[INDONESIA-L] RUBRIK - Diskusi Agam (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Feb 21 1998 - 08:25:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Feb 21 12:16:07 1998
Date: Sat, 21 Feb 1998 10:12:04 -0700 (MST)
Message-Id: <199802211712.KAA24580@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] RUBRIK - Diskusi Agama
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Date: Tue, 17 Feb 1998 09:52:54 +0700
To: apakabar@clark.net
From: Hudoyo Hupudio <hudoyo@cbn.net.id>
Subject: Untuk Sdr. Mardi P. [was Re : Katholik lain ...]

[INDONESIA-L] RUBRIK - Diskusi Agama
apakabar@clark.net
Sun, 15 Feb 1998 12:58:37 -0700 (MST)
Subject: Diskusi Agama
From: Mardi Pangestu

Dari: Hudoyo Hupudio

>From: Mardi P.
>
>Saya mengerti bahwa anda, pada umumnya, berniat untuk mengambil hal-hal
>yang sama dalam bermacam-macam agama, dan menarik sesuatu yang positif
>dari kesamaan itu. Mungkin anda juga bermaksud untuk meredakan perselisihan
>di kalangan umat beragama.
----------------------
Betul.

>Sayangnya, tulisan-tulisan anda seringkali terasa dipaksakan, kalau tidak
>dicari-cari saja. Tidak jujur dan seadanya.
-------------------------
Bila Anda merasa tulisan saya "dipaksakan", itu adalah urusan Anda.
MILIS-SPIRITUAL yang saya dirikan dan moderasikan sejak Mei 1997 sampai
sekarang telah berhasil menghimpun 178 anggota; setiap orang bebas keluar
masuk tanpa merasa terpaksa.

Tulisan-tulisan saya mempunyai misi, bukan bebas nilai, bukan "seadanya".
Saya menghabiskan hampir seluruh waktu luang hidup saya untuk mencari titik
temu dari semua agama dan kepercayaan. (Re: Fritjhof Schuon, *The
Transcendental Unity of Religions*).

>Kadang-kadang saya sangsi kalau anda benar-benar bijaksana atau hanya mau
>sok bijaksana. Atau ada batu di balik udang yang lain?
------------------------
Terima kasih atas penilaian Anda. Saya sendiri juga sangsi kepada diri saya
sendiri koq... Sebaliknya, bagaimana dengan Anda sendiri? Bijaksanakah
Anda? ... Tentang "udang di balik batu", saya mencoba untuk terbuka
sebisa-bisanya kepada setiap orang yang berinteraksi dengan saya. Setiap
orang, kalau mau, bisa membaca isi hati saya seperti membaca buku yang
terbuka. Silakan menguji saya; nanti akan terbukti bahwa "tidak ada apa-apa
di balik batu."

>>Suatu minoritas -- terutama dari agama-agama yang bersifat evangelistik
>>[mencari umat: Kristen, Islam] -- biasanya memang dirasakan lebih agresif,
>>terutama para aktivisnya. Di Amerika Serikat juga setali tiga uang: kaum
>>Muslim yang minoritas juga agresif mempropagandakan Islam yang militan
>>[Muslim kulit hitam], begitu pula di sana Kristen yang fundamentalis dan
>>minoritas sangat agresif mencari umat di kalangan Kristen yang moderat.
>
>Tanggapan ini tidak jujur dan jauh dari berkenaan dengan isi tulisan Ali
>Baba di atas.
>
>Misi evangelistik dari beberapa gereja protestan, memang jauh berbeda
>dengan misi gereja Katolik maupun misi dari organisasi Islam. Yang harus
>dipertanyakan adalah: apakah ada salahnya orang ingin menyampaikan
>kepercayaannya kepada orang lain? Ini hak semua orang. Baik untuk isme
>agamiah ataupun isme yang lain.
---------------
Memang tidak ada salahnya. Yang salah adalah adabnya (etiketnya); dan
etiket itu situasional.

>Demikian juga dengan bentuk dan cara penyampaian isme tersebut.
>Tidak ada orang yang ditodong senjata. Kenapa musti gusar?
>Apakah ini bukan hanya menunjukkan ketidak-mengertian atas kebebasan
>berpendapat?
----------------
Siapa yang gusar? Kebebasan berpendapat pun ada etiketnya: etiket di A.S.
tidak bisa dipukul rata dengan etiket di Indonesia.

