[INDONESIA-L] SiaR - Pangdam Jaya T

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Apr 08 1998 - 17:17:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Wed Apr 8 20:15:12 1998
Date: Wed, 8 Apr 1998 18:14:30 -0600 (MDT)
Message-Id: <199804090014.SAA08458@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SiaR - Pangdam Jaya Tawarkan Bantuan Pencarian Aktivis yg Hilang
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

PANGDAM JAYA TAWARKAN BANTUAN PENCARIAN AKTIVIS YANG HILANG
  
JAKARTA (SiaR, 8/4/98), Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Senin
(6/4) mengatakan akan untuk mencari orang-orang yang dilaporkan hilang,
Kodam Jaya akan menawarkan bantuan polisional, bekerjasama dengan
kepolisian. Tak dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan bantuan polisional
itu.
  
Sumber SiaR mengatakan para wartawan memang sengaja meminta komentar
Sjafrie, mengingat kini beredar dugaan yang kuat di kalangan aktivis bahwa
Kodam Jaya dan jajaran yang berada di bawah koordinasinya bertanggungjawab
terhadap penghilangan secara paksa sejumlah aktivis belakangan ini.
  
Jawaban Sjafrie memang cenderung defensif, walaupun ia menyatakan prihatin
atas hilangnya sejumlah orang itu. "Yang bertanggung jawab ya belum jelas.
Bagimana ada orang hilang harus dipertanggungjawabkan. Faktor abstrak kok
dipertanggungjawabkan," ujarnya.
  
Kalangan aktivis menduga keras, aparat Detasemen Intel Kodam Jaya yang
berkantor di Jl Kramat Lima, bertanggungjawab terhadap penculikan sejumlah
aktifis prodemokrasi belakangan ini.
   
Andi Arief misalnya, dari bukti-bukti awal yang dikumpulkan diculik oleh
satuan khusus Kodam Jaya yang dipimpin Kapten Inf Yulius. Demikian juga
para aktivis KNPD, Herman Hendrawan (mahasiswa Unair), Faizal Reza
(mahasiswa UGM) dan Rahardjo Waluyojati (mahasiswa UGM) yang diyakini
"dijemput" aparat Kodam karena tuduhan terlibat dalam meledaknya bom di
rumah susun Tanah Tinggi.
  
Sejumlah sumber mengatakan, aparat Den Intel Kodam tak hanya menculik
aktivis, tapi juga angota masyarakat lainnya. Beberapa waktu lalu, seorang
pegawai negeri diculik aparat intel Kodam Jaya karena tuduhan menyimpan
amunisi. Namun dilepaskan lagi setelah beberapa hari diinteogasi dan
disiksa.
  
Setelah peristiwa 27 Juli 1996, aktifis Pijar, Hendrik Sirait juga diculik
aparat Kodam Jaya ketika menhadiri sidang gugatan Megawati Soekarnoputri
di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hendrik disekap selama beberapa hari.
Ia disiksa hingga sebelah telinganya kehilangan pendengaran.
  
Karena rekor "penculikan" Den Intel Kodam itu, sejumlah pengacara
menanggapi pernyataan Sjafrie sebagai taktik "maling teriak maling".
Sjafrie sendiri, bersama Letjen Prabowo, kini Pangkostrad, memiliki rekor
penculikan, penghilangan dan pembunuhan yang cukup berat di Timor Timur.
Tahun 1991. Saat itu ia menjabat sebaai Komandan Satuan Tugas Intelijen
(SGI), yakni unit intelijen Kopassus, di Timor Timur. Sjafrie yang kala
itu berpangkat kolonel mempimpin pasukan siluman dalam pembantaian
demonstran di Santa Cruz, Dili. Pasukan Sajfrie, setelah insiden itu
melakukan penculikan para pemimpin pemuda Timtim dan menghilangkan mereka
hingga sekarang.
  
Menurut investigasi Komisi Penyelidik Nasional yang dipimpin Hakim Agung M
Djaelani, ratusan orang dilaporkan hilang setelah peristiwa itu.
  
Informasi yang dikumpulkan SiaR mengatakan, hilangnya para aktivis itu
berkaitan dengan pembentukan Death Squad (Satuan Pembunuh), satuan rahasia
yang bertugas menculik dan menghilangkan aktivis. Death Squad, menurut
informasi itu dibentuk oleh Prabowo dan Sjafrie yang melibatkan
satuan-satuan terlatih, di luar komando ABRI. Itulah mungkin sebabnya,
Kapuspen ABRI, yang mewakili sikap Mabes ABRI, tak merasa menangkap para
aktivis itu.
  
Untuk urusan melatih dan mengoperasikan satuan pemburu seperti itu,
Prabowo memang sudah berpengalaman. Sudah sejak lama, kemudian sangat
intensif ketika menjadi Wakil Komandan dan Komandan Jendral Kopassus,
Prabowo telah melatih Satgas Darat Rajawali, yang beroperasi di Timor
Timur. Satgas khusus dari Kopassus dan Kostrad ini, menurut Majalah GATRA
merupakan "Kompi Pemburu". Satgas Rajawali di Timor Timur tak hanya
memburu dan membunuh pasukan gerilya Fretilin, tapi juga penduduk sipil
Timor Timur yang dituduh prokemerdekaan.***