[INDONESIA-L] D&R - Karlina Lekson

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Mar 15 1998 - 14:23:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Mar 15 18:21:04 1998
Date: Sun, 15 Mar 1998 16:19:15 -0700 (MST)
Message-Id: <199803152319.QAA11069@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] D&R - Karlina Leksono: Kita Sudah Terlalu Lama Diam
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

  [Image] Edisi 02/03 - 14/Mar/1998
                                                       [Image]

        Wawancara Karlina Leksono:
        "Kita Sudah Terlalu Lama Diam"

        Bintang kita pekan ini adalah Karlina
        Leksono. Cantik, jenius, dan lumayan berani.
        Sudah baca kan beritanya di bunderan HI
        ketika Karlina bersama para simpatisan Suara
        Ibu Peduli (SIP) unjuk rasa? Jadi, untuk
        beberapa tahun, kita telah mengenal Karlina
        sebagai satu-satunya astronom perempuan di
        Indonesia yang mendapat predikat cum laude
        ketika lulus sebagai sarjana astronomi
        Institut Teknologi Bandung (ITB). November
        tahun lalu, ia bahkan berhasil meraih gelar
        doktor dalam ilmu filsafat setelah
        mempertahankan disertasi Wajah-Wajah Alam
        Semesta, Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif
        di Universitas Indonesia (UI).

        Ketertarikan wanita berusia 40 tahun ini
        kepada "dunia bintang" bermula karena "Sejak
        kecil saya senang memandang bintang." Maka,
        sang Karlina kecil "... turun dari ranjang
        lalu bersejingkat dan membuka jendela menatap
        bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
        yang di luar semesta...." Demikian puisi
        Sapardi Djoko Damono dalam Catatan Masa
        Kecilku 3, yang dibaca Karlina. Tetapi,
        memang demikian pula masa kecil Karlina,
        putri ke-11 pasangan Supelli dan Margaretha,
        yang dilewatkan di Selabintana, Sukabumi,
        Jawa Barat. "Ibu saya berteriak-teriak
        menyuruh saya masuk dan saya masuk ke kamar
        untuk menyelinap keluar lagi memandangi
        bintang," tuturnya, tertawa. Maka, tidak
        heran ketika ia kemudian tampil sebagai
        astronom perempuan pertama di Indonesia; dan
        tidak heran pula sifat keingintahuannya itu
        mendorongnya untuk belajar filsafat di UI di
        bawah bimbingan Toety Heraty Noerhadi.

        Namun, yang menarik adalah ketika Senin dua
        pekan lalu ia mendadak menjadi sorotan karena
        berdiri di bunderan HI sembari protes soal
        harga susu bersama para ibu dan aktivis
        perempuan lainnya. Akibatnya, istri wartawan
        Kompas Ninok Leksono ini ditahan di polda
        selama 23 jam. Bersama kedua rekannya yang
        juga ditahan, Gadis Arivia dan Wilarsih, ia
        mulai diadili sepekan lalu dengan tuduhan
        melanggar Pasal 510 KUHP. Berikut adalah
        wawancara wartawan D&R Leila S. Chudori
        dengan peneliti pada Badan Pengkajian dan
        Penerapan Teknologi (BPPT) dan dosen luar
        biasa Jurusan Filsafat UI ini di ruang kerja
        kantor Jurnal Perempuan, tempat ia menjabat
        sebagai wakil pemimpin redaksi (wapemred).
        ---------------------------------------------

        Bagaimana latar belakang keterlibatan Anda
        dengan Jurnal Perempuan dan aksi Suara Ibu
        Peduli?

             Ketika Jurnal Perempuan didirikan,
             teman-teman saya meminta saya ikut
             membantu. Saat itu, karena saya
             masih sibuk dengan disertasi saya,
             keterikatan itu membuat saya tak
             berani terlibat penuh. Ketika
             disertasi saya selesai, saya
             diminta terlibat penuh sebagai
             wapemred. Akan halnya aksi Suara
             Ibu Peduli itu dimulai dengan
             sesuatu yang sederhana saja. Gadis
             (Arivia) -- Pemimpin Redaksi Jurnal
             Perempuan -- berbincang dengan saya
             tentang keadaan negara ini. Saya
             melihat, mahasiswa zaman sekarang
             diam dan sukar bersuara karena
             sanksi akademisnya memang berat,
             misalnya bisa sampai drop-out atau
             skors. Kelas menengah Indonesia
             sudah menikmati status quo.

