[INDONESIA-L] RUBRIK - Diskusi Agam (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Dec 05 1997 - 20:06:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Dec 6 00:03:13 1997
Date: Fri, 5 Dec 1997 21:56:08 -0700 (MST)
Message-Id: <199712060456.VAA18237@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] RUBRIK - Diskusi Agama
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "timbul sri" <timbuls@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Subject: JIKA BENAR MENGAPA DIAM?
Date: Fri, 05 Dec 1997 14:13:06 PST

Nyawa Kristen, yaitu doktrinnya, dicekik dan dicecer cecerkan ke dalam
gehenna pluralisme oleh gerakan GKI-STT, dengan pretensi "ilmiah,"
alasan "kebersamaan," "kerukunan," "kontekstualisasi," dan jurus2
politik lainnya. Kalau anda masih anggap Kristus unik, tunggal, tanpa
analogi; maka gerakan Rakhmadi GKI-STT2 mereduksi Dia menjadi salah satu
dari selebritis2 agama.

Gerakan Ioanes-Eka-Aristarchus-Titaley, cs. ini menghina ortodoksi
Kristen yang masih percaya kebenaran mutlak Alkitab dalam hal sejarah,
sains, dan fenomena lainnya, dengan sindiran2 seperti pietis, separatis,
nostalgia, fundamentalis, dll. Menurut Rakhmadi itu ciri2 orang2 yang
maniak kuasa dll. Sebagai gantinya mereka mengganti dengan juruselamat
yang sama rata sama rasa, kebenaran yang subyektif tergantung konteks,
dengan tujuan dialog mencari muka pemerintah dan Muslim; sembari memuji
Al Quran, Muhammad, Buddha, dll. dengan merendahkan Alkitab, merendahkan
Yesus Kristus menjadi salah satu Buddha, menyangkali Tritunggal, menolak
korban penebusan dosa sebagai esensi utama Kristen; dan diganti dengan
Yesus pejuang sospol yang sinis, radikal, "nyentrik" yang missinya
memberi teladan, dan bela rasa tetapi bukan sebagai penebusan pengganti
orang berdosa. Sehingga gerakan ini merupakan gerakan dalam tubuh
Kristen sendiri yang intensif melawan missi gereja untuk membawa Injil
Kristus yang menuntut pertobatan dan pemuridan dalam gereja. Ironisnya,
GKI dan gereja protestan lainnya mendukung proyek bunuh diri teologi
Kristen ini dengan uang jemaat2 yang tanpa pamrih.

Sebagai sisipan saja: beberapa tahun lalu, ketika kebetulan di Jakarta
dan saya diajak menjemput seorang di asrama mahasiswa STT Jakarta;
ketika itu musim Natalan, dan para mahasiswa teologi yang lagi liburan
bukannya menyanyi Yesus Ada Sobat Kita; tetapi menyanyi: "Yesus Ada Ada
Saja!" Bahkan saudara saya yang kebetulan dosen biblika, ketika
mengikuti penataran Perjanjian Lama, DITATAR OLEH SEORANG DOSEN STT
JAKARTA PENGAJAR BAHASA IBRANI YANG SEKALIGUS MENGAKU ATHEIS!!!
Bayangkan dampaknya pada mahasiswa, dan gereja, serta awam pada
gilirannya. Kami ini orang awam yang mencari roti, tetapi diberi batu
oleh yang seharusnya gembala kami. Dan semua itu berlangsung di depan
hidung para pemimpin gereja yang tidak punya keberanian moral untuk
menghentikan pembunuhan sukma Kristen sendiri!

