[INDONESIA-L] RUBRIK - AJInews

From: apakabar@clark.net
Date: Sat May 09 1998 - 10:47:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Sat May 9 13:47:16 1998
Date: Sat, 9 May 1998 11:44:52 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805091744.LAA01596@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] RUBRIK - AJInews
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

From: Aliansi Jurnalis Independen <jurnalis@idola.net.id>
Subject: Tindak Kekerasan thd Fotografer Jawa Pos
 
PELECEHAN TERHADAP FOTOGRAFER
JAWA POS OLEH ANGGOTA YONIF 507 SIKATAN
  
  
        SURABAYA (AJInews, 7/5/98): Kemarin sore (6/5), terjadi tindak kekerasan
terhadap Fotografer Harian Jawa Pos, Yuyung Abdi, oleh aparat keamanan dari
Yonif 507/Sikatan. Tindakan sewenang-wenang ini mendapat perhatian serius
dari kalangan wartawan di Surabaya, yang sore itu meliput long-march
mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam "Arek-arek Suroboyo Pro
reformasi", saat mendatangi gedung DPRD kota Madya Surabaya, di Jl. Yos
Sudarso.
        Saat massa memasuki jalan Pemuda, dihalau oleh aparat. Dan saat anggota
Yonif Sikatan itu (yang tidak terlihat namanya di Bedge, dikarenakan
tertutup rompi hitam yang dibelakangnya bertuliskan Sikatan) mengokang
senapannya, oleh Yuyung momen itu dipotret/dibidik. Rupanya aparat berbaju
hijau itu tahu dan langsung marah. Dia mendatangi Yuyung dan lantas
menendangnya. Tendangan itu membuat kamera Yuyung terlempar keatas yang
menyebabkan lensa kamera itu rusak.
Dan, salah seorang wartawan yang melihat kejadian itu, mendekat. Namun oleh
aparat dari kesatuan elite Kodam V/Brawijaya itu dengan segera
mengancam,"awas jangan potret saya".
        Atas perlakuan yang dianggap sewenang-wenang terhadap profesi wartawan
ini, beberapa wartawan berinisiatif untuk menyampaikan protes keras
terhadap Dandim Surabaya Selatan. Karena pasukan dari Yonif Sikatan/507 itu
dibawah koordinasinya.
        Hanya saja, saat dihubungi salah seorang wartawan, Dandim Surabaya
Selatan, Letkol Edy T, mengatakan bahwa itu tidah perlu dipermasalahkan.
Karuan saja wartawan yang lain tidak setuju. Akhirnya, setelah aksi massa
Surabay itu usai, sekitar pk. 15.30 WIB, beberapa wartawan mengadakan
pertemuan di Press Room gedung DPRD KMS itu. Ada sekitar 40-an orang
wartawan yang hadir saat itu. Hasilnya, ada kesepakatan untuk melakukan
protes keras atas perlakuan kesewenang-wenangan atas profesi wartawan itu
dan mengadukan kasus itu ke Pangdam dan Pangab. Sehingga diedarkanlah Tanda
Tangan sebagai pernyataan protes. Ada 33 wartawan yang saat itu membubuhkan
tanda tangannya, dari berbagai media di Jawa Timur, diantaranya adalah :
- Jawa Pos (4 orang), Bisnis Indonesia (3), Kompas (2), Harian Surya (2),
Sinar Pagi (1), Memorandum (3), Suara Indonesia (2), Karya Darma (3), The
Jakarta Post (1), Surabaya Post (3), Surabaya Minggu (1), Republika (1),
Persada Nusantara (3), Gatra (1), D&R (1), dan ANTEVE (2).
        Untuk menindaklanjuti kasus itu, beberapa wartawan mendampingi Yuyung
Abdi, mengadu ke LBH Surabaya dan advokat Trimoelja D. Soerjadi, untuk
meneruskan secara pidana kasus tersebut.
        Saat ditanya kasus yang menimpanya tersebut, Yuyung berpendapat bahwa ini
bukan karena saya pribadi, tetapi karena ini menyangkut profesi. "Saya
ingin agar kasus pelecehan terhadap profesi wartawan ini tidak terulang
lagi", ucap Yuyung pula.
        Salah seorang wartawan berpendapat bahwa ini jangan sampai menjadi
preseden buruk. Mungkin hari ini hanya ditendang kameranya, tapi besok bisa
langsung digebuk. Karena belakangan ini, pemukulan terhadap wartawan,
menjadi trend tersendiri. Ini berkaca pada kasus Medan, saat wartawan LKBN
Antara dipukuli. Dan juga yang terjadi di Malang. Salah seorang wartawan
Surya yang meliput kasus "Insiden 2 Mei" lalu, juga diancam oleh aparat
keamanan.
 