             Gadis mengatakan, kita masih
             memiliki perempuan. Kami kemudian
             berkumpul dan berbicara,
             memprihatinkan harga susu yang
             memang mahal. Kami bersepakat untuk
             menjual susu murah, dengan cara
             menjual kupon. Jika harga di toko
             belasan ribu, kami menjualnya
             dengan harga pabrik. Kami mendapat
             subsidi dari donatur untuk membeli
             susu itu dan menjualnya dengan
             harga murah. Itu untuk kelas bawah,
             maka kupon itu dijual melalui
             lembaga swadaya masyarakat (LSM).

        Kenapa hanya memperjuangkan susu? Bukankah
        harga bahan pokok lain juga menjulang?

             Karena, kenaikan susu-lah yang
             paling mahal; dan susu sangat
             subtansial untuk balita, untuk
             pertumbuhan otaknya. Inilah
             keprihatinan kita terhadap masa
             depan anak-anak kita.

        Apa reaksi Anda dan SIP tentang tulisan Zaim
        Uchrowi di Republika, yang menyangka bahwa
        gerakan ini adalah gerakan ibu yang tidak
        menyusui anaknya?

             Saya sudah menjawabnya. I think, he
             missed the point (Saya pikir, ia
             tidak memahami permasalahan). Ini
             bukan soal air susu ibu (ASI) dan
             non-ASI. ASI diperuntukkan bagi
             anak-anak hingga usia dua tahun dan
             bukankah anak berusia di atas dua
             tahun masih harus minum susu? Saya
             lihat, ia naif sekali. Ia
             menganggap, seolah-olah kami tidak
             menyusui anak kami. Dia tidak tahu
             saya menghabiskan waktu empat tahun
             untuk menyusui dua anak saya. Dia
             menyebut nama Dr. Utami Rusli --
             kakak Harry Rusli -- di RS St.
             Carolus untuk berkonsultasi. Lima
             tahun yang lalu, saya kampanye ASI
             di RCTI dengan mewawancarai Dr.
             Utami Rusli. Dia menuduh, aksi kami
             tidak dibarengi pengetahuan yang
             cukup. Lo, siapa sebetulnya yang
             tidak menggunakan cukup
             pengetahuan? Saya tidak akan berani
             berbicara di publik kalau saya
             belum tahu landasan yang bisa saya
             pertanggungjawabkan. Turun ke
             bunderan HI, di tengah hari bolong,
             tidak akan saya lakukan kalau saya
             belum tahu konsekuensinya, termasuk
             pemeriksaan polisi.

             Lalu, Zaim juga lupa, dia hanya
             berbicara tentang anak-anak yang
             memiliki ibu yang bisa menyusui.
             Bagaimana dengan ribuan anak-anak
             yatim piatu di panti-panti asuhan?
             Siapa yang menyusui mereka? Pada
             akhirnya, mereka juga menggunakan
             susu kaleng. Zaim mengusulkan minum
             susu segar. Kita tidak memiliki
             jumlah sapi yang cukup untuk
             memenuhi kebutuhan di Indonesia,
             itu sudah dinyatakan para pejabat
             tinggi. Adapun susu ultra-high
             temperature (UHT) itu mahal sekali.
             Apakah dia tidak tahu bahwa, sekali
             kita membuka susu UHT, kita harus
             langsung menyimpannya dalam lemari
             pendingin, dan tentu saja kita
             tidak berbicara tentang ibu-ibu
             yang punya lemari pendingin.

             Jadi, kesan mereka, SIP adalah
             ibu-ibu kelas menengah yang tidak
             mau menyusui. Dia mengatakan, "Ibu
             itu pasti tidak menyusui anaknya."
             Apalagi kami dari Jurnal Perempuan,
             yang dikaitkan dengan feminisme,
             maka serta-merta mereka langsung
             mengecap begitu. Karena itu, dalam
             surat jawaban saya, saya katakan
             bahwa dalam menyusui ada pengalaman
             eksistensialis yang personal, yakni
             kenikmatan menyusui yang tidak akan
             pernah dialami laki-laki mana pun,
             termasuk para bapak pendukung
             gerakan ASI. SIP sudah melampaui
             itu semua. Ini bukan soal ASI dan
             non-ASI.