Sebagai awam, saya coba bicara pribadi dengan majelis dan jemaat; tetapi
kebanyakan tidak ingin perubahan. Alasannya: orang2 itu orang baik
kepribadian mereka. Halus tutur kata, dan sopan perangai mereka. Saya
kira ini imbesilitas, itu bukan argumen. Kita ngomong ajaran dia lawan
dengan kepribadian dan perangai. Memang mereka itu orang bertutur kata
halus tetapi jika isi, konten, dan esensinya skeptis, agnostik, bahkan
anti Alkitab, anti Kristen, anti Kristus, anti Tritinggal, anti
pertobatan, anti penginjilan; maka orang2 ramah itu tetap saja berbahaya
bagi gereja dan jemaat! Bahkan justru lebih berbahaya dari orang yang
tidak ramah. Justru preman dan mafia; pihak Islam radikal, dll. tidak
berbahaya karena sudah ketahuan esensinya. Tetapi lawan Kristen yang
mengatasnamakan teologi bela rasa; lawan Kristus dengan pretensi
kontekstual; lawan Tritunggal, lawan teologi ortodoks dengan topeng
disfungsional konservatif segala memang bahaya dan destruktif. Namun
terus membela diri dengan alasan2 mistik yang mengada ada.
Setelah mencermati posting2 tentang Rakhmadi di Indonesia-L, Fica Net
dan Cyber GKI saya koq merasa bahwa sikap diamnya GKI-STT itu
menyembunyikan 'udang di balik batu' dengan alasan2 spiritual sperti
diampuni, didoakan, dll. Saya kira harus ditanggapi dong untuk
clearance bagi ribuan penanya. Jangan sembunyi di balik "peraturan",
"anggaran dasar" "kesejukan cyber GKI" "media spiritual" segala -
karena banyak orang GKI sendiri terganggu bukan saja oleh pendeta2
lulusan STT2 yang disebut, tetapi juga terganggu oleh sikap diam GKI dan
STT2. Justru sikap diam itu mereka lebih tafsir sebagai menyembunyikan
udang di balik batu. Kalau yakin benar mengapa tidak terang terangan
menolak tuduhan sesat dengan EVIDENSI KULIAH2 STT dll!!

Penjelasan tentang SUBSTANSI AJARAN IOANES, EKA, STT JAKARTA perlu
diketengahkan. Sebab di tanah air sendiri orang juga tahu kalau Kairos,
majalah GKI yang mengangkat tulisan Rakhmat menimbulkan banyak protes.
Juga banyak laporan kalau dia merusak gereka GKI semasa kependetaannya.
Kalau PENGAKUAN IMAN GKI ada, ya silahkan dievaluasi saja tuduhan sesat
berdasar itu. Jadi tidak hakimi itu orang2 karena siapa kenal mereka.
Tentu sangat sedikit netter yang kenal Rakhmat, Eka, Titaley, dll.
Tetapi kan mereka itu DOSEN2 STT YANG MENDIDIK DOGMA TERTENTU KEPADA
PARA CALON PENDETA. Apakah GKI perduli dengan SUBSTANDI APAKAH YANG DIA
ORANG AJARKAN DI KELAS? Saya usulkan untuk hal substansial ini
diclearkan, jangan dirohanikan dengan pipi kiri dan pipi kanan segala.
Jangan dialihkan dengan "Bapa ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa
yang mereka perbuat" segala. Saya kira itu penggunaan ayat secara tidak
bertanggung jawab. Itu malah sikap fundamentalistik yang anti
intelektual. Apakah GKI dan STT2 kurang orang yang qualified? Tentu
tidak. Jadi demi tidak membiarkan semakin jauh kesalahpahaman ini,
sekarang juga perlu diresponi dengan EVIDENSI AJARAN BENAR SEHAT YANG
DIAJARKAN DI STT2 TERSEBUT.

Andaikata sinode GKI dll., memang tahu tetapi tidak mampu berbuat apa
apa, maka jangan gunakan alasan2 rohani untuk tidak menjawab. Saya kira
ini yang mendasari silencenya GKI dan STT2. Dalam perjalanan ke kampus
kampus Kristen di tanah air, saya temukan bahwa yang paling anti Kristen
dan kegiatan Kristen, yaitu pimpinan dan policy Satya Wacana yang sudah
sejak lama anti segala aktivitas penginjilan dan pemuridan yang
dilakukan mahasiswa Kristen di kampus itu. Semasa mahasiswa dan juga
semasa menjadi anggota GKI, saya sendiri mengalami bahwa GKI sangat
alergi dengan kegiatan2 rohani Kristen di kampus2 yang kami jalankan.
Dan meskipun bukan pendeta, saya mendengar sendiri para calon pendeta
dari STT2 Jakarta, Satyawacana dan Duta wacana sangat sinis, bahkan
terang2an menentang kebaktian doa, penginjilan, dan kelompok kecil.
Mereka lebih setuju kalau kita cukup menolong orang2 yang kekurangan.
Sikap anti spiritual ini bukan rahasia lagi tetapi pengetahuan umum
tentang calon2 pendeta dari STT2 tadi. Nah ini membuat sulit bagi GKI
dan STT2 untuk menjelaskan. Karena (1) para pendeta jemaat dan pejabat
sinode GKI tidak qualified secara teologi untuk menghadapi peneliti2
seperti Ioanes Rakhmat; (2) para pendeta dan sinode yang kebanyakan
orang2 awam yang alim itu mustahil bisa menghadapi politisi seperti John
Titaley yang di satu pihak kelihatan membela Kristen, tetapi di lain
pihak paling getol mengubah segala kegiatan Kristen menjadi aksi sosial
semata; (3) sulit menjelaskan karena para pendeta GKI yang kebanyakan
cuman S.Th tidak akan berkutik menghadapi sedikit saja penjelasan
Ioanes, Eka, dll. Akhirnya, kalaupun tahu tentang ketidak beresan dalam
STT2 (dikata sesat oleh Benny), mereka tidak mampu berbuat banyak,
selain bersembunyi di balik alasan rohani2.

