[INDONESIA-L] SDM Indonesia

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Dec 06 1997 - 10:04:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Dec 6 11:38:37 1997
Date: Sat, 6 Dec 1997 09:30:04 -0700 (MST)
Message-Id: <199712061630.JAA18624@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SDM Indonesia
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

To: apakabar@clark.net
Date: Sat, 06 Dec 1997 03:05:14 -0700
From: "Mohamad leo husni" <masleo12@mailexcite.com>
Subject: SDM Indonesia

Sumber Daya Manusia Indonesia

Setelah lama saya perhatikan dan membaca milis di Indonesia L,
tergerak hati saya untuk menyumbangkan sesuatu yang berharga
untuk rakyat Indonesia tercinta. Saya sependapat dengan para
netters, bahwa korupsi dan kolusi serta segala macamnya, memang
terjadi di negara kita ini. Namun apakah hanya dengan caci maki
kita akan dapat memperbaikinya ? Ini yang jadi masalah.
Saya melihat inti dari permasalahan ialah rendahnya tingkat SDM
kita, ini suatu masalah mendasar ! Dan harus diperhatikan dan
ditindak lanjuti. Kalau tingkat SDM kita sudah menjadi lebih
baik, korupsi dan sebagainya otomatis akan berkurang secara
drastis. Mengapa ? Hal ini disebabkan karena daya pikir manusia
yang berkualitas, tentu memikirkan sesuatu dalam konteks jangka
panjang dan logis. Contohnya
Orang yang tidak berpendidikan dan berkualitas SDM rendah mudah
sekali berbuat kriminal untuk mencuri jemuran bahkan membunuh
untuk uang senilai uang parkir, yang sedikit lebih berkualitas
tentunya sudah mengarah kekejahatan yang juga lebih berkualitas.
Akhirnya memang akan ada penjahat berdasi, karena mereka telah
memiliki intelektual yang cukup. Namun, mengapa penjahat berdasi
ini dapat beroperasi, hal ini disebabkan karena SDM disekeliling
penjahat berdasi yang tidak sebanding kualitasnya, sehingga
memungkinkan terjadinya hal tersebut. Contoh lain, didalam suatu
birokrasi, bila semua anggota birokrasi sebanding kualitas
SDMnya, maka masing masing anggota akan memperhatikan tugas dan
kewajibannya, dan tentu dengan kualitas ilmu pengetahuan dan
nalarnya; tidak akan membuat dirinya menjadi sarana orang lain
untuk berbuat sesuatru yang mungkin akan mencelakakan dirinya.
Jadi, dengan pengalaman saya bekerja disini, saya melihat
danmengalami sendiri, bahwa dengan SDM yang berkualitas, semua
aturan kerja menjadi terarah sehingga penyimpangan akan cepat
ketahuan dan dengan kualitas SDM yang memadai, tentunya masing
masing anggota birokrasi/system tidak mau dipersalahkan hanya
untuk keuntungan orang lain.
Nah, pertanyaan sekarang ialah, apa hubungannya dengan Indonesia
?. Saya sebelumnya bekerja di Pertamina, kemudian Ustraindo, dan
saat ini setelah menyelesaikan S2, saya bekerja di salah satu
perusahaan Minyak terbesar didunia di Houston Texas sebagai Ahli
Reservoir. Setelah saya membaca Indonesia L, dan membandingkan
dengan apa yang pernah saya alami maka saya berkesimpulan
demikian.
1. Tidak adanya standarisasi Pendidikan.
Mutu pendidikan di Indonesia tidak seragam, kualitas lulusan
jenjang yang sama misalnya SD, akan berbeda antara lulusan kota
dan desa. Demikian juga jenjang SLTP dan SLTA bahkan
Universitynya. Semua orang tahu bahwa mutu
ITB,ITS,Trisakti,Unpar,Unpad dan yang sekelas , lebih baik secara
umum. Karena hal itu, tidak heran jika di Indonesia mempunyai
banyak Sarjana yang menganggur. Negara kita tidak mempunyai
standard pendidikan. Memang mencari guru yang berkualitas untuk
ditempatkan didesa sangat sulit dan tidak mudah. Apakah kita
hanya berhenti sampai kesulitan ini ? Itu justru mulainya
permasalahan. Dengan mutu tenaga guru yang seadanya, Bagaimana