>Selama 16 tahun saya tinggal di AS, saya belum pernah mendengar tentang
>kesangat-agresifan Black Moslem maupun Kristen Fundamentalis. Benar mereka
>membentuk organisasi yang berbau politik dan melobby pemerintah, tapi
>apakah itu keagresifan yang dimaksud oleh Ali Baba? Benar mereka menyebarkan
>traktat dan pamphlet, benar mereka pidato sampai berbusa-busa di tempat
>umum, tapi itu dianggap sebagai penerapan hak mereka untuk berbicara bebas,
>bukan sebagai tindakan agresif.
----------------
Apa yang dianggap "tidak agresif" di Amerika, bisa menjadi "agresif" di
Indonesia.

Contoh keagresifan agama menurut kacamata Amerika sendiri adalah:
pemasangan bom di klinik-klinik aborsi, 'lynching' oleh KKK (kelompok
ultra-kanan Kristen kulit putih).

Contoh 'culture shock' yang dialami oleh seorang mahasiswa Muslim Indonesia
yang bersekolah di Amerika baru-baru ini muncul di MILIS-SPIRITUAL:

 .....
 Pada waktu aku ke Amerika, mulailah aku melihat Islam yang berbeda
 dengan apa yang kukenal selama ini. Sebelum para pelajar ditempatkan di
 Universitas yang diminati, mereka harus mengikuti program bahasa dulu
 selama beberapa bulan di Boulder Colorado. Disinilah aku melihat
 bagaimana proses pencekokan konsep-konsep Islam militan dalam
 pengajian-pengajian yang ada (aku tidak tahu lagi apa sekarang masih ada
 pengajian-pengajian bagi para pelajar yang baru datang ini).
 Ya Gusti Alloh, aku merasa ngeri sekali, ternyata ajaran yang kuterima
 berbeda dengan apa yang kupelajari selama ini.
 .....

Menurut Anda, Islam militan itu "tidak agresif", tapi bagi penulisnya itu
"agresif". Anda melihat agresivitas dari penggunaan kekerasan secara
lahiriah, menodong senjata dsb. Saya melihat agresivitas tidak perlu
terlahir sebagai kekerasan; agresivitas sudah dimulai dari dalam hati.
Sarkasme adalah salah satu bentuk agresivitas; begitu pula dengan sikap
'imposing', 'pestering', 'annoying'. 'Picketing' di depan pintu
klinik-klinik aborsi di A.S. saya nilai sudah bersifat 'agresif', sekalipun
orang Amerika sendiri menganggap itu wajar-wajar saja. [Note: Ini tidak
berarti saya setuju dengan aborsi!] Itu menurut saya; tata nilai saya yang
besar di Indonesia berbeda dengan tata nilai Anda yang besar di Amerika.

Di Hyde Park, London, orang bebas berpidato menghujat Tuhan sepuas hatinya;
tapi kalau itu Anda lakukan ala tukang obat di Pasar Senen (bukan di
internet), Anda akan ditangkap polisi atau dilempari batu oleh penonton.
Pengalaman Anda 16 tahun di A.S. tidak berlaku begitu saja di Indonesia.

Saya sendiri setahun saja sudah tidak betah di A.S.; untunglah saya bertemu
dengan kelompok Quakers yang saya ikuti kebaktiannya setiap Minggu
[sekalipun saya bukan Kristen], dan yang membuat saya betah sampai akhir
tugas saya di Amerika. Pada dasarnya tata nilai A.S. yang ada sekarang ini
tidak cocok dengan jiwa saya. Saya tidak melihat A.S. sebagai serba "wah";
tidak ada sesuatu yang 'hebat' di Amerika, kecuali kecanggihan
teknologinya. Warisan budayanya saja masih kalah jauh dari Eropa.
Demokrasinya, kebebasan berpendapatnya pun bukan sesuatu yang paling baik
untuk semua orang di dunia; apalagi kehidupan rohaninya sebagai bangsa:
kosong melompong. Justru saya melihat di sana suatu peradaban yang sakit
dan tinggal menunggu obat yang ampuh atau menunggu ajal. Lihat saja crime
rate, narkotik, divorce rate, violence, hukuman mati. (Sekalipun itu tidak
berarti bahwa saya melihat peradaban "Pancasila" sebagaimana dipraktekkan
di Indonesia pada zaman 'orde baru' ini sebagai peradaban yang sehat!)

