[INDONESIA-L] Wiranto, Prabowo & Pa

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Feb 28 1998 - 13:23:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Feb 28 17:21:50 1998
Date: Sat, 28 Feb 1998 15:21:21 -0700 (MST)
Message-Id: <199802282221.PAA26769@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Wiranto, Prabowo & Para Letkol
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

To: "'Apa kabar Indonesia-L, John Mc Dougal'" <apakabar@clark.net>
Subject: Wiranto, Prabowo & Para Letkol
Date: Fri, 27 Feb 1998

Prospek Konflik Pasca-S.U.-M.P.R:
Wiranto, Prabowo dan para Letkol

oleh Ben Soeparman di Singapura

Pengantar Redaksi:

ABRI di bawah Pangab (lama) Jendral Feisal Tanjung dikenal sebagai rezim
ABRI paling jinak (docile) sepanjang zaman. Kerjanya nuruuut terus kepada
Pangti Jendral pur. Soeharto. Maka tak perlu mengherankan, ABRI-nya Feisal
betul betul menjadi "Satpam-nya P residen Soeharto". Meski begitu Soeharto
toh curiga dan licik. Baru minggu terakhir menjelang SU MPR, Soeharto
mencopoti rezim Feisal dan menggantikannya dengan rezim Wiranto/Prabowo.
Begitu sing-kat waktu peralihan (bahkan baru Pangab yang diganti, sedan g
Pangkostrad dan Dan Kopassus baru diganti setelah SU MPR) sehingga orang
orang baru tidak sempat menyusun gerak gerik untuk mencubit dan mendongkel
Soeharto-Habibie. Jadi SU MPR boleh diduga bakal lancar, tetapi jangan
kira Soeharto-Habibie bakal mulus teruus. Nah di sini lah analisa berikut
yang disusun oleh Ben Soeparman dari Singapura, dengan gaya ala
Ben-Andersonian, mencoba melayangkan pandangan menerobos ke depan.

Titik tolak dalam mengamati gerak-gerik militer adalah sifat organisasinya
yang top-down. Karena sifat itu maka untuk bisa menguasai militer
dibutuhkan semacam klik atau kelompok inti yang anggotanya cukup 15 orang
saja. Saat ini ada dua klik dalam Angkat an Darat: kelompok Wiranto yang
ingin reformasi atau perubahan yang bertahap, pelan-pelan, dan kelompok
Prabowo yang juga berbicara ingin melaksanakan perubahan, tetapi di balik
itu Prabowo tetap bertekad melindungi kepentingan Keluarga besar Cendana.
Mes ti kita ingat, Keluarga Cendana paling kaya sedunia. Tidak
mengherankan kalau Kelompok Prabowo memiliki dana yang tidak terbatas!

Kedua kelompok ini aktif sekali mencari dukungan sipil untuk memperkuat
posisi mereka dalam pertarungan kekuasaan internal Angkatan Darat ini.
Prabowo bertandang ke mana-mana dan mengundang orang-orang untuk
mendengarkan pembicaraannya. Begitu juga Susil o Bambang Yudhoyono yang
dianggap sebagai juru bicara Kelompok Wiranto. Seperti Prabowo, Bambang
juga menyatakan ingin berbicara dengan semua orang yang bersedia bertemu
dengannya.

Ada sembilan jabatan paling penting di lingkungan Angkatan Darat. Mutasi
paling akhir adalah sebagai berikut:

1. PANGAB (Wiranto, Akabri 69)
2. KSAD (Subagyo, 70)
3. PANGKOSTRAD (Prabowo, 74)
4. DANJEN KOPASSUS (Muchdi, 70)
5. PANGDAM JAYA (Sjafrie Syamsudin, 74)
6. KASUM (Fachrul Razi, 70)
7. KASSOSPOL (Susilo Bambang Yudhoyono, 73)
8. PANGLIMA DIVISI-1 KOSTRAD (?, markasnya di Jakarta)
9. KEPALA BIA (Zacky Anwar Makarim, 71)