        Bagaimana pelaksanaan aksi SIP. Apakah memang
        sejak semula memang ingin turun ke jalan atau
        awalnya hanya ingin berjualan susu murah?

             Nama SIP muncul kira-kira sepekan
             sebelum aksi demo. Ada berbagai
             usulan, nama Suara Ibu Peduli-lah
             yang dianggap paling cocok. Lalu,
             kami memikirkan bagaimana perempuan
             sebagai kekuatan moral. Kami ingin
             melakukan sesuatu yang kongkret.
             Sembako terlalu susah dijangkau,
             karena ada sembilan macam,
             sedangkan harga susu sangat mahal.
             Dan, susu adalah simbol kehidupan
             dan simbol perempuan. Jadi, ada
             tanda dan lambang kepedulian yang
             nyata dari kaum perempuan.

             Sebetulnya, rencana utama kami
             adalah penjualan susu murah. Kami
             belum berpikir untuk turun ke
             jalan. Aksi turun ke jalan itu
             betul-betul spontanitas.

        Yang berpartisipasi dalam aksi SIP itu
        banyak, kenapa Anda yang ditangkap?

             Karena, memang saya-lah yang
             bertanggung jawab, saya
             koordinatornya. Kami memang sudah
             sepakat, kalau terjadi apa-apa,
             saya harus bertanggung-jawab. Dan,
             saya sudah siap. Pilihan untuk
             melakukan unjuk rasa di bunderan HI
             itu karena akan menarik perhatian
             orang-orang yang lewat. Saat itu,
             saya ditahan aparat keamanan.
             Bersama Gadis Arivia dan seorang
             ibu bernama Wilarsih, saya naik bak
             terbuka.

        Tapi, Anda memang seorang feminis kan?

             Ya, saya seorang feminis. Suami
             saya juga pernah bertanya apakah
             saya seorang feminis, dan saya
             menjawabnya tanpa ragu.

        Apakah feminisme bagi Anda, dan mengapa
        masyarakat di dunia banyak yang takut dan
        sinis akan terminologi itu?

             Untuk saya, setiap upaya atau
             perilaku untuk mengembalikan
             perempuan sebagai manusia adalah
             feminisme. Dan, menurut saya,
             mengapa masyarakat Indonesia maupun
             Barat sering menyalahartikan
             feminisme, karena pemikiran ini
             selalu dianggap sebagai kebebasan
             dan mereka yang membenci lelaki.
             Saya kira, sebagian masyarakat yang
             sudah telanjur mendapatkan
             kekuasaan -- dan dengan memberi
             gelar "ratu rumah tangga" kepada
             para istri sehingga para istri
             menyangka seolah-olah mereka
             berkuasa -- adalah yang takut
             kekuasaannya itu direbut.

        Ini pengalaman pertama Anda ditahan?

             Ya, ini pertama kali. Ketika
             mahasiswa, tahun 1978, di ITB,
             kampus telanjur dijaga dan kami
             hanya ikut aktif di belakang layar.
             Kemudian, setelah itu, saya juga
             menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa
             Astronomi ITB.

        Bagaimana pengalaman Anda ketika
        diinterogasi?

             Sebetulnya, mereka cukup simpatik.
             Bahkan, ada polwan-polwan yang
             sangat bersimpati dengan perjuangan
             kami. Sebelum kami dibawa ke
             ditserse, kami dibawa ke pelayanan
             masyarakat, dan para polwan itu
             diperintah untuk membantu kami
             mengecap dan sebagainya. Mereka
             menjawab, "Ah, jangan saya, deh.
             Saya juga mengerti persoalan ibu.
             Yang laki-laki saja...." Ketika
             mengeluarkan pertanyaan, tentu saja
             sesuai metode, mereka harus
             mengulang-ulang pertanyaan yang
             sama. Kami ditanyai mulai pukul
             16.00 hingga malam hari. Lalu,
             menanti sepanjang malam hingga pagi
             keesokan harinya. Barulah pukul
             02.00 mereka menghentikan
             pertanyaan.

