[INDONESIA-L] Karakter TNI AD

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Apr 29 1998 - 17:37:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Wed Apr 29 20:34:08 1998
Date: Wed, 29 Apr 1998 18:33:38 -0600 (MDT)
Message-Id: <199804300033.SAA27284@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Karakter TNI AD
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

From: "wiranto hartono" <jendwiranto@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Subject: Karakter TNI AD
Date: Wed, 29 Apr 1998 17:29:45 PDT
 
Karakter TNI-AD
  
Sebetulnya yang perlu ditelaah adalah ABRI, namun berhubung di kalangan
ABRI sendiri, TNI AD adalah bagian yang paling dominan dan "berkuasa",
baiklah analisis dibatasi di kalangan TNI AD saja. Sedangkan TNI AU, TNI
AL apalagi POLRI sebagai "anak pungut" ABRI yang paling tidak bergigi
baiklah dibahas pada kesempatan lain saja.
  
TNI AD sendiri sebagai satu institusi terdiri atas kelompok perwira,
bintara dan tamtama. Bila hendak dilihat karakternya maka secara umum
ketiganya sama saja, yang membedakan mungkin hanya secara strategis
perwiralah yang bertanggung jawab atas kebijakan kesatuan, sementara
para bintara dan tamtama hanyalah pelaksana saja, sekaligus "umpan
peluru".
  
Baiklah kita telaah karakter TNI AD:
1. Kejam
Hal ini sudah jelas dan tak usah didebatkan lagi. Sejak di lembaga
pendidikan entah itu AKABRI atau SECAPA atau SECABA atau SECATAM, para
militer berhubung dipersiapkan untuk tugas-tugas perang, otomatis juga
didik dan dilatih menjadi personil yang siap perang dan siap tempur.
Celakanya kalau kesiapan tempurnya itu digunakan bukan untuk melawan
musuh (yang kebetulan saat ini tidak ada) namun untuk melukai dan
menyakiti rakyat sendiri. Untuk memukuli dan menangkap dengan kasar
mahasiswa, penduduk, bahkan ibu-ibu yang peduli dengan krisis susu.
Untuk menculik dan menyiksa para aktivis pro demokrasi, untuk membantai
rakyat pada kasus Tanjung Priok dan membantai rakyat Tim Tim.
  
2. Bodoh
Berkaitan erat dengan karakter kejam adalah bodoh. Benar, bahwa sejarah
membuktikan banyak orang yang kejam sebetulnya justru cerdas seperti
Hitler, Pol Pot, dsb justru kalau diteliti betul mereka itu cerdas luar
biasa dan punya kharisma pula. Namun ribuan kali lebih banyak orang yang
kejam itu bodoh. Nah, TNI AD itu masuk dalam golongan ini.. Hal ini
tidak sulit dipahami, mengingat dalam militer setiap prajurit dilatih
untuk taat perintah dalam satu garis komando yang jelas. Pola ini memang
efektif untuk mengorganisasi pasukan, apalagi dalam jumlah besar, namun
konsekuensinya ya itu tadi, mereka jadi bodoh, tidak hanya tamtamanya
tapi juga perwiranya. Mereka terbiasa berpikir dalam satu garis saja,
dan cenderung tertutup terhadap alternatif lain. Bukti-bukti jelas
sekali nampak kalau kita simak omongan para jendral di TV atau media
massa. Omongan tidak jelas, asal bunyi dan tanpa dasar. Coba perhatikan
apa kata Jend. Syarwan Hamid, Jend. Subagyo, Jend. Tanjung, juga Jend.
Suyono (ex KASUM), belum lagi Jend. Yogi SM (ex DAN KOPASSUS).
Perhatikan baik-baik, bisanya hanya menuduh adanya "aktor intelektual",
"ditunggangi", OTB dst. dst. Sedangkan sedikit Jendral yang pandaipun
nampaknya juga terimbas kebodohan rekan-rekannya yang lain. Yang boleh
dibilang lumayan cuma Jend. SB Yudoyono.
  
