[INDONESIA-L] TI - Prof. Dr. Emil S

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Mar 03 1998 - 13:45:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Mar 3 17:43:24 1998
Date: Tue, 3 Mar 1998 15:35:38 -0700 (MST)
Message-Id: <199803032235.PAA06042@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] TI - Prof. Dr. Emil Salim
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

   [Image] Edisi 52/02 - 28/Feb/1998
                                                        Analisa & Peristiwa
----------------------------------------------------------------------------
                                  [Iklan]

----------------------------------------------------------------------------

     Prof.Dr. Emil Salim:
     "Bukan untuk Mengejar Kursi"

     ------------------------------------------------------------------
       [Prof. Dr. Emil Salim]

     Lahir : Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930
     Agama : Islam
     Pendidikan : * SD, SMP, Palembang
                            * SMA, Bogor
                            * Fakultas Ekonomi UI, Jakarta
                            * Universitas California, Berkeley, AS (Doktor,
                              1964)

      Karya Tulis :
         * Collection of Writings 1969-1971,
           Secretariat of Bappenas, 1971
         * Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, Idayu, 1974
         * Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Mutiara, 1981

      Karir :
         * Ketua IPPI Wilayah Sumatera Selatan dan
           Ketua Tentara Pelajar di Palembang (1946-1949)
         * Ketua IPPI Cabang Bogor dan anggota
           Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1949-1950)
         * Asisten Dosen FE UI
         * Dosen, dan selanjutnya guru besar FE UI
         * Anggota Tim Penasehat Presiden (1966)
         * Anggota DPR GR
         * Anggota Tim Penasehat Menteri Tenaga Kerja (1967-1968)
         * Ketua Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969)
         * Dosen Seskoad, Bandung
         * Dosen Seskoal, Jakarta
         * Wakil Ketua Bappenas
         * Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara,
           merangkap Ketua Bappenas (1971-1973)
         * Menteri Perhubungan,
           Kabinet Pembangunan II (1973-1978)
         * Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup,
           Kabinet Pembangunan III (1978-1983)
         * Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup,
           Kabinet Pembangunan IV dan V (1983-1988, 1988-1993)

      Penghargaan :
         * Bintang Mahaputra Adipradana (1973)
         * Satya Lencana Pembangunan (1982)

      Alamat Kantor :
           Yayasan Kehati
           Gedung Patra Jasa
           Jl.Gatot Subroto - Jakarta
           Telp. (021) 5228031-32
           Fax. (021) 5228033

      Alamat Rumah :
           Jl. Taman Patra XIV
           Blok M XIII, Kav. 10 - 11
           Kuningan Timur - Jakarta 12950
           Telp. (021) 5264062
           Fax. (021) 5264063

      E-Mail :
           esalim@rad.net.id
           madani@iname.com

     Nama Emil Salim, putra Minang kelahiran Lahat, ini tiba-tiba
     muncul sebagai calon wapres. Mantan menteri yang duduk di kabinet
     tak kurang dari 22 tahun itu, didukung oleh sejumlah tokoh penting
     Republik Indonesia. Mulanya tercatat 180 orang dari berbagai
     kalangan, yang ikut menandatangani pernyataan dukungan pencalonan
     yang dikoordinasikan oleh Gema Madani itu. Angka itu kemudian
     terus berkembang. Dikabarkan pendukungnya kini mencapai 10 ribu
     orang.

     Di antara pendukung Emil ada Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo,
     Prof. Dr. Subroto, Dr. Arifin Siregar, Dr. Nurcholish Madjid,
     Prof. Dr. Moh Sadli, Prof. Dr. Saparinah Sadli, Ny. Nelly Adam
     Malik, Ny. Rahmi Hatta, Ny. Ratmini Soedjatmoko, dan sejumlah nama
     lainnya termasuk anggota DPR/MPR Indra Bambang Utoyo dari Golkar.

     Pernyataan pencalonan itu pun telah disampaikan ke salah satu
     fraksi di MPR, yakni Fraksi Utusan Daerah, Senin (16/2) lalu.

     Agus Purnomo, juru bicara Emil Salim mengatakan bahwa Emil paling
     tepat untuk menduduki posisi wapres di Republik ini. Karena, Emil
     adalah orang yang jujur, mempunyai integritas, keimanan tinggi,
     dan reputasi yang bersih dari korupsi dan kolusi. "Sebab itu, kami
     ingin mengusulkan kepada Fraksi Utusan Daerah agar memasukkan nama
     Prof. Dr Emil Salim sebagai calon wapres," katanya seperti dikutip
     Kompas (17/2) lalu.

