[INDONESIA-L] KMP - Kasus Kebakaran

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Dec 09 1997 - 16:17:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Dec 9 20:15:01 1997
Date: Tue, 9 Dec 1997 18:10:30 -0700 (MST)
Message-Id: <199712100110.SAA15424@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Kasus Kebakaran Hutan Jangan Dianggap Rampung
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

KOMPAS
Selasa, 9 Desember 1997

------------------------------------------------------------------------

Kasus Kebakaran Hutan Jangan Dianggap Rampung

Bandung, Kompas

Kasus kebakaran hutan yang belum lama diributkan dan tiba-tiba seakan
melenyap sebagai isu, jangan dianggap rampung. Beberapa soal ikutannya
termasuk persoalan budaya masyarakat setempat masih perlu kita pikirkan
bersama, serentak dengan itikad kita semua untuk meninjau kembali
keserakahan manusia yang berada di balik bencana ini.

Kesimpulan tersebut dibuat Kompas dari diskusi terbatas Masyarakat Seni
Pertunjukan Indonesia di Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Minggu (7/12).
Hadir antara lain Endo Suanda, Ketua Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
serta para seniman dan peneliti seni. Mereka di antaranya Taufik Rahzen,
Harry Roesli, Herry Dim, Bulantrisna, Hikmat Gumelar, Sutisno, Murtiyoso,
dan Soni Farid Maulana. Hadir pula dua pemuda Dayak dari Kalimantan Barat,
sebagai narasumber, Ben Efraim dan Elias Ngiuk.

Keserakahan penyebab bencana itu misalnya diingatkan oleh Ngiuk, bahwa
belum lama, yakni tahun 1994, untuk keuntungan yang berlipat ganda maka
tanah di Kalimantan Barat dibebaskan hanya dengan harga Rp 17.500 per
hektar. Katanya, masyarakat setempat kini bahkan belum mendengar apa-apa
tentang kabar dana Rp 10 milyar yang akan dikucurkan untuk "menebus"
dosa-dosa kasus kebakaran hutan.

Peneliti Taufik Rahzen yang pada saat kejadian berada di Kalimantan Barat,
mengingatkan hilangnya orientasi akan ruang dan waktu selama asap
berkemelut. Disebutkannya bahwa para pemuka masyarakat bahkan kehilangan
banyak tanda, misalnya burung-burung yang kini mati, untuk memulai membuka
ladang dan sebagainya. "Kami yang mungkin dikira tidak berkebudayaan,
sebetulnya mempunyai aturan-aturan termasuk pembakaran hutan untuk
berladang," kata Ngiuk yang dibenarkan Ben, tentang persahabatan manusia
dan alam.

Menurut pemusik Harry Roesli, meskipun peristiwa kesenian bagi khalayak
luas tetap penting untuk senantiasa mengingatkan keprihatinan ini, tetapi
yang lebih penting adalah karya-karya yang ditujukan untuk para pengambil
keputusan. "Mereka yang menentukan," katanya. (tjo)