Dari Fica Net dan Cyber GKI saya membaca posting2 para pendeta dan
simpatisan GKI STT yang memakai prinsip2 menghindari penjelasan dan
pembelaan iman kepercayaan GKI dengan alasan2 yang tidak berevidensi
seperti berikut: (1) yang menuduh Rakhamadi itu orang yang tidak
bertanggung jawab - itu bukan evidensi itu bukan argumen; (2) yang
menuduh ada kesesatan dalam ajaran Ioanes dan Eka cs. orang yang tidak
punya kasih - itu serangan terhadap orangnya bukan argumen; (3) jangan
menjawab tuduhan Rakhmadi karena Alkitab berkata ditampar kiri kasikan
pipi kanan - itu kontra dengan spirit dan maksud ayat tadi; dan itu
bukan argumen, itu melarikan diri dari tanggung jawab intelek. Kalau
STT2 percaya bahwa Tuhan itu Tuhan yang disembah dengan segenap akal
budi, mengapa tidak memakai akal budi dan berikan argumen dan evidensi
tentang bersihnya GKI dan STT2 dari ajaran ajaran anti Alkitab dan anti
Kristen?; (4) konspirasi untuk membisu merupakan argument from silence
bahwa jangan jangan yang dituduhkan itu betul - jadi silence is not
golden; dan silence itu bukan argument - kadang silence itu membuktikan
GKI dan STT2 itu guilty atas tuduhan. Setidaknya GKI dan STT2
bertanggung jawab atau accountable terhadap ratusan bahkan ribuan orang
yang memerlukan klarifikasi, meski para pengurus merasa aman untuk diam.
Tetapi sampai di mana tanggung jawab kalian untuk memakai alaran
spiritual agar tidak menunaikan tugas intelektual? Bukankah GKI juga
ditugaskan memelihara iman yang disampaikan para rasul (Yudas 3)?

Saya bukan ahli teologi dan bukan pejabat gereja, tetapi di tangan saya
terkumpul berbagai dokumen, paper, dll. dari Eka, Titaley, Ioanes,
Haskin, dll. Dan sulit sekali bagi saya untuk mengatakan bahwa setelah
membaca tulisan2 ini iman saya dikuatkan. Saya menjadi skeptis malah
terhadap Alkitab. Bahkan cenderung sinis terhadap yang namanya hal2
rohani. Artinya, sebagai awam yang mencari roti, kami di beri batu oleh
GKI dan STT2. Tetapi kami ingin memberi GKI STT the benefit of the
doubt untuk menjelaskan dan membela kebenaran ajaran mereka.

Dalam diskusi dengan keluarga dan rekan2, kami ingin agar GKI dan STT2
bisa memberikan keterangan memadai mengenai (1) ISI AJARAN TEOLOGIS
TENTANG ALKITAB, ALLAH TRITUNGGAL, KRISTUS DAN KESELAMATAN MACAM APAKAH
YANG DIAJARKAN DI STT2. SEKALI LAGI, KAMI INGIN TAHU ISI DAN INTI
AJARAN YANG DISAMPAIKAN DI RUANG2 KULIAH PARA CALON PENDETA GKI, GKJ,
GPIB DLL TSB?; (2) Dimanakah kami bisa dapatkan DIKTAT, PAPER, ARTIKEL
JURNAL, KASET KULIAH, SEMINAR DARI DOSEN2 STT SEPERTI EKA, IOANES,
TITALEY DLL?; (3) Kami ingin tahu buku2 apakah yang dijadikan pegangan
dalam hal biblika dan teologi di STT2 kita itu? Sebelum itu (4) Kami
ingin agar GKI dan STT2 menjawab SUBSTANSI TUDUHAN KESESATAN GKI STT2
YANG DITUDUHKAN DENGAN ISTILAH RAKHMADI ITU. ARTINYA KAMI INGIN MELIHAT
SUBSTANSI DI COUNTER DENGAN SUBSTANSI YANG LEBIH BAIK. Agar iman kami
bisa dikuatkan dan tidak goncang.