>>>Mereka kadang-kadang coba memancing
>>>kami untuk debat. Saya pernah ditanya oleh seorang aktifis kristen
>>>"Kenapa sih koq dalam Islam yang akan disembelih oleh Ibrahim
>>>Ismail bukan Ishak ?"
>
>>Tanya saja kembali: "Kenapa sih koq dalam Kristen yang akan disembelih oleh
>>Ibrahim Ishak bukan Ismail?" ... Mana yang benar, hayo? ... Kan tergantung
>>pada iman masing-masing?
>
>Lagi-lagi anda mengecilkan perselisihan antar agama Kristen dan Islam.
----------------
Betul, justru saya _sengaja_ mengecilkan perselisihan antar agama Kristen
dan Islam: saya mencari titik-titik temu di antara keduanya, yang saya
hayati secara individual, dan kemudian saya ungkapkan -- bukan hanya di
internet -- melainkan juga dalam pergaulan saya sehari-hari di "darat".
Bagi saya, hal-hal yang menjadi perselisihan itu tidak esensial; yang
esensial justru persamaannya. Sekali lagi, tulisan-tulisan saya punya misi,
bukan bebas nilai atau "seadanya" sebagaimana Anda harapkan.

>Kalau sedemikian mudahnya meredakan adu-otot dua grup "gila" ini, kita
>tidak akan mendengar kekejaman-kekejaman mereka di seluruh antero dunia
>ini.
----------------
Siapa yang mengatakan mudah? Bung, saya sendiri sampai pada pemahaman dan
sikap sekarang ini melalui pergumulan batin sepanjang hidup lebih dari 50
tahun; dan saya tidak mengharapkan orang lain akan sampai pada pemahaman
saya dalam satu dua hari. Tetapi saya tidak akan berhenti
mengumandangkannya sampai akhir hayat saya. Begitu pula saya lihat
dilakukan oleh Nurcholis Madjid, Gus Dur, Alwi Shihab bertolak dari kubu
Islam; oleh para profesor John Cobb dari Hartford Seminary, Connecticut,
dengan ajaran "transformative theology"-nya dari kubu Kristen. Mungkin
semuanya itu baru akan terwujud 10 tahun lagi, atau 100 tahun lagi, dan
saya tidak akan pernah menikmatinya dalam hidup ini. :-( (Mungkin dalam
hidup yang akan datang.) Dan saya tidak akan pernah berhenti bicara.

Saya optimis, bung -- tidak sinis dan sarkastik seperti Anda. Dulu Katolik
dan Protestan saling menyembelih; sekarang, setelah sekian ratus tahun,
mereka menyerukan oikumenisme. Dulu Kristen Barat melihat Muhammad dan
Islam sebagai "setan". Sekarang semangat Orientalisme sudah lain sama
sekali. Sepuluh tahun lalu Nurcholis Majid diprotes banyak ulama ketika
bicara tentang pluralisme agama. Sekarang Alwi Shihab bicara tentang Islam
Inklusif tidak ada lagi yang protes. Memang pada dewasa ini keberagamaan
umat manusia pada umumnya masih berada dalam taraf "remaja", tapi saya
optimis suatu kelak nanti akan menjadi "dewasa". Dan saya merasa panggilan
hidup saya adalah ikut memacu semampu saya tumbuhnya "kedewasaan" dalam
beragama itu. Insya Allah ... Saya optimis, bung.

Saya tidak melihat umat Islam dan umat Kristen sebagai dua grup "gila".
Yang "gila" cuma _segelintir_ pemimpin dan aktivisnya saja [tidak semua].
Mayoritas mereka adalah orang baik-baik, yang hidup rukun dengan
tetangganya yang berlainan agama. Justru saya melihat orang-orang agnostik
_yang sarkastik_ sebagai orang-orang yang frustrasi; sekalipun banyak di
antara mereka yang betul-betul humanis dan tidak sarkastik. Macam Carl
Sagan, yang saya hormati karena kekonsistenan pemikirannya dan adab
penulisannya [bukan seperti Anda menulis], sekalipun titik tolak
pandangannya berbeda jauh dengan titik tolak pandangan saya. Membaca
tulisan Anda, Anda belum apa-apanya Carl Sagan.

