[INDONESIA-L] Latar Belakang - Nasi

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Oct 27 1997 - 15:58:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Oct 27 19:40:30 1997
Date: Mon, 27 Oct 1997 17:35:54 -0700 (MST)
Message-Id: <199710280035.RAA18170@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Latar Belakang - Nasiroh & Riots in Jeddah
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "Noordin Salim" <noordin@rad.net.id>
To: "INDONESIA-L" <merdeka@clark.net>
Subject: Nasiroh & Riots in Jeddah
Date: Mon, 27 Oct 1997 18:25:55 +0700

Nasiroh & Riots in Jeddah..
Latar Belakang.
============================

Kamis/Jum’at yang lalu telah terjadi kerusuhan di Jeddah, antara
Tenaga Kerja Indonesia dengan satuan keamanan Saudi. Dimana
terjadi pelemparan batu, kemudiaan pembakaran mobil polisi,
dan diikuti dengan penembakan ke arah massa. Sayang sekali,
berita ini tidak disiarkan lengkap di harian2 Indonesia, mungkin
karena takut dikompasi lagi oleh TPI dan KISDI. Hanya
Republika yang dengan tenang memberitakan hal ini di halaman
depan.

Kasus ini bersama dengan kasus pemancungan TKW Indonesia,
bisa menjadi intropeksi kita semua. Beberapa hari yang lalu, ada
komentar rekan2 tentang Nasiroh, yang diakhiri dengan
kekhawatiran kita bahwa kita terjerumus ke dalam islam-
bashing. Tetapi setelah merenung lebih jauh lagi, saya mulai
melihat permasalahan itu dari segi lain. Bagi saya, keprihatinan
yang rada emosional dari rekan2 itu adalah cetusan seketika
yang berasal dari perasaan sebangsa. Kita langsung
membayangkan "nasiroh" yang sering kita temui sehari2, di
pasar, di warung, di jalan, dsb, terjerumus dalam permasalahan
hidup mati. Perasaan itu mengalahkan karakteristik agama
nasiroh, karena itu sudah tidak relavan lagi.

Dari ribuan TKI yang dikirim pulang, ada yang sudah ditahan
sampai 2 tahun, banyak yang pulang dengan anak blasteran arab.
Di Media Indonesia saya melihat kisah memilukan dari seorang
wanita yang selama bertahun2 menyembunyikan diri untuk
menyelamatkan diri, sampai akhirnya memilih untuk bersedia
dikawini oleh lelaki setempat, untuk memperoleh perlindungan
sementara, melahirkan anak dan lari lagi. Ini memilukan, bahkan
mereka yang sudah menikah dengan warga Saudipun harus
merasakan ketakutan. Primordialisme mengalahkan haknya
sebagai bagian dari keluarga warga negara.

Dalam demonstrasi di Jakarta, yang juga diikuti oleh banyak
organisasi kaum muda muslim, pihak Saudi selalu menggunakan
Hukum Islam sebagai tameng atas perbuatannya. Ini memang
menjengkelkan demonstran, dan timbul pertanyaan, Hukum
Islam yang bagaimana, Hukum Islam versi siapa? Hukum Islam
hasil interpretasi siapa? Dan dengan segera, muncul sikap yang
menyatakan bahwa tindakan Saudi itu tidak islami, dan bahkan
memunculkan lagi issue, bahwa Mekah dan Medinah itu
seharusnya berada di bawah pengawasan internasional, bukan
oleh Arab Saudi. Masalah yang sampai menyeleweng kemana2
itu, kita mulai melihat inti permasalahan yang sebenarnya.

Permasalahan ini hanyalah permulaan dari permasalahan yang
lebih besar lagi dalam dunia islam, dan muncul dari
perkembangan arah pemikiran keagamaan yang menciptakan
dualitas kepribadian. Orthodoxy islam modern muncul sebagai
kebenaran muklak tanpa ada pola pemikiran tandingan yang
sepadan dalam dunia islam. Semua sikap yang muncul yang
berlawanan dengan sikap orthodoxy itu dikategorikan sebagai
kurang islami, atau malah anti-islam.

Universalitas tanpa batas, dalam masyarakat tribal.
==================================================

Pada dasarnya, pola tatanan masyarakat dalam dunia muslim
berorientasikan kepada masyarakat tribal. Sampai saat ini masih
banyak dipertentangkan siapa yang dari Quraishy, atau bani2
yang lain. Pemikiran modern tentang nasionalisme, sebenarnya
tidak pernah mendapatkan tempat yang layak dalam pemikiran
islam, tetapi merasuk kedalam individu2 masyarakat. Bisa
didapatkan banyak sekali artikel2 yang bahkan menyerang
nasionalisme sebagai lawan dari islam.

