[INDONESIA-L] BUKU - A.M. Hanafi Me (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Tue May 19 1998 - 15:10:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Tue May 19 18:08:42 1998
Date: Tue, 19 May 1998 16:06:35 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805192206.QAA24806@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] BUKU - A.M. Hanafi Menggugat (sambungan)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

  
LSSPI - No. 37 (1998)
lsspi@hotmail com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
                * A.M. HANAFI MENGGUGAT *
                                               
                          BAB XIX
  
             Kenali kembali beberapa Peristiwa dan (3/7)
               Tokoh Tentara yang Berperan dalam
                     Komplotan GESTAPU
  
Keempat: Tentang bagaimana Soeharto menunggangi
"Dewan Jendral" dan "GESTAPU"
  
Sampai sekarang para cendekiawan, ilmuwan dan peneliti sejarah
masih belum berhenti menyelidiki apa sesungguhnya yang terjadi
di Indonesia pada 1 Oktober 1965, yang dikenal sebagai peristiwa
GESTAPU itu? Di luar maupun di dalam negeri keluar buku-buku
dan tulisan-tulisan mengenai peristiwa tersebut; peristiwa yang telah
mengorbankan sejuta manusia dibantai tanpa proses hukum dan
hancurnya satu republik nasionalis dan demokratik Presiden Sukarno.
menjadi setalam adonan-tepung-roti yang dibakar dengan api anti
komunis untuk menjadi santapan para penguasa baru: diktator
Soeharto dengan regimnya Orde Baru.
     Mereka hebat dalam banyak data dan fakta tetapi masih samar-
samar tentang latar belakangnya, mereka kutip surat-surat kabar,
dokumen-dokumen, tetapi belum sampai kepada apa yang tersirat
di belakangnya itu yang sebenar-benarnya. Ini bisa dimaklumi.
GESTAPU adalah peristiwa politik yang maha besar. Dan soal politik
itu tempatnya adalah di atas segala soal di dalam masyarakat. Di
antara buku-buku yang ditulis terdapat a.l.:
        1. Nugroho Notosusanto & 6. Van den Heuvel.
           Ismail Saleh. 7. Manai Sophian.
        2. B.Anderson & Ruth Mc.Vey. 8. A.C.A Dake
        3. Harold Crouch. 9. M.R. Siregar
        4. Peter Dale Scott. 10. Oel Tjoe Tat
        5. W.F. Wertheim. 11. dan lain-lainnya
Kita bisa terbantu pula oleh karya Goenawan Mohammad, yang
berjudul: 'Bayang-bayang PKl' yang bagi saya menarik sekali. Kompilasi
dan penyimpulannya saya anggap obyektif dan benar terhadap
tanggapan herbagai pihak, termasuk para penulis yang saya sebut di
atas.
     Saya sendiri bukan penulis, peneliti apalagi ahli sejarah. Saya tulis
buku ini sebagai seorang ex pemuda peIopor revolusi 17 Agustus
45 yang dirampas Hak-Azasinya oleh Soeharto dan regimnya
sekarang ini, demi kepentingan negeri dan bangsaku yang kucinta,
angkatan sekarang maupun angkatan yang mendatang!. Saya tulis
tanpa punya akses atas data dan dokumen, seperti yang cukup tuntas
telah disajikan oleh Ex Dubes Manai Sophian dalam bukunya
"Kehormatan Bagi yang Berhak". Saya menulis sepenuhnya berdasarkan
pengalaman dan kesaksian langsung saya sendiri. Saya tulis sementara
fosfor di kepalaku ini masih mau bekerja dalam umur lanjut 80 tahun
ini dalam keadaan bertahan hidup sebagai refugee politik. Tidak untuk
membela siapa-siapa, kecuali kebenaran sejarah yang saya alami dan
saya saksikan langsung dari peristiwa GESTAPU itu.
     Orang-orang nyinyir, asal saja ada daging yang bernama bibir di
mulut dan lidah tidak bertulang bilang dengan latah berkokok: Itu
Peristiwa G3OS/PKI, sebab pihak penguasa negara sekarang yang
bilang begitu. Saya mengatakan secara bulat-bulat saja: Peristiwa
GESTAPU atau GESTOK, tanpa ada embel-embel. Kalau mau
dibilang GESTAPU/PKI wajarnya harus dibilang juga NEKOLIM
dan oknum yang tidak benar, yaitu Letjen Soeharto cs!. Dus,
GLSTAPU/PKI/Nekolim/Soeharto cs. Dengan catatan bahwa yang
dimaksud PKI itu ialah beberapa orang pimpinannya, di lain pihak
oknum yang tidak benar itu bukanlah seluruh anggota AbRI,
melainkan hanya Letjen Soeharto saja.
     Sebab Peristiwa GESTAPU itu adalah provokasi, provokasi yang
tumpang tindih yang lebih kompleks dari peristiwa provokasi
Madiun. Peristiwa GESTAPU adalah provokasi dari tiga pihak yang
bersatu pada waktu tertentu:
        a.NEKOLIM
        b.Pernimpin-Pemimpin PKI yang keblinger
        c.Oknum-oknum yang tidak benar, yang ternyata ialah Letjen Soeharto cs.
  
Supaya lebih jelas perkenankan saya kutip Manai Sophian "Kehormatan
Bagi yang Berhak" halaman 172:
"Dengan memperhatikan Pidato Bung Karno di depan rapat Panglima
Angkatan Darat seluruh Indonesia 28 Mei 1965, diperkuat oleh
dokumen-dokumen State Department dan CIA yang diumumkan di
Amerika serta proses di pengadaan yang mengadili tokoh-tokoh G3OS/
PKI, membantu kita memahami konstatasi Bung Karno tentang
terjadinya G3OS/PKI dalam pidato "Pelengkap Nawaksara" yang
disampaikan kepada MPRS pada 10 Januari 1967 yang mengatakan
bahwa berdasar penyelidikannya yang seksama, Peristiwa G3OS/PKI
itu ditimbulkan oleh pertemuannya 3 sebab:
     1. Keblingernya pemimpin-pemimpin PKI.
     2. Kelihaian subversi Nekolim
     3. Memang adanya oknum-oknum yang tidak benar.
  
Mengapa ketiga-pihak itu bertemu pada satu waktu tertentu: pada
30 September 1965? Saya menanggapinya sebagai disebabkan oleh
Tiga Faktor:
a. Tancep gas-nya gerakan NEKOLIM sesudah menggagalkan
Konferensi AA-ke II di Aljazair yang ditandai oleh Kudeta
Kolonel Boumedienne terhadap Presiden Ben Bella.
b. Meningkatnya Konfrontasi Malaysia dalam suasana paranoia
pro dan kontra yang melahirkan isu "Dewan Jendral" di dalam
Pimpinan PKI dan Pimpinan A.D.
c. Menyabot rencana CONEFO yang sudah ditetapkan oleh
Presiden Sukarno, akan dilangsungkan OKTOBEk 1966.
  
Untuk lebih jelasnya itu provokasi, yang berpangkal pada issu
"Dewan Jendral", perkenankan pula saya kutip dari bukunya M.R.
Siregar "Tragedi Manusia dan Kemanusiaan" halaman 142. Sebab
kebetulan saya kenal beberapa orang yang tersangkut, umpamanya
Mayor Rudhito Kusnadi Herukusumo, Ketua CC-PNKRI
(Pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia), yang sejak
semula saya sudah mulai curigai mengapa dia tidak masuk saja ke
dalam salah satu partai politik kalau betul-betul mau turut
mendukung Negara Kesatuan R.I., yang memberikan keterangan
dalam "Pengadilan Untung di depan MAHMILUB II". Saya kutip:
Rudhito pertama kali mendengar adanya "Dewan Jendral" dari
rekannya dari CC-PNKRI (Comite Central Pendukung Negara
Kesatuan Republik Indonesia), Amir Achsan.
     Tetapi cerita yang paling mencemaskan adalah yang disampaikan
pada tanggal 26 September 1965 di ruangan P.B.Front Nasional oleh
empat orang "sipil", yaitu: Muchlis Bratanata, Nawawi Nasution,
Sumantri Singamenggala dan Agus Herman Simatupang. Menurut
keempat orang itu diadakan rapat Dewan Jendral di gedung AHM
(Akademi Hukum Militer) dan mengajak Rhudito, dalam
kedudukannya sebagai Ketua CC-PNKRI, supaya membantu
pelaksanaan rencana.
     Keempat orang itu menceritakan rencana Dewan Jendral lengkap
dengan cara-caranya. Pertama, kalau toh bisa maka akan digunakan
cara seperti matinya Singman Ree, Presiden Republik Korea Selatan,
dan kalau tidak berhasil akan dibuat seperti Bhao Dai dari Vietnam
Selatan, kalau toh itu masih tidak bisa akan di "Ben-Bella"-kan.
     Rencana lainnya dari Dewan Jendral adalah mengenai susunan
Kabinet Dewan Jendral. Ini diketahui oleh Rhudito dari catatan
Muchlis Bratanata yang ditunjukkan kepadanya. Tapi itu saja belum
cukup. Supaya Rhudito benar-benar percaya, keempat orang itu
memutar rekaman dari Rapat Dewan Jendral, di mana
Mayor Jendral Parman membacakan susunan Kabinet dimaksud.
Nereka yang akan duduk dalam Kabinet apabila Kudeta Dewan Jendral
itu berhasil, adalah: Jendral A.H.Nasution sebagai Perdana Menteri,
Letnan Jendral Amhad Yani sebagai Wakil Perdana Menteri I merangkap
Menteri Pertahanan/Keamanan, Letnan Jendral (tituler) Dr. Ruslan
Abdul Gani sebagai Wakil Perdana Menteri II merangkap Menteri
Penerangan, Mayor Jendral Haryono Sebagai Menteri Luar Negeri,
Mayor Jendral Suprapto sebagai Menteri Dalami Negeri, Mayor Jendral
S. Parman sebagal Menteri Jaksa Agung, Brigadir Jendral Sutojo sebagai
Menteri Kehakiman, Brigadir Jendral Drs. Sukendro sebagai Menteri
Perdagangan, Dr. Sumarno sebagai Menteri Pembangunan, Mayor
Jendral Dr. Ibnu Sutowo sebagai Menteri Pertambangan Dasar, dan
Jendral Rusli sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat. Menurut
Rhudito berdasarkan laporan dan rekannya Mohammad Amir Achsan,
dokumen-dokumeen tersebut telah dimiliki Supardjo, Presiden, Jaksa Agung
dan KOTRAR (Komando Tertinggi Retuling Aparatur Revolusi.
  
Note dari saya AMH: Yang dikatakan bahwa Dokumen atau kaset itu
sudah ada di tangan Presiden, sudah dibantah oleb Bung Karno,
ketika saya dan Brigjen Imam Syafi'i menighadap di Istana Bogor.
Malah justru menanyakan hal itu kepada Brigjen M.I.Syafi'i.
  
Menarik untuk diperhatikan, sekalipiunn Soeharto adalah anggota Dewan
Jeudral, namun namanya tidak tercantum dalam susunan Kabinet Dewan
Jendral. Ada udang di balik batu?
     Dua butir rencana Dewan Jendral - satu tentang cara-cara
menyingkirkan Sukarno dan satu lagi mengenai susunan Kabinet
Dewan Jendral, menurut sifatnya adalah rencana yang sangat peka dan
gawat yang seharusnya dengan ketat dirahasiakan. Kalau bukan untuk
maksud provokasi, mengapa rencana sepeka dan segawat itu justru
sengaja dibocorkan? Bukankah CC-PNKRI yang diketuai oleh Rhudito
suatu organisasi pemuja dan pendukung Sukarno? Mungkin dua butir
rencana tersebut dibuat hanya "seolah-olah" , dan bukannya sungguh
-sungguh". Tapi yang manapun gerangan yang benar, dan yang manapun
yang akan menjadi kesan orang yang mendengarnya, namun
"pembocoran" dari dua butir rencana tersebut mempunyai tujuan yang
sama dan, pada kenyataannya, dengan efek yang sama: provokasi!
     Petunjuk yang tak meragukan lagi mengenai maksud ini dapat
ditemukan pada identitas keempat orang"sipil" yang"membocorkan"
itu dan para jendral yang berada di belakang mereka. Muchlis Bratanata
dan Nawawi Nasution (keduanya dan Partai NU), serta Sumantri
Singamenggala dan Agus Herman Simatupang (keduanya dari Partai
IP-KI, partainya Jendral Nasution) adalah penghubung langsung dari
orang-orangnya Jendral S.Parman, Jendril Harjono dan Jendral Sutojo.
Berdasarkan cerita dari keempat orang "sipil" ini, tiga Jendral yang
disehut di atas adalah tokoh-tokoh puncak dari Dewan Jendral (anggota
Pleno Dewan Jendral terdiri dari 40 orang.Yang aktif ada sebanvak 25
orang.
     Dari yang 25 ini ada 7 yang memegang peranan penting. Mereka
adalah: 1. Jendral A.H. Nasution, 2. Letjen Ahmad Yani, 3. Mayjen
Suprapto, 4. Mayjen S.Parman, 5. Mayjen. Harjono, 6. Brigjen Sutojo.
7. Brigjen Drs. Sukendro.
  
Demikianlah saya kutip M.R. SIREGAR dari bukunya TRAGEDI
MANUSIA DAN KEMANUSIAAN.
     Dari kutipan nama-nama saya merenungi nama seorang jendral,
yang saya merasakan punya simpati terhadap saya. Namun diri saya
tersembunyi teka-teki di sudut hatiku. Beliau itu ialah Brigjen Drs.
Sukendro. Dia tinggal di Jalan Lembang di depan danau, saya di Jl.
Madura 5, jadi tidak jauh, sama-sama di daerah Menteng. Adiknya,
saudara Abioso demikian pula malah menjadi anggota PARTINDO.
Saat terakhir saya ketemu Brigjen Sukendro, ialah di hari Peristiwa
bersejarah 11 Maret 1966 di dalam Sidang Kabinet di Istana Negara.
Dia duduk di belakang saya, di samping Brigjen Achmadi. Saya kira
pada umumnya, sudah mengetahui bahwa ketika sidang Kabinet
sedang berlangsung di istana itu, dikepung oleh tentara-tentara yang
tidak pakai tanda-pengenal (sebenarnya tentara RPKAD, anak-
buahnya Brigjen Kemal Idris), sehingga Bung Karno, Subandrio
dan Chaerul Saleh dinasihatkan oleh Dr.J.Leimena sebaiknya segera
berangkat ke Bogor demi keselamatan. Semua yang tinggal mengira
Presiden Sukarno hanya keluar ruangan dan akan segera kembali lagi
untuk meneruskan sidang, sehab tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Sejenak kemudian setelah Dr. Leimena menutup sidang, dengan alasan
bahwa Presiden ada urusan penting terpaksa harus pergi ke Bogor.
Brigjen. Sukendro itu memegang bahu saya seraya mengatakan dengan
mimiknya yang selalu senyum itu: "Pak Hanafi, sebaiknya harus cepat
ikuti Presiden ke Bogor, ikuti dia ke mana dia pergi,jangan tinggalkan
Bapak itu sendiri!"
     Cepat saya timbul berbagai tanda tanya dalam kepalaku. "Apakah
Sukendro itu sudah tahu apa yang sedang terjadi dan yang akan
terjadi dengan Bung Karno, apakah Subandrio dan kawan saya
Chaerul Saleh itu dianggapnya kurang cukup bisa dipercaya untuk
mendampingi (untuk membela) Bung Karno kalau terjadi apa-apa??"
Namun, oke, saya terus berdiri, bergegas mengejar Bung Karno,
saya loncat menuruni tangga, terus berlari, berlari sampai terasa
nafas sengal-sengal, sampai di pintu gerbang Istana Merdeka, kulihat
dengan rasa kecewa. helicopter Bung Karno sudah start mengangkat
badannya ke udara, meninggi seperti rasa kecewa saya yang
ketinggalaii di bawah sendiri dan sendirian.
     Inilah salah satu bagian drama permulaan di hari 11 MARET
1966, hari bersejarah yang penting, dan amat penting itu. Hari
dimulainya penodongan langsuug kepada Bung Karno, Presiden/
Panglima Tertinggi ABRI, bukan oleh PKI AIDIT atau sebangsanya,
tapi Letjen. Soeharto yang menunggangi dua-kuda sekaligus: Dewan
Jendral (dengan Trionya Yoga Sugama dan Ali Murtopo) dan
GESTAPU (dengan Trionya Syam dan Latief cs). Satu kakinya di
Dewan Jendral, satu lagi di GESTAPU uutuk mengganti R.I.
Proklamasi dengan Orde Baru.
Tentang bagaimana kelanjutan penodongan tersebut yang
menghasilkan SUPERSEMAR yang disalah-gunakan oleb Soeharto,
sebagai seorang yang gila kekuasaan dan gila harta, kemudian
bernafsu mau menjadi diktator seumur hidup, akan saya buka di
bagian berikut ini nanti.
     Sebelum sampai ke bagian tersebut, saya anggap penting diketahui
tentang bagaimana Soeharto bisa dan berhasil menunggangi
GESTAPU, hingga sampai ke 30 September 1965.
  