     Apa katanya terhadap pencalonan tersebut? "Langkah ini diambil
     semata-mata bukan hendak melawan arus atau mencari kedudukan,
     melainkan mencoba menumbuhkan ide dan gagasan agar rakyat juga
     mampu berbicara lima tahun sekali dalam forum MPR," ujarnya lagi.

     Ia juga menekankan, bahwa pihaknya tidak untuk mengembangkan
     ideologi baru dan garis politik baru. "Kita hanya ingin
     mengembangkan apa yang telah dicanangkan oleh para bapak pendiri
     bangsa yang kemudian tercermin dalam UUD 45," tegas Emil.

     Emil tampaknya juga sangat konsisten dengan pencalonan itu.
     Meskipun seluruh fraksi di MPR telah mencalonkan BJ Habibie
     sebagai wapres, ia tetap tidak patah semangat. "Bagi saya, yang
     penting bukan mengejar kursinya. Yang penting adalah pendidikan
     politik. Sekali dalam lima tahun, MPR sebagai lembaga perwakilan
     tertinggi negara bersidang di republik ini. Maka pada kesempatan
     itu pula rakyat berhak mengungkapkan aspirasinya pada MPR," kata
     Emil menjawab pertanyaan wartawan di ruang rapat Gubernur
     Kalimantan Timur, Samarinda. (Kompas, 19/2).

     Pencalonan ini tentu adalah sebuah sikap berani. Buktinya, Emil
     tidak bergeming ketika seluruh fraksi mencalonkan Habibie. Bahkan
     ia menyebutkan, bahwa pencalonan Habibie itu adalah di luar forum
     MPR. Dengan demikian, di forum MPR ia masih punya kesempatan untuk
     itu. Apalagi "berkas" pencalonannya sudah diserahkan kepada Fraksi
     Utusan Daerah. Karena itu ia tetap akan mengajukan dirinya sebagai
     calon wapres.

     Tentu saja Emil tidak berharap banyak dengan pencalonanya. Karena
     ending dari "drama" SU MPR telah diketahui. Bahkan ia mungkin
     tidak dicalonkan sama sekali oleh fraksi di MPR. Oleh sebab itu,
     pencalonannya sendiri semata-mata adalah moral force (gerakan
     moral), bukan agenda politik untuk merebut kekuasaan. "Ini adalah
     pendidikan politik," katanya seperti dikutip Media Indonesia edisi
     Rabu (25/2) lalu.

     Bagaimana mulanya pencalonan Emil itu? Seperti ditulis majalah
     Forum edisi 9 Maret 1998, suatu kali ia dihubungi oleh seorang
     tokoh Golkar, yang menanyakan kesediannya dicalonkan sebagai calon
     wapres. "Saya katakan kalau Golkar mengusulkan, sulit saya
     menolak," katanya sebagaimana dikutip Forum.

     Tapi setelah itu, tokoh itu tak pernah menghubunginya lagi. Tapi,
     belakangan namanya disebut-sebut media massa sebagai salah satu
     calon wapres. Saat itu Emil tidak terlalu serius menanggapinya. Ia
     paham benar bahwa dirinya sulit untuk maju lebih jauh. Katanya, ia
     tidak punya kekuatan politik maupun dana untuk "bermain". Soalnya,
     yang mencalonkan dirinya itu bukanlah kalangan elit.

     Beberapa waktu lalu, ia kembali didatangi oleh sejumlah kalangan,
     yang meminta kesediannya menjadi calon wakil presiden. Permintaan
     itu bukan main-main tentunya. Orang-orang yang mendatanginya itu
     meminta Emil untuk merespon hal itu secara sungguh-sungguh. "Kesan
     yang saya tangkap, ada arus semangat berpikir yang memerlukan
     pegangan. Teman yang menghubungi itu saya kenal baik. Bukan orang
     oportunistik," katanya lagi.

     Lalu Emil pun maju dan menyatakan kesediannya untuk dicalonkan
     sebagai wapres. Ia pun tidak lagi iseng. Bahkan Emil siap adu
     konsep dengan Habibie. Tapi Habibie memang tidak menjawab secara
     tegas "tantangan" Emil itu.