Bahkan Pan-Arabisme di Arab, yang dikumandangkan oleh
Nasser, tidak mendapat tempat yang layak di kalangan agama.
Itulah sebabnya, gerakan pan-arabisme sekarang melempem
sekali, dan negara2 arab masih terpecah kedalam pembagian
menurut regional dan tribal. Pakistan juga penuh pertentangan
tribal, demikian juga Afgahistan. Hanya dibeberapa negara
tertentulah, pandangan nasionalisme mendapat tempat yang lebih
berarti. Indonesia termasuk dalam negara majoritas Islam dimana
pandangan nasionalisme mendapat tempat yang layak, walaupun
akhir2 ini mulai dipertentangkan oleh orthodoxy islam.

Di dalam semua agama, selalu ada nilai-nilai universal. Tetapi
biasanya nilai2 universal tersebut diperas dan muncul dalam
konsep-konsep terpenting dari agama. Sementara bagaimana
cara penerapan nilai2 tersebut, dan lain2nya, disesuaikan dengan
kebudayaan lokal. Islam juga demikian, di abad-abad permulaan
sampai dengan pertengahan. Jestru di abad modern ini,
orthodoxy agama serta merta mengambil secara sepihak
interpretasi atas nilai2 universal tersebut, dan mencoba
menerapkannya ke semua bidang kehidupan, semua tingkah
laku, sampai sedetail-detailnya. Bahkan ada yang sampai
menyangkut cara makan, cara berpakaian, cara menyapa, sampai
ke detail terkecil.

Kesadaran tribal, ternyata berlawanan dengan kesadaran
universal tersebut. Kesadaran universalisme yang mencoba
untuk mengekang dan meredam kesadaran budaya lokal, tanpa
bisa dipertanyakan, membuat sikap ambiquitas yang cukup parah
dalam kepribadian. Kesadaran universalisme itu, seperti
kebudayaan hippy barat tahun 60-an, berkembang pesar di
universitas2 barat. Karena itu tidak heran kalau para mahasiswa
di universitas barat tersebut mengalami transformasi ke arah
orthodoxy, dan merasa kecewa ketika pulang ke negerinya
mendapatkan bahwa keyakinan selama ini hanyalah cita-cita
utopian belaka, karena tidak ada kesesuaian dengan masyarakat
tempatnya berada.

Hubungan internasional yang aneh.
=============================================

Masalah banyaknya permasalahan TKI di Arab bukanlah
masalah kriminalitas. Orang Indonesia katanya terlalu sopan
untuk ukuran Arab, dan merupakan "anak baik-baik" tanpa
masalah. Masalahnya adalah usaha untuk melindungi identitas
Arab dari serbuan Indonesia. Dengan tidak dilindunginya
pasangan Arab dari Indonesia, sebenarnya mengimplisitkan
bahwa adanya kebijakan di Arab untuk membendung kawin-
campur dan asimilasi dari pendatang Indonesia.

Tetapi hubungan ini jadi aneh, karena masing-masing pihak
tidak ada yang mau menyatakan persoalan ini. Karena hal ini
adalah "tabu" dalam iklim "orthodoxy islam". Masing2 tahu
sendiri2, tetapi tidak mau mengatakannya secara langsung. Lain
halnya dengan Eropa Barat, dimana permasalahannya lebih jelas,
karena kebanyakan hal itu diungkapkan secara terbuka. Orang2
Perancis dan Jerman tidak suka budaya mereka dirasuki oleh
pendatang2 baru muslim dari Timur Tengah dan Turki. Tetapi
sikap mereka ini selalu dipertentangkan dengan hak asasi
manusia yang mereka akui bersama, walaupun sebenarnya
pendatang baru tersebut bukan warga negaranya yang wajib
dilindungi penuh. Permasalahan di sana lebih jelas.

Dalam kasus TKI di Arab ini, masalahnya jadi rada aneh.
Masing2 mengatas namakan nama Islam dan Hukum Islam, dan
tidak ada kesesuaian. Masing2 menolak dan menghindari
membicarakan hal paling peka, yaitu masing2 ingin melindungi
warisan budaya dan perilakunya dari unsur luar. Kecenderungan
orthodoxy kaum muda, menyebabkan sukar untuk berbicara lagi
dalam bahasa "manusia". Siapapun yang mencoba untuk
berbicara dalam "bahasa sehari-hari" semacam ini, akan menjadi
bulan-bulanan sasaran kaum orthodox yang berubah menjadi
fundamentalis. Menolak TKI dari kacamata budaya, akan
menjadikan klaim legalitas pemerintah Saudi sebagai pemerintah
islam tidak lagi diakui.