  
------------------------------------------------------------
        LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA
------------------------------------------------------------
 Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------
 
***
 
  
  
LSSPI - 38 (1998)
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
                * A.M.HANAFI MENGGUGAT *
  
                          BAB XIX
  
           Kenali kembali beberapa Peristiwa dan (4/7)
             Tokoh Tentara yang Beperan dalam
                     Komplotan GESTAPU
  
Tentang Trio: Soeharto-Syam-Latief cs
  
Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. ditandatangani atas nama
Bangsa Indonesia Sukarno-Hatta, dibacakan oleh Bung Karno,
dengan didampingi oleh Bung Hatta, telab dikumandangkan ke
udara dan ke seluruh Nusantara. Tanah Air Pusaka, warisan Sriwijaya,
Gajah Mada dan Brawijaya. Dari Bukit Siguntang-guntang dan dari
Gunung Mahameru (Semeru) Dewa-dewi naik ke angkasa mene-
barkan harum mawar dan melati oleh sebab saking gembira bersuka
ria mengetahui bahwa keturunan Dinasti Syailendra telah berani
membebaskan dirinya sendiri dari penjajahan asing selama tiga-
setengab abad.
     Radio transmisi di kantor Domei di bawab pimpinan Djawoto,
setiap ada kesempatan digunakan untuk menyiarkan Proklamasi,
dan Jusuf Ronodipuro begitu berani mencuri kesempatan
menggunakan radio-transmisi luar negeri Radio Hosokiuku yang
masih dikuasai Jepang. Siaran inilah yang sampai tertangkap di udara
Singapura sehingga segera seperti epidemi dibawa angin ke seluruh
negeri. Seluruh dunia menjadi tahu, juga pihak kaum kolonial.
Tapi juga kaum pangrehpraja dan kaum pengikut Belanda yang
terlalu banyak minum "cekokan" kolonial pada jadi kaget dan
mengejek secara sinis sekali: "Huh mana bisa Sukarno. Yang bisa
kasih merdeka itu hanya Sri Baginda Ratu, Hare Majesteit de
Koningin".... Bom-bom waktu seperti itu banyak ditanam Belanda
di daerah Pekalongan, Brebes, Pemalang dan di sepanjang pesisir
Utara Jawa Tengah. Inilah pula salah satu sebabnya maka pecah apa
yang disebut "revolusi sosial" lebih dikenal sebagai Peristiwa Tiga
Daerah, 1946. Apalagi di Jakarta, kota besar Ibu kota Proklamasi.
     Namun para pemuda dan Rakyat yang dipelopori oleh Komite
Van Aksi yang bermarkas di Menteng 31 menginsafi benar apa arti
Proklamasi 17-8-45 itu sesungguhnya. Revolusi! Sekali Merdeka
Tetap Merdeka! Itu meminta darah dan air mata. Pengorbanan jiwa
dan harta benda.
     Maka bermufakatlah kami, supaya sebaiknya anak-isteri yang
sudah sejak persiapan dan dimulai revolusi tidak sempat kami
perhatikan karena obsessie revolusi kemerdekaan, masing-masing
kami carikan tempat pengungsiannya. Ada yang mengusulkan supaya
disatukan pada satu tempat atau kota. Chaerul Saleh, Wikana dan
Sukarni, mengusulkan di Sukabumi, agar tidak terlalu jauh. Tapi
saya mengambil cara lain. Saya ungsikan isteriku Sukendah, dengan
dua bayi di bawah umur 3 tahun, ke Jawa Tengah, ke desa Gondang
di atas Blabak atau ke Jetis di lereng Gunung Merapi. Sebab ada
banyak keluarga kakeknya berdiam di sana turun-temurun. Memang
saya ini "sinting" seperti ditegor oleh mertua saya. Karena panggilan
Proklamasi, sampai "segitu-gitunya". Sukendah, Ketua Lembaga
Putri di zaman Jepang dan Ketua Putri Indonesia Muda di zaman
Belanda, sebenarnya hatinya ingin turut serta bersama dengan saya
dalam perjuangan, tapi saya mohon kepadanya berikan kesempatan
pada saya, keinginan hatinya kubawa bersama saya, tapi demi
kesayangan bersama pada anak, kita bagi sementara tugas mulia kita.
     Tetapi ketika di lereng Merapi di daerah Kedu berkecamuk
Gerakan Herucokro (gerakan kebatinan ciptaan Van der Plas!), masih
sempat saya pindahkan keluarga saya itu ke Yogyakarta. Gerakan
Herocokro itu mengajarkan kepercayaan, bahwa semua orang yang
sudah dewasa harus dimatikan semua, karena hidupnya mengandung
dosa, bahwa bayi-bayi dan anak-anak di bawah umur saja boleh
dibiarkan hidup. Gila! Nanti, katanya, Ratu-Agung akan turun ke
Gunung TIDAR untuk menyelamatkan tanah Jawa. Setelah saya
laporkan gerakan Van der Plas itu kepada Pemerintah R.I., malah
Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, mengatakan bahwa Menteri
Dalam Negeri R.A.A. Wiranatakusuma mau mengangkat saya
menjadi Residen Kedu. Ini gila'. Menandakan bahwa Kabinet
Pcrtama R.I. itu belum siap dengan konsepsi Pemerintah Dalam
Negeri di dalam pergolakan menegakkan Proklamasi. Tentu saja
saya yang keberatan, sebab itu bukan bidang perjuangan saya. Apalagi
bahasa Jawa saya, amat memalukan!
     Nah,di Yogya inilah saya mengenali beberapa ex Pemuda Pathok,
yang markasnya tadinya berada di Jl. Pakuningratan arah ke Jalan
Tugu Lor. Di sana masih berdiam saudara Sulistio bersaudara (adiknya
Dr. Sulianti dan Sulendro Sulaiman, semua pangkal namanya pakai
"Su").Arah ke rumah saya Pakuningratan no. 60 ada rumah saudara
Sumantoro Tirtonegoro (biasa kami panggil Mas Mantoro
Waterleiding!). Dia inilah yang mengenalkan saya kepada saudara
Sundjojo, Ketua Pathok yang aktif di sekitar hari-hari Proklamasi.
Pemuda Pathok adalah hasil kaderisasi saudara Djohan Sjahruzah
yang sudah saya kenal. Dan para Pemuda Pathok inilah yang
memprakarsai agar Sri Sultan Hamengku Buwono dan anggota BKR
yang bernama Soeharto berdiplomasi dengan Militer Jepang di
Markasnya di Kota Baru secara damai menyerahkan senjata-senjata
kepada Sri Sultan, demi keamanan. Dan dari saudara Sumantoro
Tirtonegoro ini juga saya pertama kali mendengar sebuah nama
Pemuda Pathok: Syamsul Qamar Mubaidah (yang di zaman Peristiwa
GESTAPU, berubah sedikit namanya menjadi Syam Kamaruzaman
Bin Mubaidah).
     Jadi, bisa disimipulkan Syam Kamaruzaman itu sudah mengenal
Letjen Soeharto, sejak dari zaman "penyerbuan" Markas Jepang pada
hari-hari permulaan Revolusi di Yogyakarta. Ketika saudara Mantoro
Waterleiding itu bicara dengan saya itu, Syam sudah tidak berada di
Yogya lagi, tapi bergabung dengan AMKRI yang diketuai oleh
saudara Ibnu Parna di Semarang, dan kabarnya bersama Ibnu Parna
turut mengorganisasi Penyerbuan Kidobutai di Semarang. Kemudian
jadi "informan-rahasia" dari Komisaris Polisi Mudigdo di
Pekalongan. Komisaris Polisi Mudigdo ini (masih punya hubungan
Famili dengan Mukarto Notowidigdo). Dia di masa Provokasi
Madiun mati ditembak tentara di Pati, oleh sebab ternyata bersimpati
kepada Amir Syarifuddin. Anak Komisaris Mudigdo itu, Dr. Sutanti
biasa dipanggil 'Bolle", kemudian kawin dengan D.N. Aidit. Dari
riwayat ini agaknya mulai ada hubungan Syam dengan Aidit sampai
ke Peristiwa GESTAPU. Tapi kabarnya D.N. Aidit baru mengenal
Syam di Jakarta di tahun l95O-an diTanjung Priok. Mengenai hal
"cerita" di Tanjung Priok ini akan saya singgung lagi kemudian.
     Saya sendiri mengenal langsung Syam Kamaruzaman Bin
Mubaidah itu, barulah secara kebetulan di dalam penutupan
Konferensi PESINDO di Solo, di akhir tahun 1946. Sebab sepanjang
saya tahu, dia tidak ada fungsi apa-apa dalam PESINDO. Pada suatu
malam setelah sidang selesai di malam itu (untuk diteruskani lagi
besok hari), saya dan Wikana sedang duduk ngobrol ngopi dengan
Fatkur, Tjugito, Krisubanu dan Ibnu Parna. Tiba-tiba datang dua
orang menghampiri menyalami Wikana. Siapalah yang tidak kenal
Wikana, selain Pemuda MENTENG 31, menjabat Menteri Negara
dan menjabat Wakil Ketua PESINDO, di samping Krisubanu, Ketua
Umum. Wikana mengenalkan pada saya dua orang itu: Syamsul
Qamar, pemuda Laskar-PAI (Partai Arab Indonesia) asal Pekalongan,
dan seorang lagi Polisi Sudjono Jemblung, asal Jawa Tiniur.
     "Syamsul Qamar boleh, Syam Kamaruzaman boleb juga, asal
ada Syam-nya tapi yang penting pula bin Mubaidah," berseloroh
Syam itu sambil ketawa mengoreksi Wikana.
     Syam perawakannya sedang, kulitnya tidak putih bersih seperti
beberapa keturunan Arab, anggota Laskar PAI yang saya pernah kenal
di Jakarta. Kulitnya agak kehitam-hitaman dan pakai kumis sedikit.
Saudara Fatkur mengatakan kedua orang itu adalah polisi.
     Syam itu dikatakannya adalah "restan" Peristiwa Tiga Daerah.
Entah Fatkur itu berseloroh saja, ataukah betul saya tidak ada
kesempatan untuk berkenalan lebih panjang. Kedua orang itu
kemudian diajak Fatkur pergi.
     Yang kedua kalinya saya ketemu pada Syam itu, kebetulan lagi
juga di gedung PESINDO Pusat di Solo itu juga, pada akhir Juli
1948 sebelum terjadi Peristiwa Provokasi Madiun. Barangkali dia
datang untuk menyaksikan apakah PESINDO Pusat itu masih ada?
Sebab pernah gedung PESINDO itu diduduki oleh Tentara Siliwangi.
ketika keadaan di Solo sangat kacau dekat sebelum kejadian Peristiwa
Madiun tersebut.
    "Mau apa lagi itu Arab, itu mata-mata polisi Komisaris Mudigdo
datang ke mari", ucap saya sebel pada Krisubanu.
    "Saya juga tidak kepadanya. barangkali dia mau menyaksikan
kekalahan kita, tapi Fatkur yang mengurusi dia itu" kata Krisubanu.
     Itu kali Syam melaporkan tentang Konferensi Rahasia Sarangan,
21 Juli 1948, antara pihak Amerika (Gerald Hopkins dan Merle
Cochran) dan dari pihak Indonesia Sukarno-Hatta-Sukiman-
Moh.Natsir-Moh.Rum dan Sukamto. Tetapi Bung Karno pulang
duluan, tidak menunggu sampai selesai begitulah dia melapor.
     Bahwa infonya Syam itu begitu penting mengenai Red Drive
Proposal baru kemudian kami menginsafinya, setelah kejadian
Provokasi Madiun. Dan bagaimana Syam bis atahu itu Konferensi
Rahasia Sarangan kalau tidak punya jalur hubungandengan kalangan
PSI? O, sebenarnya saya sudah dengar berita begitu dan akhirnya
begitu banyak sudah orang-orang PESINDO yang menjadi korban
dalam Peristiwa Provokasi Madiun itu. Seperti Kolonel Dahlan,
suaminya Maasje Siwi anggota Dewan Penerangan PESINDO di
mana saya menjabat sebagai Ketua. Dan lain-lain lagi. Sebenarnya
mengenai saya, saya sudah lama ex-officio dan kedudukan saya
sebagai Ketua Dewan Penerangan PESINDO, sejak kesibukan saya
di Kementerian Pertahanan sebagai Opsir Staf PEPOLIT. Dan jabatan
saya sebagai Komandan Laskar PESINDO Jawa Barat, sudah saya
letakkan pada pertengahan Juli 1949 dan saya percayakan kepada
saudara Wahidin Nasution dari Laskarr Rakyat Jakarta Raya.
     Sesudah dua kali saya ketemu, melihatnya bermuka-muka, itu
informan, atau polisi mata-mata-gelap dari Komisaris Mudigdo, ex
Pemuda Pathok, yang orang kata kadernya Djohan Sjahruzah yang
saya sangsikan pantasnya disebut kader, tapi sebetulnya seorang insan
yang memberi kesan seorang pengabdi perjuangan, tapi hanya
seorang avonturir yang berpretensi bisa tahu semua, tapi akhirnya
mendorong R.I. terjerembab ke bawah sepatu seorang diktator.
     Dua kali saya bertemu dengannya seperti tersebut di atas, tapi
lama sekali kemudian saya melihat sekali lagi, yang terakhir, di tahun
1963, sebelum saya berangkat ke Kuha.
Dari 11 orang Pemuda Pelopor Proklamasi dari MENTENG 31,
hanya saya sendiri yang beruntung menyaksikan peristiwa
Penyerahan Kedaulatan R.I., di mana dokumen serah-terima itu
ditandatangani oleh Komisaris Lovink atas nama Kerajaan
Belanda dan Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX atas nama
Republik Indonesia, di Istana Merdeka, 27 Desember 1949.
     Saudara Wikana masib menghilang, akibat Provokasi Madiun,
sedangkan Chaerul Saleh dengan Pasukan Bambu Runcingnya
berada di Jampang Kulon (Banten), konsekwen menentang K.M.B.
Sukarni saya tak tahu ada di mana, Adam Malik anggota DPR, tapi
ogah-ogahan, Pandu kerja di ANTARA.
     Saya pun menyaksikan peristiwa sejarah itu dengan perasaan
kecewa pula, tapi saya menyadari sebab kami Pemuda Radikal itu
tak berdaya apa-apa lagi. Maka itu, saya membangun Organisasi
Augkatan 45 di tahun l953.
     Dengan hasil KMB itu kita harus membayar "retribusi" milyunan
dollar, begitupun semua biaya pendudukan dan penyerbuan NICA
ditimpakan kepada R.I. yang harus dibayar, dan lain-lain pil pahit.
Semua itu terpaksa kita telan, demi bisa memiliki Republik Proklamasi,
dengan Presidennya Bung Karno dan Wapresnya Bung Hatta.
     Tapi rasa sakit di hati itu bisa dilembutkan, ketika menyaksikan
lautan gelombang massa yang menyambut kedatangan Bung Karno
dan Bung Hatta sejak dari lapangan terbang Kemayoran sampai ke
Istana Merdeka. Itu saya sempat menyaksikan, dengan perasaan
"masih beruntung Republik ini tidak tenggelam". Sekarang teruskan
saja berdayung dengan segala daya dan cara, dengan segala piranti
yang ada pada kita ke arah pulau tujuan: negeri adil sejahtera bagi
seluruh rakyatnya, ber-Pancasila.
     Bulan Februari 1950, saya boyong keluarga kembali ke Jakarta.
Naik kereta api dari stasiun Tugu via Magelang dan Semarang, sambil
membawa segala suka-duka pengalaman perjuangan menegakkan
Republik yang takkan cukup waktu untuk diceritakan sampai nafas
terakhir sekalipun.
     Kalau saya pikir-pikir,Jakarta dan Yogyakarta adalah dua muka
dari satu mataa-wang Proklamasi 17 Agustus l945. Tergantung di
tangan siapa dan untuk apa digunakannya.
     Sukarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX telah menempa
kekuatan persatuan nasional sedemikian rupa sehingga berhasil
mencapai pengakuan internasional terhadap negara Republik In-
donesia di atas nyala api Proklamasi 17 Agustus 45. Sukarno berperan
di bidang nasional seluruh Nusantara. Hamengkubuwono dengan
mcmpertaruhkan tanah pusaka warisan Kerajaan Mataram dan
akhirnya memimpin perjuangan di bawab tanah, menyatukan semua
kekuatan tenaga pejuang, baik yang Merah, yang Hijau maupun
yang Kuning, untuk meledakkan 'bom-waktu' penyerbuan terhadap
pendudukan Belanda 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Dialah orang dan
pahlawan sebenarnya penyerbuan 1 Maret 1949 di Yogya itu. Bukan
Kolonel Soeharto! Kapten Latief dengan pasukannya tidak akan
berani jibaku, kalau tidak ada kekuatan yang sudah siap menunggu,
dan pasukan Pramudjilah yang memberikan sinyal kepadanya di
Godean untuk mulai bergerak. Itu saya tahu. Sejarah yang benar
harus dibuka, jangan diselimuti oleh kepentingan politik pribadi
yang berbau duit dan harta itu.
     Setelah Wikana sudah berani muncul kembali, sesudah D.N.Aidit
mengadakan pembelaannya mengenai Provokasi Madiun di muka
Pengadilan yang diketuai Jaksa Dali Mutiara, 2 Februari 1955, saya
berkesempatan lagi jumpa lagi dengan Wikana. Dalam suatu
percakapan secara iseng saya tanyakan, apakah dia masih ingat akan
Syam Kamaruzaman, yang dia pernah kenalkan kepada sava di
konferensi PESINNDO dahulu itu, apa dan di mana kerjanya sekarang?
Tapi lebih dulu siapa Wikana ini.
     Wikana ini adalah tokoh PKI-illegal sejak zaman Belanda dan di
zaman Jepang yang punya sikap menentang Sukarno dan siapa saja
yang sedia kerjasama dengan Jepang. Dr Adnan Kapau Gani Ketua
P.B.GERINDO memberhentikannya dari Ketua Barisan Pemuda
GERINDO di tahun 1939, lalu menunjuk saya A.M.Hanafi sebagai
Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO, administratif langsung
di bawah Pengurus Besar GERINDO. Setelah Bung Karno kembali
ke Jawa dari pembuangan inginnya Wikana, Bung Karno gabung
'ke bawah tanah" berjuang illegal bersama rakyat menentang
pendudukan militer Fasis Jepang. Rupanya ada pengaruh pikiran
Amir Sjarifuddin padanya.
     Tentu saja pikiran Wikana itu ditentang oleh Bung Karno.
Bagaimana mungkin menjadikan singa podium menjadi tikus
mencicit-cicit di bawah tanah. Buug Karno sudah waspada bahwa
kaum komunis, dengan tidak menyebut Wikana, menghendaki dia
jadi seperti itu. Saya dipanggil di kediamannya si Oranje Boulevard
no.11 (abang saya Asmara Hadi yang sudah kawin dengan puteri
angkatnya Ratna Djuami juga tinggal di situ). Satu malam penuh
saya dikursus, di mana links radikalisme komunis Wikana itu dicabuti
bulu-bulunya habis-habisan. Karena tidak ada orang lain yang bisa
disuruhnya untuk meyakini kebenaran politik dan siasatnya
"menunggangi kuda-kesempatan" untuk mencapai kemerdekaan
melalui masa pendudukan Jepang itu, maka sayalah yang ditugasi
untuk menyampaikan pandangan politik dan siasatnya kepada
kaum komunis via Wikana.
     Singkatnya kaum komunis jangan menyabotnya! Bung Karno
sudah mengetahui sejak masih di Bengkulu, bahwa Wikana itu "jago"
komunis di bawah tanah karena diberi tahu oleh utusan Wikana
yaitu saudara Ismail Wijaya. Beliau juga memberikan sokongan untuk
disampaikan kepada Wikana sebanyak 75 gulden. Maka, dari
pcristiwa inilah orang-orang komunis kemudian menyalah gunakan
nama saya dan Bung Karno. Kasarnya mencatut nama saya dan Bung
Karno dan menganggap saya orang komunis. Hal-hal ini wajib
saya uraikan, sebab saudara Sukisman suami Umi Sardjono menulis
sebuah brosur yang tidak tepat mengenai saya. Tidak tepat isinya
maupun waktu dikeluarkannya.
     Seorang Sukarnois harus bisa berhubungan dengan segala
golongan tanpa pilih-pilih aliran partai, nasionalis, agama, ataukah
marxls demi kepentingan strategi perjuangan sesuai dengan garis
politik Bung Karno sebagai pemimpin nasional. Bung Karno rupa-
rupanya dilahirkan Tuhan ke dunia untuk memenuhi sejarah
hidupnya, dan dia punya panggilan untuk menjadi Bapak Nasion,
El Padre y el Libertador de la nacion Indonesia, yang seyogyanya sesuai
dengan budi-daya atau kebudayaan manusia Indonesia harus
dijunjung selama hidupnya dan sampai wafatnya! Dengan segala
hormat kepada beliau, di dalam hatiku berkata-kata, dia bukanlah
orang seperti Lenin atau Mao. Karena itu saya tidak heran ketika
B.M. Diah atas nama BPI (kebetulan saya hadir) mengusulkan supaya
Bung Karno langsung memimpin PNI, beliau menolak. Panggilan
hidupnya memimpin partai sudah masa lampau. Untuk itu mesti
ada satu Partai Pelopor yang sesuai dengan harapannya dan punya
kemampuan di zaman Indonesia Merdeka. Itulah yang justru tidak
ada. PKI yang bisa menampung sebagian dari harapannya
menjunjung cita-cita rakyat marhaen, berani turun ke bawah dan
bersatu dengan rakyat marhaen. Tetapi kita tahu, PKI di samping
berpenyakit kekiri-kirian, punya cacat (menurut Bung Karno)
obsessi perjuangan klas. Sebaliknya Bung Karno berjiwa-seniman
yang punya obsesi persatuan dan kesatuan Indonesia. Alle familieleden
aan de eettafel en aan de werk tafel, yang sebenarnya tidak bisa diciptakan
di atas sebuah kanvas warisan 3,5 abad kolonialisme, yang sudah
sobek-sobek pula. PNI yang tadinya sangat diharapkannya untuk
jadi Partal Pelopor ternyata sudah kejangkitan penyakit arrive. Maka
dilahirkannya kembali PARTINDO yang sebenarnya lahir terlambat,
sebab sebahagian besar massa marhaen sudah kesabet slogan-
kerakyatan dari PKI. Salah siapa? Kekecewaan Bung Karno itulah
akibat penyakit arrive PNI. Sebenarnya tidak ada yang salah. Proses
perkembangan sosial masyarakat memang begitu. Semuanya hal
ihwal berputar pada sumbu-pusarnya kerezekian, kebutuhan hidup.
Saya dihadapkan pada masaalah itulah, ketika saya disuruh oleh Bung
Karno turut PARTINDO itu sebagai Wakil-Ketua. Sedangkan saya ingin
berkiprah menjadikan Angkatan 45 sebagai katalisator atau "bumper"
sekalipun untuk menghindarkan tabrakan rebutan rezeki dan posisi di
masyarakat agar semua keluarga bangsa rukun di belakang Bung Karno.
Tapi itu pun rupanya satu cita-cita yang terlalu lugu!
  
