[INDONESIA-L] Aksi STT Telkom

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Apr 30 1998 - 15:33:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Thu Apr 30 18:33:08 1998
Date: Thu, 30 Apr 1998 16:32:16 -0600 (MDT)
Message-Id: <199804302232.QAA12626@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Aksi STT Telkom
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

 
From: "Satrio Piningit" <s_piningit@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Subject: Aksi STTTelkom: Tolak $uharto
Date: Wed, 29 Apr 1998 19:27:46 PDT
  
        Suharto musuhnya siapa
        Suharto musuhnya siapa
        Suharto musuhnya siapa
        Musuhnya kita semua!!!
  
Demikian bait lagu yang dinyanyikan massa mahasiswa STT Telkom dalam
aksinya
Rabu, 29 April 1998. Lebih dari 2500 mahasiswa melakukan aksi turun ke
jalan
untuk memasang spanduk "Reformasi Untuk Rakyat" di jalan masuk kampus
sekitar perempatan Jalan Radio Palasari - Mohamad Toha.
  
Mimbar Akademik
Kegiatan Rapat Akbar Mahasiswa STT Telkom dimulai sekitar pukul 09.30
WIB dengan pembacaan ihtisar oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa/ Senat
Mahasiswa.Sebelumnya aksi diawali dengan arak-arakan drum band dari
Student Centre (Gedung I) mengitari kampus dan gedung perkuliahan. Dari
satgas dilaporkan bahwa sempat terjadi pengusiran terhadap beberapa
aparat keamanan yang seenaknya masuk kampus sekitar satu jam sebelum
aksi dimulai.
Kegiatan kali ini tampak lebih meriah dan hidup dari aksi sebelumnya.
Massa lebih responsif dan siap mental. Spanduk-spanduk, poster, dan
baliho dengan tulisan menantang tampak marak di antara peserta. Ketua
STT Telkom Andi Hakim Nasution dalam orasinya menyatakan salut terhadap
aksi mahasiswa yang dipimpinnya dan menjamin keamanan serta keselamatan
seluruh peserta selama kegiatan dilakukan di dalam kampus. Selanjutnya
dia menolak anggapan bahwa aksi mahasiswa merupakan politik praktis yang
dilarang di kampus. Dia menganggap bahwa kegiatan ini merupakan mimbar
akademik sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
  
Negara Bangkrut
Andi Hakim juga mengatakan bahwa dia telah tahu sejak 1996 bahwa
Indonesia dalam keadaan sekarat dan hampir bangkrut. Hanya permainan
politik dan sandiwara tingkat tinggi para penyelenggara negara yang
menutup-nutupinya selama ini, tetapi keadaan kini telah berubah. Rakyat
tidak dapat dibohongi dan dibodohi lagi. Pemerintah dihimbau untuk
menjalankan republik ini dengan serius dan tanpa sandiwara. Sebagai
penutup dia berpesan agar mahasiswa benar-benar menyuarakan kepentingan
rakyat dan nurani yang bersih tanpa dicampuri kepentingan sesaat.
Selanjutnya beberapa mahasiswa juga menyuarakan aspirasinya dengan
panjang lebar. Semuanya merujuk pada data dan fakta bahwa negara hampir
bangkrut karena ulah oknum-oknum pemimpin pemerintahan yang memelihara
praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini menyebabkan pola
pembangunan biaya tinggi yang menguntungkan sedikit pihak dan menjadi
beban yang sangat berat bagi rakyat banyak. Lebih dari tiga puluh tahun
Indonesia hidup dalam kapitalisme semu (crony) dan hutang luar negeri
yang semakin menumpuk sehingga hampir mustahil untuk dibayar dalam
beberapa generasi. Artinya, setiap warga negara Indonesia yang ada
sekarang maupun anak-cucu yang belum lahir harus menanggung beban hutang
pemerintah.
  
Aksi Berwarna
Kegiatan kali ini juga dimeriahkan oleh happening arts dari mahasiswa
STSI Bandung. Gerak teatrikal yang menggambarkan penindasan penguasa
yang kejam terhadap rakyatnya sangat menarik perhatian massa. Seluruh
peserta menaruh minat terhadap adegan seseorang yang terluka dan dibalut
sekujur tubuhnya dicaci maki oleh orang lain yang tampak kejam dan
berkuasa. Di sekelilingnya tampak beberapa orang bertelanjang dada hanya
menonton tanpa bisa berbuat apa-apa. Diam dan tak berdaya. Sedangkan di
sisi lain terdapat seseorang yang berbalut lumpur sedang dipukuli oleh
penguasa yang kejam tadi. Baginya,orang itu hanyalah sebentuk makhluk
dari lumpur dosa yang harus selalu ditindas dan dianiaya. Selain
mahasiswa STSI, hadir pula perwakilan ITB, Uninus, STISI, Unisba, dan
STT Mandala. Tampaknya mahasiswa telah siap dalam manajemen aksinya
dengan membentuk jaringan antar kampus di seluruh Bandung.
  
