[INDONESIA-L] Kekayaan Amien Rais

From: apakabar@clark.net
Date: Sat May 02 1998 - 11:17:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Sat May 2 14:14:04 1998
Date: Sat, 2 May 1998 12:12:46 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805021812.MAA17929@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Kekayaan Amien Rais
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

To: apakabar@clark.net
From: Metamorfosa <metadr@geocities.com>
Subject: Kekayaan Amien Rais
Date: 2 May 1998 10:31:28 +0700
 
Belakangan ini banyak sekali media massa baik dalam maupun luar negeri
membahas mengenai pak Amien Rais khususnya mengenai kunjungan pak Amien ke
Amerika untuk menghadiri pertemuan (entah resmi atau tidak resmi) yang
diselenggarakan NCCC. Banyak sekali dukungan, sokongan bahkan sekaligus
tuduhan, tudingan dan pelecehan dari sebagian orang.
Bahkan saudara G. Wibisana melihat teori konspirasi hubungan antara pak
Harto dan beliau.
Sungguh, saya tidak tahu bagaimana visi politik sebenarnya beliau, namun
saya hanya ingin menyumbangkan sedikit pengetahuan saya tentang pribadi pak
Amien. Semoga bermanfaat.
  
Tepat ketika pak Amien menginjakkan kaki di bumi Amerika untuk menghadiri
pertemuan yang diselenggarakan oleh NCCC pada tanggal 26 April 1998 yang
lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun beliau ke 54 tahun. Saya setuju
dengan pendapat sebagian orang yang menganggap kepergian pak Amien ke
Amerika ini terlalu dibesar-besarkan oleh media massa kita. Bahkan salah
seorang sahabat pak Amien sendiri, yaitu pak Yahya Muhaimin yang juga tokoh
Muhamaddiyah dan sekarang menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan
di Washington DC pun rupanya telah memperingatkan pak Amien untuk tidak
menanggapinya terlalu berlebihan (pernah dimuat di Kompas).
  
Sekali lagi, saya setuju kegiatan ini sebaiknya tidak perlu
digembar-gemborkan seperti di media massa kita. Karena kegiatan ini (menurut
saya) merupakan tuntutan moral yang harus dilakukan oleh Pak Amien untuk
sedikitnya membantu bangsa Indonesia untuk keluar dari semua krisis selama
ini. Itu saja. Tidak kurang tidak lebih. Menurut saya, itu hanya salah satu
bentuk dari kesederhanaan cara berpikir beliau.
  
Saya mengenal pak Amien hanya secara pribadi. Menurut saya, beliau adalah
seorang yang sederhana, tidak neko-neko. Mungkin orang tidak pernah tahu
kegiatan sehari-hari pak Amien yang tak pernah diekspos di media massa.
Misalnya beliau pergi ke Muntilan (sebuah kota kecil di Jawa Tengah sekitar
30 menit dari Yogya) hanya untuk makan tahu campur di sebuah warung pinggir
jalan, bermain sepak bola dengan putra-putranya di depan halaman rumahnya
hanya mengenakan sarung dan kaos singlet, menyapa murid-murid kecil TK
asuhan isteri tercintanya di depan rumah, atau menyapa hangat
tetangga-tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah. Hal yang mungkin
jarang dilakukan oleh para bos-bos di kalangan pejabat birokrat kita.
  
Kalau bicara kekayaan pak Amien, mungkin kita akan sedikit terkejut kalau
berkunjung ke rumah beliau. Ruang tamu yang sederhana dengan seperangkat
furniture yang tidak terlalu bagus (keadaan 1 tahun lalu entah sekarang)
dengan pajangan beberapa lukisan mahal kaligrafi Arab. Tidak ada satupun
lukisan ini dibeli oleh beliau. Lukisan ini semuanya merupakan hadiah dari
pelukisnya atau dari pengusaha kaya kenalan beliau. Saya yakin, kalau beliau
disuruh memilih untuk membeli lukisan-lukisan itu pasti dipilih untuk tidak
dibeli oleh beliau.
  
Tanah yang cukup luas di bawah rumah yang ditinggali oleh beliau, hampir 80
persen digunakan untuk kegiatan sekolah TK Budi Mulia dan TPA yang dikelola
oleh isterinya. Itu pun, dibeli secara bertahap sejak tahun '80-an sehingga
menjadi cukup luas sampai saat ini. Rumah yang mencolok dengan cat
berwarna-warni (karena ada sekolah untuk TK) yang ditinggali oleh beliau
ini, cukup mencolok dibandingkan dengan rumah di sekelilingnya yang
eksterior dan interiornya relatif lebih 'wah'.
  
Kalaupun paspor beliau penuh cap imigrasi luar negeri dan bisa dikatakan
hampir setiap tahun pasti beliau berangkat ke luar negeri, namun hampir bisa
dipastikan juga bahwa biaya perjalanan tersebut disediakan oleh pihak
pengundang.
  
Bahkan beliau pun pernah menolak jabatan yang cukup basah. Konon kedudukan
jabatan Atase Perdagangan di salah satu negara di Timur Tengah pernah
ditawarkan untuk kedudukan beliau pada kurun waktu '80-an. Bayangkan saja,
bagaimana karir beliau saat ini kalau seandainya jabatan itu jadi
dipegangnya waktu itu. Namun toh nyatanya beliau menolaknya dan memilih
untuk menjadi dosen biasa setelah meraih gelar Doktor dari Chicago
University. Pada saat ini pun gelar profesor yang mungkin telah bisa diraih
harus dikorbankan menunggu demi umat setelah diangkatnya beliau menjadi
Ketua PP Muhamaddiyah.
  
Mungkin kekayaan fisik beliau tidak seberapa dibandingkan dengan para
pejabat kita di kalangan birokrat kita. Bandingkan, di Sulawesi Selatan,
konon para bupati memiliki rumah mewah plus mobil mewah yang luar biasa
nilai rupiahnya! Namun jangan pernah lupa bahwa, pak Amien masih memiliki
kekayaan yang luar biasa. Kesederhanaan dalam berpikir, lugas, konsisten,
dan bersemangat juang tinggi (bukan bersikap untuk merendahkan beliau,
bahkan juga bersikap lugu dalam hal-hal tertentu!). Kekayaan pribadi yang
jarang dimiliki oleh para petinggi kita.
  
Oleh karena itu tuduhan kolusi antara pak Harto dan pak Amien adalah sangat
tidak masuk akal dan terlalu jauh, menurut saya. Saya yakin, saudara G.
Wibisana yang tinggal di Amerika (karena alamat e-mailnya aol.com) menganut
kebebasan berpikiran demokrasi ala Amerika. Yang mungkin hanya mengenal pak
Amien melalui media massa (dan mungkin juga kebanyakan media massa Amerika).
Semua itu boleh-boleh saja.
  
Terserah Pandangan semua orang. Tapi saya dukung pak Amien 250%!!!
  
Salam,
Metamorfosa