  
------------------------------------------------------------
    LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA (LSSPI)
------------------------------------------------------------
Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------
 
***
 
  
  
LSSPI - No.39 (1998)
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
                      * A.M.HANAFI MENGGUGAT *
  
                                BAB XIX
  
                Kenali kembali beberapa Peristiwa dan (5/7)
                   Tokoh Tentara yang Beperan dalam
                          Komplotan GESTAPU
  
  
     Sekarang ini bulan Agustus 1997. Saya tidak mau hitung lagi
berapa lama saya sekeluarga berada dalam pembuangan di luar negeri.
Dan itu bangsaku yang turut kuangkat dan kujunjung kini berpesta
pora dengan gercing dollar dalam keadaan lupa-daratan, bahwa
di dalam dunia ini tak ada yang kekal abadi. Vandaag is toch geen
morgen, morgen komt wel terech. Yang penting urus hari ini, urusan
besok - besok lagi pikirkan dan selesaikan.
     Namun saya yakin, yakin betul, bahwa tidak semua insan bangsa
ini yang lupa daratan seperti bangsa Sodom dan Gomora yang laknat
dan terkutuk, karena itu dihancurkan Tuhan. Walaupun sebagian
dari bangsa Indonesia ini sementara bisa hidup senang dan merasa
terima kasih pada Soeharto dan Orde Baru, mereka tidak tahu atau
pura-pura tidak tahu bahwa Soeharto itulah jagonya GESTAPU.
Mereka menjadi kaum profiteur yang harus dihentikan dari sikapnya
yang berbohong pada diri sendiri dan menipu pada bangsanya.
  
