[INDONESIA-L] 1 USD Tidak Sama Rp40

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Jan 07 1998 - 16:42:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jan 7 20:38:59 1998
Date: Wed, 7 Jan 1998 18:31:37 -0700 (MST)
Message-Id: <199801080131.SAA05135@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] 1 USD Tidak Sama Rp4000 Tidak Mempengaruhi RAPBN
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: rimuli@yahoo.com
To: apakabar@clark.net
Subject: 1US$ # Rp.4,000 TIDAK MEMPENGARUHI RAPBN 98/99
Date: Wed, 07 Jan 1998 10:32:51 -0600

[This is a courtesy copy of an article posted to Usenet via Deja News]

1US$ # Rp.4,000.- TIDAK MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN RAPBN 98/99

Perkiraan 1US$ = Rp.4,000 yang dipakai pemerintah dalam penyusunan RAPBN
1998/1999 tidak akan mempengaruhi keseimbangan dalam realisasi APBN
98/99.
1US$ boleh bernilai tukar Rp.4,000 atau Rp.10,000 atau berapapun, tetapi
keseimbangan penerimaan dengan pengeluaran akan -kurang lebih- tetap
terjaga. Hal ini disebabkan seimbangnya besaran pos penerimaan dalam
nilai
mata uang asing (US$) dengan besaran pos pengeluaran dalam niali mata
uang
yang sama (US$).
Lihat rincian sebagai berikut:
1. Pos penerimaan dalam mata uang asing = 53 trp (trilyun rupiah),
terdiri
dari:
* Penerimaan migas =27.2 trp
* Penerimaan pembangunan =25.8 trp
 Silahkan dikurskan dengan nilai 1US = berapa rupiah pun
2. Pengeluaran dalam mata uang asing = 52.2 trp, terdiri dari:
* Belanja pegawai luar negeri dan belanja barang luar negeri = 1.1 trp
* Bunga dan cicilan utang =32.1 trp
* Pengeluaran pembangunan (bantuan proyek saja)= 19.0 trp
 (Pembiayaan rupiah adalah pinjaman luar negeri yang dapat dibelanjakan
di
dalam negeri, sehingga bukan pengeluaran berupa mata uang asing. Bantuan
proyek adalah pinjaman luar negeri yang harus dibelanjakan di luar
negeri,
sehingga merupakan pengeluaran dalam bentuk mata uang asing)
 Silahkan dikurskan dengan nilai 1US = berapa rupiah pun, namun harus =
nilai kurs 1 di atas.

Jelas bahwa yang akan berubah adalah besaran nominalnya saja, tetapi
keseimbangannya akan -kurang lebih- tetap terjaga. Hal ini dikarenakan
nilai tukar mata uang US$ ke IDR (Indonesian Rupiah) yang akan terus
menerus berubah, sedangkan dalam suatu waktu jumlah penerimaan dengan
pengeluaran tidak bisa selalu sama besarnya. Masalah dengan perkiraan
1US$ = Rp.4,000 dalam RAPBN 98/99 adalah bahwa perkiraan itu diumumkan
pada saat nilai tukar mata uang yang sedang berlaku adalah
1US$=Rp.4,000.
Dengan demikian memberikan kesan terlalu optimistik, sehingga
menimbulkan
sentimen negatif di pasar uang. Sedangkan selama ini otoritas di IDN
(Indonesia) dinilai tidak memiliki visi terhadap masalah yang sedang
dihadapi dan langkah reformasi yang diperlukan untuk itu. (Misalnya
kasus
Bank Alfa, pembatalan penundaan proyek, dsbnya.) Optimistik yang disebut
berlebihan ini juga dianggap sebagai ketiadaan visi.

Masalah besar dengan pidato RAPBN, 6 Januari 1998 yang lalu adalah,
masih
belum nyatanya rencana kongkrit pemerintah dalam hal restrukturisasi dan
reformasi tatanan ekonomi dan keuangan. Seandainya pada saat pidato
pengantar juga diumumkan rincian rencananya (jadi bukan hanya komitmen
seperti yang terjadi) maka dapat dipastikan akan memberi akibat yang
positif. Misalnya hari itu juga diumumkan penerbitan Peraturan
Pemerintah
tentang kewajiban melakukan lelang bagi investor proyek jalan tol,
pencabutan monopoli pembelian cengkeh, pencabutan monopoli pembebasan
bea
masuk untuk mobil Timor, dan lain lain dan lain lain.

Apa boleh buat, dunia cuma sedaun kelor. Kita harus menerima akibat dari
ketidakmampuan kita menghadapi situasi dunia saat ini. (Silahkan baca
Wawancara dengan Laksamana Sukardi di Tempo Interaktif Edisi 2 Januari
1998, tentang perubahan paradigma dan jangan lupa baca artikel R.
William
Liddle di Kompas, 6 Januari 1998, halaman 4 berjudul Revolusi dari Luar,
teruatam tentang gagasan Thomas Friedman tentang 'globalution'. HARUS
DIBACA DAN SANGAT PERLU.