>Bukankah persoalan sebenarnya adalah "ego yang kegedean"? Mereka berdalih
>membela Tuhannya masing-masing, tapi siapakah sebenarnya yang mereka bela?
----------------
Setuju -- ini terutama tampak dalam diri _segelintir_ pemimpin dan aktivis
agama [juga dalam diri aktivis anti-agama, free-thought, dsb!]. Makin
tinggi kedudukannya dalam 'establishment' agama yang mapan, makin kuat
'vested interest'-nya. ...

Tapi itu tidak semua. Bila yang bersangkutan meluangkan waktu untuk
melakukan kontemplasi yang jujur dan meditasi, akan tampak kebesaran
jiwanya -- contohnya: dulu Mahatma Gandhi, sekarang Dalai Lama ke-14.
Mereka tidak kalah dengan negarawan sekuler yang paling hebat mana pun
juga. Yang satu berhasil memerdekakan sebuah negeri raksasa tanpa
pertumpahan darah, dan yang lain berhasil merebut simpati seluruh dunia.

>>>Beberapa hari sebelum Romadhon kemarin, yayasan kami mengadakan
>>>penyebaran brosur untruk "kaum muslimin" dalam rangka menyambut
>>>datangnya bulan suci Romadhon. Penyebaran itu kami lakukan di
>>>pertokoan sekitar Depok. Diantaranya di Mall Depok. Penyebaran
>>>dilakukan oleh remaja-remaja SMU yang berjilbab.
>
>>Kegiatan adik-adik ini sangat bagus, dan tentu mendapat pahala yang besar
>>dari Allah swt.
>
>Darimana anda tahu bahwa Allah SWT memberi pahala yang besar? Apakah anda
>sudah berkonsultasi denganNya?
---------------
Kalau orang sudah terlatih mendengarkan suara hati nuraninya, dan
membiarkan setiap liku-liku hidupnya dipimpin oleh suara hati nuraninya,
maka ia akan sampai pada suatu keyakinan akan kebenaran suara hati
nuraninya sebagai kebenaran yang datang dari Tuhan -- keyakinan ini SAMA
KUATNYA seperti keyakinan orang beragama terhadap kebenaran kitab sucinya
sebagai kebenaran yang datang dari Tuhan. Nah, singkat kata: sejauh dalam
pengertian itu, memang benar, saya "sudah berkonsultasi denganNya", bung!

>Bagaimana perasaan orang-orang non-Muslim yang melihat aksi itu? Apakah tidak
>timbul dalam hati mereka rasa takut atau rasa-rasa negatif lainnya? Bagaimana
>Allah SWT bisa memberi pahala besar untuk tindakan yang, walaupun mungkin
>tidak disengaja, menimbulkan kecemasan?
----------------
Tergantung pada adab, cara bagaimana mereka menyampaikan pesan mereka,
sesuai dengan budaya tempat mereka berada. Bila para gadis berjilbab itu
mendatangi orang-orang di mal dan menanyakan apakah mereka Muslim, dan
kalau dijawab ya baru menyampaikan brosur mereka (itulah yang terbayang
oleh saya ketika membaca: "penyebaran brosur untuk "kaum muslimin" dalam
rangka menyambut datangnya bulan suci Romadhon"), saya rasa itu adalah adab
yang paling baik, dan saya yakin "pahala"-nya paling besar.

Demikian pula, jika orang Kristen yang mau menginjil di mal-mal atau dari
rumah ke rumah, menanyakan dulu dengan ramah bolehkah ia bercerita sedikit
tentang Yesus Kristus [dan kalau dijawab "tidak", tanpa merengek-rengek
lagi meninggalkan tempat itu], saya rasa tidak akan ada orang marah. ...
Tapi ini tidak; sering kali 'penginjil-penginjil' itu mendesak masuk ke
rumah, minta waktu; sekalipun sudah ditolak dengan halus, tetap ngotot.
Siapa tidak akan marah? Saya rasa di A.S. cara-cara yang bersifat
'imposing', 'annoying', 'pestering' juga dianggap tidak beradab.