             Saat itu, hati saya terluka dan
             mulai emosional. Memang, sudah
             terlalu lama kita berdiam. Karena
             itulah saya merasa harus turun ke
             jalan ketika harga susu naik.
             Secara moral, saya merasa bersalah
             kalau saya diam dan menerima. Ini
             sudah soal nurani. Apakah negara
             ini tidak percaya ada nurani? Kami
             bertiga menanti sampai pagi dalam
             ketidakpastian. Paginya, penyidikan
             terhadap saya sudah dianggap
             selesai.

        Sebagai peneliti di BPPT, atasan Anda adalah
        Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan
        calon wakil presiden BJ Habibie. Apa komentar
        Menteri Habibie?

             Belum ada reaksi yang resmi.
             Sebagai dosen luar biasa di UI,
             saya juga belum mendengar reaksi
             apa-apa dari UI.

        Sebelumnya, sudah pernah ada masalah, 19
        peneliti LIPI membuat surat keprihatinan
        tentang keadaan negara ini. Menristek Habibie
        mengeluarkan surat teguran yang isinya
        peringatan keras dan menganggap kegiatan 19
        peneliti itu sudah memasuki politik praktis.
        Melihat Anda sebagai ilmuwan sampai turun ke
        jalan, Anda tidak khawatir ditegur?

             Saya sudah siap. Saya tidak bisa
             lagi memilah diri saya sebagai
             seorang perempuan, sebagai ilmuwan,
             atau anggota masyarakat. Ketika
             masyarakat sudah dalam keadaan
             membutuhkan perhatian yang lebih
             serius, pada saat itulah seorang
             ilmuwan yang mengetahui kondisi
             obyektif akan tahu bahwa masa depan
             anak-anak akan terancam. Ini soal
             kebenaran. Tugas ilmuwan, antara
             lain, mencoba menyuarakan hal itu.

        Tetapi, sebagian orang berpendapat, tugas
        ilmuwan menyampaikan protesnya secara ilmiah
        melalui jalurnya, yaitu ilmu pengetahuan,
        bukan di jalanan....

             Tentu saja, hal itu bisa
             disampaikan melalui seminar,
             misalnya. Tetapi, ini sudah masa
             kritis. Kami tidak bisa menunggu
             lagi. Siapa pun kita, jika memiliki
             tanggung jawab moral, kita akan
             merasa memiliki tanggung jawab
             besar daripada sekadar ilmu.

        Tetapi, reaksi apa atau perubahan apa yang
        Anda harapkan dengan turun ke jalan itu?

             Tentu saja, kami tidak mengharapkan
             harga susu segera turun hanya
             dengan sekali unjuk rasa. Mudah
             sekali kalau penyelesaiannya hanya
             seperti itu. Sesungguhnya, kami
             ingin mengimbau ibu-ibu kelas
             menengah ini, lo. Dalam sebuah
             acara di radio, ada seorang ibu
             kelas menengah yang mengaku
             mempunyai anak yang membutuhkan
             susu dua pak per minggu. Ketika
             terjadi rush tempo hari, dia
             membeli enam boks susu yang
             masing-masing berisi 24 pak.
             Berarti, ia memiliki persediaan 144
             pak susu, yang berarti untuk lebih
             dari setahun. Jadi, protes kami
             juga ditujukan kepada kelas
             menengah. Kenapa mereka harus
             berperilaku seperti itu? Bagaimana
             dengan ibu-ibu kelas bawah?

        Bagaimana reaksi suami Anda, Ninok Leksono?

             Saya sudah menyampaikan keinginan
             saya dan kemungkinan
             risiko-risikonya. Saya minta
             direlakan untuk melakukan tindakan
             apa pun, dan jangan diberati karena
             ini soal pilihan moral. Tentu saja,
             suami saya mengkhawatirkan saya,
             terutama karena ada anak-anak.
             Tetapi, saya tidak bisa mundur.
             Saya sudah sampaikan kepada
             anak-anak saya, Angga dan Arna,
             bahwa kemungkinan ada risiko dan
             sanksinya. Anak tertua saya, Angga,
             mengatakan, "If you think thatís
             what you have to do, just do it,
             Mami." Tapi, malam itu, ia sempat
             mengunci saya di kamar agar saya
             tidak bisa keluar. Untung, ibu saya
             membantu. Ketika ditahan, saya
             telepon suami saya. Saya katakan
             agar ia baik-baik saja dan tolong
             temani anak-anak. Anak saya malah
             menghibur saya.