Ganti Tentara, Ganti Presiden
Seorang mahasiswa sempat naik mimbar dan mangusulkan untuk mengganti
tentara dengan pramuka. Alasannya, pramuka lebih bersahabat, dapat
dipercaya, dan berguna. Suasana tampak mulai panas ketika beberapa
mahasiswa maju dan menuntut diadakanya sidang istimewa MPR untuk
mengganti kepemimpinan nasional. Dengan spanduk besar bertuliskan
"Sukseskan Sidang Istimewa MPR '98" mahasiswa menuntut reformasi politik
secara nyata dan bersungguh-sungguh. Mahasiwa setuju dengan agenda
reformasi bertahap: (1)
ganti presiden, (2) idem, (3) idem lagi, (4) lagi-lagi idem.
Teriakan-teriakan menuntut penggantian presiden semakin membahana di
antara massa. Beberapa dosen yang sempat tampil di atas mimbar, kali ini
sangat banyak dari sebelumnya, disuruh turun karena dianggap menceramahi
dan menurunkan semangat. Meskipun beberapa dari mereka juga pernah
menjadi aktivis, mahasiswa menganggapnya telah menjadi lembek.
  
Ganti Suharto atau Gantung Suharto
Keadaan memuncak ketika seorang dosen naik mimbar dan meneriakkan
"Tritura-O": (1) turunkan harga sembako, (2) ganti Suharto, (3) ganti
Harmoko. Tiba-tiba seorang mahasiswa merebut mic dan menyanyikan bait
lagu "Suharto musuhnya siapa..." diiringi beberapa mahasiswa di
belakangnya. Tentu saja hal ini disambut massa dengan gegap gempita
meskipun sempat malu-malu menyanyikannya. Secara bersahut-sahutan massa
menghujat Suharto dan antek-anteknya. Seorang satgas yang menyerukan
ganti Suharto ternyata salah didengarkan oleh massa
di belakang. Akhirnya semua meneriakkan gantung Suharto. Pada saat itu
massa sudah sulit diajak diam. Mereka tampak geram dan geregetan.
Seorang peserta menyerukan untuk turun ke jalan dan tiba-tiba seluruhnya
telah membentuk barisan. Akhirnya, konsensus dengan pihak
rektorat untuk tidak menyebut nama dan keluar kampus terlanggar sudah.
Meskipun hal ini sudah direncanakan, tetapi satgas sangat kewalahan
dengan antusiasme massa yang sangat hebat. Seolah-olah adrenalin mereka
sudak sampai di tenggorokan.
  
Turun ke Jalan dan Ganyang Suharto
Menanggapi keinginan massa untuk turun ke jalan, satgas segera melobi
aparat keamanan yang terdiri dari Pamtel, Polsek, Koramil, Dalmas, dan
Zipur sementara yang lain menyiapkan tali sebagai pembatas barisan.
Perundingan berjalan alot dan aparat keamanan berkeras untuk tidak
mengizinkan mahasiswa turun ke jalan sementara tim negosiator tetap
bertahan untuk memenuhi keinginan massa. Mahasiswa yang tertahan di
pagar gerbang mulai mendesak dan minta dibukakan. Beberapa orang sempat
memanjat pagar dan bergabung dengan grup drum band yang terus
menyemangati mereka, bahkan cenderung menantang. Dikhawatirkan massa
akan terus merangsek maju dan menjebol pagar gerbang. Di tengah
perundingan yang masih berlangsung, tiba-tiba pagar gerbang terbuka dan
meluberlah massa mahasiswa STT Telkom di jalan. Ganti satgas
yang kewalahan. Tali pembatas tidak mampu menampung jumlah massa yang
sangat besar. Untungnya, massa dapat tertib untuk saling bergandengan
tangan. Lebih 2500 orang turun ke jalan. Ketika barisan depan telah
sampai di jembatan Jalan Radio Palasari, barisan belakang masih ada di
dalam kampus. Tampak barisan massa putih-biru memenuhi seluruh ruas
jalan. Sepanjang perjalanan barisan mahasiswa terus menyanyikan
lagu-lagu dan meneriakkan yel-yel. Pada awalnya lagu-lagu perjuangan dan
yel-yel reformasi, namun seterusnya mahasiswa menyanyikan "Suharto
musuhnya siapa..." dan teriakan-teriakan "Ganyang Suharto!" sambil
memanas-manasi orang lain untuk bergabung.
Dalam perjalanan terdapat kejadian menarik ketika puluhan mahasiswi, di
antaranya angkatan baru, lari ke depan barisan sambil membawa poster dan
bendera merah putih menyongsong aparat keamanan yang menghadang. Mereka
berteriak-teriak menantang. Beberapa satgas yang berusaha menertibkan
hanya tersenyum kecut ketika mereka menyatakan aksi ini kurang seru
tanpa bentrokan dengan aparat keamanan.
  