Jenderal Jenderal

Kelompok Wiranto (Pangab) dan Susilo Bambang Yudhoyono (Kassospol) akan
menguasai Mabes ABRI di Cilangkap. Sedangkan kelompok Prabowo (Subagyo,
Prabowo, Muchdi, Sjafrie dan Zacky) akan menguasai Mabes Angkatan Darat di
Merdeka Barat. Selain jabatan di Mab es ABRI dan Mabes Angkatan Darat itu
posisi paling penting adalah Pangdam di Jawa: Siliwangi, Diponegoro dan
Brawijaya. Sekarang ini, ketiga Pangdam itu dianggap termasuk kelompoknya
Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Pangdam-pangdam di luar Jawa tidak
menentukan kalau terjadi perebutan kekuasaan di Jakarta.

Dengan komposisi sekarang Kelompok Prabowo menguasai Jakarta dan
sekitarnya. Sedangkan Kelompok Wiranto berpengaruh di luar Jawa. Kondisi
seperti ini menguntungkan Suharto karena tidak ada satu kelompokpun yang
cukup kuat untuk bisa memaksakan Supersemar versi 1998. Kemungkinan kudeta
versi Jawa itu bisa diperkecil. Kelompok Prabowo bisa menguasai Jakarta.
Tapi lalu bisa apa kalau daerah di luar Jakarta kemudian bergolak?
Kelompok Wiranto tidak menguasai Jakarta. Padahal Supersemar hanya mungkin
kalau mer eka dapat persetujuan militer di Jakarta. Tanpa itu tidak
mungkin!

Yang belum bisa dipastikan adalah posisi Sugiyono, bekas Pangkostrad yang
sekarang dijadikan Wakasad, dan Sjafrie Syamsudin, Pangdam Jaya. Dengan
mengangkat Subagyo menjadi KSAD, berarti Sugiyono yang semestinya
menduduki jabatan ini (kalau melihat karir Suharto, Wismoyo, dan Wiranto
sendiri yang semuanya naik dari Pangkostrad langsung menjadi KSAD) tidak
sepenuhnya dipercaya oleh Soeharto. Sugiyono pernah menjadi ajudan Suharto
(1993-95) setelah Wiranto (1989-93). Bisa dipertanyakan, cukup lamakah
jabata n ajudan 2,5 tahun itu? Ternyata tidak, karena Sugiyono tidak
diangkat sehingga bisa dianggap cukup menjamin dia bakalan setia.
Sedangkan Wiranto, yang jadi ajudan hampir 5 tahun, itu dianggap cukup
setia pada Suharto. Mungkin kesetiaan Sugiyono sedang d iuji oleh Suharto?
Dengan mengangkat Sugiyono sebagai Wakasad, mungkin itu berarti dia
ditugaskan oleh Suharto sendiri untuk memata-matai gerak-gerik kelompok
Prabowo. Seperti halnya waktu Wiranto jadi Kasad maka Subagyo (sebagai
Wakasad) yang disuruh mem ata-matai Kelompok Wiranto. Atau waktu Hartono
jadi Kasad mata-matanya Suharto adalah FX Sujasmin.

Syafrie adalah lulusan terbaik Akabri angkatan-74 yang karirnya paling
cepat menanjak disamping Prabowo, teman seangkatan dia. Sjafrie sangat
dipercaya Suharto karena pernah jadi Danrem di Bogor, lalu jadi
Paswalpres, atau bodyguard, termasuk dalam perjal anan ke Jerman. Syafrie
dikenal dekat secara pribadi dengan Suharto. Mungkin loyalitas Sjafrie ini
langsung ke Suharto sendiri, bukan ke Prabowo. Jadi kalau Suharto 'pergi'
bisa jadi Sjafrie akan ganti posisi.

Sejarah naiknya Suharto tahun 65-66: setelah menumpas G-30-S, sebagai
Pangkostrad dia menggerakkan RPKAD (sekarang Kopassus) dan
Batalyon-batalyon Kostrad untuk menguasai Jakarta. Setelah menguasai
Jakarta dia membunuh ratusan ribu orang-orang PKI di Jate ng, Jatim, Bali
dan Sumut,mulai akhir Oktober sampai Desember 1965. Dia hancurkan kekuatan
yang mendukung Bung Karno. Setelah mengadakan pembunuhan itu tgl 10
Januari 1966 Suharto bikin Tritura lalu menggerakkan KAMI, KAPI, KAPPI,
dsb. Artinya dia mulai k onfrontasi langsung melawan Bung Karno. Sementara
itu secara berangsur-angsur dia menempatkan orang-orang yang lebih dekat
dengan dia di Kodam-kodam di Jawa sambil menggeser orang-orang yang setia
pada Bung Karno.