Para demonstran juga tidak kalah naifnya, dengan
mempertanyakan status Mekah dan Medinah. Kedua daerah2 itu
jelas2 ada dalam wilayah Saudi. Klaim itu dengan demikian
bukanlah klaim sejarah ataupun klaim atas daera geografi, tetapi
klaim atas dasar ideologi. Ketika mereka mencoba
membicarakan stasus kedua kota tsb dalam bahasa islam
orthodox, pemerintah Saudi menjawab dengan bahasa lokal,
bahasa kedaulatan negara dalam konteks lokal. Ketika sebagian
orang menuntut tanggung jawab pemerintah Saudi dalam kasus
Nasiroh dengan bahasa global, misalnya bahasa hak asasi
manusia, atau bahasa keadilan, dijawab oleh pemerintah Saudi
dengan bahasa legalisitis keagamaan. Selama ini, ketidak-
sesuaian bahasa inilah yang menjadi cermin komunikasi gaya
opera, komunikasi semu.

Orthodoxy agama, yeng mengarah ke universalisme tanpa batas,
membuat masing2 menyembunyikan wajahnya. Semakin bagus
wajah keagamaan dipoles, semakin populer dia. Ini menciptakan
dunia semu tersendiri, dunia dimana kata2 menjadi tanpa arti.

Masalah Naik Haji
==========================

Tidak bisa diingkari, bawa sekarang masalah haji dan umroh
sudah menjadi bisnis besar. Bahkan mungkin bisnis traveling
yang berskala raksasa. Di mana di dalamnya banyak sekali
kepentingan bisnis yang saling bersangkut paut. Tidak bisa
dipungkiri, bahwa Departemen Agama sebenarnya terutama
mengurusi masalah haji ini, dan itu juga menjadi sumber projek
dan pemasukan uang yang paling besar.

Keberadaan Dept. Agama, dengan ini erat berurusan dengan
masalah ini. Dan dalam berbagai hal merupakan stabilisator dari
ketidakpuasan elite agama di Indonesia. Modernisasi kegiatan
bisnis, dll, tidak diikuti oleh golongan muslim pesantren
misalnya, sehingga kalau dulunya golongan muslim pesantren
yang kebanyakan berasal dari golongan pedagang (tradisi dari
pedagang cina dan india/arab), sekarang karakteristik tersebut
hampir terkikis habis.

Bisnis naik haji / umroh, memberikan jalan ke elite-elite agama
di indonesia untuk mempertahankan sumber penghasilan
ekonomi. Selain itu, Departemen Agama juga memberikan
jabatan priyayi kepada lulusan IAIN yang sulit tertampung
dimana2. Departemen Agama dengan ini berfungsi sebagai
pengendali dan saluran pelepas untuk elite-elite agama tersebut.

Dengan semakin berkembangnya ekonomi dan kebutuhan
tingkat penghidupan yang lebih baik, maka bisnis inipun harus
dimekarkan. Tetapi ini sulit karena dibatasi oleh kuota haji dari
Arab Saudi. Jalan satu-satunya adalah negosiasi untuk
peningkatan kuota, peningkatan jumlah jemaah umroh.
Kedekatan dengan Pemerintah Arab Saudi, dalam hal ini
menjadi penting sekali. Kedekatan tersebut akan memuluskan
negosiasi peningkatan kuota. Dan kebijakan menaikkan kuota
akan sekalian menaikkan jumlah penghasilan.

Karena itu, bisa dibayangkan, bagaimana kalangan Departemen
Agama kebakaran jenggot, ketika didapati bahwa sebagian
masyarakat Indonesia naik haji dari malaysia dan singapura. Ini
adalah aksi yang secara langsung, mengurangi penghasilan elite2
dalam negeri. Dan disini, argument yang dikemukakan bisa
macam2, dan sudah bukan lagi menyangkut permasalahan
agama. Berbagai cara dilakukan, termasuk kerjasama dengan
pemerintahan Saudi untuk mengontrol masuknya jemaah hanya
dari satu saluran, sampai termasuk pembuatan paspor dengan
warna khusus untuk jemaah. Kita akan lihat, bahwa cara ini juga
menguntungkan Saudi, sekaligus menguntungkan elite - elite di
Indonesia.

Masuknya TKI lewat Haji/Umroh
=======================================

Dengan adanya jalur masuk ke Arab Saudi lewat perjalanan Haji,
maka terbukalah jalur pemasaran tenaga kerja TKI, termasuk
TKI illegal di sana. Masalah memperketat perbatasan adalah
masalah semua negara. Cobalah mau ke Australia, pasti susah
sekali, apalagi mau tinggal lebih dari 3 bulan. Tetapi di Saudi,
ada suatu celah yang gampang sekali, yaitu lewat haji / umroh.
Pemerintah Arab Saudi tidak boleh melarang, karena itu adalah
larangan yang berhadapan langsung dengan masalah keagamaan.
Dengan demikian, kedaulatan Arab Saudi dikurangi oleh
kepercayaan dalam agama tersebut.