     Namun kalau Habibie mau adu konsep, tentu saja Emil telah sangat
     siap. Emil telah menyiapkan pokok-pokok pikiran yang siap
     ditawarkan. Tulisan empat halaman itu diberi judul Agenda
     Kebangkitan Bangsa. Di situ, ungkap Forum, ia menulis lima butir
     pokok-pokok pikirannya. Pertama, reformasi ekonomi. Kedua,
     pemberdayaan masyarakat madani. Ketiga, penggalakan moral bangsa.
     Keempat, kebangsaan dan globalisasi. Terakhir, kelima, orientasi
     pada masyarakat kecil.

     Jika kelak Emil "kandas", ia tetap bertekad membantu rakyat kecil
     lewat Gema Madani ini. Dan kedekatannya dengan orang kecil itu
     sudah tampak sejak ia remaja. Mulanya Emil menamatkan SD dan
     SMP-nya di Palembang. Kemudian melanjutkan SMA ke Bogor, Jawa
     Barat. Selesai SMA ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas
     Indonesia.

     Sejak SMP, putra Baay Salim, seorang kepala Kantor Pekerjaan Umum
     itu, sudah aktif di organisasi. Ia pernah menjadi Ketua Tentara
     Pelajar dan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera
     Selatan. Kemudian ketika SMA di Bogor, ia menjadi Ketua Cabang
     IPPI dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1950). Ketika
     mahasiswa di UI, ia adalah salah seorang pelopor pembentukan Dewan
     Mahasiswa, di mana ia pernah duduk sebagai ketuanya.

     Semasa mahasiswa pula, ia telah membantu Prof. Soemitro
     Djojohadikusumo sebagai asisten dosen. Setelah menjadi sarjana di
     UI, ia termasuk dosen muda yang diberi kesempatan untuk mengambil
     gelar doktor di Universitas California, Berkeley, AS. Tahun 1964
     ia berhasil menggondol gelar doktor itu dengan disertasi
     "Institutional Structure and Economic Development".

     Kemudian, Emil kembali ke Indonesia. Tahun 1966 ia dipilih menjadi
     anggota Tim Penasihat Ekonomi Presiden. Lalu menjadi anggota DPR
     GR (1967-1969). Selanjutnya ia adalah anggota Tim Penasehat
     Menteri Tenaga Kerja (1967-1968), dan juga sebagai Ketua Tim
     Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969). Saat itu Emil pun
     kerap mengikuti delegasi-delegasi ekonomi Indonesia ke luar
     negeri.

     Tahun 1971 ia diangkat sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan
     Pembersihan Aparatur Negara merangkap Ketua Bappenas. Jabatan itu
     dipegangnya hingga tahun 1973. Selanjutnya pada kabinet
     pembangunan II ia pun diangkat menjadi Menteri Perhubungan
     (1973-1978).

     Seterusnya ia diberi tugas sebagai Menteri Negara Pengawasan
     Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada kabinet pembangunan III
     (1978-1983). Terus menjadi Menteri Negara Kependudukan dan
     Lingkungan Hidup (KLH), sejak tahun 1983-1993.

     Emil memang cukup respek terhadap bidang lingkungan. Konsep
     Analisa Dampak Lingkungan (Amdal), gagasannya, telah berhasil
     menyelamatkan sejumlah kerusakan lingkungan akibat proyek-proyek
     raksasa. Gagasannya itu dikukuhkan lewat Undang-Undang Amdal tahun
     1986. Di mana setiap usaha yang mengandung resiko merusak
     lingkungan harus membuat analisa dampak lingkungan.

     Ada contoh menarik soal Amdal ini. Misalnya rencana proyek Pusat
     Listrik Tenaga Air (PLTA) di Riau. Sedianya proyek tersebut akan
     menenggelamkan areal yang ditempati candi Muara Takus. Tapi dengan
     konsep Amdal, hal itu dapat dihindari.

     November 1992 ia memprakarsai translokasi gajah dari Air Sugihan
     ke Hutan Lebong Hitam di Palembang, Sumatera Selatan. Saat itu
     ratusan gajah dilaporkan merajah kebun jagung milik transmigran.
     Ternyata gajah-gajah itu kehilangan tempat pengembaraannya karena
     lokasi itu dijadikan areal transmigrasi. Emil pun turun bersama
     ratusan prajurit Kodam IV Sriwijaya dan dibantu oleh transmigran
     setempat untuk menggiring gajah ke lokasi lain.