Dua jenderal dipakai untuk mengepung istana tgl 11 Maret: Kemal Idris
(Pangkostrad) dan Sarwo Edhie Wibowo (Dan Kopassus). Tiga jenderal yang
diutus Suharto ke Bogor untuk mendapat Supersemar (11 Maret 1966): Amir
Machmud (Pangdam Jaya), Basuki Rachmat (P angdam Brawijaya) dan Yusuf
(jenderal luar Jawa). Kemudian Suharto, sebagai pengemban Supersemar,
mengganti semua Pangdam Jawa, yang sedikit banyak toh masih mendukung
Sukarno, dengan jenderal-jenderal yang masuk kelompoknya: Ibrahim Adjie
dari Siliwangi diganti Dharsono, Suryo Sumpeno dari Diponegoro diganti
Surono, Pangdam Brawijaya diganti Sumitro. Setelah menguasai Jawa baru
Suharto berani jadi presiden.

Ada kemungkinan Kelompok Prabowo akan menjalankan strategi seperti itu.
Subagyo yang cukup senior (angkatan 70) akan membuka jalan untuk menaikkan
Kelompok Prabowo (angkatan 74 dan yang lebih muda) dengan mengganti
pangdam-pangdam di Jawa. Tapi ini sukar terjadi tanpa bentrokan intern
yang keras. Hanya kalau Pangab dan KSAD kompak maka pergantian pangdam
bisa lancar. Pangti (Panglima Tertinggi), yaitu Suharto, bisa ikut campur.
Tapi ini bisa bikin banyak jenderal sakit hati. Jaman Benny Murdani
(Pangab) d an Try Sutrisno (Kasad) begitu juga pada jaman Try (Pangab) dan
Edi Sudradjat (Kasad) itu pergantian lancar. Karena Pangab dan Kasad
pikirannya sama, mereka mengangkat orang-orang yang se-ide. Jaman Feisal
(Pangab) dan Wismoyo (Kasad) dan juga Hartono (Ka sad pengganti Wismoyo)
mutasi nggak lancar.

Para Letkol

Ada kemungkinan dinamika yang sama sekali berbeda akan muncul dari
kelompok perwira menengah yang sekarang Letkol dan Kolonel (Akabri
angkatan 76, 77 dan 78). Para Letkol ini sekarang menjadi Dan Yon (atau
Dandim di Kodam) dan yang Kolonel menjadi Dan Bri gif (atau Danrem). Umur
mereka awal 40-an. Ini umur yang berbahaya karena masih berani ambil
risiko dan punya pasukan yang mereka pimpin langsung. Dalam G-30-S tahun
1965 kita tahu komandannya, Letkol Untung, adalah Dan Yon-1 Cakrabirawa
dan orang keduany a adalah Kolonel Latief, Dan Brigif-1 Jaya. Yang
menyediakan Halim sebagai markas G-30-S adalah Mayor Suyono, Komandan
Pangkalan Halim. Yang masuk dalam gang Untung hampir semua pangkatnya
Kolonel, Letkol atau Mayor di Kodam Diponegoro.

Ini data lulusan Akabri menurut angkatannya: 1970 (437 orang), 71 (329),
72 (389), 73 (436), 74 (434), 75 (304), 76 (85), 77 (79), 78 (93) (Jurnal
Indonesia terbitan Cornell University No 63, April 1997). Sejak 1976,
jumlah lulusan Akabri itu cuma 85 oran g. Dalam situasi normal, ekonomi
lancar, dsb, kelompok perwira lulusan 76, 77 dan 78 itu akan menunggu
dengan sabar. Hampir semua pasti bisa jadi jenderal (artinya Brigjen ke
atas) di KODAM. Karena ada 10 kodam di Indonesia, setiap Kodam dipimpin
Mayjen dan butuh 4-5 Brigjen). Atau jadi jenderal di KOSTRAD yang punya
dua divisi (Divisi-1 di Jakarta dan Divisi-2 di Malang), setiap divisi
dipimpin Mayjen, dan butuh sekitar 4-5 Brigjen sebagai stafnya. Sebagian
bisa naik terus jadi Letjen di Mabes ABRI atau Mabes Angkatan Darat.