mungkin dapat meningkatkan kualitas lulusan desa jika mutu mereka
tertinggal jauh dari kota ?.Memang untuk men-standardkan mutu
lulusan akan menimbulkan korban. Bisa saja terjadi bahwa bila
standarisasi ini dilakukan ada sekolah didesa yang 99% muridnya
tidak lulus. Tapi hal ini harus dilakukan, tidak ada jalan lain.
Saya ingat waktu saya masih bekerja di salah satu lapangan minyak
di sumatera, atasan saya banyak yang mengirimkan anaknya
(SLTP,SLTA bahkan SD) untuk bersekolah di Bandung, Jogya dsbnya.
Hal ini adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Bagaimana
solusinya ? Mari kita coba untuk membantu menyumbangkan pikiran
dalam hal ini. Memang suatu PR yang rumit dalam hal ini bagi
Depdikbud. Namun hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut larut.,
apabila kita ingin bergerak maju dan sejajar dengan bangsa lain.
2. Kurangnya Praktikum.
Secara teori, mungkin sebagian dari pelajar kita tidak kalah
mutunya dengan pelajar asia lainnya, Namun, Maaf, dari hasil
pantauan saya saat menjadi assisten dosen, Mutu pelajar kita
dalam praktikum ketinggalan dari
Cina,Singapore,Korea,Taiwan,Malaysia dan India.
Banyak mahasiswa kita yang tidak pernah tahu melihat fisik air
raksa, tidak dapat mempergunakan gelas ukuran, tidak bisa
melihat/mengkonversi derajat C/F dll. Saya mengakui, sekalipun
saya pernah belajar di salah satu SLTA terkemuka di Jakarta,
masalah praktikum kita memang jauh tertinggal. Saya juga
mengetahui bahwa untuk mendirikan Laboratorium yang lengkap
adalah sangat mahal. Tapi bukan berarti kita harus stop dengan
mahalnya harga laborato rium ini ! Saya menilai bahwa jalan
keluarnya masih ada, yakni membuat lab bersama untuk beberapa
sekolah misalnya. Kecenderungan kita untuk lebih tertuju ke
proyek mercu suar saya rasa adalah keliru, bukankah biaya menara
Jakarta sebetulnya bisa mendirikan puluhan Laboratorium yang
lengkap dan jelas lebih berguna bagi kepentingan masa depan kita.
3. Pengetahuan Bahasa Unggris yang sangat minim
Waktu saya kejakarta akhir Oktober lalu, saya baru tahu bahwa
adanya larangan kata kata berbau asing.
Menurut saya, dari sudut pandang manapun larangan ini sangat
tidak mendasar dan logis. Kita tahu bahwa Jepang adalah salah
satu bangsa yang sangat nasionalis, dulu mereka melarang segala
sesuatu yang berbau asing. Namun kenyataan, justru mereka sulit
berkembang. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi turis asing.
Makanya mereka sejak tahun 80an, mengambil kebijaksanaan drastis,
dan bahkan saat ini 60 persen orang Jepang yang usia muda,
memakai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dinegaranya. Dan hal
ini mengakibatkan mudahnya mereka menyerap informasi dan
teknologi melalui buku dan berita.
4. Banyaknya kurikulum yang tidak sesuai dengan bidang yang telah
dijuruskan.
Saya bukan anti nasionalisme, karena hal itu saya pandang sangat
perlu. Namun semua yang saya tulis hanya berdasarkan pandangan
secara profesionalisme. Seperti kita ketahui, sejarah nasional
sudah diajarkan sejak SD. Untuk SLTA, terutama bidang A1 dan A2,
apakah hal ini masih perlu ? Bukankah lebih baik jam belajarnya
ditambahkan pada praaktikum dll yang lebih relevan dengan
bagiannya ?
Kalau alasan Nasionalisme, saya agak sedikit membantahnya, karena
sekalipun selama ini Sejarah diajarkan sejak SD sampai SLTA,
buktinya dalam kuis di TV banyak peserta yang tidak tahu pahlawan
nasional kita !

Para Netters yang budiman, dalam kesempatan ini saya mengajak
anda mendiskusikan hal ini, saya berharap diskusi ini akan
berjalan dengan baik silahkan dikomentari, kritik dan saran.
Mudah mudahan diskusi kita bermanfaat bagi kita semua. Amin