     Prestasinya dalam bidang lingkugan memang luar biasa. Sehingga ia
     pun mendapatkan penghargaan bergengsi, "nobel" konservasi alam,
     Oktober 1990. Hadiah yang diberikan oleh Getty Wildlife
     Conservation itu diserahkan langsung oleh Presiden World Wildlife
     Fund, Katryn S. Fuller, di Washington. Ia juga berhak mendapatkan
     bonus sebesar 50 ribu dollar AS.

     Komitmennya terhadap lingkungan juga dibuktikan dengan membentuk
     lembaga: Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Lembaga
     yang diketuainya dan bertanggung jawab langsung kepada presiden
     itu dibentuk Juli 1991. Fungsi Bapedal adalah bertugas sebagai
     instansi pelaksana yang punya otoritas. Tugas KLH, menurut Emil,
     hanya sebagai perancang policy.

     Ada tiga tugas khusus Bapedal: Pertama, menanggulangi pencemaran.
     Kedua, mengawasi bahan beracun berbahaya (B3), dan ketiga, analisa
     mengenai dampak lingkungan. Sebelumnya, kata Emil, pihaknya sempat
     dibuat tidak berdaya dengan berbagai kasus lingkungan. "Karena
     kami tak bisa action," katanya (TEMPO, 20 Maret 1993).

     Selain itu, lembaga kementerian yang dipimpin Emil pun melakukan
     berbagai kerja lain. Program Pengembangan Daur Ulang Limbah
     Indonesia (Peduli), misalnya. Sepanjang tahun 1992, kegiatan itu
     berhasil mengajak ibu-ibu rumah tangga di Jakarta untuk memisahkan
     sampah basah dan sampah kering. Supaya sampah-sampah itu mudah
     didaur ulang. Proyek yang menelan dana Rp 1,6 milyar itu juga
     melibatkan para pemulung.

     Tahun 1992, KLH berhasil menggolkan UU Kependudukan untuk
     pembangunan keluarga sejahtera. Serta UU Tata Ruang yakni untuk
     menghimpun kebijaksanaan yang menggunakan lahan dan tata ruang.

     Ia memang sangat akrab dengan lingkungan. Ketika menjadi menteri
     KLH, sejumlah lukisan yang tergantung di dinding ruang kantornya
     hampir semuanya dari bahan bekas. Misalnya, lukisan burung
     cenderawasih dari bungkus rokok. Di situ ada pula foto-foto satwa
     dan hutan. Satu-satunya lukisan di ruang kerjanya adalah lukisan
     gajah karya Gilang Cempaka, seorang pelukis cilik dari Bandung.

     Sehari-hari, menteri yang murah senyum ini selalu tampak rapi
     dalam berpakaian. Sehingga ia pernah terpilih sebagai Pria
     Berbusana Terbaik tahun 1980. Tahu siapa yang menjadi penasehat
     pakaiannya itu? Tidak lain adalah Nyonya Roosmini, sang isteri.
     Kini ia tinggal di Kompleks Patra di Kawasan Kuningan Timur,
     tempat yang dijadikan pula sebagai posko pencalonannya sebagai
     wapres.

     Sementara itu, sehari-hari Emil berkantor di Yayasan Kehati
     (Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia), Gedung Patra Jasa, di
     Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

     Emil memang sosok yang lengkap. Dia menguasai betul seluk beluk
     ekonomi (dia tampil dalam wawancara tentang CBS yang dianggapnya
     terlalu kaku), dia sangat perduli pada wong cilik, dan ia tokoh
     yang lentur dengan semua pihak, termasuk ABRI.

     Seorang budayawan terkenal menanggapi pencalonan Emil Salim
     sebagai wapres dengan mengatakan,"Kasihan Pak Emil di posisi ban
     serep itu. Dia seharusnya menjadi Presiden RI."

     Dalam rangka pencalonannya sebagai wapres itu pula, Emil Salim pun
     telah membuka home page di http://www.pdat.com/madani. Sampai
     Jumat (27/2) siang, home page Gema Madani yang mulai di-online-kan
     Selasa (24/2) itu telah dikunjungi oleh 956 pengakses.