Jadi para lulusan Akabri setelah 1976 itu nggak usah 'mecem-macem' untuk
bisa jadi jenderal. Beda dengan senior-seniornya yang satu angkatan 400
orang. Kalau nggak macem-macem lulusan setelah 76 itu 5-6 tahun mendatang
pasti jadi jenderal. Setelah itu bis a hidup enak dengan program kekaryaan
Angkatan Darat yang punya banyak yayasan. Keluarga terjamin, rumah bagus,
anak bisa sekolah di luar negeri, dsb. Tapi akibat krisis ekonomi ini
situasinya jadi berubah sama sekali! Sekarang kelompok perwira menengah
itu umumnya belum sempet kaya, walaupun masing-masing sudah punya
cukongnya sendiri. Karena itu mereka masih merasakan penderitaan rakyat di
kalangan bawah. Kalau istrinya, anak-anaknya, saudaranya, atau orang
tuanya men geluh sembako, para perwira menengah ini masih bisa bersimpati,
dan merasakan kesedihan. Mereka juga belum sempat jadi ajudan Suharto,
belum sempat dilatih setia pada Keluarga Cendana.

Kalau keresahan akibat krisis ekonomi ini berlangsung beberapa minggu, ada
kemungkinan para perwira menengah ini akan bergerak sendiri, secara
independen, dan ini sangat membahayakan elite Angkatan Darat (contoh lain
selain G-30-S adalah pembangkangan par a kolonel luar Jawa dalam PRRI/
Permesta tahun 1958). Kemungkinan lain: mereka akan mendesak Kelompok
Wiranto untuk memimpin perubahan. Kalau sebelum krisis ekonomi ini mereka
bisa sabar menunggu 5-6 tahun lagi, maka setelah krisis terjadi, "Menunggu
5-6 tahun" belum tentu strategi yang baik untuk kepentingan mereka
sendiri.

Beda dengan gerak-gerik para jenderal (Kelompok Wiranto maupun Kelompok
Prabowo), apa yang dipikirkan oleh para Letkol dan Kolonel itu sukar
sekali ditebak. Sukar juga ditebak oleh komandannya. Yang pasti, diem-diem
mereka ngomong-ngomong dengan sesamanya . Topiknya bukan Sapta Marga,
tetapi "Gimana nasib kita?"

Singkat kata, dari sudut militer, situasi sekarang ini sangat kritis. Para
jenderal, baik kelompok Wiranto maupun kelompok Prabowo nggak bisa bikin
kudeta gaya Jawa ("Dapat surat perintah" dan "Mikul dhuwur mendhem jero").
Karena Wiranto menguasai Jawa se dangkan Prabowo menguasai Jakarta.
Sedangkan para Letkol dan Kolonel, yang betul-betul memimpin pasukan di
lapangan, bakal marah, mungkin akan bergerak sendiri kalau
jenderal-jenderalnya loyo.

Untung Yang Sial

Kalau Letkol Untung masih hidup, ini sepele saja. Jenderal-jenderal yang
loyo itu dia cemplungin ke sumur saja. Salahnya dia terlalu percaya
Suharto, bekas komandannya di Diponegoro yang tahun 1965 jadi Pangkostrad.
Dia laporkan semua rencana G-30-S ke Su harto. Bahkan sampai detik
terakhir, waktu jenderal-jenderal Mabes itu sedang diculik, Suharto
mendapat briefing langsung dari Kolonel Latief, wakil Komandan G-30-S.
Latief dekat dengan Suharto sejak revolusi, mereka sama-sama ngerjain
Serangan Umum di Yo gyakarta. Baik Latief maupun Untung pikir Suharto
berada dipihaknya. Eee, ternyata.....! ***