[INDONESIA-L] KONTAN - Mereka yang (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Oct 17 1997 - 16:51:00 EDT


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Oct 17 19:32:29 1997
Date: Fri, 17 Oct 1997 17:26:38 -0600 (MDT)
Message-Id: <199710172326.RAA29999@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Mereka yang Tak Terselamatkan Lagi
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Mereka yang Tak Terselamatkan Lagi

Pemerintah akan mengumumkan enam bank yang dicabut izin usahanya.
Pemerintah dan Dana Moneter Internasional (IMF) membentuk lembaga
likuidasi. Sebelumnya telah pula dibentuk tim penyehatan bank-bank
sakit. Sebagai uji coba, pekan depan, enam bank akan dicabut izinnya.
------------------------------------------------------------
Akan terjadi proses penyehatan dalam dunia perbankan di Indonesia.
Setidaknya, itulah yang dikatakan sejumlah bankir di Jakarta belakangan
ini. Pasalnya, ketika sejumlah bank tengah berkutat antara hidup dan
mati, sebuah isu tiba-tiba muncul ke permukaan. Kabarnya, pekan depan,
pemerintah akan mengumumkan enam bank swasta nasional yang dicabut izin
usahanya. Untuk mendukung langkah itu, bersama dengan IMF, pemerintah
kini tengah membentuk sebuah lembaga yang bertugas melikuidasi bank-bank
sakit.
Tim inilah yang akan mengurus "pemakaman" bank yang sudah tidak mungkin
diselamatkan itu. Menurut sebuah sumber, dengan dana yang diperoleh dari
pinjaman IMF, seluruh beban dari bank-bank itu akan diambil alih oleh
lembaga likuidasi tersebut. Sebagai imbalannya, lembaga ini berhak atas
seluruh kekayaan yang masih tersisa. Lantas, apa yang menjadi bagian
pemilik lama? Entah. Ada kemungkinan mereka akan memperoleh kelebihan
dari selisih utang dan aset mereka. Tapi, kemungkinan yang lebih pahit,
para bankir gagal itu tidak akan mendapat apa pun karena dianggap telah
melanggar aturan main perbankan.
Tak pelak lagi, kalangan bisnis menjadi resah. Mereka menerka-nerka,
bank mana kiranya yang bakal dicabut izinnya. Tapi, terlepas dari siapa
yang akan "dikubur", langkah ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari
kebijakan otoritas moneter beberapa waktu lalu. Sebelumnya, tepatnya 22
Agustus lalu, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia (BI) telah
menerbitkan SK tentang tata cara pencabutan izin usaha, pembubaran, dan
likuidasi bank. Ketentuan ini merupakan kelanjutan dari PP tentang
likuidasi bank, yang sudah diterbitkan tiga tahun silam.
Tidak menerbitkan laporan keuangan
Dalam SK itu, bank-bank bermasalah dipersilakan kawin dengan bank yang
lebih sehat atau menjual banknya kepada pihak ketiga. Jika tidak mampu,
tidak ada ampun lagi, Menteri Keuangan akan mencabut izin bank yang
sakit tersebut. Untuk mendukung langkah ini, dua tiga pekan lalu, BI
telah membentuk sebuah tim. Tim ini, menurut sebuah sumber, terdiri dari
aparat BI ditambah 16 bankir swasta papan atas. Mereka masing-masing dua
orang dari BCA, Danamon, BII, Lippo, Niaga, Bali, BUN, dan Bank Nusa.
"Tugasnya mengidentifikasi dan mencari solusi mengatasi bank yang
bermasalah," kata seorang bankir.
Tidak semua bank sakit akan dicabut izinya, tentu. Jika hanya persoalan
kesulitan likuiditas, misalnya, BI akan memberikan suntikan dana segar.
Tapi, bila penyakitnya sebatas permodalan dan manajemen, para pemilik
bank yang sakit akan diminta untuk menyuntikan modal baru atau menganti
seluruh direksinya. Bagaimana dengan bank sakit akibat kredit macet?