>>>Yang mengejutkan
>>>adalah bersamaan dengan aktifitas itu ada juga aktifitas agama
>>>lain (entah Kristen atau Katholik) yang juga menyebarkan brosur
>>>bukan untuk orang kristen tetapi khusus untuk non kristen.
>>>Petugas kami, remaja berjilbab yang sedang menyebarkan brosur
>>>juga didatangi oleh missionaris kristen tsb.
>
>>Tidak usah terkejutlah, di mall memang orang bebas mau menyebarkan apa
>>saja: brosur agama kek, brosur politik, brosur iklan, koran, apa saja. ...
>
>>Tapi Anda juga berhak marah koq, kalau ada orang datang ke Anda tanpa
>>ba-bi-bu lantas mencoba meng-Kristen-kan Anda. ... Kalau perlu laporkan
>>saja ke Satpam.
>
>Ini jawaban yang sangat (sekali lagi: sangat) munafik. Coba konsultasi dulu
>dengan Tuhan anda. Baik itu yang SWT, YME, ataupun yang lain.
--------------
Terserah saja Anda mau bilang munafik kek. ... Saya bicara dari konteks
budaya yang hidup di Indonesia, bukan budaya Amerika. Dan tanpa Anda suruh,
saya sudah berkonsultasi dengan hati nurani saya setiap saat.

>Jangan-jangan kepada aktifitas inilah Tuhan memberikan pahala yang besar,
>bukan kepada remaja berjilbab.
---------------
O, Anda percaya Tuhan juga? Ataukah, ini pernyataan yang munafik juga?

>>>Ia diberikan brosur
>>>yang cetakannya jauh lebih baik daripada brosur kami.
>
>>Jangan minder dengan cetakan yang lebih jelek; yang penting kan isinya. ...
>
>Harus minder. Kenapa cetakannya tidak bisa sebagus itu? Kalau memang mau adu
>ego, sekalian saja, bukan? Walaupun kancah perangnya cuma di Depok saja.
------------------
Kenapa harus minder? Kalau orang berjiwa besar, ia tidak perlu uang banyak:
apa yang keluar dari hatinya jauh lebih berharga daripada gemerlapnya harta.

>>>Sambil diajak
>>>dialog. Diantara dialog itu adalah :
>>>"Yesus mengajak kita ke surga, janji Yesus pasti, sedangkan dengan
>>>Islam anda belum pasti masuk surga, masih 'insya Alloh' ..."
>
>>Jawab saja: "Maaf, iman saya berbeda dengan iman Anda. Anda percaya bahwa
>>surga bisa diperoleh dengan sekadar percaya kepada Yesus; saya percaya
>>bahwa surga hanya bisa diperoleh dengan percaya akan ridha Allah DAN
>>[sekali lagi: DAN] amalan soleh. Sekadar percaya saja baru setengah dari
>>iman; tidak ada gunanya percaya TANPA amal soleh. Sudah, main sana!" (Di
>>sini saya menyinggung kontroversi antara "penyelamatan oleh percaya" vs
>>"penyelamatan oleh karya", yang saya pikir kedua-duanya adalah berat
>>sebelah; bagi saya, penyelamatan akan tercapai dengan perpaduan keduanya.)
>
>Kalau saya: "Hai, orang Kristen goblog, dalam nama Yesus, enyahlah engkau
dari
>sini!". Mereka pasti akan pergi.
>
>Jawaban anda hanya akan mengundang perdebatan bodoh yang tidak ada habisnya.
-----------------
Saya tidak pernah melecehkan orang lain dan tidak pernah bersikap sinis dan
sarkastik kepada orang lain, jadi saya tidak akan menjawab seperti Anda.

Kalau orang Kristen itu datang kepada saya, saya masih berharap untuk
menjelaskan kepadanya bahwa iman saya berbeda dengan iman dia, dan saya
tidak mau iman saya diguncang-guncang oleh dia seperti saya pun tidak akan
mengguncang-guncang iman dia. Dan saya yakin itu tidak "akan mengundang
perdebatan bodoh yang tidak ada habisnya", karena saya tahu kapan harus
berhenti -- pengalaman saya berdebat di internet membuktikan. Sekarang ini
juga: saya tahu kapan harus berhenti.

