[INDONESIA-L] KdP - Napol Rayakan K

From: apakabar@clark.net
Date: Sun May 24 1998 - 16:52:00 EDT


Forwarded message:
From apakabar@clark.net Sun May 24 19:52:37 1998
Date: Sun, 24 May 1998 17:50:53 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805242350.RAA02092@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KdP - Napol Rayakan Kejatuhan Soeharto di LP Cipinang
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
 

Kabar dari PIJAR
  
  
NAPOL RAYAKAN KEJATUHAN SOEHARTO DI LP CIPINANG
  
Jakarta, KdP (24/5)
     Para narapidana politik beserta keluarga dan aktivis pro demokrasi
hari ini merayakan kejatuhan Soeharto di LP. Cipinang. "Perayaan ini
merupakan sujud syukur kita. Namun kita tetap tidak boleh lengah terhadap
kekuasaan sekarang," ujar Nuku Soleman, ketua PIJAR yang dihukum 5 tahun
karena "menghina" Soeharto lewat stiker SDSB (Soeharto Dalang Segala
Bencana). Bahkan menurutnya kaum pro demokrasi harus mampu mengangkat
derajatnya. Nuku, yang didaulat untuk memberikan orasi pertama memang
tampak tak dapat menyembunyikan kegembiraan atas jatuhnya Soeharto. "Boleh
dong kita gembira sekali ini saja," tambahnya.
     Setelah Nuku, para napol lain juga memberikan orasinya diantaranya,
Mohtar Pakpahan (SBSI), Sri Bintang Pamungkas (PUDI), Kol. Latief (kasus G
30 S), Yakob Rumbiak (OPM/Organisasi Papua Merdeka), Budiman Sudjatmiko
(PRD), Dharsono (Kasus Lampung), dan Xanana Gusmao (Timor Leste).
     Dalam orasinya Mohtar Pakpahan mengingatkan bahwa tugas kaum pro
demokrasi masih sangat panjang walaupun barikade anti demokrasi yang
terkuat sudah ditumbangkan. Dengan semangat Pakpahan mengajak para hadirin
yang datang, juga masyarakat lain, untuk mendata kesalahan yang dilakukan
oleh Soeharto beserta keluarganya. "Bahkan, kalau perlu kita membentuk
posko yang menerima pengaduan dari orang-orang yang pernah dirugikan oleh
Soeharto dan keluarganya," ujarnya. Ia bercerita, bahwa dirinya pernah
menerima pengaduan dari seorang kawannya yang tinggal di daerah Sentul.
Tanah kawannya ini diambil oleh Tommy Soeharto untuk sirkuit Formula 1
tanpa mendapat ganti kerugian. "Kawan saya hanya menerima amplop yang
berisi ucapan terima kasih. Apakah kita bisa menerima tindakan biadab
ini?," tanyanya.
     Budiman Sudjatmiko, Ketua PRD yang dihukum 13 tahun, juga senang atas
jatuhnya Soeharto. Namun, menurutnya, masih banyak pekerjaan bagi kaum pro
demokrasi yang belum terselesaikan. Diantaranya adalah mewujudkan kehidupan
demokrasi dengan sistem multi partai. "Dalam sistem multi partai itulah
kita berkompetisi secara sehat untuk menentukan siapa yang paling berhak
memerintah negeri ini," katanya.
     Senada dengan Budiman, Sri Bintang Pamungkas, Ketua PUDI (Partai Uni
Demokrasi Indonesia), tetap konsisten dengan agenda perjuangan PUDI yaitu
menciptakan masyarakat adil makmur dengan berlandaskan demokrasi multi
partai. "Dalam pemilu yang demokratis kita buktikan siapa diantara kita
yang memang sungguh-sungguh mendapat kepercayaan dari rakyat," ujarnya.
     Sementara itu Xanana Gusmao dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar
mengucapkan selamat kepada para aktivis Indonesia atas kemenangan awal ini.
"Tapi yang jelas rakyat Timor Leste mempunyai agenda tersendiri, yaitu
menuntut kemerdekaan atas tanah Timor Leste," tandasnya.
     Sedangkan Dharsono dan Kol. Latif banyak menceritakan tentang kejadian
yang dialaminya. "Bagaimana saya bisa menerima pemerintahan dimana banyak
orang-orang yang tangannya bersimbah darah," ujar Dharsono. Ia bercerita
bagaimana kejamnya aparat saat terjadinya kasus Lampung. "Apa yang kami
lakukan dulu hanyalah menciptakan komunitas yang menyerap ajaran-ajaran Al
Quran. Namun itu dijawab dengan berondongan senjata. Banyak diantara yang
dibunuh oleh aparat adalah orang-orang tua, ibu-ibu hamil, dan anak-anak
yang masih di bawah umur," urainya dengan histeris.
     Kol. Latif dalam kesempatan itu melakukan rekonstruksi sejarah
mengenai keterlibatan Soeharto dalam Gerakan 30 September. "Saya nyatakan
sekali lagi bahwa Soeharto benar-benar terlibat dalam gerakan itu. Saya
terus menerus melakukan kontak pribadi dengan Soeharto untuk menyiapkan
Gerakan itu. Lalu kenapa hanya saya yang dihadapkan ke Mahkamah Militer.
Oleh karenanya sudah saatnya saya mendesak agar dia juga mempertanggung
jawabkan tindakannya," ucapnya. Kol. Latif saat ini dalam keadaan yang payah
akibat serangan stroke beberapa waktu lalu. Saking payahnya, berbicarapun
ia terbata-bata.
     Acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB ini dihadiri oleh sekitar
200 aktivis pro demokrasi. Acara ini juga mendapat liputan luas dari media
cetak dan elektronik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
     Menteri Kehakiman Muladi rencananya akan berkunjung ke LP. Cipinang
untuk membicarakan pembebasan beberapa napol, Senin (25/5). Dari sekian
banyak napol yang masih mendekam di LP. Cipinang, kabarnya Sri Bintang dan
Mokhtar Pakpahan yang akan mendapat prioritas untuk dibebaskan.
Sementara sumber KdP, mengatakan, beberapa napol kemungkinan tidak akan
dibebaskan. Mereka itu adalah kelompok PRD, Timor Timur, dan G 30 S. "ABRI
masih keberatan bila mereka dibebaskan," ujar si sumber.
     Bonar Tigor Naipospos, Koordinator Komite Aksi Pembebasan Tapol Napol
mendesak agar seluruh napol tapol dibebaskan tanpa syarat. Coki, demikian
ia biasa dipanggil, juga mendesak agar, pemerintah merehabilitasi nama baik
para tapol napol. "Sekali lagi tanpa syarat," tegasnya.###