[INDONESIA-L] TI - Karlina Leksono

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Mar 03 1998 - 15:52:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Mar 3 19:10:05 1998
Date: Tue, 3 Mar 1998 17:03:17 -0700 (MST)
Message-Id: <199803040003.RAA02130@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] TI - Karlina Leksono
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

   [Image] Edisi 52/02 - 28/Feb/1998
                                                              Pokok & Tokoh
----------------------------------------------------------------------------

     Karlina Leksono:
     Demi Susu yang Harganya Melangit

       [Karlina Leksono] Bila tiba-tiba Karlina Leksono Supelli, 40
                          tahun, astronom wanita pertama Indonesia,
                          turun ke jalan dan berjualan susu, itu bukan
     bagian dari penelitiannya. Tetapi menurut isteri Ninok Leksono
     Dermawan--wakil pemimpin redaksi surat kabar Kompas-- itu
     merupakan panggilan hati nurani dan kepeduliannya terhadap masa
     depan generasi muda akibat krisis yang berkepanjangan. "Yang saya
     alami bersama kawan-kawan adalah hati nurani kami menjerit,
     manakala banyak ibu mengeluh dan tidak sanggup membeli susu yang
     kini harganya melambung. Padahal, bayi dan balita sebagai generasi
     muda perlu gizi utama susu untuk pertumbuhannya di masa
     mendatang," ujar peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
     (BPPT) berkulit langsat ini.

     Namun keprihatinan dosen Universitas Indonesia ini harus dibayar
     mahal. Gara-gara keberaniannya turun ke jalan bersama puluhan
     wanita dalam Suara Ibu Peduli (SIP) yang melakukan aksi damai
     membagikan bunga mawar di Bundaran Hotel Indonesia, Jalan
     M.Thamrin, Jakarta, ia bersama Gadis Arifia dan Wilasih Noviana
     digiring ke Polda Metro Jaya.

     Apa pasal? Aksi yang didukung oleh Guru Besar Filsafat UI, Prof.
     Dr. Toety Herati Nurhadi, aktivis Julia Surya Kusuma, Taty
     Krisnawati, serta sejumlah aktivis perempuan lainnya dinilai pihak
     kepolisian melanggar ketertiban umum dan dikenai pasal 510 KUHP.
     "Itu yang membuat saya dan kawan-kawan tak habis pikir, belum ada
     surat penangkapan, tahu-tahu berita acara pemeriksaannya sudah
     dibuat. Aneh, kan? Tapi, sebagai seorang ilmuwan saya bersedia
     mengikuti prosedur hukum dan mesti konsekuen menjalani, tutur
     alumni astronomi ITB Bandung ini dengan nada tenang.

     Karlina sempat menginap semalam di Polda dan dihujani pertanyaan
     berulang-ulang yang memuakkan. Ia mengaku berusaha tegar
     menjawabnya dengan baik. Namun, pertahanan batin ibu dua orang
     anak ini akhirya jebol juga. Ia mengaku lelah, dan tak sanggup
     menahan tangis karena polisi menganggap aksinya dipolitisir. "Kami
     sedih, kepedulian hati nurani tidak dipercaya, dianggap sebagai
     gerakan politik. Padahal, ini murni kepedulian hati nurani ibu
     terhadap masa depan generasi bangsa, bisiknya lirih.

     Toh, Karlina tak patah arang. Di luar dugaan, aksi SIP ini terus
     berlanjut meskipun bukan turun ke jalan lagi. Karlina dan SIP
     berencana mendistribusikan susu ke beberapa daerah dengan harga
     murah supaya bisa dijangkau para ibu. Hingga kini SIP sudah
     mengumpulkan dana sebesar seribu dollar (kurs tiga ribu, red) dan
     bekerja sama dengan pihak Nestle untuk mendapatkan harga susu
     murah yang dibagikan ke para ibu. "Ya, kalau di luar harga susu
     seperti Dancow, Lactogen, dan susu lainnya di atas sepuluh ribu
     sampai belasan ribu rupiah, harga yang kami jual di bawah sepuluh
     ribu rupiah. Target kami, yang penting harga susu bisa dijangkau
     para ibu," katanya senang.

     Dana yang didapatnya ini berkat dukungan anggota SIP yang terus
     bertambah. Beberapa orang di antaranya para ilmuwan, dosen, dan
     isteri para pejabat. "Pokoknya biar resiko saya harus berurusan
     dengan polisi, yang penting target kami tercapai. Yakni, bisa
     membantu para ibu membeli susu supaya bayi dan balita tidak
     kekurangan gizi," lagi-lagi mata wanita Indo Jawa-Belanda ini
     berbinar senang.

     Kebahagiaan lain yang terselip di hatinya adalah berkat support
     sang suami. Katanya, sewaktu terjadi penangkapan di Polda, Ninok
     selalu meneleponnya terus-menerus. "Itu support berharga buat
     saya. Tanpa support dia, saya sudah tanpa harapan. Dia dan
     anak-anak, cahaya semangat buat saya," ucap Karlina yang mengaku
     tak gentar meski karirnya akan melayang di BPPT.

     Perjuangan memang mahal harganya.

     HP