Pada bagian terdahulu, tentang bagaimana Soeharto menunggangi
Dewan Jendral, telah saya uraikan bagaimana team Soeharto-Yoga
Sugama-Ali Murtopo menyabot"Konfrontasi Malaysia". Maka para
peneliti sejarah sudah bisa menunjukkan bagaimana team tersebut
bekerja sama dengan Inggris dan Amerika untuk menjatuhkan
Presiden Sukarno. Dokumen Provokasi Gilchrist mencapai hasil
tujuannya. Menlu Subandrio dipandang "berjasa" menelan mentah-
mentah provokasi yang disuguhkan para NEKOLIM itu, sehingga
dia mengambil Ali Murtopo menjadi tangan-kanannya di dalam
BPI (Biro Pusat Intelijen yang diketuai oleh Menlu Subandrio).
     Bersamaan denganTeam de drie musketier tersebut dikerjakan pula
Team-nya yang lain secara full speed yang terdiri dari: Letjen.
Soeharto-Suwarto (SESKOAD)-Amir Machmud-Basuki Rachmat-
Andi Jusuf dan lain-lain jendral lagi. ltulah de club van vijf dari
Soeharto yang menari-nari di atas bangkainya korban GESTAPU
sesuai dengan manipulasi kotor dan tak bermoral dari Soeharto dan
Suwarto (SESKOAD) untuk merampungkan secara tuntas rencana
kudeta, mengganti Presiden Sukarno dengan Soeharto. Dan Jendral
Nas? Ah, dia hanya figur tragis, sebagai wayang di tangan dalang Ki
Soeharto.
     Dengan uraian di atas, saya telah tunjuk-hidung siapa dalang
"DewanJendral" dan GESTAPU sekaligus. Selanjutnya dengan cara
merayap laksana ular yang kelaparan sambil mendesiskan kata-kata
"Presiden Sukarno/Panglima Tertinggi yang tercinta dan yang kita
hormati" diterkamlah Presiden Sukarno itu menjadi mangsanya
melalui secarik kertas Surat Perintah 1 Maret 1 966 yang dikenalkan
sebagai SUPERSEMAR. Presiden Sukarno dijatuhkan mencium
debu melalui Surat Perintah yang dia tanda tangani sendiri sebagai
Presiden/Panglima Tertinggi ABRI. Masya Allah! Bukan main,
alangkah "hebatnya" Jendral Soeharto ini.Tunggu dulu! Kerja kudeta
bukan perbuatan Soeharto secara magic, secara ahli-sulap sim-salabim
dalam satu hari, No!. Melainkan sejak Peristiwa 3 Juli di Yogya,
sejak barter-Semarang sampai dia dicopot dari kedudukannya
Panglima Divisi Diponegoro, sampai "distrap" dimasukkan ke
SESKOAD, lalu kontak-komplotan dengan Kolonel Suwarto
Direktur SESKOAD sebenarnya agen CIA (di mana SYam
Kamaruzaman sudah lama menjadi "informan" di SESKOAD itu).
"Hebatnya" Soeharto itu selaku abdi NEKOLIM! Kalau Jendral Yani
tidak bakal mungkin mau begitu. Maka itu Jendral Yani dihabisi
oleh orangnya Soeharto sendiri (GEST PU). Yang sebenarnya hebat
itu, ialah Gilchrist dan Marshall Green, di mana Menlu Dr.
Subandrio turut salah-main, sebentar center-kiri, sebentar center-
kanan, akhirnya ditendangnya bola masuklah Marshall Green ke
dalam goal-nya sendiri. Ya, toh? Tadinya Bung Karno sudah tidak
mau politik konfrontasi, Subandrio mendesak. Sebagai diplomat
kaliber tinggi, dia pikir sebaiknya lebih baik insiden diplomatik
dari pada insiden fisik di dalam negeri. Masih bisa menang waktu
rundingan dengan Washington. Sama Marshall Green tidak ada yang
bisa dirunding, sebagai pejabat tinggi hanya melakukan tugas. Dan
tugasnya ialah menjatuhkan Sukarno sekaligus dengan PKI. Amerika
tidak menghendaki adanya komunis di Asia Tenggara. Ini jelas.
     Di atas saya telah menyinggung sambil lalu tentang Syam
Kamaruzaman. Sekarang akan saya bereskan keterangan saya
mengenai dia itu sampai selesai bagaimana dia sampai jadi informan
Kolonel Suwarto di SESKOAD di Bandung, akhirnyi kecantol pada
Kolonel Soeharto di tahun 1959.
     Di zaman Jepang dia kerja jadi polisi mata-mata di bawah
Kornisaris Polisi Mudigdo di Pekalongan (yang kemudian jadi mertua
D.N.Aidit). Ini keterangan Fatkur dari Biro Khusus Dewan Pimpinan
Pusat PESINDO. Tapi sebelum sampai di Semarang ketemu dengan
Kompol Mudigdo, dia adalah salah seorang Pemuda Pathok di
Yogyakarta dan termasuk dalam barisan kadernya Djohan Sjahruzah.
Kalau di Jakarta yang jadi central aktivis pemuda ialah NIENTENG
31, maka di Yogyakarta yang bangun memelopori aktivitas
revolusioner dikenal kemudian ialah Pemuda Pathok ini. Atas desakan
pemuda-pemuda yang dipelopori pemuda Pathok ini Sri Sultan
Hamengkubuwono dan anggota BKR Soeharto didesak merebut
senjata Jepang di Kota Baru. Dapat disimpulkan dari masa itulah
kontak pertama Sjam Kamaruzaman dengan Soeharto. Ini sesuai
dengan keterangan Sumantoro Tirtonegoro tetangga saya di
Pakuningratan. Ia di zaman Belanda anggota PNI-Pendidikan (Hatta-
Sjahrir).
     Di zaman mulainya revolusi bersenjata, Syam bergabung dengan
pemuda di Semarang di bawah pimpinan Ibnu Parna (kemudian
menjadi AKOMA). Kemudian Syam turut dalam apa yang disebut
"revolusi sosial" di Peristiwa Tiga Daerah (Brebes-Tegal-Pemalang)
yang pada mulanya dalam prinsip disetujui oleh Bung Sjahrir, tetapi
kemudian setelah ia menjadi Perdana Menteri terpaksa distop sebab
tidak terkendalikan lagi. Seorang di antara tokoh pimpinan Peristiwa
Tiga Daerah ini bernama Widarta, seorang komunis, dihukumn mati
oleh PKI sendiri atas desakan Menteri Amir Sjarifuddin. (Baca Anton
Lucas, Peristiwa Tiga Daerah). Syam Kamaruzaman lari ke Pekalongan;
di sini ia kembali menjadi polisi mata-mata (Informan) dari Komisaris
Polisi Mudigdo yang Amir-minded. Oleh sebab itu dalam peristiwa
Provokasi Madiun dia di tembak mati oleh tentara di Pati.
     Selama Peristiwa Madiun tersebut Syam menghilang, tidak ada
yang tahu dia ada di mana. Juga saya tidak pernah dengar dia ada di
mana selama Perang Kolonial ke II ketika Yogyakarta, Ibu Kota R.I.
diduduki NICA (Tentara Belanda).
     Ketika saya ketemu dengan Wikana, di tahun 1955, ketika saya
aktif memimpin Kongres Rakyat untuk Pembebasan Irian Barat
dia menceritakan babwa Syam Kamaruzaman itu selama Peristiwa
Madiun lari menyelundup ke Jakarta dan bersembunyi di Tanjung
Priok. Di sana ditemukan oleh saudara Mr. Hadiono Kusumo Utoyo
yang seperti Syam cenderung kepada Sjahrir, tapi banyak hubungan
dengan orang-orangnya Amir Sjarifuddin (PKI).
     Hadiono menganjurkan Syam sebaiknya mendirikan organisasi
Serikat Buruh. Maka berdirilah SBKP (Serikat Burub Kapal dan
Pelabuhan). Mr. Hadiono Kusumo Utoyo ini asal dari anggota P.I.
Belanda, dia hanya menganjurkan saja. Pimpinan SBKP itu terdiri
dari Syam sebagai Ketua. Lainnya Munir, Hartojo. Sudio (guru
Taman Siswa Ki Mohamad Said di Kemayoran).
     Mulai dari sejarah SBKP inilah, D.N.Aidit dan Lukman tahun 1950
mulai kenal dengan Syam Kamaruzaman . Sebab sebeIumnya Aidit
dan Syam tidak pernah kenal ketika masih di pedalaman R.I.
          
Sejak Peristiwa Madiun dan PKI babak belur, Aidit dan Lukman
menyelamatkan diri ke Jakarta. Di sana oleh Munir yang memang
sudah dikenal Aidit, di masa Munir mengorganisasi supir becak di
Jakarta di hari-hari Proklarnasi, Adit bersembunyi bersama Syam
dan Munir di Tanjung Priok; kemudian pindah bersembunyi di
rumahnya saudara Husein (ex-Ketua B.P. GERINDO cabang Sawah
Besar). Ini diceritakan Husein langsung kepada saya yang tetap
bersimpati kepada saya sebagai ex-sekjen B.P. GERINDO.
Sehubungan dengan hal ini penting saya menunjuk pada "isapan
jempol" Sugiarso Surojo "Siapa menabur angin ..." halaman 230, yang
menyebut Aidit ke Peking 1950, tentang Tanti dokter keluaran
Moskow, dan tentang Dokter Mudigdo, tentang D.N.Aidit, semua
itu isapan jempol komunisto-phobi Sugiarso Surojo.
     Ketika saya tanya kepada Husein "apa betul Aidit dan Lukman
sempat pergi ke Vietnam dan ketemu dengan Ho Chi Minh dan ke
Tiongkok ketemu Mao, seperti desas-desus yang saya dengar?"
Husein senyum-senyum saja. Dia tidak bisa dan tidak berani bohong
pada saya. Maka mulai dari masa itulah saya mulai bertambah
khawatir terhadap Aidit. Apalagi kemudian saya ketahui dia jadi
ketua PKI. Saya jadi tambah khawatir. Qua intelek dia oke, sebab
rajin baca, tapi pengalaman politik kurang sekali, pengalaman revolusi
bersenjata tak ada sama sekali (waktu pertempuran bergolak di Jakarta
dan di Krawang-Bekasi, waktunya habis terbuang dalam tahanan
Belanda di pulau Onrust. Ketika keluar dari Onrust tahun 1947
dia cari saya di Pakuningratan-Yogyakarta. Dia datang pamit mau
masuk PKI.
     Saya bilang: "Jangan, saya sendiri, terus terang tidak berani,
menurut saya orang yang masuk PKI orang yang tidak akan
kehilangan apa-apa dan tidak akan mendapat apa-apa, kecuali
memberi, sekali lagi memberi kepada orang lain, kepada Rakyat.
Turut saja sama saya ke Front Krawang!"
     Dia minta waktu pikir-pikir. Aidit sejak zaman Belanda dan zaman
Jepang di Barisan Pemuda GERINDO dan MENTENG 31 selalu
turut sama saya, di masa permulaan zaman Jepang di mana kehidupan
rakyat mulai jadi tambah sulit, saya dan Pardjono angkat dia dari itu
"bedeng-liar" di daerah Pasar Senen, kerja-upahan sama Si Ali-
Padang menjahitkan pakaian tua, pantalon satu bisa dijadikan dua
celana-pendek dan sebagainya. Saya masukkan dia ke MENTENG
31, Asrama Angkatan Baru Indonesia bersama Pardjono dan lain-
lain, untuk menjadi Pejuang Kemerdekaan yang tangguh. Dia
memang betul jadi seorang pejuang betul-betul, tapi sejak dari
mnudanya wataknya suka keblacut karena semangat petualangannya
dan ambisius. Saya ceritakan ini bersih dari penghinaan atau
sanjungan, melainkan dengan rasa persaudaraan yang sewajarnya
saja. Oleh sebab itulah saya tidak merasa segan untuk selalu
menasihatinya, bahkan memarahinya kalau caranya saya pandang
agak keterlaluan. Tetapi, sesudah dia menjadi Ketua PKI, saya tahu
membatasi diri saya, dan diapun menjadi jarang ketemu saya lagi.
Pernah dia mengatakan, "orang bilang Bung itu orang burjuis".
Sebenarnya dia menyindir.Tapi saya tidak merasa maju atau mundur
dengan sindiran denukian.
     Oleh karena itu saya tidak heran kalau orang bilang Aidit itu
berspekulasi politik dengan Syamn Kamaruzaman, mulainya dari
persembunyiannya di Tanjung Priok dalam SBKP yang diketuai oleh
Syam di tahun 1948 itu. Menurut Sudio, sejak ketika razia Agustus
1951, Syam menghilang tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.
Tapi apa itu razia Agustus? Itu zaman Dr. Sukiman, Perdana Menteri.
Katanya Kantor Polisi Tanjung kena serbu orang-orang PKI, buktinya
ada ditemui bendera palu arit. Setelah dibuktikan bendera itu bukan
palu arit PKI, sebab letak palu arit itu terbalik, jadi bendera itu
palsu. Mestinya palunya di kanan dan aritnya di kiri. PKI sejarah
romantiknya ialah tidak berhenti kena Provokasi, mulai Madiun,
ketika itu Tanjung Priok, dan akhirnya yang ketiga dengan adanya
Peristiwa GESTAPU, di mana Aidit dan Syam terpancing oleh "isu
Dewan Jendral" dengan bersemangat individual bergerak "daripada
didahului lebih baik mendahului". Di situlah apesnya. Aidit jalan
"keluar-rel", mesti saja terbalik kereta api PKI. Artinya hanya pinter-
pinteran persekongkolan berdua-duaan dengan Syam yang
sebenarnya agen-informan tiga-rangkap: PSI-Tentara-Aidit.
     Dus, Aidit secara pribadi, bukan PKI'. Kalau Syam sungguh-
sungguh komunis mengapa urusan kudeta ditangani sendirian tidak
oleh Partai, PKI. Ini logika yang sederhana saja. Kalau urusan kudeta
dihadapkan pada Partai, maka cara Aidit/Syam menghadapi "isu
Dewan Jendral" itu, saya kira akan lebih banyak yang tidak setuju
daripada yang acc. Lagi ini logika yang sederhana, demokratik saja.
Itulah kenapa saya sebut "keluar-rel". Tapi buat apa lagi analisa ini.
     Tidak ada gunanya lagi sebab PKI sudah dilibas habis oleh Soeharto
masuk ke alam neraka yang tersiksa menebus kesalahan ... yang
bukan kesalahannya. Sebab Soeharto: Himmler-nya GESTAPU-
Mbah Provokasi.
     Saya tidak akan nenjelaskan lagi. Biarlah para para penulis roman,
cerpen,. politisi, peneliti sejarah mengadakan riset dan menggunakan
daya imaginasi mereka, fantasi rasa demokrasi dan kepekaan
manusiawinya bekerja, supaya dunia yang bundar ini bisa berputar
pada sumbunya dengan kedamaian.
     Masa'le ... semua kang-mas dan diajeng di Indonesia mau disulap
oleh Soeharto menjadi penjilat semua?
     Kita kembali pada Syam Kamaruzaman. Sesudah razia Agustus
di mana SBKP jadi sasaran di tahun 1951. Syam lari menghilang
akhirnya diketemukan sudah menjadi "tentara" katanya, menjadi
infornan" SESKOAD, katanya orang lagi, berpangkat mayor. Ini
ceritanya Wikana. "Katanya", atau "kata orang", itulah karena tidak
ada orang tahu kepastiannya. Tapi kemudian, lama-kelamaan, bahwa
kepergiannya Syam ke Bandung itu atas kemauannya, inisiatipnya,
tapi dengan persetujuan Aidit Ketua PKI. oleh sebab dia (Syam)
mengatakan bisa ber-camuflage berlindung menjadi informan" pada
tentara. Kepada siapa dia berhubungan dengan Tentara yang
dikatakannya itu tidak jelas, barulah kemudian, setelah kolonel
Suwarto pulang dari Amerika membawa konsepsi membangun
SESKOAD, Syam Kamaruzaman dengan sendirinya menginsafi
bahwa dirinya atau missinya sebagai "informan" rangkap itu,
mempunyai arti yang bertambah penting, berdiri kuat di antara dua
rival : Tentara versus PKI. Sesudah PKI: PERMESTA berantakan
dipukul oleh tentara di bawah pimpinan Jendral Yani, kolonel
Suwarto sebagai Direktur SESKOAD Me-refomasi konsepsinya yang
sesuai dengan garis kepentingan CIA untuk menghancurkan Sukarno
dan PKI (komunis). Dengan kedatangan Soeharto ke SESKOAD
sebagai "setrapan" dan Jendral Nas karena barter Semarang dan
karena pembakaran "Gedung Papak" yang menggegerkan itu, kolonel
Suwarto menemukan diri kolonel Soeharto itu satu kecocokan
untuk dijadikan "ujung tombak" untuk digunakan kepada
sasarannya. Salah satu sebab tentulah berdasar kekecewaan dan
kejengkelan Soeharto dicopot dari kedudukannya sebagai Panglima
Divisi Diponegoro yang telah dibangunnya dengan dua anggota
trionya: Yoga Sugama dan Ali Murtopo dan tentulah juga karena
ambisinya setelah Suwarto sendiri kontak dengan Guy Pauker di
Amerika (baca Peter Dale Scott).
     Tampaklah jelas aktor-aktor utama di belakang layar GESTAPO
dan Dewan Jendral yaitu: Soeharto-Suwarto-Syam Kamruzaman.
Namun, setelah layar adegan GESTAPU diangkat/dibuka, yang
tampak atau ditampakkan hanyalah Syam Kamaruzaman dengan
Latief cs. Soeharto ganti peranannya jadi "dewa Semar palsu".
     Jadi kerja pengkhianatan Soeharto itu bukanlah tiba-tiba dalam
satu hari, sudah jauh hari sebelumnya, bulan dan tahun sebelum
GESTAPU, jadi bukan baru dimulai tanggal 1 Oktober l965 jam 6
pagi, ketika saudara Mashuri datang ke rumahnya memberi tahukan
tentang pembunuhan jendral-jendral, seakan-akan dia tidak tahu
sebelumnya akan kejadian mengerikan itu. Itulah yang kemudian
dia gunakan sebagai "pretext" (dalih) sekaligus justifikasi untuk
melibas PKI dan kemudian memenjarakan Presiden Sukarno di
rumah Ibu Dewi sampai beliau meninggal. Tapi ketika Mashuri
datang ke rumahnya itu, Soeharto sudah siap berpakaian uniform
ternpur. Alangkah tidak lucunya dimunculkannya Soeharto sebagai
penyelamat Pancasila sehubungan dengan Peristiwa 1 Oktober 1966
itu.
     Sekalipun kodok-kodok yang biasa hidup di comberan, tidak
akan mau "mengorek-ngorek" begitu. Sungguh saya malu melihat
ulahnya jendral bangsa saya ini.
     Setelah penumpasan pemberontakan PRRI/PERMESTA di
Sumatra Barat, dan ditariknya Letkol Latief ke Jakarta menjadi
Komandan Brigade Infanteri pada Kodam JAYA, Syam Kamaru-
zaman kerjanya bolak-balik antara Bandung-Jakarta. kemudian
menetap di Jakarta setelah jendral Soeharto diangkat menjadi
Panglima KOSTRAD. Syam jadi bertambah kuat sandarannya dalam
berhubungan dengan Aidit. Selain menempatkan dirinya sebagai
informan di bawah lindungan Brigade Infanteri Kodam V Jaya
(overste Latief), dia juga punya hubungan dengan KOSTRAD
(Jendral Soeharto). Dapatlah kiranya disimpulkan hahwa mulai masa
itu, ditambah lagi dengan datangnya masa "Konfrontasi Ganyang
Malaysia", dan keadaan SOB oleh Tentara dipertahankan terus,
avonturisme ke arah KUDETA yang di-isukan Dewan Jendral dan
di-isukan juga oleb Biro Khusus Aidit dan Syam, sesuai dengan
perkembangannya mencapai bentuk yang lebih kongkret. Sampai
bulan Apustus, Dewan Jendral dan Biro Khusus masing-masing saling
berhadapan dengan nyala api provokasinya sendiri-sendiri sampailah
ke 30 September 1965, di mana Biro Khusus (Syam Kamaruzaman
dan D.N.Aidit dengan Untung dan Latief keduanya terakhir
orangnya Jendral Soeharto pula) bergerak menerjuni perangkap
provokasi yang diciptakan Suwarto (SESKOAD) dan Jendral Soeharto
(baca MAHMILUB II tentang Kolonel Latief).
     Ada sedikit peristiwa lagi mengenai Syam dan Aidit yang penting
saya tambahkan di sini. Ketika saya sedang sibuk-sibuknya
mempersiapkan keberangkatan saya ke Kuba di bulan Desember
1963 pada suatu hari tiba-tiba datang D.N.Aidit ke rumah saya di
jalan Madura No.5 dengan seorang temannya. Aidit lebih dulu turun
dari mobil segera langsung naik ke tangga. Temannya itu menyusul
dari jalan mulai masuk ke pekarangan. Setelah saya perhatikan siapa
temannya itu, dengan suara keras saya membentak Aidit: "Kenapa
kau bawa itu polisi pada saya? Polisi dia itu ..." Orang itu ialah Syam
Kamaruzaman yang pernah ketemu saya di Konperensi PESINDO
dahulu dan yang sudah banyak saya dengar cerita yang mencurigakan
mengenai dia: Badannya sudah agak gemukan, tidak seperti masih
muda dahulu.
     Mendengar bentakan keras saya kepada Aidit itu, Syam jadi kaget
terus mambalikkan badan kembali masuk ke mobil lagi tanpa mau
melihat dan berkata apa-apa. Aidit pun tanpa berkata tanpa pamit
pergi menyusul Syam masuk ke mobil. Begitulah. Saya betul-betul
jengkel dan tidak mengerti apa maunya Aidit dengan orang Itu dan
kenapa dia bawa orang itu mau dikenalkan pada saya? Dia kira dia
bisa bikin surprise bagi saya, sedangkan saya sudah lebih dahulu
dari dia kenal si Syam itu. Andaikata Aidit dari jauh-jauh hari mau
menceritakan pada saya tentang kontaknya pada Syam itu, sudah
pasti saya mau bilang: "jauhi itu penyakit''. Tapi Aidit bukan orang
bodoh, apalagi dia Ketua PKI, buktinya dia punya kelebihan tertentu,
tidak mungkin dia tidak mengetahui siapa dan apa yang ada di
belakang Si Syam itu. Barangkali dia kira dia bisa menggunakan
Syam. Bagaimana seorang Ketua Partai bisa begitu? Tidak ada yang
bisa jamin apa kerjanya Syam itu. Ideologi tidak punya. Katanya
orang PSI, katanya, kenapa tidak ditelusuri betul tidaknya, kan Aidit
kenal L.M. Sitorus Sekjen PSI, dulu sama-sama anggota asrama
MENTENG 31? Kalau bagi saya jelas siapa Syam, dia itu hantu -
boleh saja ketemu di jalan tapijangan dibawa masuk ke dalam rumah.
     Tapi seperti sudah saya katakan di muka sejak D.N.Aidit, asal
nama Ahmad, oleh Pemuda GERINDO Cabang Jakarta diganti
menjadi Dipa Nusantara Aidit, menjadi orang penting, Ketua PKI,
saya membatasi diri, tahu diri, dan dia pun sudah jarang datang
ketemu. Namanya "Ahmaad" itu diganti oleh teman-temannya
Barisan Pemuda GERINDO, sebab kata mereka sudah terlalu banyak yang bernama
Amat atau Ahmad di situ.
  