Jawabnya: bisa diselamatkan atau tidak. Seandainya tidak cukup dengan
berobat jalan, menurut sebuah sumber, bank tersebut akan dimasukkan
dalam ICU alias ruang perawatan intensif.
Cara yang ditempuh untuk menyehatkan bank yang terluka parah ini bisa
bermacam-macam. Antara lain, jika pemilik dianggap tidak mampu lagi, tim
penyehatan ini akan menawarkan kepada investor lain yang memiliki
kemampuan manajemen dan modal lebih. Tapi, jika tidak ada yang berminat,
"Ya, terpaksa, bank semacam ini ikut dikubur," kata sumber tadi.
Siapa enam bank yang segera dikubur? Dan, bank mana yang akan menyusul?
Belum bisa dipastikan, tapi mudah ditebak. Menurut salah satu anggota
tim 16, untuk mengetahui bank yang sakit atau sekarat itu mudah saja.
Salah satu indikasinya, bank yang bersangkutan sudah lama tidak
menerbitkan laporan keuangan. Menurut majalah InfoBank, hingga Juli lalu
ada 16 bank yang tidak menerbitkan laporan keuangannya sejak Desember
1995. Bahkan Bank Umum Majapahit, misalnya, sejak September 1990 tidak
lagi menerbitkan laporan keuangan.
Bank rusak menjadi tanggungan negara
Selain itu, masyarakat luas juga sudah tahu bahwa selama ini ada
beberapa bank yang sudah tidak beroperasi secara total. Penyebabnya,
kebanyakan mereka disebabkan terlibat kredit macet yang amat besar. Bank
Pacific mungkin bisa dijadikan contoh. Bank ini harus menanggung kredit
bermasalah sebesar Rp 1,8 triliun. Bahkan ada yang menyebutnya Rp 4
triliun. Cerita sebab-musabab merosotnya bank patungan BI dengan
keluarga Ibnu Sutowo ini cukup panjang. Selain dilanda kredit
bermasalah, Bank Pacific harus menanggung surat utang yang dikeluarkan
PT Pacific International Finance sebesar Rp 800 miliar. Perusahaan ini
adalah milik Endang Utari Mokodompit, yang tak lain adalah Presiden
Direktur Bank Pacific.
Sebenarnya banyak investor yang berminat untuk mengambil Bank Pacific.
Bank Danamon, misalnya. Tapi bukan cuma Danamon yang bernafsu, beberapa
bank papan atas, seperti BUN dan Bank Nusa, juga mengebet. Bahkan Bank
BNI, yang sudah membantu manajemen Bank Pacific sejak 1995, dikabarkan
sudah serius pula untuk mengambilnya. Anehnya, hampir semua peminat
kemudian seperti patah selera, sehingga Bank Pacific luntang-lantung
menunggu jodoh baru.
Terlepas dari bank-bank yang bakal dicabut izin usahanya, yang menjadi
pertanyaannya, bagaimana dengan nasib para deposan? "Deposan yang ada di
enam bank itu relatif kecil," kata sebuah sumber. Apalagi, seperti
disinggung di atas, semua kewajiban bank yang dilikuidasi akan
ditanggung oleh lembaga likuidasi. Artinya, dengan jaminan itu, kasus
seperti yang menimpa nasabah Bank Summa tampaknya tidak akan terulang.
Hanya, dalam situasi tidak pasti, tepatkah BI untuk mengumumkan bank
yang akan dicabut izinnya? "Keadaan sekarang rawan, tidak
menguntungkan," kata pengamat perbankan, I Nyoman Moena.
Masalah lainnya, bukan mustahil langkah penyehatan itu justru akan
mengundang banyak bank untuk dilikuidasi. Soalnya, pemilik bank yang
tidak sanggup lagi mengurus banknya bakal memilih untuk dilikuidasi.
Selain terhindar dari berbagai kewajiban, ada kemungkinan ia mendapatkan
kelebihan dari selisih utang dan aset. "Bank yang dilikuidasi banyak
disebabkan oleh masalah intern. Kenapa negara yang harus memikul? Ini
yang tidak saya terima," kata Moena.