        Apa reaksi dari kelas menengah setelah aksi
        unjuk rasa ini? Sudah ada hasil?

             Paling tidak, banyak ibu-ibu kelas
             menengah langsung memberikan
             dukungan finansial. Setelah unjuk
             rasa itu, ada sekumpulan karyawati
             bank yang mengumpulkan uang
             sebanyak Rp 3 juta. Kami berencana
             hendak mengadakan penjualan susu
             murah ini sampai tiga bulan,
             mudah-mudahan setelah sidang umum
             (SU) MPR kali ini, keadaan ekonomi
             membaik. Hingga hari ini, kami
             sudah menghabiskan sekitar Rp 20
             juta untuk membeli susu, yang
             kemudian dijual murah kepada rakyat
             kelas bawah. Caranya, kami meminta
             teman-teman di LSM yang menjual
             kupon itu.

        Anda adalah seorang astronom lulusan ITB yang
        kemudian belajar filsafat di UI. Kenapa
        tertarik filsafat?

             Memang cukup lama sekali saya
             tenggelam dan terlibat sekali dalam
             dunia kosmologi. Yang saya temukan
             adalah pertanyaan-pertanyaan
             kosmologi yang sangat mendasar dan
             tidak terjawab oleh data-data
             empiris. Pertanyaan-pertanyaan
             mendasarnya seperti kenapa alam
             semesta seperti ini; kenapa manusia
             hadir di dalamnya; kenapa
             seolah-olah seperti ada mata rantai
             antara satu dan yang lain, dan;
             kenapa gravitasi kalau berubah
             harus demikian kecilnya dan ada
             jalinan yang luar biasa halus dan
             numerikal. Pada skala sub- atom,
             ada bilangan-bilangan yang sama
             betul perbandingannya, padahal ini
             adalah dunia yang secara fisik
             tidak bersentuhan. Sejauh ini belum
             ada yang bisa menjelaskan. Stephen
             Hawking mati-matian berjuang;
             Einstein belum bisa menemukan
             sampai akhir hayatnya.
             Pertanyaan-pertanyaan seperti
             itulah yang membuat saya mencari
             jawabannya dalam ilmu filsafat.

             Namun, ilmu filsafat juga bukan
             mencoba menjawab melainkan
             merefleksikan persoalan ini.
             Ternyata, filsafat juga malah
             menimbulkan pertanyaan-pertanyaan
             baru. Yang saya temukan dalam ilmu
             filsafat itu: yang paling penting
             adalah pertanyaan itu sendiri,
             bukan jawabannya.

        Bagaimana awalnya Anda mulai tertarik dengan
        astronomi dan kenapa belakangan Anda tidak
        puas dengan astronomi?

             Awalnya, seperti juga anak kecil
             lainnya, saya senang melihat
             bintang pada malam hari. Masa kecil
             saya lalui di Selabintana, yang
             langitnya memang hitam dan penuh
             bintang. Setiap malam, saya
             diam-diam ke luar rumah melihat
             bintang. Saya sering menyelinap
             keluar, dan ibu saya
             berteriak-teriak karena di luar
             dingin. Beliau takut saya sakit.
             Saya masuk, tetapi diam-diam keluar
             lagi karena saya terobsesi oleh
             langit. Kemudian, saya pindah ke
             Bandung menemani kakak saya, Alex,
             yang kuliah di ITB.

             Orang tua kami mengajarkan kami
             membaca dan sangat tanggap dengan
             kebutuhan bacaan, dengan segala
             keterbatasan kami. Kakak saya-lah
             yang mendorong saya untuk masuk
             astronomi. Dan, kemudian, memang
             astronomi adalah hidup saya.

        Kapan Anda mulai tak puas dengan astronomi?