>>>Kami mengajak kaum muslimin bersiap-siap menyambut Romadhon,
>>>Sementara Kaum Nasrani mengajak kami mengingkari agama kami ???
>
>>Masing-masing pihak merasa dan percaya bahwa perbuatannya itu baik dan
>>disuruh Allah. ... Yang penting bagaimana menghindarkan benturan.
>
>Nah, jelas di sini apa tujuan anda: menghindarkan benturan. Bukan untuk
menyatukan.
>Bukan untuk berbicara jujur. Bukan untuk mempedulikan hak-hak seseorang.

Menghindarkan benturan adalah yang paling minimal yang bisa dan harus
diupayakan oleh saya dan setiap orang. Tentang "menyatukan", tidak jelas
apa maksud Anda? Apanya yang mau disatukan: agamanya? Konsep Tuhannya?
Tentang "berbicara jujur", saya juga selalu berintrospeksi sepanjang waktu:
apakah saya jujur? (Terima kasih atas penilaian Anda; bagaimana dengan Anda
sendiri? Jujurkah Anda?) Tentang "mempedulikan hak-hak seseorang", kalau
yang Anda maksud "hak untuk menjejalkan pandangan sendiri ke muka orang
tanpa seizinnya, hak untuk 'imposing', 'pestering', dan 'annoying'", jelas
saya tolak.

>Ya tidak salah. Memang itu yang Indonesia sedang butuhkan sekarang.
-------------------
Tidak hanya dibutuhkan oleh Indonesia, tetapi oleh seluruh dunia. Kerusuhan
yang berdalih agama terjadi di mana-mana.

>Tapi dalam situasi normal, niatan anda ini cuma omong-kosong besar. Hanya
menambah
>satu lagi bentuk agama yang sama-sama ngawurnya dengan bentuk-bentuk yang ada
>sekarang ini.
-----------------
Ini tipikal ucapan seorang agnostik (kalau bukan ateis) yang _sinis dan
sarkastik_. (Note: Saya tidak mengatakan agnostisisme dan ateisme jelek
secara kategorikal; di atas saya memberikan kualifikasi, mana yang saya
anggap jelek. Yang menentukan jelek dan baik bukan apa pahamnya, melainkan
bagaimana sikapnya terhadap sesama manusia, khususnya terhadap sesama
manusia yang mempunyai paham berbeda!)

Yang menurut Anda "omong-kosong besar", ternyata mendapat sambutan positif
di internet. Justru omong besar Anda yang saya sangsikan apakah akan
mendapat sambutan baik pula di internet. (Cobalah bikin milis-agnostik
dalam bahasa Indonesia seperti MILIS-SPIRITUAL saya; saya ingin tahu berapa
banyak anggotanya sesudah 9 bulan. Bukankah itu seperti anjing menggonggong
kafilah berlalu?) Dan saya tidak tahu: apakah Anda berani bicara seperti di
atas di "darat", kepada masyarakat di Indonesia? Kalau tidak, nyali Anda
cuma sebatas internet!

>>Memang wajar kalau orang curiga pada orang dari agama lain yang menyusup
>>masuk ke kalangan agama sendiri, tanpa jelas-jelas menyatakan identitas
>>agamanya; bisa dituduh macam-macam. ...
>
>Ini omongan bau horse manure. Membenarkan xenophobia dan mengharamkan
>kebebasan berpendapat.
-----------
Apakah tulisan-tulisan Anda sendiri bersih dari "bau horse manure"?

Kecurigaan terhadap "orang asing" adalah fenomena sosial yang wajar --
sekalipun saya sendiri berupaya untuk menghilangkannya dalam diri saya dan
kalau bisa dalam diri orang lain. ... Mengapa tulisan saya di atas hanya
Anda baca sepotong, lalu Anda simpulkan dengan prejudis? Kalau Anda baca
lanjutan paragraf itu, Anda akan melihat jelas bahwa saya justru berupaya
untuk mengurangi kecurigaan itu ... Anda akan bisa melihatnya kalau saja
mata Anda tidak tertutup seperti kuda kereta oleh prejudis anti-agama.