Reformasi untuk Rakyat
Akhirnya massa mahasiswa berhenti dan duduk di bibir Jalan Mohamad Toha
sambil terus bernyanyi dan berteriak menghujat. Lalu lintas di sekitar
perempatan sempat terganggu dan macet. Masyarakat sekitar dan pengguna
jalan yang berhenti menonton tampak terus menyemangati mahasiswa.
Beberapa satgas segera membentangkan spanduk untuk ritual pemasangan.
Akhirnya, dengan disaksikan oleh seluruh mahasiswa STT Telkom secara
simbolik dipasang spanduk "Reformasi untuk Rakyat" di jalan masuk
kampus. Selanjutnya beberapa mahasiswa dengan bersahabat menyematkan
bunga pada aparat keamanan yang bertugas sebagai simbol kebersamaan ABRI
dengan rakyat. Sebenarnya saat itu adalah critical time karena mahasiswa
tidak mau kembali ke kampus dan berusaha terus maju. Mereka tampak masih
bersemangat meskipun telah menempuh sekitar satu kilometer sambil
berteriak-teriak di terik matahari. Beberapa orang sudah turun ke
sekitar Jalan Mohamad Toha. Lama sekali satgas membujuk mahasiswa yang
pada akhirnya mau kembali ke kampus setelah tuntutan mereka untuk
menggelar demo dan aksi turun ke jalan lagi
yang lebih seru dipenuhi. Untung sekali bahwa di antara satgas tidak ada
yang secara tidak sengaja memberikan komando untuk turun ke jalan karena
akibatnya sangat fatal. Di samping akan terjadi bentrokan dengan aparat
keamanan, massa mahasiswa akan melumpuhkan Bandung Selatan karena
bersamaan dengan pergantian jam kerja buruh pabrik di sekitarnya.
  
Prolog
Sampai di kampus banyak dosen yang menyalami mahasiswa dan mengucapkan
selamat. Mereka merasa terharu melihat kebersamaan ribuan mahasiswa STT
Telkom yang terbesar melebihi aksi di kampus Suci.
Sedangkan puluhan mahasiswi yang kurang puas tadi dengan diantar
beberapa satgas akhirnya berangkat ke ITB. Menurut informasi dari
perwakilan ITB, siang harinya akan diakan aksi di kampus mereka.
Ternyata tidak ada apa-apanya kecuali tenda-tenda yang dijaga beberapa
aktivis mahasiswa. Tentu saja rombongan STT Telkom kecewa karena
seminggu sebelumnya mereka pun hanya disuguhi beberapa pidato singkat
dan musik band, meskipun temanya rapat akbar mahasiswa. Beberapa kawan
mahasiswi berencana mengirimkan pakaian dalam wanita untuk mereka.
Kekecewaan rombongan itu sempat terobati ketika di sekitar kampus Unpas
Tamansari terjadi saling dorong antara aparat keamanan dengan mahasiswa
yang ingin turun ke jalan. Aksi ini dianggap lucu karena cuma diikuti
puluhan peserta dan malah bertambah ramai dengan kedatangan rombongan
STT Telkom. Lebih lucu lagi ketika koordinatornya salah-salah terus
menyanyikan Indonesia Raya. Semuanya, baik Mahasiswa, aparat keamanan,
maupun masyarakat tidak dapat menahan tawa. Akhirnya, rombongan STT
Telkom kembali dengan rasa percaya diri yang dalam bahwa mereka tidak
kalah dengan kampus lain. Dalam perjalanan pulang tersebut timbul pula
keinginan untuk menggelar Aksi Akbar Mahasiswa Indonesia pada 20 Mei
1998 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini harus
dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan penggalangan massa rakyat
untuk menuntut reformasi total terhadap aspek fundamental negara.
Perjalanan masih panjang, stamina perlu dijaga.
ROAD TO GASIBU...
  
Catatan Penulis:
Sebelumnya saya hanya memandang seragam STT Telkom yang putih-biru itu
dari segi praktisnya saja. Tidak perlu pusing dengan pakaian kuliah,
satu set seragam bisa dipakai seminggu tanpa ada yang tahu.
Sampai pada saat ini, saat saya menjadi saksi.
Ketika ribuan mahasiswa berseragam putih-biru menyusun barisan dan
meneriakkan suara rakyat dan bangsanya yang tertindas dengan penuh
keikhlasan...
Ketika ribuan mahasiswa berseragam putih-biru menyusun barisan dan
menyuarakan kebenaran untuk mengingatkan penguasa yang lalim...
Ketika ribuan mahasiswa berseragam putih-biru menyusun barisan dan
mennjalin kebersamaan untuk menuntut keadilan...
Rasanya hanyalah tangis haru dan rasa bangga yang mendalam menyadari
bahwa saya juga seorang mahasiswa berseragam putih-biru, almamater
tercinta STTTelkom.
Putih-biru dan rasa haru... serta kebanggaan itu!
  
-------------------------------------------------------------------
Diterbitkan oleh Masyarakat Jurnalistik bekerja sama dengan Podium
Online.
Mohon disebar luaskan.