             Awal tahun 1980-an, saya sudah
             mulai banyak bertanya, karena pada
             dasarnya saya bukan orang yang
             tertarik dengan hal-hal yang
             praktis dan empiris meskipun latar
             belakang saya. Saya lebih berminat
             dengan yang hal yang konseptual.
             Ketika saya mengambil Space Science
             Master di University of College,
             London, saya mulai bertanya-tanya
             kenapa saya tertarik kalau hanya
             seperti itu. Ilmu ini memang
             mempelajari desain satu alat atau
             sebuah konsep mesin untuk mengamati
             kosmologi. Ilmu itu agak lain
             dengan yang saya sukai. Meskipun
             saya mendapat jatah beasiswa untuk
             dua tahun, saya menyelesaikan studi
             11 bulan, maka lebihnya saya
             gunakan untuk riset pengamatan
             astronomis. Sebetulnya, saya lebih
             suka kosmologi. Saya tidak sabar
             duduk di depan komputer, meski
             interpretasinya menarik sekali.
             Pada tahun 1992, akhirnya saya
             memutuskan ikut kuliah program
             master filsafat UI. Ternyata,
             filsafat itu luar biasa menarik.
             Awalnya, saya sempat bengong karena
             banyak istilah yang sama tetapi
             pengertiannya berbeda dengan ilmu
             saya. Selama satu semester, saya
             harus beradaptasi. Tetapi,
             kemudian, saya tertarik dan merasa
             tidak bisa lepas lagi. Ketika saya
             mengambil doktor filsafat, saya
             melihat koneksi bagaimana
             kosmologi, pada akhirnya, adalah
             representasi dari ilmu pengetahuan;
             bagaimana ilmu pengetahuan hanya
             satu konstruksi manusia. Apa yang
             kita anggap sebagai kebenaran
             ilmiah dalam kosmologi sebenarnya
             hanya konstruksi benak kita dan
             selalu berubah. Ilmu memang
             memiliki keberhinggaan atau finite.

        Dalam tulisan Anda di Kompas, Anda lebih
        memuji film 2001: Space Odyssey yang Anda
        anggap lebih jujur daripada kosmologi yang
        disampaikan film Contact. Kenapa?

             Saya melihat kedua film tersebut.
             Dan, saya berpendapat, sutradara
             Stanley Kubrick melihat alam
             semesta sebagai sesuatu yang tidak
             kita ketahui. Dalam Contact,
             pendekatannya terlalu
             antropomorfis, dengan terlalu mudah
             memindahkan apa yang ada pada
             manusia ke semesta. Memang saya
             akui, ada kerendahan hati tokoh
             Ellie--yang diperankan oleh Jodie
             Foster--yang jatuh dalam kegagalan
             menyuguhkan bukti untuk
             pengalamannya, padahal ia begitu
             rasional dan verifikatif. Film
             Contact belum berhasil mentranseden
             persoalan manusia dan masih terikat
             pada persoalan manusia dan
             perdebatan soal sains dan agama,
             belum masuk ke dalam soal
             universal, demikian juga novelnya.
             Novelnya pun tidak masuk sampai ke
             tahap yang mampu dicapai oleh
             Stanley Kubrick.

        Sudah dipastikan wapres adalah B.J. Habibie.
        Apakah Anda mendukung pencalonan ini?

             Pada tahap ini, yang penting untuk
             saya bukan orang, tetapi sistemnya.
             Kita memerlukan reformasi, dan saya
             tidak menganggap revolusi sebagai
             jalan keluar. Karena, revolusi akan
             banyak makan ongkos, dan yang
             menjadi korban pasti rakyat kelas
             bawah juga.

             Saya kira, kita harus memberi
             kesempatan pada SU MPR dan memberi
             kesempatan kepada siapa pun yang
             akan memperbaiki sistem ekonomi dan
             politik ini, tentu saja dengan
             tenggang waktu.

        Anda mengenal B.J. Habibie sebagai Menristek
        dan pimpinan BPPT, juga sebagai sebagai
        seorang pribadi. Pendapat Anda tentang B.J.
        Habibie?

             Saya sangat dekat dengan Bapak
             Habibie. Sebagai pribadi, dia orang
             yang sangat, sangat baik. Sebagai
             seorang insinyur, bicara soal
             teknis, dia memang sangat menguasai
             bidangnya. Kami bisa berdebat
             habis-habisan dengannya, dan dia
             bisa menerima. Kalaupun kami
             berbeda pendapat, dia bisa terima
             perbedaan itu. Buat saya, itu
             penting.

             Saya menghormati cita-cita dan
             alasan beliau soal mengejar
             kemampuan di bidang teknologi. Dia
             memang seorang nasionalis yang
             sejati. Saya respek kepadanya, dan
             saya respek pada kepeduliannya.
             Saya hormat dengan caranya
             memperlakukan orang-orang yang
             mampu di bidangnya.

        Majalah D&R, 14 Maret 1998