Saya bergumul untuk tidak percaya tuduhan bahwa Ioanes Rakhmat
menggunakan filsafat Marxis tentang pertentangan kelas menjadi
PRASUPOSISI 'Kristen' untuk menempatkan Yesus Kristus di tengah
pertentangan kelas di antara kaya dan miskin. Apakah benar metode
teologi Rakhmat, Titaley dll. menggunakan analisa sosiologi Marxis guna
mengganti analisa biblika bahwa masalah sosial berakar pada dosa asal,
dan melokasi masalah sosial budaya pada sistem kelas sistem kelas yang
menekan yang miskin? Apakah ajaran bela rasa Ioanes Rakhmat itu
merupakan esensi utama Kristologi? Ini mah membuat Kristen tidak
obyektif lagi tetapi subyektif. Bagaimana kalau orang bisa bagi rasa
atau bela rasa tanpa menjadi percaya Kristus? Di manakah keunikan
ajaran bela rasa ini? Saya kira kita mengada ada atas nama ilmiah.

Kemudian dalam penjelasan GKI dan STT2 perlu ketegasan tentang doktrin
pluralisme dan keselamatan. Karena dari majalah GKI Penuntun jelas
sekali bagi saya bahwa Ioanes Rakhmat mengajarkan bahwa ada keselamtan
dalam Islam, Hindu, Buhhisme, dll., sebagaimana dalam Kristen. Para
awam justru tidak ingin mengambil resiko menjadi bahaya kalau jadi
Kristen kalau keselamatan juga dan sudah ada dalam agama apa saja. Dan
apakah maksud Ioanes Rakhmat bahwa, Kritus orthodoks "menimbulkan
disfungsionalisasi kekristenan dalam zaman globalisasi." Apakah gereja
disfungsi justru kalau dia gereja yang tetap ingin memberi tahu Yesus
kepada orang di luar gereja? Apakah yang demikian itu harus ditolerir
GKI dan STT2 demi scholarship dan kesetia kawanan?

Selanjutnya GKI dan STT2 perlu menunjukkan bahwa missi dan visi STT2
bukan sosiologi tetapi teologi. Dan apakah Satya wacana, misalnya,
sudah berubah bukan lagi sekolah tinggi teologi tetapi sekolah tinggi
sosiologi agama? Tolonglah kami agar memahami apakah itu yang dimaksud
dengan misi sosiologi agama? Bukankah mereka disiapkan menjadi pekerja
rohani atau rohaniwan; tetapi kini malah berubah menjadi pekerja sosial?
Saya ingat komentar seorang gembala sidang di kalangan GKI di rumah
saya, bahwa para alumni STT yang bekerja di kantor sinode, tidak lebih
dari sekelompok preman.

Jikalau ortodoksi atau konsrvatisme Kristen itu salah, di mana salahnya?
Saya kira aplikasinya tidak sempurna, tetapi toch tidak perlu membuang
ajarannya yang sudah diterima selama 2o abad. Dan jikalau ortodoksi itu
keliru harus dipapar dulu jangan asumsi salah semata. Pak Eka justru
mengatakan tanpa evidensi bahwa GKI harus bergerak di luar ortodoksi.
Tidak heran orang langsung menuduhkan liberal dan sesat. Kalau di luar
ortodoksi terus itu apa? Dogma dan kepercayaan apa di luar ortodoksi
inilah yang dituntut para orang Kristen di dalam dan luar negeri. Saya
kira mengelak justru merugikan GKI dan STT2. Ini saatnya kebenaran
diangkat disampaikan secara internasional. Mengapa harus di taruh di
bawah gantang?

Salam
Timbul