***
 
Subject: Mahasiswa Tewas di Yogyakarta
 
GERAKAN REMORMASI MEMAKAN KORBAN JIWA
Seorang Mahasiswa Yogya Tewas dalam Aksi yang Memanas
  
Jakarta, (AJINews, 9/10/98): Aksi keprihatinan mahasiswa Indonesia
memasuki babak pahit. Keluarga besar civitas mahasiswa Indonesia yang tak
pernah berhenti menyerukan reformasi lewat aksi-aksi mereka harus
kehilangan salah satu warganya.
Moses Gatotkaca, mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma (USD)
Yogyakarta, diketemukan tewas pada Jumat petang (8/5) di tengah
kegentingan menyusul aksi yang berakhir dengan bentrokan di sekitar kampus
USD, Mrican-Gejayan, Yogyakarta. Hal ini mengingatkan kita pada nama Arief
Rahman Hakim, sosok muda yang tewas dan menjadi saksi perlawanan terhadap
arogansi kekuasaan.
        Penyebab kematian Moses dipastikan adalah akibat hantaman benda keras dan
tumpul. Harian BERNAS Yogyakarta memberitakan, dr. Djatmiko Sudomo dari RS
Panti Rapih yang merawat Moses menyatakan bahwa Moses sudah meninggal
setibanya di rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan tulang dasar
otaknya retak. "Melihat keadaannya dapat saya pastikan dia dipukul sekitar
setengah jam yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan luka-lukanya. Yang jelas
dia meninggal akibat pukulan benda keras, tumpul," ujar dr Djatmiko
seperti dikutip BERNAS.
        Bagi Mulyana W. Kusumah, saat dihubungi AJINews, tewasnya mahasiswa ini
merupakan bukti bahwa politik kekerasan mengalami eskalasi secara meluas.
Bahkan hal ini sudah dilihat oleh KONTRAS sejak 2 Mei. Hal ini terbukti
dengan meningkatnya jumlah korban, yang menurut perkiraan KONTRAS sudah
mencapai lebih dari 1000 orang, dengan puluhan luka berat. Menurut Koord.
Dewan Nasional KONTRAS ini, penggunaan metode konvensional yang digunakan
aparat militer dalam menangani aksi-aksi damai mahasiswa, justru memicu
langkah yang lebih jauh timbulnya interaksi kekerasan di lapangan.
        Menurut sumber AJINews hingga berita ini diturunkan, belum jelas siapa
yang telah mencederai Moses hingga tewas. Orang-orang yang menemukakannya
lalu membawanya ke RS Panti Rapih menyatakan bahwa Moses kedapatan terkapar
di Papringan, Catur Tunggal, Sleman, Yogyakarta sekitar pukul 10.00.
Papringan tempat Moses ditemukan tak jauh dari kampus USD yang sejak sore
ribuan mahasiswanya terlibat aksi yang terus memanas sejak awal pekan ini.
        Insiden di Yogya ini sendiri, meletus sekitar pukul 17.00. Hal itu
terjadi akibat ratusan petugas keamanan membubarkan secara paksa unjuk
rasa yang dilakukan sekelompok massa di depan Hotel Radison yang terletak
di pertigaan antara Jl. Gejayan dan Jl. Kolombo. Karena, tak ada yang mau
mengalah, ketegangan ini berlangsung hingga malam harinya dan melahirkan
insiden berdarah. Di tengah insiden inilah Moses tergeletak di tempat yang
tak jauh dari kampus USD.
        Baik media massa maupun sumber setempat menyebutkan saat bentrokan
berlangsung petugas sempat melakukan pengejaran terhadap massa pelaku aksi
hingga memasuki kompleks kampus USD. Demikian juga terhadap aksi yang
dilangsungkan di IKIP Negeri Yogya yang berseberangan jalan dengan USD.
Diberitakan setelah itu bahwa 7 mahasiswa diamankan dan sejumlah fasilitas
kampus rusak saat petugas memasuki kompleks kampus.
        Dari dompetnya diketemukan identitas KTP dan SIM C atas nama Moses
Gatotakaca. Pemuda kelahiran Banjarmasin ini diketahui tinggal di Gang
Brojolamatan No 9A Mrican Yogyakarta. Tempat ini juga tak jauh dari kampus
USD dan sama-sama berada di wilayah Jalan Gejayan Yogyakarta. Selain KTP
dan SIM C juga ditemukan slip kiriman paket dari pengirim yang beralamatkan
Jalan Diponegoro I Singkawang Kalimantan Barat.
PR III USD, G Sukadi didampingi seorang dosen USD, Subekti dan Romo
Broto Wiyono SJ tampak menengok Moses sekitar pukul 00.15 di RS Panti
Rapih untuk menyampaikan rasa duka dan mendoakannya. Ketiganya
mengidentifikasi Moses sebagai mahasiswa USD. "Semoga ini yang terakhir
dan tidak ada korban lagi," ujar PR III USD. Rencana pemakaman Moses belum
bisa dipastikan.
        Secara umum suasana mencekam di sekitar USD seperti di Jalan Kolombo dan
Jalan Gejayan masih tampak mencekam hingga pukul 23.00. Kendraan belum
dapat melewati jalan-jalan di sini. Menurut sumber AJINews di Yogya,
dukungan moral dari masyarakat "Kota Pelajar" ini semakin menguat sejak
tewasnya Moses. Hal senada juga ditegaskan oleh Mulyana, sambil meminta
mahasiswa terus bertahan dengan aksi-aksi damainya. "Tidak boleh mundur
karena peristiwa ini, kembangkanlah komunikasi yang efektif untuk mencegah
semakin menjadinya tindak kekerasan", tandasnya. Mulyana juga menegaskan
bahwa KONTRAS memprotes keras dan sangat menyesalkan peristiwa ini. Dan,
selasa pagi KONTRAS akan menerima pengaduan dari Yogya dan petangnya akan
diadakan do'a keprihatinan di sekretariat KONTRAS: Jl. Diponegoro 74
Jakarta. Semaga kematian Moses menjadi saksi sejarah dan pelajaran bagi
kita.