperoleh keuntungan dari perbuatan yang melanggar
hukum.(tolong saya minta koreksi dari para ahli bahasa).
Tetapi yang terjadi sekarang adalah walaupun si Cina tidak melanggar
hukum, tetap saja harus mengeluarkan uang untuk kantong perorangan
pejabat, jika masih ingin mencari nafkah.
Saya bingung dengan tulisan anda ".....cobalah menjadi seperti orang
pribumi.........",karena saya punya cerita demikian :
Di perusahaan tempat saya bekerja, kira-kira lebih dari sepuluh tahun
yang lalu, setiap kali mencari partner pengusaha kecil, kami selalu
mencari pengusaha kecil keturunan Cina, dimana kami memberi modal kepada
mereka, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, setelah
setahun kami modali, diantara 10 (sepuluh) pengusaha kecil tersebut, 9
(sembilan) diantaranya sudah bisa berdikari (tidak perlu kami modali
lagi).
Sejak kira-kira 5 (lima) tahun yang lalu, kamu selalu mencari partner
pengusaha kecil dari kalangan pribumi, kami modali untuk bekerja, tetapi
sampai saat ini, setelah 5 (lima) tahun berjalan, tak satupun
diantaranya bisa berdikari, kami masih selalu harus memodali mereka.
Bagian yang lebih unggul yang ada pada pengusaha pribumi adalah rumah
(tempat tinggal)nya dari gubug menjadi mewah, sedangkan yang terjadi
pada pengusaha kecil keturunan Cina adalah rumahnya tetap gubug, tetapi
uangnya dipakai untuk mengembangkan usaha.
Jika para nonpri mengikuti kata-kata anda ".....cobalah menjadi seperti
orang pribumi.....", mana bisa kami maju, karena setelah menerima uang,
bukan dipakai untuk mengembangkan usaha, tetapi dipakai untuk membeli
barang konsumtif yang tidak produktif, sehingga secara ekonomis,
hidupnya akan tetap begitu-begitu saja.
Contoh lain dimana orang non pri tidak bisa menjadi seperti orang
pribumi adalah para pedagang kaki-lima, waktu saya kecil (kira-kira 30
tahun lalu), didekat rumah tempat tinggal saya (didekat pasar disebuah
kota di Jawa-Tengah) banyak para pedagang kaki-lima (mereka terdiri dari
pri dan non pri), tetapi sekarang (setelah 30 tahun kemudian) semua
pedagang kaki-lima non-pri telah memiliki toko masing-masing, bahkan
banyak yang menjadi kaya-raya, tetapi pedagang kaki-lima yang pribumi,
sampai saat ini tetap saja menjadi pedagang kaki-lima, bahkan ada yang
sudah berganti generasi.
Apakah saudara Ahmad pikir, para pedagang kaki-lima main kolusi dengan
para pejabat? Tolong anda renungkan sendiri, sebenarnya kesalahan ada
dimana.

pendamba pribumi yang maju