[INDONESIA-L] Re : Mata Uang ASEAN

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jan 06 1998 - 18:05:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Jan 6 22:00:29 1998
Date: Tue, 6 Jan 1998 19:52:16 -0700 (MST)
Message-Id: <199801070252.TAA09840@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Re : Mata Uang ASEAN
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Tue, 6 Jan 1998 15:40:01 -0800 (PST)
From: Anzori <anzori@yahoo.com>
Subject: Re : Mata Uang ASEAN
To: apakabar@clark.net

           Terima kasih atas tanggapan anda terhadap tulisan saya.
Mata Uang ASEAN (Asean Currency Unit) sebagaimana halnya European
Currency Unit (ECU) yang sekarang ini disingkat namanya dengan EURO
saja, saya pandang penting diterapkan pada negara-negara yang memiliki
perekonomian masih labil seperti negara-negara ASEAN. Bila kita
bandingkan dengan EURO, memang negara-negara anggota EURO adalah
umumnya maju, seperti Jerman, Prancis, dsb. Tapi perlu diingat bahwa
tidak semuanya maju, seperti Yunani yang perekonomiannya juga tidak
semaju yang kita kira, walaupun penduduknya cuma 10 juta jiwa.
Demikian juga nantinya bila beberapa negara Eropah Timur masuk kedalam
Unit Eropah dan mereka memberlakukan EURO sebagai mata uang tunggal,
apakah kondisi mereka seragam? Kita tahu Inggeris belum mau memasukkan
Sterling-nya kepada EURO dan masih berdiri sendiri. (Ingat Soros
pernah mengeruk keuntungan satu milyar dollar dari spekulasi valasnya
dengan Pound Sterling pada tahun 1992). Kenapa Inggeris belum mau?
Karena di sana ada Jerman. Bila bersatu nama British Pound akan hilang
dan kebijaksanaan EURO akan didominasi oleh Jerman (ingat sejarah PD
II, di mana Jerman mendominasi sebagian besar Eropah bersama Italia.
Kalau anda ke Turki, mata uang DM resmi dipasang sebagai harga produk
yang dijual di toko bebas cukai di lapangan terbang, bukan USD)
Ini merupakan awal diskusi kita yang cukup menarik bila diteruskan.
Bagaimana dengan mata uang ASEAN (ASECU) bila kita mau membentuk? Akan
menguntungkan negara kita atau negara lain? Memang sesuatu usul yang
baik akan sulit diterapkan, itu sudah pasti, seperti usul untuk
menghapus korupsi bila sudah membudaya.
Kalaupun diterapkan, mungkin Malaysia dan Singapura (eks jajahan
Inggeris) yang tidak setuju, seperti halnya ketidaksetujuan Inggeris
masuk EURO. Tapi.... ada tapinya, negara-negara tersebut (Malaysia dan
Singapura) untuk 10 tahun mendatang akan sangat bergantung pada
Indonesia (potensi pasar 202 juta jiwa) sebagai tetangga yang kaya
dengan sumber alam dan luas wilayah. Bila tidak ada ASECU, maka negara
kita hanya akan menjadi pasar spekulan pemilik modal dari kedua negara
ini yang akan mengeruk keuntungan semata tanpa memberi sesuatu. Mereka
punya modal untuk mengasobrsi
economic benefits. Krisis ekonomi yang terjadi bila bersamaan pun
hanya yang berpengaruh lebih sedikit terhadap mereka, tapi sangat
berpengaruh banyak terhadap negara kita dan juga Thailand dan
Philipina dengan penduduk yang lebih besar dari mereka. Namun bila
terdapat kesatuan ekonomi yang kompak (salah satunya melalui ASECU ini
disamping free-trade), mungkin kekuatan bersama menjadi lebih efektip
daripada pakai jurus sendiri-sendiri.
Sebagai contoh: Kurs USD/Rp. saat ini sudah mengambang 120%, di
Malaysia dan Singapura USD/MYR-SIN 50%. Bila ada ASECU apakah kurs
USD/ASECU akan juga berdepresiasi 120%. Saya tidak yakin, katakan cuma
75%, jauh lebih baik dari depresiasi 120%, kan?
Mengenai kepastian hukum. Anda percaya bahwa berteman dengan teman
yang baik (seperti Malaysia dan Singapura) anda juga akan terpengaruh
bersikap baik atau teman anda akan mengikuti sikap anda. Thailand dan
Philipina memiliki masyarakat yang lebih well-organised dibanding
kita. Saya melihat sendiri, TKI dan TKW mereka di Eropah berkualitas
lebih baik dari TKI dan TKW kita di Timur Tengah. Dan jumlahnya
puluhan ribu orang. dibanding masyarakat kita yang ada di Eropah,
jumlah TKW/TKI mereka masih lebih banyak. So, what's next? Kita akan
merencanakan sesuatu yang baik yang sulit untuk dimulai, atau kita
tidak pernah akan merancang sesuatu yang baik sama sekali, karena
sulit untuk dimulai (Jika kita memilih lebih baik tidak saja, maka
itulah budaya pikir kita yang rutin: yang sulit lupakah saja, ambil
yang gampang saja, what ever will be will be). Jangan begitu kawan,
sebagai generasi muda seharusnya kita perpikir lebih kedepan lagi
daripada generasi yang hanya ingin gampang saja mendapat sesuatu.
Anda lihat warga Singapura yang cuma 3 juta orang, mereka maju karena
tidak punya sumber daya dan sumber alam yang cukup. Mereka tidak
memperoleh sesuatu dengan gampang saja, makanya kita harus belajar
dari kelompok kecil ini. Anda tahu seorang seperti Soros adalah juga
minoritas di dunia yang menguasai keuanganan dunia yang memulai
hidup-nya dengan susah.
Maka saya ingin mengajak anda berpikir untuk kemajuan bersama, bukan
sendiri-sendiri. Kalau kita 202 juta orang yang makmur cuma 60 juta
orang dan melarat 142 juta, anda bisa bayangkan pengaruh apa bakal
terjadi dari dari 142 juta orang terhadap 60 juta orang bila krisis
ekonomi berlangsung setiap 10 tahun di negara kita. Kita perlukan
adalah kesadaran moral bersama, terutama dalam kaitan ini antara
sesama anggota ASEAN.
Mungkin ASECU bisa menjadi satu alternatif yang positip.
Mungkin anda bosan membaca uraian ini, karena ngalor-ngidul, namun
saya berterima kasih kepada anda mau meluangkan waktu untuk posting ini.
Salam,
Anzori@yahoo.com