>Agama anda adalah agama yang penuh dengan ketakutan
>dan ketidak-percayaan.
---------------
Bung, saya tidak menganut agama apa pun! Dan kalau saya takut atau tidak
percaya diri, saya tidak akan berani tampil dengan pandangan saya sepeti
ini -- bukan hanya di internet -- tetapi juga di kantor, di lingkungan
pergaulan saya di mana saja. Saya tidak tahu berapa banyak orang di
Indonesia ini yang berani menyatakan terang-terangan di "darat": tidak
menganut salah satu agama (Mungkin para aktivis aliran kepercayaan?) ...
Saya jadi bertanya-tanya: begitu mudahkan Anda menilai orang lain? Yang
ternyata hanya diwarnai oleh presumsi-presumsi Anda sendiri, dan jauh dari
kenyataan? ... Sebaiknya tanyakan dulu kepada yang bersangkutan
sedalam-dalamnya sebelum mengambil kesimpulan tentang orang lain.
Pernyataan Anda itu hanya menunjukkan keangkuhan dan kepongahan Anda
sendiri, yang dibangun atas pandangan-dunia dan percaya-diri yang
sebetulnya rapuh dan keropos.

>>Orang berpindah agama itu adalah haknya, yang secara tersirat diakui dalam
>>undang-undang dasar negeri ini. [Saya sendiri juga sering "pindah agama":
>>dari Islam "KTP" ke Buddha ke Krishnamurti ke Sai Baba dan sekarang saya
>>lepaskan semua ...]
>
>Anda lepaskan semua untuk membentuk agama baru yang sama-sama kosongnya.
>Mungkin karena anda sendiri tidak yakin bentuk agama apa yang anda mau
>ikuti. Apakah anda punya setitik pendirian?
-------------
Bung, setitik pun saya tidak punya pikiran untuk menjadi pemimpin agama
baru. Selama ini saya bicara di internet dan di 'darat' sekadar dengan
harapan untuk menimbulkan resonansi atau gaung dalam diri pengikut
agama-agama yang ada tanpa harus melepaskan agama mereka seperti yang sudah
saya lakukan.

Tentang "agama itu kosong", kalau Anda puas dengan positivisme Anda dan
Anda berbahagia di situ sampai akhir hayat Anda, apa boleh buat; silakan
saja. Bagi saya, sumber agama adalah sesuatu yang riil dan transenden, yang
justru jauh lebih riil daripada segala yang dapat Anda lihat dan ukur
dengan positivisme Anda. Tapi hal yang transenden itu _tidak dapat Anda
lihat_, dan oleh karena itu lalu Anda lecehkan dengan menyebutnya "kosong".
Biasalah; justru ini xenophobia yang segamblang-gamblangnya! ... Ya,
sudahlah, apa boleh buat. (Ngomong-ngomong, tanpa Anda sadari Anda mengutip
salah satu prinsip pandangan-dunia Buddhis: segala sesuatu yang ada ini
"kosong" [sunya], termasuk segala sesuatu yang menurut positivisme "berisi".)

Tidak dapatkah Anda melihat pendirian saya dalam tulisan-tulisan saya?
Apakah yang ada di benak Anda hanya alternatif antara: agama eksklusif,
agama baru eksklusif, freethought, agnostisisme dan ateisme? Tidak adakah
alternatif yang lain di luar itu? Sempit dan picik sekali dunia Anda!
Perlukah saya muat kembali tulisan saya yang secara eksplisit mengemukakan
pendirian saya? Kalau Anda belum membacanya, ini dia:

 Subject: Re: Ibu Teresa vs. biksu Buddhis

 Sdr. H. yg baik,

 Pendapat saya pribadi adalah sbb:

 Berangkat dari keyakinan saya bahwa SEMUA agama dan kepercayaan pada
 hakikatnya mempunyai keabsahan dan kesetaraan dalam hal dapat mengantarkan
 pemeluknya [yang ikhlas berserah diri kepada Allah menurut keyakinan
 masing-masing] sampai ke hadirat Yang Tertinggi, maka saya percaya bahwa
 Ibu Teresa dan biksu Buddhis itu keduanya sama-sama dekat kepada Allah
 [sejauh intensitas tindakan kasih serta penyangkalan diri keduanya sama].
 Menurut saya, dalam soal Allah ini, yang penting bukanlah apa yang ada di
 dalam kepala, melainkan apa yang ada di dalam hati: isi kepala boleh
 berbeda, asal isi hati tetap sama.