3. Merasa unggul dibandingkan kalangan sipil
Kontras dengan karakter 1 dan 2, TNI AD itu merasa unggul dibanding
kalangan sipil. Hal ini memang agak sulit dibuktikan, karena tidak
sangat nampak. Dwifungsi ABRI adalah salah satu buktinya. Adanya
perasaan unggul sehingga bisa melaksanakan dua peran sekaligus: keamanan
dan sosial politik, hal mana tidak bisa dilakukan kalangan sipil.
Padahal TNI AD tidak tahu apa-apa masalah sosial politik.
  
4. Korup
Bahwa di TNI AD korupsi adalah nomor satu semua orang sudah tahu. Bahkan
hanya untuk masuk SECABA saja, orang harus membayar uang sogok sebesar
sekian juta. Belum lagi bagi para perwira yang berminat masuk SESKOAD.
Untuk pengurusan kenaikan pangkat saja harus siapkan dulu uang pelicin.
Ini baru yang dilakukan di lingkungan TNI AD sendiri, belum terhitung
korupsi yang dilakukan para perwira menggerogoti harta milik negara.
  
5. Boros
Selain korup, kalangan TNI AD juga boros. Waktu pergantian jabatan
PANGDAM JAYA dari Sutiyoso ke Sjafrie Sjamsudin, di lapangan KODAM
dipampangkan foto diri panglima dalam ukuran besar (beberapa meter)
seharga sekian juta. Padahal hanya untuk peristiwa sehari serah terima
jabatan saja. Dalam masa krisis ekonomi sekarang inipun, karakter boros
ini tetap lekat, nampak dalam acara-acara perayaan HUT Kopassus misalnya
atau acara-acara lain yang diselenggarakan TNI AD.
  
6. Atheis
Salah satu karakter yang paling utama untuk dicermati dan diwaspadai
adalah atheisnya seluruh anggota TNI AD. Begitu memasuki lembaga
pendidikan di lingkungan TNI AD, maka seorang anggota akan menjalani
proses cuci otak yang hebat luar biasa hebat, sehingga yang nomor satu
di atas segala-galanya adalah perintah panglima/ komandan. Entah itu
baik atau buruk, entah itu melanggar agama atau tidak, laksanakan
perintah dengan segera. Agama akhirnya cuma jadi catatan saja, parahnya
lagi, bukan hanya tidak beragama, anggota TNI AD akhirnya juga menjadi
tidak mengenal Allah. Banyak orang tidak mengenal karakter TNI AD yang
satu ini, sehingga mau saja dibodohi oleh TNI AD. Jaman Jend. Murdani
dulu, banyak orang Katolik terkecoh, betapa bangganya mereka orang
Katolik bisa jadi PANGAB di negeri ini. Mereka tidak tahu saja bahwa
Jend. Murdani sudah membunuhi ribuan orang Tim Tim yang juga Katolik.
Sekarang berulang lagi, betapa senangnya orang Islam dengan naiknya
Hartono sebagai KSAD, wah Jend. santri jadi orang nomor satu di TNI AD,
juga Jend. Tanjung yang konon "asli hijau". Rakyat tidak tahu saja,
bahwa Jend. santri pun tidak peduli dengan Islam, yang penting mereka
bisa berkuasa, TNI AD tidak punya urusan dengan ICMI, Muhammadiyah atau
NU, atau rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Siapapun yang sekiranya
menghalangi langkah TNI AD, akan dibantai, tak peduli apa agama atau
sukunya.
  
7. Kurang Ajar
Yang terakhir namun cukup menonjol adalah kurangajarnya TNI AD, tidak
hanya terhadap penduduk sipil tapi juga terhadap angkatan lain (TNI AU,
TNI AL apalagi POLRI). Hal ini sudah jelas terlihat dalam peristiwa
hidup sehari-hari di jalanan. Anggota TNI AD parkir sembarangan,
merusakkan bis kota yang ugal-ugalan (meskipun bis ugal-ugalan, TNI AD
tetap tidak punya hak untuk melakukan pengrusakan), menerobos lampu
merah dsb. dsb. Tak usah diperpanjang lagi.
  
  
Demikianlah sepintas karakter TNI AD yang kita cintai dan kita
banggakan, dengan mencermati karakternya, maka kita akan lebih mudah
memahami kenapa mereka mau menculik, menyiksa dan membunuh saudara,
ayah, ibu dan anak kita.
  
Jend. Wiranto