  
------------------------------------------------------------
LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA (LSSPI)
------------------------------------------------------------
Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------
 
***
 
  
LSSPI - No. 40 (1998)
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
                 * A.M. HANAFI MENGGUGAT *
  
                            BAB XIX
  
             Kenali kembali beberapa Peristiwa dan (6/7)
                Tokoh Tentara yang Beperan dalam
                       Komplotan GESTAPU
  
Sekarang tentang Soeharto dan Abdul Latief
  
     Overste Soeharto kemudian naik menjadi kolonel Soeharto sejak
dari zaman peristiwa Provokasi Madiun, dikenalkan di dalam
kalangan kaum kiri dan di kalangan PESINDO pada umumnya
sebagai "orang-baik - TNI yang baik", beda dari Kolonel
A.H.Nasution Komandan Divisi SILIWANGI yang menggempur
PKI-Madiun dan kolonel Gatot Subroto yang tanmpa proses
pengadilan langsung tembak mati ex-Menteri Pertahanan Amir
Sjarifuddin dengan 10 orang pemimpin FDR di Ngalian.
     Sebelum saya melanjutkan tentang mengapa ada sentimentalisme
di kalangan kaum kiri dan PESINDO terhadap Overste Soeharto,
supaya tidak terlupa, saya mau tambahkan di sini satu peristiwa yang
saya alami, sebelumnya Amir Sjarifuddin dkk. ditembak mati. Abang
saya, Asmara hadi, yang tinggal di Padokan, di luar kota Yogyakarta
di mana ia disuruh Bung Karno menyelesaikan buku SARINAH sebab
percaya pada kemampuannya Asmara Hadi dab style menulisnya pun
hampir sama dengan Bung Karno, datang mencari saya di
Pakuningratan.
     Sambil berlinang air-niata dia berkata:"Fi, kalau kau bisa, tolong
selamatkan Bung Amir, tolong dia Fi, dia bekas Ketua kita di
GERINDO, ex Menteri Pertahanan dan ex Perdana Menteri. Untuk
menyelamatkan Bung Amir kau sendiri coba ketemu Bung Karno.
Saya nggak bisa , jij saja, jij bisa. Saya tidak bisa sebab hari sudah
sore, saya mesti pulang ke rumah, ke Padokan kan jauh juga".
     Saya tambahi: "Juga bekas Menteri Penerangan Kabinet Pertama
R.I." Sehabis sembahyang magrib saya tunggu Bung Karno keluar
dari kamarnya di Istana (diYogya). Sementara itu saya duduk dengan
Bu Fat. Saya minta bicara dengan Bung Karno sendirian, tapi Bu
Fat (yang biasa saya panggil Zus Fat) maklum keperluan kedatangan
saya, ia permisi masuk ke dalam. Saya bilang tanpa omong putar-
putar: "Saya minta Bung Karno selamatkan Bung Amir, Hadi yang
menyuruh saya ketemu Bung".
     Bung Karno bertanya, apakah saya tahu di mana Amir sekarang?
Saya katakan: "Dia ada di depan kita ini, di dalam benteng di depan
Istana ini, tadi siang dia dengan kawan-kawannya dibawa oleh sepasukan
tentara di dalam truck terbuka ke dalam benteng itu."
     "Baiklah akan saya urus ... tapi kau tidak tahu persoalannya".
     Saya jawab saja: "Saya tahu soalnya, saya kan bukan pemuda
seperti bengkulu dulu, saya sudah Bung angkat jadi letnan kolonel,
kan, yang penting selamatkan Amir itu dulu, nanti bisa diurus
perkaranya".
     Tetapi apa yang terjadi? Pada malam itu tanpa setahu Bung Karno
sebagai presiden, Amirsjarifuddin dkk. diangkut dari benteng
Vredesburg itu entah ke mana, ke Solo barangkali untuk ditembak
mati cepat-cepat di Ngalian.
     Sampai sekarang tidak pernah ada orang yang tulis peristiwa itu.
Biarlah orang zaman sekarang bisa berpikir-pikir lagi bahwa Bung
Karno bukanlah orang The Number One yang bertanggungjawab
atas terjadinya Provokasi Madiun di tahun 1948 itu. Walaupun dia
berpidato: "Pilih SUKARNO-HATTA atau PKI MUSSO". Apalagi
kalau diketahui, bahwa Bung Karno sebagai Presiden tidak
menghadiri sampai selesai Konperensi Sarangan bulan Juli l948 itu,
di mana pihak Amerika diwakili oleh Gerald Hopkins dan Merle
Cochran yang mengusulkan pembasmian kaum komunis Indone-
sia untuk bisa membantu R.I. yang membutuhkan keuangan dan
sebagainya dalam menghadapi Belanda. (Terjadinya Konperensi
Sarangan itu, Syam Kamaruzaman yang memberitahu pada kita
ketika di Konperensi PESINDO di Solo, seperti telah saya ceritakan
di bagian di muka). Yang melanjutkan perundingan itu sampai
selesai ialah Bung Hatta-Dr.Sukiman-Moh. Roem-Moh.Natsir dan
Sukamto (Kepala Kepolisian R.I.). Saya tahu bahwa Peristiwa
Mediun itu adalah pelaksanaan Red Drive Proposal dari Amerika,
walupun saya tidak perlu gembar-gembor seperti orang-orang
kornunis. Karena saya tahu pokok pangkal kesalahan, adalah karena
kesalahan Amir Sjarifuddin yang menyerahkan kembali Mandat
Perdana Menteri kepada Presiden secara sukarela. (Amir orang
beragama Kristen-Protestan, karena didikan agama dia punya moral,
dulu di Jakarta sama isterinya saban minggu ke Gereja, sampai pada
suatu hari Minggu mestinya dia berpidato di rapat-umum di bioskop
Rialto Tanah Abang terpaksa diganti oleh Asmara Hadi).
     Overste Soeharto sejak Affair Madiun oleh kalangan kiri dan
PESINDO dipandang "orang baik" ("TNI yang baik"). Baiklah saya
jelaskan sedikit apa yang dimaksud dengan istilah "orang baik".
Istilah itu sebenarnya suatu "jargon" di kalangan golongan kiri/
komunis yang digunakan terhadap orang yang dianggap "jelas bukan
komunis atau marxis, akan tetapi cukup progresif. Kira-kira sudah merah-
jambu". Soeharto mendapat predikat itu, sebab sebelum meletusnya
Peristiwa Madiun itu, dialah yang melaksanakan tugas-perintah
Panglima Besar Sudirman untuk memeriksa dan menyaksikan
keadaan di Madiun yang sehenarnya. Ada dua hal penting dapat
dicatat sehubungan hal ini. Pertama, Panglima Besar Sudirman, orang
jujur bijaksana dan menjunjung tanggungjawab kedudukannya
sebagai Panglima Angkatan Perang di dalam zaman Revolusi. Kedua,
dari sebab dan akibat Peristiwa Madiun itulah, maka seorang
pemimpin pasukan PESINDO Kapten Abdul Latief dengan
"Batalion-100" bergabung ke dalam Brigade Letkol. Soeharto. Dari
masa itulah dimulainya tali perhubungan antara Soeharto dengan
Latief yang mencuat sejak dari Peristiwa Enam Jam di Yogja, 1
Maret 1949, sampai berdua itu bersama-sama pula mencong ke
Peristiwa GESTAPU sialan itu. Berdua bersama berjalan tapi antara
satu sama lain saling siasat-mensiasati ditambah jadi bertiga dengan
Syam yang punya dua-tiga muka: AD dan Biro Khusus (Aidit-Syam)
dan sebuah-muka lagi mukanya dia sendiri, yang dia bisa jual kepada
siapapun dia mau. Dari semula memang saya tidak percaya sama itu
orang. Saya ambil kesimpulan tersebut dari bahan-bahan cerita
Wikana, bahwa sejak Latief ditarik kembali ke Jakarta dan Operasi
17 Agustus di bawah Komando jendral A.Yani dalam menumpas
PRRI/PERMESTA, dan di Jakarta menjadi Komandan Batalyon
Infanteri Kodam V JAYA, Syam bekerja sebagai informan kepada
Latief di Kodam V Jaya itu dan di samping itu juga menempatkan
dirinya sebagai informan pada KOSTRAD yang dikepaiai oleh jendral
Soeharto. Klop: Trio Soeharto-Latief-Syam! Di samping itu ada Trio:
Soeharto- Yoga -AIi Murtopo.
     Saya ketemu Wikana yang terakhir di rumahnya di simpangan
Matraman Plantsoen dalam keadaan sengsara, di-isolasi oleh Aidit,
tapi dia dapat ditarik oleh Chaerul Saleh menjadi anggota MPRS.
Saya ketemu dengan Wikana Januari 1965, ketika saya datang
konsultasi ke Jakarta dari Kuba. Saya sempatkan memberi sekadar
sumbangan, jangan tidak, sebagai kawan lama di MENTENG 31.
     "Tolong saya, Fi", katanya.
     Saya terharu kalau saya mengenang dia. Dia hilang tak ketahuan
ditelan gelombang GESTAPU, sepulangnya dari Peking bersama-
sama dengan Chaerul Saleh Ketua MPRS, walaupun sudah
dinasihatkan oleh Chaerul, sebaiknya dia jangan pulang dulu.
     Kalau saya kenangkan kembali hari bersejarah Proklamasi 17
Agustus 1945, saya kenangkan diriku di hari itu yang telah meriskir
segalanya yang ada padaku, anak-isteriku yang tercinta, hatiku yang
pedih jadi gembira. Karena bersatunya seluruh Rakyat kita menang.
Dengan gegap gempita kita menyerukan: Sekali Merdeka Tetap
Merdeka, merdeka atau mati letupan semangat semua pejuang.
     Tetapi kalau kuingat kembali Peristiwa Madiun, yang di muka
telah kusebut dengan sadar yaitu Provokasi, adalah pelaksanaan Red
Drive Proposal hasil Konperensi Sarangan, karena peduli akan
perjuangan yang belum selesai, hati pedih bukan kepalang. Karena
kita kaum pejuang jadi berpecah saling baku hantam.
     Saya tahu persoalannya. Kalau saja pemerintah Hatta mau
mencegah pertumpahan darah itu, mestinya dia bisa. Keributan di
Madiun itu pada mulanya adalah soal kecil dan sederhana sekali:
seorang anggota SBKA dipukuli oleh seorang tentara. Diurus oleh
SBKA, agar si prajurit itu mau berdamai, minta maaf, selesai. Tapi
rasa kehormatan SBKA (yang merasa kaum-pejuang juga), merasa
di-ece dan dihina. Maka SBKA mengadakan aksi-mogok. Overste
Sumantri komandan Resimen TNI Madiun sedang tidak ada di kota.
Pak Residen Samadikun sedang sakit. Walikota Madiun juga sedang
bepergian. Wakil-Walikota Saudara Supardi mengambil inisiatif. Saya
kenal orang ini. Sama sekali tidak punya karakter "jagoan". Saya
pernah di Madiun atas perintah langsung Panglima Besar Sudirman,
sebagai Opsir PEPOLIT mengepalai Biro Penerangan/Propaganda
Markas Besar Pertempuran Jawa Timur (MBP) dalam rangka
perjuangan yang bertugas merebut kembali Mojokerto. Staf saya
terdiri dari Mayor Karnen, Sutomo Djauhar Arifin, Yetti Zain,
Rusjati Suprio, Rudhito, dan Fransisca Fangidae yang lancar Belanda
dan Inggerisnya; dan dapat bantuan Radio "Gelora Pemuda" yang
diurus oleh saudara Supardi tersebut dengan staf "Gelora Pemuda".
     Jadi, kalau saja dicegah itu serbuan Tentara Siliwangi ke Madiun,
pertempuran dan penyembelihan kaum komunis dan rakyat-rakyat
lainnya tidak bakal terjadi. Apalagi di Madiun itu ada kekuatan
PESINDO bersenjata pula. Sekali lagi, kalau saja, kekacauan di Solo
bisa dilokalisir (di mana kolonel Sutarto ditembak mati oleh orang
yang tak dikenal, hilangnya Dr. Muwardi Kepala Barisan Banteng,
ditembak matinya Mayor Sutarno dengan pengawalnya di Markas
Siliwangi di Srambatan ketika mau mengadakan perundingan supaya
lima orang Perwira TNI anak buah Mayor Slamet Riyadi dibebaskan,
dan lain-lain perbuatan provokatif, sampai Markas Pusat PESINDO
diduduki beberapa hari oleh Pasukan Siliwangi), jika hal pengacauan
itu dilokalisir hanya di Solo saja dan dicegahnya Long Mars Siliwangi
ke Madiun, tidak mungkin pecah Peristiwa Madiun itu.
  