 Demikianlah, Sdr. H., pendapat saya. Mungkin Anda mempunyai pendapat
 berbeda? ... Silakan saja; saya menghormati pendapat Anda.

 Salam,
 Hudoyo

Kalau dengan ungkapan pendirian saya itu Anda masih bertanya "apakah saya
tidak punya setitik pendirian," saya tidak tahu lagi musti bilang apa
kepada Anda. ...

>>Tapi saya paling tidak setuju kalau orang sudah
>>berpindah agama, lantas menjelek-jelekkan agamanya yang dulu.
>
>Kalau memang jelek, apa salahnya ngomong jujur?
-----------------
"Ngomong jujur" di Amerika bisa diterima sebagai "kekurangajaraan" di
Indonesia.

>>Ini salah
>>satu sumber ketegangan antaragama.
>
>Hanya di antara orang-orang yang kegedean ego atau yang tidak berpendirian
>seperti anda.
----------------
Karena setiap orang pada umumnya punya ego, besar atau kecil -- termasuk
Anda yang saya lihat sangat besar egonya -- maka sumber ketegangan
antaragama itu menjadi fenomena sosial. Di Indonesia bisa menjadi
bakar-membakar tempat ibadah; di Amerika bisa berupa keributan soal aborsi,
'lynching' dsb.

Tentang pendirian saya, lihat di atas; tidak perlu diulangi lagi.

>>Orang berpindah agama biasanya karena
>>alasan-alasan yang sangat pribadi: alasan itu bisa sepele [karena mau
>>kawin, misalnya, atau karena lapar], atau bisa menyentuh keyakinannya yang
>>paling dalam.
>
>Anda pindah-pindah karena alasan apa? Cewek, keselamatan-diri, atau ego?
------------
Saya pindah-pindah -- dan sekarang melepaskan semua -- karena mencari apa
yang saya anggap paling benar. Jadi betul juga kata Anda: karena ego saya,
sama seperti ego Anda yang membawa Anda sampai pada pandangan-dunia dan
sikap Anda sekarang.

>>Oleh karena itu ia tidak berhak menjelek-jelekkan agamanya
>
>Siapa yang menentukan orang punya hak apa? Jelas bukan anda.
------------
Apalagi jelas bukan Anda -- yang berpikir ala Amerika -- untuk menentukan
apa yang baik untuk masyarakat di Indonesia. Masyarakat setempatlah yang
menentukan apa etiket yang berlaku di tempat masyarakat itu berada -- dan
itu terbentuk melalui kontrak sosial.

------------
Sampai di sini saya selalu bersikap reaktif. Kali ini saya mau proaktif
sedikit:

Saya bertanya-tanya: kenapa Anda begitu emosional, agresif, dan sarkastik
[untuk ukuran saya di Indonesia] menanggapi tulisan saya? Biasanya orang
[atau hewan apa pun] menjadi agresif dan menyerang kalau dia merasa cemas
atau terancam. Apakah Anda merasa terancam dengan tulisan-tulisan saya?
Apakah tulisan-tulisan saya mengguncang keangkuhan dan 'complacency' Anda,
yang seperti katak dalam tempurung pandangan-dunia Anda yang Anda rasakan
paling benar mengatasi semua agama di dunia? -- (Nah, pertanyaan itu saya
tujukan pula kepada diri saya sendiri: kenapa saya begitu reaktif terhadap
tanggapan Anda? ... Ini bahan renungan yang baik buat saya. Terima kasih
kepada Anda yang telah mencetuskannya.)

> Mardi P.

Hudoyo H.

(PS: Kepada para pembaca Indonesia-l, sci, aci dan MILIS-SPIRITUAL -- juga
kepada Sdr. Mardi Pangestu -- saya minta maaf karena tulisan saya kali ini
penuh dengan 'flamings'; tidak seperti biasanya yang saya lakukan. Sampai
jumpa malam Sabtu depan, karena saya harus bertugas keluar kota./Hudoyo)