Jika Indonesia memusuhi Portugis, maka Indonesia dengan
gampang melarang orang Portugis untuk masuk Indonesia.
Tetapi walaupun orang Iran anti dengan Saudi, kelihatan sukar
sekali melarang orang Iran untuk masuk Saudi lewat mekanisme
haji. Sehingga dulu kita lihat setiap tahun selalu ada demonstrasi
orang Iran di Saudi.

Celah-celah dalam mekanisme haji ini dengan cepat
dimanfaatkan oleh tenaga kerja indonesia memang sukar
mendapatkan pekerjaan yang layak di tanah air. Dalam jumlah
yang banyak, itu sebenarnya akan menjadi proses yang
mengancam akar budaya Arab itu sendiri, bahkan secara jangka
panjang akan mengubah ke-Arab-an Saudi. Karena itu, tidak
heran, bahwa negara2 Arab di Teluk sama sekali tidak
berkomentar sama sekali kalau ada masalah oppresi pemerintah
Saudi kepada tenaga kerja Indonesia. Itu sudah menjadi masalah
tribal.

Bahkan hukuman-hukuman pancung, dan komentar2 sementara
orang yang pro-Saudi di Indonesia, seakan2 mengancam dan
mengdiscourage calon tenaga kerja Indonesia untuk tinggal di
Saudi. Hukuman itu, dalam pandangan mereka, diperlukan
sebagai shock-therapy, untuk mendiscourage TKI.

Sementara pemerintah Indonesia susah mau bersuara, karena
tekanan dari elite-elite agama yang hidupnya tergantung dari
kelanjutan bisnis ini. Membuat perkara dengan pemerintah
Saudi berarti menciptakan kemungkinan pembalasan dari Saudi,
yang mungkin akan memotong jalur bisnis mereka, atau
memperkecil kuota. Jika memang harus ada (nyawa) yang
dikorbankan, ya sudahlah.. pikirnya.. Soalnya alternatif
lain akan lebih menyakitkan lagi (misalnya pembalasan bisnis).

Dengan demikian, ratusan tenaga wanita Indonesia, menjadi
korban dalam political-economy ini. Tidak ada yang membela,
kecuali LSM yang naif (dalam arti kata belum dapat fulusnya).
Nantipun pada akhirnya duit yang akan berbicara.

Akhir kata,
===================

Masalah TKI ini adalah masalah susah. Sangat susah, karena
masing-masing pihak tidak menggunakan bahasa sebenarnya
yang diperlukan untuk membahas masalah ini. Masing-masing
ada kepentingannya sendiri. Dengan sendirinya, TKI akan selalu
menyusup ke Saudi lewat berbagai saluran yang legal maupun
tidak, apalagi dengan dipermudah oleh mekanisme haji, dan
mudahnya bersembunyi dibalik jutaan jemaah yang lain.
Sementara oleh kepentingan bisnis, pihak elite agama Indonesia
akan terus mendorong peningkatan jumlah jamaah. Sampai saat
ini, cara yang terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak
adalah menciptakan saluran khusus jemaah, dengan paspor
khusus dsb. Cara ini akan memastikan penghasilan bagi elite di
Indonesia, dan bagi pihak Saudi, adanya saluran untuk
pemulangan jemaah, sehingga mengurangi mereka yang
memutuskan untuk tinggal.

Tetapi, cara diatas, tidak bisa menghentikan TKI yang mengalir
ke sana, karena memang ada kebutuhan. Cara kedua, adalah cara
oppresif, dengan melakukan penekanan, hukuman dll. Dan dari
pihak indonesia diharapkan usaha yang seminimal mungkin
untuk membela mereka. Dan jika terpaksa membela, jangan lupa
kata2, "makanya, kalau umroh, atau haji, pakailah saluran yang
tepat". Dengan demikian, pertama2, para korban tersebut harus
dipersalahkan dulu, barulah berkat kemurahan hati, mereka
dibela (dengan setengah hati). Dan dalam kampanye pembelaan
tersebut, selalu diselipkan kampanye untuk peningkatan bisnis
(pakailah saluran perjalanan yang ‘tepat’), dan untuk mendukung
pemerintah Saudi (hormatilah hukum setempat, terutama untuk
menepati waktu tinggal di sana).

Korban berjatuhan.. Tapi apa artinya lah.. sepotong nyawa warga
negara indonesia?

Salam,
Noordin Salim