  
Pembaca yang terhormat,
  
     Silahkan baca juga dan renungkan pula, apa yang dikatakan Jendral
Presiden Soeharto dalam bukunya "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya",
istimewa halaman 53-54. Jadi ketika itu Madiun masih aman tentram.
Bahkan kalau menurut keterangan saudara Sumarsono (Bekas Ketua
B.P. BKPRI, sekarang berada dalam exile di Australia): "Dia jemput
Letkol. Soeharto di desa Mantingan (perbatasan Solo-Madiun)
dibawanya ke Madiun. Sesudahnya mengadakan pembicaraan
dengan Pak Musso: dibuatlah oleb Soeharto satu keterangan-bersama
yang ditulis dengan tangannya sendiri tentang situasi keadaan yang
aman tentram dan kesediaan dari pihak Musso/PKI untuk berunding
lagi dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Dokumen itu ditanda-
tangani oleb Letkol Soeharto di satu pihak dan Pak Musso dan
Sumarsono di pihak PKI, untuk dijadikan laporan kepada Panglima
Sudirman dan Pemerintah Hatta. Tetapi sementara letkol Soeharto
masih di dalam perjalanan pulang ke Yogva, pasukan Siliwangi sudah
datang menyerbu Madiun. Bahkan Soeharto tertahan, ditangkap
Siliwangi di jembatan Srambatan (Keterangan Pak Harto sendiri
dalam bukunya itu). Saya tulis uraian ini dengan bahan pengetahuan
saya sendiri yang saya cocokkan dengan keterangan Soeharto dalam
bukunya tersebut.
     Kendatipun begitu, bahwa Peristiwa Madiun itu yang sebenarnya
adalah Provokasi dan Pemerintah Hatta yang melaksanakan Red
Drive Proposal Merle Cochran di Konperensi Sarangan yang men-
janjikan bantuan senjata dan keuangan yang sangat dibutuhkan R.I.
yang menurut hemat saya tak perlu dihangat-hangatkan dan
dihebohkan lagi demi persatuan dan kesatuan R.I. dan pula karena
menyangkut nama Dwi-Tunggal Sukarno-Hatta yang mesti dijaga,
- masih saja sampai sekarang pun pihak-pihak phobi-komunis
mengatakan bahwa Peristiwa Madiun itu pengkhianatan PKI.
Sadarlah kalau masih bisa!
     Dari uraian tersebut di atas karuan saja mudah dimengerti kenapa
orang-orang PESINDO dan kaum kiri umumnya sejak masa itu
menganggap Letkol Soeharto itu "orang baik", apalagi dikejar
"hantu" Re-Ra (Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang)
menggabungkan kekuatan pasukannya kepada letkol TNI Soeharto
yang juga memang butuh untuk menambah kekuatan Brigadenya.
Begitulah jadinya maka Kapten Latief masuk ke dalam TNI Brigade
Soeharto, lainnya mencari saluran masing-masing dengan membawa
anggota-anggotanya yang bersenjata satu/satu.
     Saya sendiri pun menganggap Pak Soeharto begitu juga; "TNI
yang baik", walaupun saya sudah lebih dahulu resmi sudah menjadi
TNI sejak tahun 1946 diangkat menjadi Letkol PEPOLIT
berkedudukan di Jawa Barat dalam Divisi Siliwangi yang dikepalai
oleh kolonel A.H.Nasution.
     Bertolak dari naluri saya demikian, saya masih menganggap pak
Harto "orang baik", ketika Lebaran Februari (?) 1966, ketika halal
bihalal kepadanya di rumahnya di Jalan H.Agus Salim, saya nyatakan
sikap saya sungguh-sungguh untuk membantunya. Beliau
menyambut sikap saya itu. "Baik, Pak Hanafi bersama kita". Meski
segala kecurigaan saya yang sudah mulai timbul mengenai GESTAPU
saya meriskir diri dengan harapan masih bisa menyelainatkan Bung
Karno. Memang ada reaksinya, kemudian saya diminta oleh kolonel
Sudarto, katanya atas nama Pak Harto, untuk meggantikan Menlu
Subandrio. Tetapi saya tidak bisa memberikan jawab yang tegas,
sebab Bung Karno sudah memerintahkan saya kembali ke pos saya
di Kuba demi kepentingan rencana CONEFO, seperti telah saya
singgung di bagian lain di muka. Juga lagi saya pikir secara
administratif Soeharto harus mengusulkan kepada Sukarno.
     Berhubung dengan alasan tersebut, saya mengusulkan supaya Adam
Malik ditunjuk kalau perlu menggantikan saya. Ternyata kemudian,
memang Adam Malik yang dijadikan Menlu. Sehari sebelum saya
berangkat kembali ke Kuba, Adam Malik sebagai Menlu, menilpon
saya di Hotel Indonesia supaya saya mendampingi Presiden Sukarno
yang diundang dubes Pakistan pada pesta Perayaan Hari Nasional
Pakistan di Hotel Indonesia, tanggal 23 Maret. Ada dokumentasi
fotonya dalam majalah New Times di mana tampak Dubes Pakistan,
Bung Karno,Adam Malik dan Dubes A.M.Hanafi.
     Kalau saya mengenangkan hal ini, dalam keadaan saya menjadi
korban "akibat-sampingan", ini istilah Wapres Adam Malik ketika
saya jumpa beliau terakhir di Brussel 1979, sesudah 30-an tahun
terbuang, saya kembali menyadari bahwa nasib di tangan Tuhan.
Kalau Pak Soeharto bukan "nasib pemberian Tuhan" tapi pemberian
Guy Pauker (CIA) dan lnggris-Amerika. Sebab saya percaya Tuhan
melarang orang berbuat dosa, melarang membunuh orang yang tidak
berdosa satu juta, melarang orang mengkhianati Bapaknya, Gurunya
dan Pemimpinnya, dan melarang serakah menumpuk harta-benda
secara tidak halal, dan menurut hukum Islam Zakat/Fitrah harus
diamalkan, tidak untuk dikekepin sendiri.
     Bagaimana Ki Gus Dur dan Ki Idham Chalid, betul apa tidak
keteranganku menyangkut hukum Islam ini? Kurang tepat? Haraplah
dibetulkan. Terima kasih.
  
  
  
------------------------------------------------------------
    LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA (LSSPI)
------------------------------------------------------------
Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------
 
***
 
  
  
LSSPI - No. 41 (1998)
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
                     * A.M.HANAFI MENGGUGAT *
  
                               BAB XIX
  
                Kenali kembali beberapa Peristiwa dan (7/7)
                  Tokoh Tentara yang Beperan dalam
                          Komplotan GESTAPU
  
Yang terakhir: Mengenai Soeharto dan Latief
  
Pembaca yang terhormat,
  
Baiklah dibaca lagi pleidooi kolonel Latief di mana dia menjelaskan,
balwa dua hari sebelum 1 Oktober 1965, dus tanggal 28 Septem-
ber 1965 dia sudah berkunjung ke rumah Panglima KOSTRAD
Letjen Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Pada kesempatan itu ia
melaporkan kepada Soeharto mengenai "info" Dewan Jendral.
Soeharto menjawab bahwa dia juga sebelumnya sudah diberi info
oleh anak buahnya dari Yogyakarta, yang bernama Subagyo, tentang
Dewan Jendral yang akan mengadakan kudeta. Kunjungan tersebut
tampaknya saja pertemuan ramah-tamah kekeluargaan, bersama
Latief turut Ibu kolonel Sujoto, di pihak Soeharto dan Ibu Tien ada
Tommy puteranya yang masih berumur 3 tahun dan ada pula hadir
orang-tuanya lbu Tien. Tapi yang penting dicatat dari adanya
kunjungan ini, bahwa Latief telah melaporkan tentang rencana
kudeta apa yang disebut Dewan Jendral itu, dua hari sebelum kejadian
apa yang kemudian disebut GESTAPU.
     Pembaca yang terhormat,
     Dan sini harus dipertanyakan, mengapa Jendral Soeharto tidak
tegas memperingatkan, artinya segera memperingatkan para anggota
Dewan Jendral, yang nota bene kolega sendiri, supaya hati-hati dan
siap-waspada untuk tidak dibikin kambing dan disate oleh
konspirator-konspirator kudeta itu? Dua hari itu kesempatan waktu
lebih dari cukup untuk mengambil tindakan preventief(pencegahan)
supaya tidak kedahuluan.
     Itulah yang mesti dia kerjakan, tapi tidak dikerjakan. Inilah
membuktikan bahwa Soeharto sudah berencana (voorbedacht) dengan
sengaja membiarkan Jendral Ahmad Yani dan lain-lain itu menjadi
korban kup yang dia sudah atur.
     Malah selanjutnya lebih terbukti lagi pengkhianatan itu terhadap
Jendral Panglima A.Yani dengan lima jendral yang telah menjadi
korban itu. Ketika Kolonel Latief datang ke RSPAD, katanya
Soeharto untuk menengok anaknya Tommy yang ketumpahan sop
panas, sebenarnya merupakan alasan yang konyol terbanding dengan
pengorbanan Panglima A.Yani cs. Kenapa dia tidak langsung
menangkap kolonel Abdul Latief itu, padahal Soeharto sudah tahu
"kerja-komplot" Latief itu, tetapi dia malahan membiarkan kolonel
Latief pulang ke sarang GESTAPU untuk memberi signal gerak
kepada Kol.Untung cs menangkap atau di mana perlu membunub
A.Yani cs. Di sinilah terletak tanggung-jawab yang kedua dari Letnan
Jendral Soeharto yang paling berat, paling kriminal dan paling
khianat dengan sengaja membiarkan Panglima Yani dan jendral-
jendral dibunuh.Jadi dialah yang harus diadili lebih dulu, lalu baru
dideretkan itu anggota komplotan GESTAPU, termasuk Syam dan
Aidit. Mestinya begitu, toh!
     Baca Lampiran: "Mengungkap sejarah yang sebenarnya".
Dokumen tersebut saya terima dari saudara Karna Rajasa (alm.)
ketika beliau berkesempatan di masa hidupnya mengunjungi saya
di Paris.
Soeharto boleh bilang apa yang dia mau bilang, lidah tidak bertulang,
dia tidak mati bersama A.Yani cs., dia bangun, sekali bangun terus
teriak "maling", menunjukkan jari ke GESTAPU/PKI. Tapi kalau
kita waras, kita pakai logika dan dialektika, artinya tidak merancukan
urutan fakta, maka jelaslah memang Soeharto punya gara-gara.
Makanya saya gugat dia. Dan saya yakin sebagian besar Rakyat In-
donesia sependapat dengan saya!!!
     Di dalam sidang MAHMILUB, rupanya Latief tidak berani bicara
terus terang, seperti apa yang saya uraikan di atas ini. Walaupun
fisiknya sudah dibikin invalid oleh petugas yang menangkapnya.
Saya dapat memakluminya. Barangkali dia masih mengharap demi
keselamatan nyawanya adanya seujung rambut rasa kemanusiaan pada
ex komandannya Soeharto itu.Apakah ada rasa kemanusiaan,masih
ada moral atau sedikit rasa kasihan sang komandan kepada bekas
bawahannya, Latief, itu pejuang "Enam jam di Yogya 1 Maret 1949"
yang mengangkat nama Overste Soeharto lebih dikenal? Saya tidak
menemukan bayangan moralitas yang saya tanyakan itu pada Soeharto
di dalam bukunya yang dibanggakannya mengenai "Enam Jam di
Yogya" itu. Mengapa tidak ada satu patah kata pun menyebutkan
nama Kapten Latief, apalagi peranan Latief yang memimpin
pasukannya masuk menyerang ke dalam kota Yogvakarta di hari 1
Maret 1949 itu.Yang dikenalkannya cuma nama Letnan Marsudi
dan Letnan Amir Murtono bekas pemuda PESINDO Madiun yang
anti Sukarno. Marsudi tidak anti Sukarno karena itu tidak diberi
kedudukan seperti Amir Murtono yang dijadikannya Ketua DPR
yes man yang pertama. "Demokrasi" a'la DPR Orde Baru cuma
merek doang, frasiologi demokrasi yang isinya tulang-sumsum
autokrasi.
     Saya kasihan pada Latief, pada nasibnya. Dia pejuang yang turut
berjasa banyak pada Republik.Tapi disalah gunakan oleh Soeharto
untuk kepentingan pribadi Soeharto sendiri. Tapi Tuhan itu Besar,
Tuhan belum mau panggil pulang Latief, tentulah ada maknanya
rahasia Tuhan. Wallahu'alam.
     Semua harapanku yang terbaik untuk Nusa dan Bangsaku.
     Sekian, saya cukupkan sampai di sini seruanku kepada pembaca
yang terhormat, agar Kenali Kembali Beberapa Peristiwa dan Tokoh-
Tokoh Tentara yang Punya Peranan dalam Komplotan GESTAPU.
     Terima kasih.
  
(BAB XIX, hal. 196-239)
  
  
------------------------------------------------------------
LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA (LSSPI)
------------------------------------------------------------
Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------
 
***
 
  
LSSPI - No.42(1998)
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net
**************************************
  
   
              * A.M.HANAFI MENGGUGAT *
  
                          Bab XX
  
                 Saat Bersejarah Jatuhnya (1/4)
                     Presiden Sukarno
  
Ketika umurku masih muda belia, belum dewasa, aku pernah belajar
agama Islam pada seorang guru Muhammadivah, namanya
Mohamad Said asal dan Bintuhan. Bengkulu Selatan. Dia ini
keluaran universitas Al Azhar di Cairo. Berkatalah dia, bahwa
menurut filsuf Islam, perbedaan yang menentukan antara insan
manusia dengan binatang adalah oleh karena seorang manusia itu
mempunyai sifat-sifat yang mulia, berpengetahuan dan bercita-cita
tinggi, oleh sebab itulah manusia itu selalu memikul penderitaan
lahir dan batin selama hayatnya, memikul tanggungjawab pada kedua
bahunya selama masih di kandung badan.
     Darah romantisme beregelora dalam kalbuku yang masih muda.
Kubayangkan penderitaan-penderitaan yang diuraikannya itu sebagai
bunga mawar merah yang indah dipandang mata, melambai-lambai
di kejauhan. Oh, alangkah besar hikmatnya jiwa pemuda yang
dilambai renungan cita-cita. Tapi, ketika usiaku sudah meningkat
tinggi, laksana matahari menjelang sore sekali-sekali kurenungkan
dengan rasa damba akan cara-cara ustadz Moh Said menguraikan
persoalan perbedaan antara manusia dan binatang itu, tapi sekarang
tidak lagi kulihat sebagai bayangan mawar merah yang melambai-
lambai di kejauhan, tapi sebagai realita yang kurasakan sendiri keras-
pedasnya, mawar cita-cita yang berduri-duri tajam pada tangkainya,
yang telah menggores-gores dan melukai dan membekaskan bakatnya
pada tangan-tanganku yang kubawa berlari selama hidup perjuangan
cita-citaku. Namun, jika kuhubungkan dengan cerita-cerita
kenangan dalam memoarku ini, saya tidak bisa lain hanya bersyukur
kepada Tuhan, sebab saya telah dibuatnya sebagai pelaku-sejarah yang
bersahaja, telah dibuatnya menjadi saksi yang terdekat atas peristiwa
yang begitu penting, yaitu saat bersejarah jatuhnya Presiden Sukarno,
yang besar. Jelas, saksi yang tidak berhasil dalam daya upaya
membantunya mencegah kejatuhannya. Tangisku sepanjang jalan.
  
SIDANG KABINET 11 MARET 1966
  
Hari itu adalah hari Juma't, 11 Maret 1966. Pada pagi-pagi hari
sekali , kira-kira jam 7.OO Wakil Perdana Menteri (Waperdam) atau
biasa juga disebut Deputy III, Chaeru1 Saleh, menilpon saya di Hotel
Indonesia di mana saya selalu bertempat tinggal kalau saya datang
ke Jakarta dari Kuba untuk berkonsultasi dengan Presiden,
mengatakan bahwa mobilnya sudah dikirimnya untuk menjemput
saya, untuk bersama-sama dengan dia, berangkat dari rumahnya ke
Istana untuk menghadiri sidang Kabinet yang akan dipimpin
Presiden pada jam 10.00. Anakku Adityo, biasa dipanggil Dito,
terburu-buru menyiapkan sarapan pagi untukku. Dia adalah seorang
pemuda umur 19 tahun, mahasiswa Universitas Respublica. Gedung
universitas tersebut sudah terbakar dan dihancurkan oleh pemuda
KAMI yang kena dihasut oleh segolongan kontra-revolusi, karena
itu dia buat sementara masih menganggur. Agaknya dia itu dalam
dirinya mempunyai suatu "gave", semacam bakat gaib, sebab dia
mengingatkan padaku: "Pak, ... Bapak jangan tinggalkan Bung
Karno, kasihan, dia itu sekarang sendirian, dia tentu memerlukan
orang-orang seperti Bapak, seperti Pak Chaerul, ikuti saja ke mana
dia pergi,jangan tinggalkan dia sendirian!"
     Kemudian dia berkata lagi, bahwa kalau dia dan mobilnya tidak
diperlukan lagi, dia akan menengok rumah kami di jalan Madura
no. 5 (ketika itu digunakan oleh Perwakilanan FNPVS, Front Nasional
untuk Pembebasan Vietnam Selatan), dan kemudian akan mencari
dan mengumpulkan pemuda-pemuda teman-temannya untuk
bersiap-siap, menantikan komando. Sebelum saya berangkat aku
menasihatkan kepadanya apa-apa yang patut dikerjakannya, tapi harus
waspada dan hati-hati, oleh karena situasi begitu gentingnya dan
keadaan kita sedang berada sementara di pihak yang defensif. Dan saya
harus pergi cepat-cepat, sebelum pemuda-pemuda yang
kena hasutan kaum kontra-revolusi keluar berdemonstrasi
memblokade semua jalan yang menuju ke istana. Kita sudah
mengetahui sejak dari kemarin, mereka akan beraksi untuk
mencegah jangan sampai sidang kabinet dapat dilangsungkan. Saya
mengenakan uniformku, Mayor Jendral TNI, karena kurasa dengan
baju-hijau ini aku lebih aman dan bisa lebih leluasa. Dengan
menyisipkan pistolku tanpa holster di pinggangku, aku cepat-cepat
turun menuju ke mobil Pak Chaerul yang sedang menunggu. Kulihat mobil
itu bukan sedan yang biasa dipakainya, tapi sebuah
jeep Toyota, di samping supirnya, seorang bekas auggota Laskar
Rakyat Bambu Runcing yang kukenal sejak masa revolusi bersenjata
dahulu, di sampingnya menggeletak sebuah senapan otomatis AK.
     "Pak Chaerul bilang buruan, Pak," kata supir itu memberi salam,
sambil menyengir kelihatan giginya, karena mengerti yang mataku
tertukik ke senapan otomatis AK itu.
     Hotel Indonesia terletak tidak jauh dari rumah Chaerul Saleh
dan jalan yang terdekat ke rumahuva itu kalau dari Hotel Indone-
sia, adalah mengambil ujung Jalan Madura, kemudian sesudah
meliwati Bioskop Menteng membelok ke kiri kejalan Tengku Umar.
Tapi kami tidak mengambil jalan itu, sebab di pertemuan ujungnya
Jalan Madura dengan Jalan H.Agus Salim terletak rumah Jendral
Soeharto dengan banyak penjagaan militer. Lalu kami mengambil
Jalan Thamrin , Jalan Jawa, Jalan Cemara terus ke Jalan Tengku Umar.
Setibanya di rumah Chaerul Saleh, ia sudah siap beruniform Deputy
III, sedang sarapan dihadapi istrinya Zus Jo. sambil mempersilahkan
aku duduk dan menawarkan sarapan kalau aku mau. Chaerul
kemudian berkata:"Sidang Kabinet hari ini penting sekali .... der op
of der onder*) ... Babe‚ akan meminta kebulatan sikap dan tekad
segenap anggota kabinetnya, bulat bersatu dengan dia untuk
mengatasi krisis yang berlarut-larut ini. Kalau terpaksa show down'
yah, apa boleh buat ... mungkin kau tidak akan bisa kembali ke
Kuba lagi".
     "Kalau harus begitu, apa boleh buat", jawabku dengan tegas.
Kulirik Zus Jo di sampingku, diam saja, namun tampak kekhawatiran
di air mukanya. Lalu kataku lagi: "Ketegasan sikap itulah yang saya
harap-harapkan, bukankah sejak saya datang pertama kali di bulan
Desember '65, saya sudah mendesakkan usulku satu political solution,
pegang itu corong radio, serukan seluruh rakyat bersatu di belakang
Bung Karno, bubarkan itu semua partai politik, termasuk PKI,
termasuk partaiku PARTINDO, kecuali Front Nasional, kemudian
bentuk panitia-panitia yang ditunjuk oleh Bung Karno untuk re-
dress dan pembangunan kembali partai-partai politik dan Front
Nasional setelah mengadakan selfkoreksi total di atas landasan
demokrasi terpimpin, dan stop buat sementara semua koran kecuali
koran pemerintah, dan mutasi di kalangan Angkatan Bersenjata, bentuk Barisan
Sukarno, etc., etc.
     "Ya, itu betul, tapi kau kan tahu sudah, dulu itu belum bisa",
Chaerul menimpa. ... "Di kalangan kita ada zwakke broeders, Oom
Jo (Deputy II, Dr.J.Leimena) takut, Bandrio (Deputy 1, Dr.
Subandrio) plin-plan kagak berani, tapi bikin konsepsi sendiri yang
noch vis noch vlees ... nah, nanti dalam sidang, sesudah saya bicara,
saya akan minta supaya kau juga bicara, saya tidak mau lagi saya
sendiri bicara seperti di sidang Kabinet di Bogor, 15 Januari yang
lalu. Nanti kau harus bicara! ..."
     "Ya, tapi suasana sekarang sudah lam dan dulu", cetusku,"situasi
harus diperiksa lagi, dulu Oom Jo tidak berani, takut PARKINDO-
nya dibubarkan, soalnya siapa yang membubarkan, pembubaran
partai bukan tujuan tapi hanya strategi sementara, cobalah nanti
kalau kita jatuh dan tentara berkuasa potong kuping saya kalau semua
partai politik tidak dibubarkannya, bagi saya partai bukan tujuan,
partai hanya alat dan idee, idee harus mempunyai banyak alat, kalau
Sukarno bisa sementara dijadikan alat untuk idee itu, saya tidak
takut partai dibubarkan untuk sementara waktu. Partai bisa illegaal,
di bawah tanah, Sukarno tidak, dan ini orang tidak akan
mengkhianati cita-citanya, udah terlalu tue untuk gituan".
     "Fi,"jawab Chaerul,"sebenarnya dalam hati kecilnya itu orang
tua, dia sendiri bimbang kalau harus membubarkan PKI, masa kau
tidak tahu itu, kau bayangkan bagaimana kalau dia harus mencekik
anaknya sendiri, NASAKOM.
     "Bukan begitu alasannya," aku segera menyela, "bagi saya dia
itu bukan takut atau bimbang, selama ini dia itu ambil kesempatan
orientasi, periksa-barisan, celakanya barisannya itu nyatanya kini
masih kacau balau, pada ketakutan pada ngumpet. Seorang
komandan-tempur memang tidak bisa maju ke front dengan barisan
yang kacau, sampai sekarang tidak ada yang datang mel, melapor
siap-tugas di belakang Presiden/Panglima Tertinggi, baik dari pihak
massa maupun dari Angkatan Bersenjata, ini perbedaan pokok
dengan ciri-ciri kita dulu ketika Agustus 1945 ... Dari Angkatan
Laut, Laksamana Muljadi, dan dan KKO, Brigjen Hartono, dan
Angkatan Kepolisian Jendral Sucipto dan sebagainya, tidak ada yang
datang melapor minta tugas kepada Presiden/Panglima tertinggi,
Front Nasional sudah lumpuh, dan massa tidak ada lagi yang berani
keluar di jalanan berdemonstrasi untuk mengimbangi demonstrasi-
demonstrasi kontra-revolusioner ini sebagaimana biasanya dilakukan
untuk menempa dan kasih unjuk kebulatan tekadnya, ini pun logis
sekali, sebab siapa yang sanggup menantang demonstrasi pemuda-
pemuda KAMI/KAPPI yang dipersenjatai dan dibantu anak-buah
Sarwo Eddhy dan Kemal Idris RPKAD itu? ... Baiklah, nanti saya
akan turut bicara juga dalam sidang Kabinet".
        Zus Jo nyeletuk: "Sudahlah, berangkat sajalah, nanti kalian
terlambat!"
        Di dalam jeep Toyota yang dikemudikan kencang, Chaerul
mengatakan bahwa banyak menteri-menteri sudah diangkut kemarin
sore dan tadi malam oleh Cakrabirawa atas perintah Presiden ke
Istana, dan mereka itu disuruh menginap di Guest House Istana,
sebab dikhawatirkan mereka tidak akan sampai di sidang kabinet
kalau berangkat di pagi hari. Saya dan Chaerul Saleh sudah bulat
hati, bagaimana pun kami harus sampai di istana dan sidang kabinet
harus dilangsungkan. Kami mengambil jalan, yang walaupun agak
jauh, tapi dapat menghindari stopan penjagaan yang berada di setiap
pojok-pojok jalan sekitar lapangan Merdeka yang menuju ke istana.
Kami mengambil Jalan Asem Lama, membelok ke Jalan Sunda
melewati rumah Menteri Olah Raga Maladi, yang kulihat sepi saja
semua jendela dan pintunya tertutup kemudian kami membelok ke
kiri mengambil Jalan Tanah Abang Tanjakan, terus ke Jalan Tanah
Abang Barat meliwati Asrama AURI dan Cakrabirawa, lalu tembus
ke jalan Kesehatan dan Jalan Jaga Monyet, akhirnya memasuki gapura
Istana Negara dengan selamat. Dari mobil yang dilarikan cepat itu,
kami melihat juga dari kejauhan penjagaan-penjagaan di sekitar Bank
Negara dan Air Mancur di ujung jalan Merdeka Barat, dan ketika
melewati asrama tentara di Jaga Monyet kami lihat seakan-akan sepi
saja, tetapi tampak juga beberapa orang tentara bersembunyi di
belakang pintu dan di belakang pohon-pohon di sekitarnya
berpakaian full-combat, bertopi baja dan beruniform macan loreng.
Tapi aku pun sangat heran, sebab apa Cakrabirawa tidak pasang dia
punya penjagaan keamanan untuk observasi di pojok dan di sekitar
Istana itu. Kemudian ada kudengar bahwa dari kemarin ada larangan
angkatan bersenjata ke luar di jalan tanpa tugas tertentu, alasannya
untuk menghindari terjadinya sesuatu provokasi, dan larangan ini
rupanya dikenakan juga pada Resimen Cakrabirawa pasukan
pengawal Presiden. Memang di dalam ada banyak pasukan
Cakrabirawa, kelihatan serius semuanya, sampai kami pun diperiksa
sebelum diperbolehkan masuk. Saya lihat wajah baru yang belum
kukenal. Yang pernah kukenal malah tidak kelihatan.
     Kami dikawal diantarkan ke Guest House yang berada di dalam
pekarangan Istana itu juga. Hampir semua menteri-menteri sudah
ada di sana sejak dari kemarin sore, sebagian sedang menyelesaikan
sarapan pagi. Tidak lama kemudian baru datang juga Menteri
Mardanus, dia menceritakan pengalamannya juga yaitu mengambil
jalan putar-putar untuk menghindari stopan penjagaan, tapi tidak
urung dia kena stopan juga, oleh karena mengambil Jalan Tanah
Abang Barat menuju ke Jalan Mojopahit, dan di belakang gedung
R.R.I. dia kena cegat. Tapi dia untung diberi lewat juga. Beberapa
menteri datang menghampiri saya, di antaranya Ir. Setiadi, Menteri
Urusan Listerik, dan Sutomno Menteri Perburuhan dan Armunanto
Menteri Pertambangan, semuanya datang sejak dari kemarin.
Menteri Keamanan Jendral Mursid datang pula menjabat tanganku
sambil tersenyum lebar di bawah kumisnya a'la Clark Gable itu.
Waktu tanganku sudah melepaskan jabatan-tangannya, kuteruskan
tanganku menepok pinggangnya yang sudah mulai gendut itu.
Jendral Mursid tersenyum lagi, karena rupanya mengerti maknanya
tepokan belakang tanganku pada pinggangnya, sebab apa yang kucari
ketemu, terasa padaku, bahwa tersembunyi dalam uniform itu ada
tersisip pistol kaliber 38-special, dua buah, di kiri dan di kanan.
Saya teringat jaman kami di tahun 1946 di front pertempuran di
daerah Krawang-Bekasi, dia di front Krawang Timur, ketika itu dia
berpangkat kapten, saya letnan kolonel, dia komandan Batalyon
TNI, saya komandan Laskar Rakyat/PESINDO Jawa Barat, di
samping Opsir Pendidikan Politik Tentara.
     Jendral Mursid: "Kalau Bung Hanafi pulang ke Kuba, kirimi
saya pistol cowboy, yang besar, buat tanda mata...."
     "Seguro, mon general", kataku dalam bahasa Spanyol, sebagai
bergurau dan untuk menghindari sejenak suasana yang ria artifisial
itu.
     "Saya akan bawakan sendiri nanti, dua buah, dan kalau mau
pistol tanda-mata dari Fidel Castro, ini pun dapat saya usahakan.
Pokoknya beres, asal di sini kita bereskan dulu."Terasa dalam hatiku,
keakraban dan solidaritas sesama pejuang revolusi dahulu datang
kembali, melonjak-lonjak dalam kalbuku, rasanya mengharukan.
     Kemudian Chaerul Saleh dan saya pergi mencari Menteri Luar
Negeri Subandrio, yang juga sejak dari kemarin sore datangnya,
yang berada masih dalam kamar, satu kamar dengan Mayor Jendral
Sumarno, Gubernur Daerah Jakarta Raya Pak Marno kami dapati
sedang berpakaian, kebetulan dia sedang mengeluarkan pistolnya
dari bawah bantalnya, rupanya FN-32, lalu disisipkannya di belakang
kemejanya.
     "Apakah semua menteri-menteri bersenjata hari ini", tanyaku
sambil lalu.
        "Habis, kalau kita tidak tahu akan berhadapan dengan siapa,
Bung", jawabnya serius "Kalau dicomot oleh tentara resmi
berpakaian seragam dan bawa surat perintah, ini jelas urusannya
dan bisa diusut... tapi kalau bukan, gimana... kan banyak kejadian".
     "Itu namanya penculikan", sahutku. Bukan sekali itu saja aku
mendengar ucapan-ucapan serupa itu, tentang penculikan
penculikan yang dilakukan oleh orang-orang tentara berpakaian
preman, atau "tentara gelap", atau apa lagi sebutannya, ada juga
yang menyebutkannya "tentara malam".
  
     Chaerul Saleh, Subandrio dan Leimena sudah pergi menjemput
Bung Karno di istana Merdeka. Sidang kabinet dibuka oleh Presiden
di Istana Negara, jam 10.00 tepat. Saya tidak tahu presis lagi berapa
jumlahnya menteri-menteri kabinet ini, tampaknya banyak sekali,
rupanya semua menteri hadir lengkap duduk di sekitar meja besar
dan panjang itu. Di sebelah kiri Bung Karno, duduk berjejer Deputy
I Dr. Subandrio dan Deputy II Dr.J. Leimena. Di belakang kursi
Presiden berdiri ajudan-ajudan: Komisaris Besar Polisi Sumirat dan
Mayor Jendral TNI Moh.Sabur. Agak ke belakang kulihat Ajudan
kolonel Maulwi Saelan, kolonel Mangil dari Cakrabirawa. Saya
duduk di jejeran menghadapi Presiden, agak ke sebelah kanan, di
samping saya presis duduk Brigjen Sukendro, Menteri Negara, dan
Mayor Jendral Mursid, Menteri Keamanan dan Pertahanan.
     Dengan membaca Bismilah, palu diketok Presiden ke atas meja,
dia mulai berbicara. Pidatonya tenang dan terang. Mula-mula
menjelaskan dan meminta perhatian terhadap situasi yang amat gawat
yang menimpa tanah air dan bangsa, kemudian menyinggung
beberapa peristiwa dan adanya pikiran-pikiran yang salah, yaitu
seperti "mau membunuh tikus tapi seluruh rengkiang padi itu mau
dibakarnya", maka untuk dapat mengatasi situasi yang gawat itu
Presiden meminta seluruh menteri, seluruh alat-alat negara, seluruh
pemerintahan dan seluruh rakyat bersikap tegas dan bersatu berdiri
di belakang Presiden/Panglima Tertinggi ABRI untuk membela
negeri dan rakyat yang kini sedang terancam oleh Nekolim
     Baru kira-kira belum sepuluh menit Presiden Sukarno berpidato,
kulihat Kolonel Saelan masuk ruangan mendekati Mayjen Sabur.
Mereka berdua itu berbisik-bisik, barangkali ada dua menit.
Kemudian Mayjen Sabur mendekati Kombes Sumirat yang berdiri
di belakang Presiden yang sedang berpidato itu. Sabur dan Sumirat
berbicara berbisik-bisik pula. Sabur memberi isyarat supaya Saelan
mendekat. Kemudian mereka bertiga itu mundur ke belakang,
rupanya berunding berbisik-bisik lagi. Kemudian kulihat Sabur
menulis surat pada sepotong kertas kecil, dan oleh Kombes Sumirat
diserahkan kepada Dr. Subandrio, lalu diperlihatkannya kepada
Presiden yang sedang berpidato itu.
     Hatiku merasa jengkel melihat adegan bisik-bisikan itu, dan
semua orang yang melihatnya tentulah merasa keheranan, ada apa-
apaan itu, kenapa Sabur menulis surat sepotong itu, menganggu
pidato Presiden saja. Begitulah anggapanku dan kejengkelan hatiku.
     Tiba-tiba Presiden Sukarno berbisik-bisik kepada Subandrio,
Subandrio kepada Chaerul Saleh, lalu Presiden berbisik pula kepada
Leimena, kemudian dia berdiri dan melangkah hendak pergi, diikuti
oleh Subandrio, Chaerul Saleh dan Kombes Sumirat. Mereka itu
pergi keluar meninggalkan ruangan sidang.
     Umumnya semua hadirin heran tercengang, satu sama ]ain
bertanya-tanya. Sedangkan saya sendiri, saya mengira barangkali ada
persoalan penting di Istana Merdeka, atau barangkali Perdana
Menteri Ali Bhuto dari Pakistan menilpon Presiden lagi seperti
terjadi bulan Januari yang lalu di mana kebetulan saja di saat itu ada
bersama Presiden Sukarno, atau barangkali jendral Soeharto mohon
diterima Presiden menghadap di Istana Merdeka untuk sesuatu hal
penting yang khusus ... pokoknya saya mengira, dan semua orang
mengira begitu pula bahwa Presiden men-schors sidang sebentar
saja, dan dia segera akan datang kembali. Apalagi melihat Leimena
masih tetap ada, duduk menunggu.
     Tapi semua dugaan-dugaan itu meleset sama sekali. Dr. Leirnena
kemudian berbicara, bahwa berhubung Presiden ada persoalan yang
amat penting di Istana Bogor, maka sidang tidak bisa dilanjutkan
dan sidang ditutup. Semua yang mendengarkan jadi lebih tercengang
lagi, dan menggerutu, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Semua itu terjadi dalam tempo beberapa menit saja. Pada saat itu.
saya dijawil oleh Brigjen Sukendro, dia berkata: "Sebaiknya Pak
Hanafi, ikuti Bapak Presiden, jangan lepaskan beliau sendirian,
pergilah Pak, pergilah sekarang juga ...! Suaranya itu bukan hanya
menyarankan, rasanya suaranya itu seperti mendesak kepadaku. Saya
terkejut, saya tersadar dari pesona akan kejadian yang begitu cepat.
Dalam hati saya menduga, Sukendro mengetahui sesuatu yang akan
terjadi atas diri Presiden, paling sedikit dia mempunyai dugaan
tertentu bahwa barangkali Presiden akan menghadapi sesuatu soal
yang berat, di mana orang amat setia kepadanya akan amat
diperlukannya. Sukendro bukan tidak mengetahui hubungan pribadi
saya dengan Bung Karno, dia juga bukan tidak mengetahui
kesauggupan dan sikap saya yang selalu tegas di pihak Presiden
Sukarno, dan hubungan saya yang selamanya baik dengan dia,
Sukendro, walaupun tidak sering jumpa.
     Saya segera berdiri, keluar ruangan dan berlari mengejar
rombongan Presiden tadi. Saya berlari mengejar sampai di pintu
gerbang Istana Merdeka. Tapi rombongan itu sudah berada di dalam
helicopter, mesinnya sudah menderu, baling-baling sudah berputar,
kupandangi kemudian terbang di udara menuju Bogor.Aku kecewa
hatiku kesal sekali, kenapa saya terlambat? Apa boleh buat, Tuhan
menentukan, manusia hanya melaksanakan. Saya bertekad akan
segera menyusul ke Bogor dengan mobil, hatiku memuji-muji
kepada Tuhan moga-moga tidak akan terjadi malapetaka apa atas
diri Presiden dan rombongannya.
     Di saat itu belum sedikit pun juga terbayang kepadaku, bahwa
akan terjadi chantage politik yang amat kotor yang melahirkan apa
yang sekarang disebut "Supersemar" itu.
     Sehabis termenung sejenak, memandangi helicopter yang telah jauh
terbang tinggi, saya kembali ke dalam pekarangan Istana Merdeka,
terus menuju ke pekarangan Istana Negara, di mana mobil-mobil
di parkir, sebab maksudku akan segera pulang ke hotel Indonesia
dan dari sana dengan mobil anakku Dito terus ke Bogor. Di sana
masih saya dapat jumpai Mayjen Mursid, lainnya sudah pulang. Dia
sedang menuju ke mobilnya. Saya tanyakan kepadanya, apa yang
terjadi. Dia menjawab, baginya juga belum jelas apa yang sebenarnya
terjadi, ada yang mengatakan bahwa ada pasukan yang tidak dikenal
telah masuk ke dalam kota, itu tidak mungkin, dan saya sendiri
telah pergi melihat-lihat di sekitar istana, tapi tidak saya dapati apa-
apa yang mencurigakan, kecuali pasukan yang bertugas keamanan,
berkumpul beberapa orang di beberapa tempat. Tapi saya akan pulang
untuk mengadakan pemeriksaan lagi. Demikian Mayjen Mursid.
Dia adalah Menteri Pertahanan dan Keamanan, jadi saya pikir dia
bisa lebih mengetahui keadaan, maka saya menjadi agak tenang.
     Saya kembali lagi ke dalam pekarangan istana, saya mau
menengok, ada siapa di Istana Merdeka. Di sana kudapati Kepala
Rumah Tangga Istana, Letjen (purn.) Hardjowardoyo, dengan
Mayjen Sarbini dan Mayjen Achmadi, masing-masing Menteri Ve-
teran dan Menteri Penerangan. Saya mengambil tempat duduk di
kursi rotan dekat mereka, di beranda belakang Istana Merdeka.
Kutanyakan pada Pak Hardjowardoyo, apakah Presiden akan kembali
hari itu ke Jakarta. Dia menyahut tidak mengetahui pasti, mungkin
kembali mungkin tidak.
     Berceritalah Mayjen Sarbini, agaknya ceritanya itu tadi terputus
melihat saya datang: "Saya tidak merasa ada hal-hal yang
mencurigakan, yang membahayakan keamanan, apalagi keamanan
Presiden. Orang-orang ada yang bicara bahwa ada tentara yang tak
dikenal telah memasuki kota, itu kan desas-desus saja; saya sendiri
kemarin malam bersama Mayjen Achmadi mengadakan pemeriksaan
ke beberapa tempat, pergi ke Cijantung, tempat di mana anak
buahnya Sarwo Eddhy diasramakan. Kami tidak menemukan hal-
hal yang mencurigakan, bukankah begitu Pak Achmadi?" Tetapi
Achmadi diam saja.
     Sarbini meneruskan: "Memang beberapa moncong meriam ada
yang diarahkan ke Cililitan dan ke arah Jakarta, tapi itu kan tidak
apa-apa bisa saja kejadian karena perbuatan anak buah yang iseng
atau gatal-tangan. Tatkala kutanyakan kenapa moncong meriamn itu
diarahkan ke sana, tentara yang berjaga di sana itu menjawab: tidak
tahu, pak".
     Dalam hatiku berkata-kata, ini Pak Sarbini apakah karena lugu
atau bersiasat? Dan Mayjen Achmadi itu kenapa dia diam saja? Karena
sudah lewat pukul 11.00 aku diajak turun pergi ke mesjid di dalam
pekarangan Istana itu juga, untuk sembahyang Jum'at. Kami semua
pergi sembahyang, sebagai khatib bertindak Menteri Agama
Sjaifuddin Zuhri, dan sebagai Imam, menteri Wakil Ketua MPRS
Idham Chalid. Sehabis sembahyang aku hendak pergi lagi ke tempat
parkir mobil, barangkali saja supirnya Chaerul Saleh akan kembali
menjemputku, kalau saja diketahuinya saya masih di istana, tidak
turut pergi ke Bogor. Demikian harapanku. Aku berjalan bersama-
sama dengan Menteri Sjaifuddin Zuhri dan Menteri Idham Chalid
yang akan pergi pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka
ketawa-tawa bercakap-cakap berdua itu.
     Sjaifuddin Zuhri berkata sinis sambil tersenyum-senyum ke
arahku:"Kalau orang sabar dikasihi Allah, sabar, sabar pasti berhasil..."
     Apa yang dimaksudkannya, tidak begitu jelas kepadaku. Tapi jika
kuhubungkan dengan wajahnya yang gembira ria itu, dalam suasana
yang bagiku begitu menegangkan urat saraf itu, kusimpulkan
barangkali dia sudah mengetahui sesuatu yang akan teijadi. Tapi
Idham Chalid diam saja, berjalan menundukkan kepala, sekali
diangkatnya, hanya menanyakan kapan aku kembali ke Kuba.
Kujawab pendek saja, terserah kepada Presiden. Jika kuingat kata-
kata dan senyum Sjaifuddin Zuhri yang sinis itu, sekarang ini sesudah
sepuluh tahun Jendral Soeharto berkuasa (uraian mengenai jatuhnya
Presiden Sukarno ini saya tulis di tahun 1975), bertanyalah aku di
dalam hati, apakah kesabaran yang dimaksudkannya itu dahulu
sebagai pertanda untuk menyambut kejatuhan Sukarno dan kema-
tiannya, dan kemudian pembubaran partai-partai politik termasuk
partainya N.U. dan hancurnya demokrasi di bawah kekuasaan
kediktatoran pemerintah militer Soeharto? Jika demikian, oh, Tuhan,
moga Tuhan mengampuni dosanya Kiai ini!
------------
*) der op of der onder, sebuah ungkapan Belanda, cuma satu pilihan: menang
atau kalah, tindakan harus diambil.
  
  
------------------------------------------------------------ LABORATORIUM
STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA (LSSPI)
------------------------------------------------------------
Merdeka!!! Tegakkan Pancasila, UUD'45, Demokrasi dan HAM!!!
------------------------------------------------------------